Pewaris Tahta

Pewaris Tahta
Eps 160


__ADS_3

Arsen berjalan dengan tergesa-gesa menuju kamarnya, lalu langsung bergegas menuju westafel yang ada di kamar mandi. Dengan cepat ia langsung membasuh wajahnya, nafasnya seolah jadi begitu tersengal-sengal saat menahan gejolak yang terus berusaha sekuat tenaga ia tahan sejak kemarin.


"Haaish, lama-lama aku bisa gila jika seperti ini terus." Keluh Arsen sembari memandang lirih pantulan dirinya di cermin.


Kemudian Arsen melirik ke arah bak mandi yang ada di sebelahnya, lalu ia mulai mengacak-acak rambutnya dan kembali mengeluh.


"Aaaagh, haruskah aku mandi lagi? Haisss, kau ini, kenapa melihat begitu saja sudah langsung bangun!!" Arsen kembali melirik ke arah Arsen junior yang ada di bagian bawahnya,


"Benar-benar merepotkan saja." Keluh Arsen yang kembali mengacak-acak rambutnya dan berjalan lesu menuju kamar mandi.


Lima belas menit berlalu, Arsen keluar dengan sudah nampak kembali segar dengan hanya berbalut selembar handuk berwarna putih di pinggangnya. Ia melirik ke arah ranjang, namun tidak mendapati Rachel, lalu beralih melirik ke arah pintu yang masih tertutup rapat.


"Masih belum masuk juga? Apa yang dilakukannya disana dalam waktu selama ini?" Tanya Arsen dalam hati.


Namun rasa penasaran itu tidak bertahan lama, karena Arsen segera menepisnya dan memilih untuk tidak mau ambil pusing. Namun sepertinya Arsen melupakan satu hal yang sedang ia coba sembunyikan dari Rachel. Yaitu hadiah dari Antony yang ia buang ke tempat sampah di ruangannya. Ia sama sekali tak memikirkan hal itu hingga membuatnya tetap bersikap tenang dan santai meski ia tau Rachel berada di ruangannya.


Arsen memilih untuk membaringkan tubuhnya di atas ranjang, mencoba untuk tidur lebih awal demi menyelamatkan dirinya dari godaan Rachel, di tambah pula besok pagi ia pun sudah mulai kembali masuk ke kantor.


Sementara Rachel, saat itu ia memutuskan untuk meletakkan kotak hadiah beserta seluruh isinya di dapur, ia memilih menyimpannya di dapur, karena dapur adalah tempat yang paling tidak mungkin di jamah oleh Arsen Lim.


"Maaf Arsen, aku terpaksa menyimpannya disini, jika di total, mungkin semua barang ini bisa saja mencapai 2 Milyar, lalu kamu dengan mudahnya mau membuang uang sebanyak itu ke dalam tempat sampah? Aku tentu tidak akan membiarkannya." Gumam Rachel dalam hati sembari memandangi kotak hadiah yang telah ia letakkan di lemari gantungnya.


Kemudian Rachel pun kembali ke kamarnya, ia berdiri sejenak di depan pintu dan terus memandangi Arsen yang kala itu tengah berbaring membelakanginya.


"Huh, malam kedua pun gagal lagi." Ujarnya dalam hati yang kembali melangkah dengan lesu menuju ranjangnya.


Rachel duduk di tepi ranjang dan kembali memandangi Arsen yang telah terlelap dengan tatapan sendu.


"Apa kamu sungguh sudah tidur?" Tanya Rachel lagi dengan lembut,


Namun tak ada jawaban apapun yang terdengar dari mulut Arsen. Membuatnya hanya bisa menghela nafas dan memilih untuk menyelimuti Arsen yang nampaknya sedikit kedinginan.


"Selamat tidur suamiku, meski sikapmu masih saja sedingin es, tapi sama sekali tidak membuatku putus asa untuk meluluhkan hatimu lagi." Ucapnya pelan sembari mengusap lembut ujung kepala Arsen.


"Entah sampai kapan kita harus terus seperti ini, entah sampai kapan pula kamu harus terus menghindariku, tapi setidaknya malam ini aku cukup senang saat mengetahui jika kamu masih memiliki rasa cemburu terhadap Antony." Ungkapnya lagi dari dalam hati.


Kini tak terasa jarum jam sudah menunjukkan pukul 23.20 malam, Rachel pun mulai berbaring di sisi Arsen dan mulai memejamkan matanya.

__ADS_1


Pagi hari yang cerah...


Pagi ini, Rachel bangun lebih awal, bahkan ia sudah bangun saat sinar matahari belum menyapa dari selah-selah jendela. Jam baru menunjukkan pukul 05:00 pagi, tapi Rachel sudah terlihat sibuk berkutik di dapur.


Dengan penuh semangat, ia memasak nasi goreng seafood yang tentunya menjadi kegemaran Arsen. Menatanya di meja beserta secangkir teh dan orange jus seperti biasa. Selesai masak, ia pun langsung menuju kamar mandi, mengguyur tubuhnya dengan air hangat yang cukup membantu merilekskan tubuhnya sesaat,


Dua puluh lima menit berlalu dengan cepat, kini Rachel keluar dengan sudah memakai bathrobe miliknya. Melirik ke arah suaminya yang masih tertidur pulas dan membangunkannya.


"Sayang." Ucapnya lembut sembari membelai pipinya.


"Emmm." Jawab Arsen yang nampaknya masih memejamkan mata.


"Bangun sayang, bukankah hari ini kamu ke kantor, ayo bangun."


"Emm" jawabnya lagi sembari kembali menarik selimut.


"Ehh sayang, ayo bangunnn." Rachel pun menarik-narik tangan Arsen.


"Masih ngantukk." Keluh Arsen sedikit merengek seperti anak kecil.


Membuat Rachel jadi tersenyum sejenak, itu pertama kalinya dia melihat Arsen yang bersikap seperti anak kecil yang manja, dan terlihat begitu menggemaskan.


"Aa jangan!" Seketika Arsen langsung terduduk.


Membuat Rachel jadi kembali tersenyum puas karena berhasil membangunkan Arsen tanpa perlu membuang banyak energi.


"Aaaa suamiku sayang, kamu terlihat manis sekali ketika jadi penurut begini ulululuuu." Rachel dengan begitu gemas mulai menguwel-uwel kedua pipi Arsen.


Membuat Arsen hanya bisa terdiam lesu dan langsung beranjak begitu saja dari tempat tidur menuju kamar mandi.


Meninggalkan Rachel yang masih terduduk di tepi ranjang dengan senyumannya yang khas.


"Lagi-lagi dicuekin, emm tidak apa Rachel, bukankah kamu sudah mulai terbiasa." Gumam Rachel seorang diri yang akhirnya ikut beranjak menuju lemari.


Menyiapkan segala perlengkapan Arsen mulai dari pakaian, dasi, ikat pinggang serta kaus kaki, sudah menjadi tugas baru bagi Rachel, dan dia pun cukup menikmatinya. Setelah berpakaian rapi, ia kembali ke dapur untuk menghidangkan nasi goreng yang tadi ia masak.


Tak lama Arsen pun terlihat keluar dari kamar dengan sudah berpakaian sangat rapi. Tanpa menyapa Rachel, ia terus saja menuju ke ruang kerja untuk mengambil beberapa berkas yang akan ia bawa ke kantor.

__ADS_1


Namun baru saja ingin kembali keluar, ia kembali melirik ke arah tempat sampah yang sudah terlihat kosong. Matanya seketika membulat, mendekati tempat sampah itu lagi untuk memastikan jika ia tidak salah lihat.


"Kosong?? Kemana sampah-sampah yang kemarin ku buang?" Tanyanya keheranan.


Mengingat Rachel yang ada di ruang kerjanya tadi malam, sontak membuat matanya semakin mendelik.


"Astaga, apa dia akhirnya mengetahuinya?!" Tanya Arsen seorang diri yang mulai nampak panik.


Arsen bergegas kembali keluar dan melangkah cepat menuju dapur, namun saat melihat Rachel yang bersikap seolah biasa saja, membuatnya ragu untuk menanyakan langsung padanya. Arsen pun jadi terdiam sejenak sembari memandangi Rachel dengan tatapan yang berbeda, Rachel yang menyadarinya sontak meliriknya dan bertanya,


"Kenapa menatapku seperti itu? Apa ada masalah?" Tanya Rachel yang mulai menduduki kursi seolah bersiap untuk menyantap sarapannya.


"Emm tidak, hanya saja ruang kerjaku sepertinya ada perubahan."


"Oh itu, kulihat mejamu begitu berantakan, jadi aku memutuskan untuk merapikannya. Kenapa? Apa tidak boleh?" Jelas Rachel dengan santai.


"Boleh-boleh saja, ta,, tapi di tempat sampah emmm..."


"Oh tenang saja, tidak ada berkas yang ku buang ke tempat sampah. Semua ku simpan di dalam map."


"Emm begitu ya, lalu,,, lalu bagaimana dengan sampah-sampah yang ada di dalam tempat sampah ruang kerjaku? Apa,, emm apa kamu ada memungutnya?"


"Haiyo apa aku terlihat seperti tidak ada kerjaan, hingga sempat untuk memungut sampah di tempat sampah? Seluruh sampah, tadi pagi sudah di buang langsung oleh cleaning service apartement ini." Jelas Rachel berbohong sembari melirik Arsen untuk melihat reaksinya.


"Jadi bukan kamu yang melakukannya?" Tanya Arsen memastikan.


"Tentu saja bukan, memangnya kenapa? Apa ada masalah dengan sampah-sampah itu?" Rachel mulai memicingkan matanya.


"Oh tidak, sama sekali tidak ada masalah. Malah bagus, semakin cepat membuangnya malah semakin bagus. Ya, itu tindakan yang tepat." Jawab Arsen yang langsung tersenyum tipis seolah merasa begitu lega.


"Tindakan yang tepat? Kenapa bisa begitu?"


Arsen pun seketika jadi terdiam sejenak.


"Oh emm ya tentu saja, aku sangat tidak suka jika ada sampah lama-lama mengendap di tempat sampah, itu akan membuat ruangan menjadi bau." Jawab Arsen berkilah.


"Oooohh." Rachel akhirnya hanya memilih untuk terus mengangguk-anggukan kepalanya sembari menahan tawanya.

__ADS_1


Melihat ekspresi Arsen yang sedikit gugup dalam mencari alasan membuat wajahnya sedikit memerah, dan itu sungguh lucu bagi Rachel yang sebenarnya tau jika ia berbohong.


...Bersambung......


__ADS_2