Pewaris Tahta

Pewaris Tahta
Eps 105


__ADS_3

Beberapa hari telah berlalu, Rachel yang awalnya bersikap lebih agresif dibanding Arsen, kini malah berubah menjadi pemalu dan begitu mudah gugup ketika berhadapan dengan Arsen yang telah menjadi kekasih barunya itu.


Berbeda halnya dengan Arsen yang justru menjadi lebih sering menggoda Rachel yang mendadak berubah menjadi pemalu itu.


Saat itu Arsen tengah duduk bersantai di kursi kejayaannya, tangannya yang kala itu tengah memegang sebuah pena, sembari terus menerus mengetuk-ngetukkan pena itu ke mejanya, matanya pun terus saja memandangi kekasihnya yang terlihat sedang begitu fokus menyusuni beberapa berkas yang ada di mejanya.


Tanpa ia sadari, sebuah senyuman tipis pun kembali tercipta, dengan mata tajamnya yang masih terus menyoroti wajah Rachel yang akhir-akhir ini baru ia sadari jika wajah itu begitu menawan dan menggemaskan. Hingga akhirnya Rachel pun tak sengaja melirik ke arah ruangan atasan yang juga sekaligus merangkap menjadi kekasihnya itu, dan langsung memergoki Arsen yang sedang memandanginya.


Menyadari hal itu Arsen pun langsung tersentak, dan refleks memalingkan wajahnya ke sembarang arah, hingga membuat Rachel hanya bisa mendengus, ia tersenyum geli sembari menggelengkan kepalanya dan memilih untuk melanjutkan pekerjaannya yang cukup banyak hari itu.


Tak lama ponsel Rachel berdering, menandakan sebuah pesan baru telah masuk. Rachel segera membuka ponselnya, lalu membaca sebuah pesan yang ternyata dikirimkan oleh Arsen.


"Kemari!" Isi pesan Arsen.


Rachel pun melirik ke arah Arsen dengan dahinya yang mengkerut. Lalu mulai menghela nafas sejenak dan langsung melangkah untuk menghampiri Arsen.


"Kenapa memanggilku?" Tanya Rachel yang berdiri tegak di hadapan Arsen.


Kemunculan Rachel di hadapannya membuat Arsen memejamkan matanya singkat sembari sedikit mengendus, lalu ia pun perlahan mulai berdiri dan meminta Rachel untuk sedikit lagi lebih dekat dengannya. Rachel pun maju beberapa langkah hingga membuatnya semakin dekat berada di hadapan Arsen.


"Ada apa?" Tanya Rachel sedikit terlihat bingung.


Arsen masih diam dan mulai mencondongkan tubuhnya ke arah Rachel.


"Kemarilah, lebih dekat denganku, ada yang ingin aku tanyakan padamu."


"Tuan muda, ku harap anda bisa bersikap profesional saat di jam kerja." Ucap Rachel yang kembali merasa gugup dan salah tingkah.


"Baiklah, akan kuberi SP satu karena kamu tidak menuruti perintah atasan." Goda Arsen.


"Eh jangan, jangan. Emm baiklah tuan muda, aku sudah mendekat padamu, sekarang tanyakan lah apa yang ingin anda tanyakan." Rachel tersenyum dengan dengan kedua bola matanya yang ia putarkan.


Membuat Arsen lagi-lagi tersenyum dan mulai menatap lekat ke arah Rachel.


"Apa kamu mengganti parfum mu?" Tanya Arsen pelan.



"Hehehe iya, Apa kamu suka dengan wanginya?" Tanya Rachel yang jadi kembali merasa gugup dan malu.


Arsen pun tersenyum tipis.


"Emm" lalu ia pun mengangguk pelan.


"Sangat menyegarkan rongga hidung." Tambah Arsen lagi yang terus menatap Rachel tanpa berkedip.

__ADS_1


"Jadi hanya itu saja yang ingin dipertanyakan?" Rachel pun membalas tatapan Arsen.


"Kalau iya, kenapa?" Suara Arsen semakin pelan, senyuman dari bibirnya pun seolah tak lekang, hingga kini tatapan matanya mulai turun ke arah bibir mungil Rachel.


"Tatapan macam apa itu tuan muda? Apakah begitu cara CEO menatap sekretarisnya?" Goda Rachel yang terus berusaha menahan senyumannya.


Arsen pun seketika mendengus dan membuatnya jadi tertawa pelan.


"Emm baiklah kalau begitu, ada banyak pekerjaan hari ini, aku akan kembali ke ruanganku." Rachel pun ingin beranjak pergi, namun seketika tengkuknya di tahan oleh Arsen.


Membuat tatapannya kembali mengarah ke arah Arsen dengan jarak yang begitu dekat. Rachel pun terdiam, bola matanya kembali membulat, jantungnya semakin berdegub tak karuan, ia yang semakin gugup saat menatap mata Arsen membuatnya jadi menelan ludahnya sendiri kala itu.


"Kenapa harus terburu-buru?" Bisik Arsen.


"Ak,, aku,,, ak, aku..."


Melihat Rachel yang jadi begitu terbata-bata, membuat Arsen kembali melebarkan senyumannya dengan matanya yang kembali menatap ke arah bibir merah Rachel.


"Kenapa kamu yang seolah jadi bersikap cuek sekarang? Apa kamu masih meragukanku?" Tanya Arsen masih dengan suara yang sangat pelan.


"Ak, aku..." Namun lidah Rachel saat itu sungguh seolah terasa membeku.


Arsen pun secara pelan dan perlahan semakin mendekatkan wajahnya ke arah Rachel, seolah bersiap ingin mencium Rachel kala itu. Rachel yang gugup pun dengan refleks langsung memejamkan kedua matanya, seolah memilih untuk menunggu bibir Arsen mendarat di bibirnya.


"Ehhemm." Suara seorang lelaki berdehem.


Menyadari ada orang lain selain mereka di ruangan itu, membuat Arsen dan Rachel sontak secara bersamaan menoleh ke arah sumber suara. Seketika mata mereka berdua pun langsung membulat sempurna saat mendapati Benzie yang telah berdiri tegak tak jauh dari pintu.


Lalu dengan refleks mereka pun saling menjauhkan diri satu sama lain dan kembali berdiri tegak sembari merapikan pakaian mereka.


"Pa, papa." Ucap Arsen sedikit gelagapan.


"Sepertinya kedatanganku bukanlah di waktu yang tepat." Ucap Benzie sembari kembali memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya dengan sebuah senyumannya yang begitu tipis.


"Pa, aku,,, ak, aku dan Bella..." Arsen mulai ingin menjelaskan namun seketika ucapannya di potong oleh Benzie.


"Sebaiknya aku harus kembali ke ruanganku." Ucap Benzie yang mulai ingin melangkah pergi.


Namun ketika tangannya memegang handle pintu, tanpa menoleh ke arah mereka berdua, Benzie menghentikan langkahnya dan berkata:


"Papa tunggu di ruangan papa, sekarang!" Ucap Benzie datar dan kemudian langsung pergi begitu saja.


Rachel sebenarnya sudah tau jika Benzie pasti akan merestui hubungan mereka, namun yang membuat Rachel merasa cemas ialah, ia takut jika Benzie akan benar-benar marah saat memergoki mereka berdua yang tengah bermesraan di kantor apalagi di jam kerja.


"Astaga, apa paman akan benar-benar marah kali ini?" Gumam Rachel dalam hati dengan dahinya yang kembali berkerut.

__ADS_1


"Tenang lah, biar aku yang handle. Kamu tidak perlu cemas." Arsen pun mengusap lembut pundak Rachel untuk menenangkannya.


Lalu Arsen tersenyum singkat lalu kemudian benar-benar beranjak pergi menuju ruangan ayahnya.


Bisa terlihat jelas di mata Rachel, jika saat itu sebenarnya Arsen pun terlihat cemas, namun ia hanya berusaha bersikap tenang di hadapan Rachel agar Rachel tidak bertambah semakin panik.


"Ya tuhan, tolong jangan ciptakan badai di tengah musim semi yang indah ini." Doa Rachel dalam hati.


Tok tok tok


"Masuk." Ucap Benzie datar.


Tak lama Arsen pun muncul dari balik pintu dan melangkah perlahan untuk menghadap ke ayahnya.


"Aku sudah disini pa." Ucap Arsen yang berusaha bersikap tenang meskipun dalam hati ia begitu cemas dan khawatir ayahnya akan marah besar dan menentang hubungannya dengan sekretarisnya itu.


"Apa itu tadi?" Tanya Benzie to the point.


"Aku,,, emm aku dan Bella..."


"Kau dan Bella apa? Apa kalian terlibat skandal di kantor ini? Begitu?!" Suara Benzie pun mulai meninggi sembari menghempas kasar sebelah tangannya ke atas meja.


"Maafkan atas apa yang papa lihat tadi, tapi aku dan Bella memang sudah..."


"Sudah apa?!" Bentak Benzie.


Namun Arsen masih terus berusaha bersikap tenang, ia pun menghela nafas cukup panjang sebelum akhirnya ia pun mulai menjelaskan pada ayahnya.


"Aku dan Bella sudah berpacaran pa." Jawab Arsen dengan tegas.


Mendengar jawaban dari putranya sontak membuat Benzie terkejut sekaligus merasa girang dalam hatinya. Karena sejujurnya, amarah yang barusan di tunjukkannya hanyalah sebuah akting saja, karena ia hanya ingin mengetes dan ingin melihat seberapa gentle putranya itu.


"Apa?" Suara Benzie pun seolah sontak melunak.


"Ya, beberapa hari lalu aku dan Bella resmi berpacaran." Ucap Arsen lagi.


"Sung, sungguh?" Benzie pun langsung bangkit dari duduknya, matanya membulat saat menatap Arsen.


Arsen pun mengangguk.


"Sebelumnya aku minta maaf jika papa tidak setuju dengan hubunganku dan Bella, aku tau dia hanya sekretaris biasa, tidak dari keluarga terpandang, tapi saat ini hanya dia wanita yang bisa membuatku move on dari Laura yang awalnya begitu ku cintai. Jadi tolong kali ini saja pa, jangan campuri urusan pribadiku apalagi menyangkut masalah hati. Aku sungguh minta maaf atas kejadian tadi, aku janji hal itu tidak akan terulang di kantor dan aku juga berjanji akan bekerja dengan serius setelah ini." Jelas Arsen panjang lebar.


"Andai kau tau nak, jika Bella yang kau kenal saat ini bukanlah dari keluarga biasa, melainkan dia adalah Rachel, sahabat kecilmu, anak dari Martin dan Shea yang dulu tak kalah terpandang di kota ini." Gumam Benzie dalam hati.


...Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2