
Rachel nampaknya masih di buat begitu tercengang dengan kehadiran Arsen yang sudah berdiri tepat di sisinya.
"Akhirnya kamu datang." Ucapnya pelan sembari mulai tersenyum penuh haru.
Namun kala itu Arsen tidak menjawab, ia hanya menatap Rachel dengan tatapan datar tanpa ekspresi.
Tak lama, kedua orang tua dari Rachel dan Arsen keluar dari belakang panggung, mereka pun sama kagetnya seperti Rachel saat mendapati Arsen yang sudah datang.
"Syukur lah dia datang, aku yakin anak sulungku adalah lelaki yang bertanggung jawab." Celetuk Yuna yang langsung tersenyum haru.
Benzie pun ikut tersenyum sembari merangkul Yuna dan mengusap-usap pundaknya.
Tanpa ingin membuang waktu lebih lama lagi, akhirnya pernikahan segera di mulai, tanpa ragu Arsen mengucapkan janji sucinya kepada Rachel, pernikahan berjalan dengan tenang dan damai. Para tamu mulai bertepuk tangan saat akhirnya Rachel dan Arsen kini telah resmi menjadi suami istri.
Rachel pun akhirnya bisa tersenyum manis saat cincin pernikahan kembali di sematkan Arsen ke jari manisnya. Meski ia mulai menyadari jika meski telah menikahinya, Arsen masih menaruh rasa kecewa padanya. Namun saat itu Rachel sama sekali tidak memperdulikan hal itu lagi, yang ia tau saat itu hanyalah, kini biar bagaimana pun, ia dan Arsen telah resmi menikah, dan dia bermaksud akan memperbaiki semuanya di kehidupan rumah tangga mereka.
"Cium, cium, cium.." Suara sorak dari para tamu yang mengharapan sebuah ciuman romantis dari kedua pengantin itu pun semakin riuh terdengar.
Arsen yang dalam hatinya masih menyimpan perasaan marah dan kecewa pada Rachel mulai gugup saat MC menyuruhnya untuk mencium wanita yang telah resmi menjadi istrinya.
"Ayo tuan muda, tunggu apa lagi." Ucap MC yang begitu sumringah.
Beberapa kali Arsen harus menghela nafasnya, sesekali ia pun melirik ke arah para tamu yang nampaknya begitu semangat ingin menyaksikan sebuah ciuman romantis dari mereka. Akhirnya dengan perlahan, Arsen mulai meraih tangan Rachel, lalu sebelah tangannya menarik pinggang Rachel agar menempel ke tubuhnya.
"Apa kamu sungguh akan melakukannya?" Bisik Rachel.
Dengan wajah yang masih begitu datar dan senyuman yang dipaksakan, Arsen pun semakin mendekatkan wajahnya ke arah Rachel dan berbisik.
"Jangan mengira, rasa kecewaku hilang begitu saja, ini hanya formalitas." Bisik Arsen yang kemudian langsung mencium bibir Rachel.
Suara sorakan dan tepuk tangan pun kembali riuh terdengar, begitu pula dengan Benzie dan Yuna, mereka pun ikut bertepuk tangan disertai dengan perasaan yang haru biru saat melihat akhirnya putra sulung mereka telah menikah dengan wanita yang tepat.
__ADS_1
Shea pun ikut bertepuk tangan, namun entah kenapa perasaan cemas masih saja menghantuinya karena menyadari gelagat Arsen yang sedikit aneh.
"Perasaanku belum merasa tenang saat melihat gelagat Arsen, apa dia sungguh akan menjadi suami yang baik untuk anak kita?" Bisik Shea pada Martin.
"Sayang, jangan berfikir seperti itu. Meski terlihat masih marah, tapi aku yakin Arsen bukan lelaki yang pendendam." Jawab Martin yang langsung merangkul hangat pundak Shea.
"Tapi bagaimana jika dia menyakiti Rachel demi melampiaskan rasa kecewanya?" Tanya Shea lagi yang masih nampak belum sepenuhnya merasa tenang.
"Jika itu terjadi, maka dengan terpaksa dia harus berhadapan dengan daddy Rachel." Jawab Martin dengan tersenyum tenang.
Akhirnya Shea pun bisa sedikit bernafas lega, sikap tenang Martin benar-benar bisa membuatnya ikut merasa tenang meski dalam keadaan cemas sekali pun.
"Memang tidak salah rasanya jika dulu aku begitu tergila-gila seperti orang gila padamu. Semoga Rachel pun sama." Bisik Shea pada Martin yang kemudian bisa tersenyum.
"Iya, aku saja yang terlalu bodoh lambat menyadari hal itu." Martin pun ikut tersenyum.
"Syukurlah sekarang kamu sadar." Shea pun menyenggol lengan Martin dan kembali tersenyum.
"Meski sikapnya jadi dingin, tapi ciumannya tetap terasa hangat seperti biasanya." Gumam Rachel dalam hati sembari tersenyum tipis.
Demi tidak mengundang rasa curiga bagi setiap tamu-tamu penting yang hadir, Arsen pun mulai mengajak Rachel untuk menyapa para tamunya. Ucapan selamat berbahagia pun tak luput dari pendengaran mereka kala itu.
"Ya tuhan, kalian memang terlihat sangat serasi." Ucap salah satu tamu yang di hampiri oleh Arsen dan Rachel.
"Hehe terima kasih." Rachel pun tersenyum.
"Terima kasih." Ucap Arsen juga dengan senyuman tipis.
Tak sengaja menatap ke arah Antony yang terlihat memasang wajah kecut, Arsen pun menarik tangan Rachel begitu saja untuk membawanya menghampiri Antony.
"Hai Antony, aku ingin mengucapkan banyak terima kasih, karena sudah meluangkan banyak waktu untuk menghadiri acara pertunangan serta acara pernikahan kami." Ucap Arsen sembari tersenyum.
"Iya Antony, terima kasih banyak telah bersedia hadir." Tambah Rachel dengan lembut.
__ADS_1
Antony pun hanya mendengus namun ia tetap menampilkan senyuman ketenangan di hadapan Arsen dan Rachel.
"Emm, mau tidak mau, aku harus mengucapkan selamat kepada kalian berdua." Antony pun mengulurkan tangannya.
Arsen yang merasa puas karena secara tidak langsung ia telah menampar Antony dengan kenyataan pahit yang harus ia terima, terus tersenyum dan membalas jabatan tangan itu.
"Sekali lagi terima kasih ya, ku harap kamu tidak kecewa." Ucap Arsen seolah kembali mengejek.
"Oh tentu tidak, tidak sama sekali. Namun prinsipku adalah pantang menyerah sebelum akhir, yang menikah pun bahkan masih bisa bercerai." Jawaban Antony seketika membuat Arsen kembali meradang.
Tanpa ia sadari, ia pun meremas kuat tangan Antony, namun saat itu Antony hanya bisa terkekeh dan kembali berkata.
"Tenangkan dirimu tuan muda, jangan merusak moment bahagia kalian dengan berkelahi denganku." Celetuk Antony lagi.
"Arsen sudah cukup." Bisik Rachel yang mulai merasa panik karena ia takut Arsen kembali emosi.
Arsen pun melepas kasar jabatan tangan mereka dan mulai menghela nafas panjang demi membuatnya kembali tenang.
"Selamat ya Rachel, aku turut berbahagia untukmu." Kini Antony mengulurkan tangannya ke hadapan Rachel.
Tanpa berfikir buruk sedikit pun, Rachel pun membalas jabatan tangan Antony.
"Terima kasih banyak." Rachel pun tersenyum.
"Aku akan senang jika kamu senang, ya meskipun sebenarnya aku sangat sedih karena kamu jadi tidak bisa menepati janji yang pernah kita buat." Celetuk Antony lagi.
Mendengar hal itu wajah Rachel seketika berubah dari yang awalnya tersenyum, kini sontak menjadi datar sembari melirik ke arah Arsen. Begitu pula dengan Arsen yang mendengarnya, sontak melirik tajam ke arah Antony dan Rachel secara bergantian.
"Janji yang mereka buat? Janji apa?" Tanya Arsen dalam hati.
Arsen kembali meradang, ia pun langsung melepaskan tautan tangan Rachel dan Antony dengan cara menarik tangan Rachel.
...Bersambung......
__ADS_1