Pewaris Tahta

Pewaris Tahta
Eps 189


__ADS_3

Tak tahan melihat putrinya yang terus menerus menangis, akhirnya Martin pun ikut menghampiri Rachel. Rachel terdiam sejenak dengan sisa-sisa tangisannya, dan terus menunduk di hadapan Martin. Melihat putri semata wayangnya yang terlihat begitu hancur hatinya, tentu membuat Martin juga ikut merasakan sesak di dadanya.


"Sayang, apa kamu benar-benar mencintai suamimu?" Tanya Martin pelan sembari memegang lembut pundak Rachel.


Rachel pun mengangguk sembari kembali menangis terisak.


"Ak,,, aku sangat mencintainya." Jawabnya kemudian.


Kali ini gantian Martin yang langsung memeluk erat tubuh putrinya, melihat hal itu, Shea pun semakin tak tahan dan ikut meneteskan air matanya.


"Jika benar mencintainya, seharusnya kamu tidak perlu mengambil langkah untuk pergi seperti ini." Ucap Martin pelan dan lembut.


"Justru karena sangat mencintainya, aku rela melepaskannya daddy, agar dia bisa mencari kebahagiaannya yang baru."


"Tapi aku kamu sudah benar-benar memikirkan keputusan ini sayang?" Tanya Martin lagi yang benar-benar tidak ingin Rachel menjadi gegabah dalam mengambil keputusan.


"Sangat yakin daddy, ku yakin ini memang keputusan yang terbaik."


Akhirnya Martin pun terdiam dan semakin mengeratkan pelukannya terhadap Rachel.


Tak ada yang bisa ia lakukan saat itu karena rumah tangga putrinya, memang putrinya yang paling berhak menentukan, ia hanya bisa menasehati sebagai orang tua.


"Sudah lah sayang, biarkan dia ikut bersama kita. Jika kelak mereka memang di takdirkan untuk bersama, maka biar ke ujung dunia pun Rachel pergi, maka mereka akan kembali bersatu bagaimana pun caranya." Ucap Shea yang ikut memeluk Martin dan Rachel.


"Baiklah, seluruh berkasmu sedang di urus, dan jika kamu sudah mantap dengan keputusan ini, maka bisa daddy pastikan, besok berkas-berkasmu sudah siap." Jelas Martin yang dengan perlahan melepaskan pelukannya.


Rachel pun kembali mengangguk.


"Terima kasih banyak daddy."


"Sekarang kamu istirahat lah dulu di kamar, kamu butuh banyak istirahat, agar pikiranmu setidaknya bisa sedikit lebih tenang." Ucap Shea kemudian.


Rachel lagi-lagi mengangguk dan ingin langsung beranjak menuju kamar.


"Oh ya sayang, apa kamu sudah mengemas barang-barangmu?" Tanya Martin yang membuat langkah Rachel terhenti sejenak.


"Sudah daddy, koperku ada di mobil."

__ADS_1


"Oh ok baiklah, nanti daddy akan suruh seseorang untuk mengeluarkannya."


"Iya daddy, ini kunci mobilnya." Rachel memberikan kunci mobilnya pada Martin dan kemudian langsung melanjutkan langkahnya.


Sisi lain di tepi sungai


Arsen saat itu memarkirkan mobilnya di tepi sungai yang ada di tengah-tengah kota. Lalu ia keluar dan menyandarkan dirinya di bagian depan mobilnya. Kini matanya nampak menatap kosong ke arah sungai, sembari sebelah tangannya terus memegangi ujung bibirnya yang terluka akibat pukulan dari Antony.


Saat itu, Arsen benar-benar tidak tau apa yang tengah ia rasakan. Rasa marah, kesal, sedih, serta kecewa seolah mengumpul menjadi satu kesatuan yang seakan siap menghancurkan perasaannya kala itu.


"Kenapa ini terasa semakin rumit? Kenapa???" Gumam Arsen dalam hati.


Arsen terus melamun dan terus berfikir dalam diam, tentang bagaimana hidupnya di waktu yang akan datang, bagaimana ia harus bersikap pada Rachel, itulah yang ada di dalam benaknya.


Entah sudah berapa lama ia terus merenung, akhirnya ia pun memutuskan untuk kembali ke kantor. Ia belum ingin pulang ke apartement dan kembali melihat wajah Rachel yang nantinya akan membuatnya semakin frustasi.


Arsen kembali ke kantor utama dengan membawa raut wajahnya yang begitu ketat, begitu tiba di lantai paling atas tempat dimana ruangannya berada, ia langsung di hampiri oleh Alex.


"Akhirnya anda kembali tuan muda." Celetuk Alex.


"Bagaimana? Apa hal yang kuperintahkan sebelumnya sudah beres?" Tanya Arsen dengan wajahnya yang begitu datar.


"Baguslah." Jawab Arsen yang kemudian langsung melanjutkan langkahnya seolah tanpa semangat.


"Arsen tunggu!" Teriak Alex lagi yang kembali melangkah menyusul langkah Arsen.


"Ada apa?"


"Tadi Martin menelpon uncle, dan dia mengatakan...."


"Mengatakan apa?" Arsen pun mulai mengerutkan dahinya saat menatap wajah Alex yang mendadak ekspresinya nampak berbeda.


"Jadi,,,. Eemm Martin mengatakan, jika Rachel,,,,"


"Rachel? Ada apa dengannya?" Arsen pun kembali memalingkan pandangannya dan bersikap seolah acuh tak acuh.


"Rachel akan ikut pulang bersama mereka besok siang." Jelas Alex.

__ADS_1


"Apa??!" Mata Arsen pun seketika membulat sempurna dan kembali menatap Alex.


Alex pun kemudian hanya mengangguk.


Tanpa banyak bertanya dan basa basi, Arsen pun langsung saja memutar haluan dan langsung pergi meninggalkan kantor utama. Ia melangkah cepat menuju mobilnya, bergegas mengenakan sabuk pengaman dan langsung melajukan mobilnya ke arah apartement miliknya.


Di sepanjang jalan, Arsen terus mengusap kasar wajahnya, ia semakin tak karuan namun tetap masih belum memahami apa yang ia rasakan saat itu.


Menempuh waktu 15 menit lamanya, akhirnya Arsen berhasil menghentikan mobilnya tepat di depan loby apartement miliknya.


"Selamat siang tuan muda." Sapa seorang security yang berjaga di depan loby.


"Tolong parkirkan mobilku." Ucap Arsen sembari menyerahkan kunci mobilnya.


Arsen pun langsung bergegas melangkah menuju lift untuk naik ke hunian miliknya. Dengan cepat ia masuk ke unitnya dan mendapati ruang tamu dan sekitarnya terasa lengang.


Arsen terus melangkah masuk, memandangi setiap sudut ruangan yang ia lewati, dan sama sekali tidak mendapati sosok Rachel ada di sekitarnya.


Ia pun langsung masuk ke kamar, dan benar saja, Rachel juga tidak berada disana, mengecek kamar mandi yang juga terlihat kosong. Hal yang terakhir yang harus ia lihat adalah lemari, Arsen membuka lemari pakaiannya, dan ya, lemari yang berukuran sangat besar itu terlihat kosong, dan hanya tersisa pakaian miliknya saja.


Arsen pun terdiam, ia melirik ke arah dimana tempat biasanya koper Rachel terletak, kopernya sudah tidak lagi berada di tempatnya. Ia kembali melirik ke arah meja rias yang biasanya dipenuhi dengan berbagai skincare milik istrinya, namun saat itu, meja rias itu pun nampak kosong.


Arsen pun semakin melesu dan mengusap kasar wajahnya, ia mulai melangkah pelan menuju tempat tidur, lalu mulai terduduk di tepi ranjang sembari kembali mengusap wajah dan rambut.


"Dia benar-benar akan pergi?" Tanya Arsen dalam hati.


Tak berapa lama, kedua mata Arsen tak sengaja melirik ke arah nakas, terdapat selembar kertas di atasnya. Ia pun bergegas meraihnya, selembar kertas itu ternyata adalah surat yang di tulis sendiri oleh Rachel sebelum ia benar-benar pergi meninggalkan apartementnya.


Arsen menjadi terpaku sejenak, saat membaca surat dan salam perpisahan dari Rachel, ia membaca surat itu hingga akhir, hingga akhirnya ia pun meremas surat itu dan membuangnya ke sembarang arah.


"Aaaaghhhh!!!" Teriaknya saat membuat gumpalan kertas itu.


Arsen kembali mengusap kasar wajahnya, kini ia semakin dirasuki oleh perasaan kesal yang sulit ia kendalikan. Ia kesal bukan pada Rachel, melainkan pada keadaan yang begitu membuatnya jadi begitu hancur dan terpuruk.


"Aaaaghhhh!!" Pekiknya lagi sembari menepis kasar seluruh barang yang ada di atas nakas hingga seluruh barang itu berhambur ke lantai,


Arsen benar-benar di landa frustasi, namun meski begitu, saat itu ia tak punya pikiran untuk menyusul Rachel ke rumah keluarganya. Yang bisa ia lakukan saat itu hanyalah meluapkan seluruh kekesalan dan rasa emosinya pada seluruh barang yang ada di dekatnya, tanpa mempertimbangkan terlebih dulu jika barang-barang yang akan ia rusak memiliki harga yang cukup fantastis.

__ADS_1


...Bersambung......


__ADS_2