
Mendengar hal itu, membuat Antony seketika langsung bangkit dari duduknya dan menghentikan langkah Arsen dengan ucapannya.
"Jangan terburu-buru merasa bangga."
Membuat langkah Arsen seketika kembali terhenti.
"Kenapa tidak?" Jawab Arsen tanpa menoleh ke arah Antony.
"Bukankah yang menikah saja masih bisa bercerai, apalagi yang baru beberapa hari berpacaran." Antony pun tersenyum sinis.
Mendengar penuturan Antony yang seolah belum merasa kalah, membuat Arsen kembali berbalik badan dan mulai menatap Antony dengan tatapannya yang tajam.
"Jangan coba-coba berfikir bisa merebut apa yang sudah menjadi milikku." Tegas Arsen.
Namun alih-alih merasa takut, mendengar penegasan Arsen justru membuat Antony seketika mendengus dan tertawa geli.
"Jangan lupakan jika kau dan Bella belum ada ikatan resmi apapun, jadi masih bisa direbut."
Ucapan Antony itu pun langsung membuat Arsen mulai naik pitam, kedua tangannya pun mulai mengepal kuat disertai dengan tatapan matanya yang semakin menyorot tajam.
"Jangan bermimpi." Ketus Arsen.
"Hahaha hati wanita adalah ruang misteri yang sulit terpecahkan bung, mungkin hari ini dia memang memilihmu sebagai lelaki yang ia sukai, tapi bisa saja besok atau lusa, dia berubah pikiran dan memilihku. Takdir siapa yang bisa tau hahaha."
"Ya, jika berbicara soal takdir, mungkin kau ada benarnya. Tapi satu hal yang akan kupastikan padamu, Bella, takkan pernah bisa berpaling dariku!" Jelas Arsen yang kembali mencoba bersikap tenang dan tersenyum tipis penuh keyakinan.
Arsen pun kembali berbalik badan dan langsung kembali melanjutkan langkahnya, ia pergi meninggalkan Antony seorang diri dengan segala pikirannya. Saat itu Antony hanya bisa mendengus, dan kemudian ikut melangkah pergi menuju mobilnya.
Sepanjang perjalanannya, Arsen terus dibuat tak tenang, ia jadi begitu kepikiran dengan ucapan Antony yang seolah tak ingin menyerah mendekati Rachel.
"Lelaki itu, bagaimana bisa dia masih berniat untuk mendekati Bella? Apa dia sungguh tak mampu mencari wanita lain?" Ketus Arsen dalam hati sembari mulai menaikkan kecepatan mobilnya.
Kini waktu pun semakin beranjak petang, jam kerja di kantor utama pun telah usai, Rachel sembari mulai membereskan barang-barangnya yang ada di atas meja pun sesekali melirik ke arah ruangan Arsen yang masih kosong.
"Kemana dia? Kenapa belum kembali juga hingga jam segini?" Tanya Rachel dalam hati.
Rachel pun dengan tak bersemangat meraih ponselnya dan membukanya, saat itu sama sekali tak ada pesan atau pun panggilan dari Arsen.
"Bahkan dia sama sekali tidak mengabariku saat tak kembali kesini." Tambahnya lagi sembari menatap lirih layar ponselnya.
__ADS_1
Rachel pun dengan lesu mulai melangkah keluar dari ruangannya, memasuki lift yang akan membawanya turun ke lantai dasar gedung kantor utama. Ia terus melangkah dengan membawa raut wajahnya yang masam menuju loby.
Tin tin...
Suara klakson sebuah mobil mewah pun seketika membuatnya terkejut. Tak lama, kaca jendela bagian belakang mobil mewah itu pun mulai diturunkan dan muncul lah Benzie.
"Bella, kamu pulang sendiri? Dimana Arsen?" Tanya Benzie sembari mengerutkan dahinya.
"Entah lah paman." Jawab Rachel tak bersemangat sembari mengangkat kedua pundaknya.
"Apa dia tidak berada di kantor? Bukankah tadi siang kalian meeting bersama di luar kantor?"
"Benar paman, tapi saat kembali mengantarku ke kantor, dia kembali pergi dan hingga saat ini belum juga kembali. Bahkan sama sekali tidak mengabariku." Jelas Rachel lirih.
"Emm kemana anak itu?" Benzie pun nampak seperti tengah berfikir.
"Ya sudah, ayo masuk lah, paman akan mengantarmu pulang." Tambah Benzie lagi.
"Ah tidak perlu paman." Rachel pun menggeleng cepat sembari tersenyum tipis.
"Aku bisa meminta supirku untuk menjemput." Tambah Rachel lagi sedikit berbisik.
Akhirnya mobil mewah yang di tumpangi Benzie pun kembali melaju, meninggalkan Rachel yang masih berdiri di loby. Tak berapa lama, sebuah mobil sport yang sangat tak asing bagi Rachel pun terhenti tepat di hadapannya. Melihat mobil yang sangat dikenalinya itu, mendadak membuat Rachel kembali memasang wajah masamnya.
Arsen pun terlihat keluar dari mobilnya dan langsung menghampiri Rachel, sementara Rachel dengan wajahnya yang masam dengan ditambah oleh kedua tangannya yang langsung bersedekap menyambut kedatangan Arsen.
"Kemana saja?"
"Maaf karena baru kembali." Ucap Arsen pelan.
"Ayo, ku antar kamu pulang." Tambahnya lagi sembari membukakan pintu mobilnya untuk Rachel.
Rachel pun hanya diam dan akhirnya mulai melangkah memasuki mobil.
Di sepanjang jalan, Arsen dan Rachel saling diam. Rachel diam karena merasa kesal terhadap Arsen yang begitu lama kembali bahkan sama sekali tidak mengabarinya. Sementara Arsen, ia diam karena ucapan Antony terus menerus mengganggu pikirannya.
"Tidak, kali ini aku tidak boleh kalah lagi darinya." Gumam Arsen dalam hati.
"Lagi pula, aku takkan mungkin mau kehilangan wanita yang sangat tulus seperti Bella." Tambahnya lagi.
__ADS_1
Arsen terus menerus bergumam dalam hatinya, hingga tanpa ia sadari Rachel mulai berkali-kali melirik ke arahnya karena sejak tadi sikap Arsen terasa sangat berbeda.
"Sebenarnya tadi kamu kemana?" Akhirnya dengan sedikit ragu Rachel pun memilih untuk memulai obrolan mereka.
"Memangnya kenapa? Apa kamu mulai mencurigaiku?" Tanya Arsen lembut sembari tersenyum tipis.
"Tidak! hanya saja, tidak mungkin aku tidak tau jika kepergianmu tadi menyangkut urusan pekerjaan. Aku Sekretarismu, otomatis aku akan tau semua hal yang menyangkut urusan pekerjaan, baik di dalam mau pun di luar kantor."
"Iya aku tau. Sudah pasti kamu tidak tau kemana aku tadi, karena aku pergi bukan untuk mengurus urusan pekerjaan, melainkan urusan pribadi." Jawab Arsen dengan tenang sembari masih fokus mengemudi tanpa menoleh ke arah Rachel sedikit pun.
"Urusan pribadi?" Rachel pun mulai mengerutkan dahinya menatap Arsen.
"Ya, ada masalah pribadi dengan seseorang yang memang harus aku selesaikan."
Mendengar jawaban Arsen, sontak membuat Rachel seketika terdiam. Entah kenapa, saat itu hatinya mendadak terasa seakan teriris, karena yang ada di pikirannya saat itu ialah, jika urusan pribadi dengan seseorang yang di maksud Arsen adalah urusan percintaannya dengan Laura yang masih belum selesai.
"Ternyata dia masih belum sepenuhnya melupakan Laura, bahkan dia sanggup mencuri-curi waktu untuk bertemu dengan wanita itu. Lalu di anggap apa aku ini?" Gumam Rachel lirih dalam hati.
"Hei," Arsen pun memegang tangan Rachel.
Membuat Rachel tersentak dari lamunan dan kembali menatap Arsen.
"Ada apa? Kenapa tiba-tiba diam?" Tanya Arsen lagi.
"Bukan apa-apa." Jawab Rachel ketus sembari meloloskan tangannya dari genggaman Arsen.
Arsen pun melirik aneh ke arah Rachel dengan tatapan bingung.
"Ada apa?" Tanyanya lagi.
"Ku bilang tidak ada ya tidak ada!" Rachel pun mulai meninggikan suaranya.
Saat itu bertepatan pula dengan mobil Arsen yang telah terhenti sempurna di depan loby apartement milik Rachel. Arsen pun langsung menoleh ke arah Rachel, menatapnya dengan lembut dan kembali bertanya,
"Kenapa mendadak kamu jadi terlihat emosi?" Arsen bertanya begitu lembut sembari kembali ingin meraih tangan Rachel.
Namun dengan cepat Rachel memindahkan tangannya, kemudian langsung membuka pintu mobil dan bersiap ingin keluar dari mobil itu.
"Terima kasih sudah mau repot mengantar." Ucap Rachel yang langsung keluar begitu saja dari mobil Arsen tanpa menoleh sedikit pun lagi ke arahnya.
__ADS_1
...Bersambung......