
Saat itu Benzie sudah tertidur, namun ia tersentak dan mendapati Yuna yang terus berjalan mondar-mandir di kamarnya layaknya orang yang sedang kebingungan.
"Sayang, kenapa kamu masih juga belum tidur? Ada apa?" Tanya Benzie yang langsung bangkit dari tidurnya.
"Aku sedang cemas, karena hingga jam segini Arsen belum juga pulang." Jelas Yuna sembari ikut duduk di sisi suaminya.
Benzie pun seketika langsung melirik ke arah jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 01:30 dini hari.
"Benarkah? Kamu yakin dia belum pulang? Mungkin saja kamu tidak mendengar suara mobilnya saat dia pulang sayang." Ucap Benzie sembari mengusap lembut rambut Yuna yang kala itu tergerai panjang.
"Tidak sayang, Arsen memang belum pulang, dan aku pun sudah cek ke kamarnya."
Mendengar hal itu, Benzie pun seketika terdiam sejenak dan mulai berfikir.
"Bukankah terakhir dia bersama Rachel untuk mengantarnya pulang? Lalu kemana lagi mereka pergi?" Gumam Benzie dalam hati.
"Emm baiklah sayang, biar aku telepon Rachel dulu, karena seingatku, terakhir dia mengantarkan Rachel untuk pulang."
"Benarkah? Ah ya sudah, ayo segeralah hubungi Rachel, aku sangat cemas."
"Iya sayang tenang lah." Ucap Benzie dengan lembut sembari mengusap lembut punggung Yuna.
Benzie pun menghubungi Rachel saat itu juga, meski ia harus mencoba beberapa kali untuk meneleponnya, hingga akhirnya Rachel pun menjawab.
"Halo paman." Jawab Rachel dengan suara khas seseorang yang baru bangun tidur.
"Rachel, maaf mengganggu waktu tidurmu, tapi paman ingin bertanya, apa kamu tau dimana Arsen? Karena hingga kini dia belum juga pulang."
"Apa?!" Seketika mata Rachel yang awalnya hanya terbuka setengah sontak menjadi terbelalak.
Rachel pun seketika melirik ke arah jam bekker miliknya yang ada di atas nakas.
"Arsen belum juga pulang?" Tanya Rachel lagi.
"Jadi kamu pun tidak tau dimana dia?" Tanya Benzie lagi.
"Terakhir, dia mengatakan ingin ke rumah Laura untuk mengambil ponselnya paman." Jelas Rachel.
Membuat mata Benzie ikut membulat saat mengetahui hal itu.
__ADS_1
"Ke rumah Laura?!"
"Oh tidak, perasaanku mendadak jadi tidak enak paman, aku harus segera menyusulnya." Ucap Rachel yang langsung bangkit dari tidurnya.
"Ah tidak nak, jangan! Biar paman saja yang menyusul kesana."
"Tolong paman, aku takkan tenang jika hanya berdiam diri disini."
"Emm baiklah, paman akan mengirim orang untuk menjemput dan mengawal mu ok, dan kamu tidak boleh pergi sendiri di tengah malam seperti ini."
"Baiklah paman, aku siap-siap dulu."
Panggilan telepon pun berakhir, Benzie dengan cepat langsung menyuruh orang untuk datang menjemput Rachel dan menemaninya untuk mencari Arsen. Dengan berbekal informasi dari Benzie, akhirnya Rachel pun langsung menuju tempat tinggal Laura. Namun sesampainya di pekarangan rumah Laura, rumah itu nampak begitu sepi dan sama sekali tak ada mobil Arsen disana.
"Kemana dia? Mobilnya bahkan tidak ada disini." Celetuk Rachel dalam hati sembari matanya terus menyisir tajam ke berbagai sudut pekarangan rumah Laura.
Tak lama ponse Rachel pun kembali berdering, tampak Benzie yang kembali menghubunginya untuk menanyakan kabar terkini.
"Bagaimana, apa kamu sudah sampai di rumah Laura?"
"Aku sudah berada tepat di depan rumahnya paman, tapi rumahnya nampak begitu sepi, bahkan mobil Arsen pun tak ada disini." Jelas Rachel yang nampak begitu kebingungan dan mulai panik.
"Oh Rachel tunggu lah sebentar, paman baru saja mengingat sesuatu." Ucap Benzie yang kemudian langsung mematikan panggilannya.
Teknologi yang memang sudah semakin canggih membuat Benzie tak kesulitan dalam mencari jejak Arsen, ia hanya dengan ponsel pintarnya dengan cepat melacak keberadaan mobil Arsen dan tidak sampai 2 menit, ia pun langsung mengetahui titik dimana mobil itu saat ini.
"Ha?! Mobilnya berada di Blue Light Club?!" Tanya Benzie yang nampak sedikit terkejut.
"Apa? Jadi dia ke club? Apa yang dia lakukan disana? Apa dia pergi bersama Laura? Tapi kenapa dia tidak mengabari kita." Tanya Yuna yang semakin merasa cemas bercampur kesal.
"Aku tidak tau sayang, tapi yang jelas saat ini mobilnya berada disana." Jawab Benzie yang mencoba bersikap tenang di depan Yuna.
Benzie pun dengan cepat langsung menghubungi menejer club untuk menanyakan Arsen. Dan benar, menejer club pun membenarkan jika Arsen memang berada di club dan sedang minum sendirian di bar.
Mengetahui hal itu membuat Benzie kembali terkejut, bagaimana tidak, karena setaunya Arsen bukanlah anak yang suka mabuk-mabukan. Namun tak ingin terlalu banyak berfikir, dengan cepat Benzie pun kembali menghubungi Rachel.
"Iya paman."
"Saat ini Arsen sedang berada di Blue Light Club."
__ADS_1
"Apa?! Bagaimana paman tau? Apa paman yakin?"
"Paman sudah menelpon langsung menejer disana dan mereka membenarkan jika Arsen ada disana."
"Ah baiklah paman, aku segera kesana."
"Tidak perlu Rachel, itu bukan tempat yang baik bagimu. Biar paman saja yang menjemputnya, lagi pula bukankah kakimu masih sakit?"
"Aku tidak perduli dengan kakiku paman, tolong biarkan aku menemuinya, lagi pula ini tidak terlalu jauh kan dari club itu?"
"Emm baiklah, tapi kamu harus hati-hati ya."
"Iya paman."
Panggilan telepon pun berakhir.
"Kita ke Blue Light Club sekarang ya." Ucap Rachel pada orang suruhan Benzie.
"Baik nona."
Mobil yang di tumpangi oleh Rachel pun melesat dengan cepat menyapu jalanan yang mulai sunyi dan berembun. Hanya dalam waktu lima menit, kini mobil itu sudah berhenti sempurna di depan loby club malam milik keluarga Lim itu.
"Terima kasih." Ucap Rachel pada security yang membantunya membukakan pintu.
Dengan kaki yang sedikit terpincang-pincang, Rachel pun langsung melangkah cepat memasuki Hall. Ia seolah tak memperdulikan rasa sakit pada kakinya saat itu, yang ia peduli hanyalah Arsen.
Mata Rachel mulai melirik kesana kemari saat tiba di dalam Hall, tak sedikit pula lelaki hidung belang yang memandanginya seolah sedang tergoda dengan paras cantiknya. Bahkan ketika baru saja masuk, sudah ada lelaki yang mencoba ingin merayunya dan mengajaknya untuk minum bersama. Namun hal itu tentu saja tak mendapat respon dari Rachel, ia terus menghindar, memilih cuek dan terus berjalan menyusuri kerumunan orang-orang yang sedang menikmati alunan musik DJ yang begitu menggelegar di dalam ruangan yang besar itu.
"Apa anda mencari meja kosong? Mari saya antar." Ucap salah satu pelayan.
"Ah tidak, aku datang untuk mencari Arsen Lim, apa kau tau dimana dia?"
"Tuan muda Arsen?"
"Benar" jawab Rachel sembari mengangguk.
"Oh, dia berada di bar sebelah sana." Jawab pelayan sembari menunjuk ke arah tempat dimana Arsen duduk.
"Ok terima kasih."
__ADS_1
...Bersambung......