
Awalnya Arsen masih bersikap datar memandangi jari tangan Rachel.
"Hei, kenapa wajahmu masih sangat datar seperti itu ha? Apa kamu tidak tau ini apa ha?" Tanya Rachel sembari semakin mendekatkan jarinya ke arah Arsen.
"Sudah, ayo turun sana." Tegas Arsen lagi.
"Tidak mau, saranghaeyo, saranghaeyo oppa..." Ucap Rachel yang sengaja memasang wajah imutnya di hadapan Arsen.
Hal itu pun membuat Arsen yang awalnya tetap bersikap datar kini seketika menjadi tersenyum geli melihat tingkah laku Rachel.
"Hentikan!" Tegas Arsen yang kemudian mulai menahan tawanya.
"Arsen oppaaaa..." Teriak Rachel lagi.
Membuat Arsen akhirnya tertawa dan seketika memalingkan wajahnya karena merasa malu. Melihat senyum dan tawa Arsen yang begitu manis, Rachel pun akhirnya ikut tersenyum lebar sembari terus memandangi wajah Arsen yang terlihat sangat tampan ketika tersenyum apalagi sampai tertawa kecil seperti itu.
"Begitu baru benar." Celetuk Rachel.
"Benar apanya?"
"Kamu tidak lagi menekuk wajahmu dan mulai kembali tersenyum, itu baru benar." Jawab Rachel.
Arsen pun mendengus sembari kembali tersenyum tipis.
"Jadi kenapa masih disini? Waktu jam makan siang hanya tersisa setengah jam lagi, kamu yakin masih ingin membuang waktu mu?" Tanya Arsen dengan tenang.
"Biarkan saja, aku rela kehilangan banyak waktuku demi sebuah senyuman manis itu." Jawab Rachel yang semakin tersenyum malu-malu di hadapan Arsen.
"Ternyata kamu juga memiliki skill gombal yang cukup baik. Jadi kamu yakin ingin tetap disini?"
Rachel yang terus tersenyum pun mulai menganggukkan kepalanya.
"Baiklah kalau begitu, aku lapar, mau makan dulu, bye" Arsen pun tersenyum singkat dan langsung melangkah pergi melewati Rachel begitu saja.
Hal itu sontak membuat Rachel tercengang lalu seketika berbalik badan memandangi kepergian Arsen.
"Ha?! Aku rela menahan lapar demi dia, tapi dia??" Gumam Rachel dalam hati sembari memasang bibir manyunnya.
"Hei Arsen Lim, tunggu aku.." Teriak Rachel yang kemudian mulai berlari menyusul langkah Arsen.
"Cepat lah, waktumu hanya tersisa 25 menit saja lagi." Jawab Arsen dengan tenang sembari terus melangkah tanpa menoleh sedikit pun ke arah Rachel.
Setelah keluar dari lift yang telah mengantarkan mereka sampai lantai dasar, Rachel pun secara spontan menarik tangan Arsen untuk mengajaknya ke kantin kantor.
__ADS_1
"Ayo." Ucap Rachel penuh semangat.
"Ka, kamu mau membawaku kemana?"
"Ke kantin, bukankah kamu sudah lapar? Ayolah, hari ini biar aku yang mentraktirmu." Ucap Rachel dengan percaya diri.
"Kamu mau mentraktirku? Apa kamu yakin?"
"Emm." Rachel pun mengangguk penuh keyakinan.
Arsen pun terdiam sejenak, lalu seketika ia pun bergantian menarik tangan Rachel.
"Kalau begitu ayo ikut aku."
"Ke, kemana?" Tanya Rachel yang nampak bingung saat Arsen menarik tangannya menuju loby kantor.
"Kita makan di luar, aku akan mengajakmu makan di suatu tempat."
"Ta, tapi..."
"Sudahlah, patuh saja." Ucap Arsen yang langsung membukakan pintu mobilnya untuk Rachel.
Membuat Rachel seketika termenung memandangi pintu mobil yang sudah di bukakan langsung oleh Arsen karena begitu terharu dengan perlakuan Arsen yang tanpa ia sadari telah membuat Rachel merasa begitu istimewa.
"Ehh iy, iya." Rachel yang masih nampak bingung bercampur gugup pun akhirnya masuk ke dalam mobil.
Beberapa menit berlalu, kini mereka pun telah sampai di sebuah restoran.
"Ki, kita makan disini?" Tanya Rachel sembari memandangi restoran itu.
"Iya, kenapa? Apa kamu takut makanan disini akan mahal?"
"Ti, tidak."
"Ya sudah kalau begitu, ayo masuk, tunggu apalagi?" Arsen pun langsung keluar dari mobilnya.
Begitu pula dengan Rachel yang segera ikut turun untuk menyusul Arsen. Lalu mereka masuk bersama-sama ke dalam restoran itu dan mulai memilih menu.
"Menyebalkan sekali, menu disini sangat mahal-mahal sekali. Aku bisa saja membayarnya dengan berbagai kartu kredit yang aku punya, tapi bukankah hal itu nantinya akan membuatnya curiga, mengingat dia berfikir aku hanyalah seorang sekretaris yang belum genap sebulan bekerja dengannya." Gumam Rachel dalam hati sembari terus berfikir.
Arsen yang menyadari Rachel terus melamun sontak menjentikkan jarinya ke hadapan Rachel.
"Nampaknya kamu begitu frustasi ya melihat harga menu disini? Makanya jangan sok mau mentraktirku jika hanya memiliki budget pas-pasan." Celetuk Arsen sembari memiringkan senyumannya.
__ADS_1
Membuat Rachel hanya terdiam sembari memanyunkan bibirnya lagi dan lagi. Tak lama makanan pun datang, membuat mata Rachel mulai membulat sempurna karena ada banyak menu yang di pesan oleh Arsen hari itu.
"Ka, kamu memesan semua menu ini?"
"Iya, memangnya kenapa?"
"Ah hahaha tidak, tidak apa-apa. Hanya saja aku sedikit cemas jika kamu tidak bisa menghabiskan semua ini, bukankah itu akan terbuang sia-sia" Jawab Rachel yang sedikit gelagapan.
"Apa kamu meragukanku? Sudah lah, ayo makan saja."
Rachel pun mengangguk dan mulai menyantap satu menu pesanannya.
Akhirnya Arsen duduk tersandar di kursinya setelah berhasil menghabiskan semua menu yang ia pesan. Pikirannya yang kalut beberapa waktu belakangan ini benar-benar sudah banyak menguras energinya.
"Aku tidak menyangka, ternyata makan mu banyak juga ya hehehe." Ucap Rachel sembari memancarkan sebuah senyuman lirihnya karena mengingat harus membayar semua makanannya.
"Anggap saja ini sebagai balas dendam, karena sejak semalam aku makan sangat sedikit." Jawab Arsen dengan tenang.
"Oh begitu ya? Hehehe." Rachel pun terus memaksakan senyumannya sembari terus mengusap-usap tengkuknya.
Tak lama Arsen mengangkat sebelah tangannya, pelayan yang melihat hal itu pun segera datang menghampirinya.
"Minta billnya." Ucap Arsen dengan tenang.
"Baik tuan."
Tak lama pelayan pun datang dengan membawa sebuah nampan kecil berisikan selembar kertas yang menunjukkan nominal yang harus di bayar. Rachel pun segera meraih bill nya dan seketika matanya melotot saat melihat tagihan untuk sebuah makan siang yang cukup fantastis.
"Hampir dua juta hanya untuk sebuah makan siang? Kira-kira jika aku membayarnya akan membuat Arsen curiga tidak ya?" Gumam Rachel dalam hati.
Dengan jantung yang berdebar cepat, Rachel pun mulai meraih tasnya, sebenarnya yang membuatnya berdebar bukanlah masalah nominal yang harus ia keluarkan, melainkan ia begitu takut Arsen akan curiga jika melihatnya bisa membayar semua itu dan akan mencari tau tentang dirinya di kemudian hari.
Setelah menghela nafas panjang, akhirnya Rachel pun mulai mengeluarkan salah satu kartu kreditnya, namun secara tiba-tiba Arsen sudah lebih dulu memberikan kartu kreditnya pada sang pelayan hingga membuat Rachel tercengang.
"Ke, kenapa kamu yang..."
"Sudah, simpan saja uangmu, jangan sampai karena mentraktirku makan siang disini, jadi membuatmu kelaparan hingga awal bulan."
Rachel pun akhirnya tersenyum malu, namun di sisi lain perasaannya jadi begitu lega karena ia tak harus mengeluarkan kartu kredit miliknya.
...Bersambung......
__ADS_1