Pewaris Tahta

Pewaris Tahta
Eps 95


__ADS_3

Rachel terus berjalan cepat untuk menyusul Arsen yang sudah keluar lebih dulu, ia begitu berharap bisa memberi penjelasan pada Arsen yang kala itu terlihat begitu kecewa dan marah.


Namun saat itu Arsen terlihat sudah menghidupkan mobilnya seolah siap untuk segera menjalankan mobilnya itu. Melihat itu, Rachel pun langsung berlari ke arah mobil itu, tapi sayang, nampaknya saat itu Arsen sudah terlanjur kecewa hingga tak berminat untuk menggubris Rachel yang mencoba menahan mobilnya.


"Arsen Lim tunggu, jangan pergi dulu!" Teriak Rachel sembari memukul-mukul pelan kaca mobil Arsen.


Saat itu Arsen sama sekali tak menoleh ke arah Rachel, ia justru langsung menginjak gas mobilnya dan pergi begitu saja meninggalkan Rachel.


"Arsen Lim jangan pergi." Teriak Rachel lagi saat Mobil Arsen mulai menjauhinya.


Saat itu Antony masih tercengang heran memandangi kepergian Rachel yang terkesan mendadak dan tanpa di duga-duga. Namun seketika ia seolah tersentak, ia pun langsung meletakkan berlembar-lembar uang di atas meja, lalu seketika langsung berlari untuk menyusul Rachel.


Saat itu Rachel terlihat masih berdiri terdiam di area parkir dengan raut wajah yang begitu murung dengan tatapannya yang terus memandangi lurus ke depan.


"Bella." Panggil Antony yang kini telah berdiri tepat di belakang Rachel.


Rachel pun menoleh ke arahnya dan seketika langsung ingin pergi dan menghindar saat menyadari orang yang memanggilnya adalah Antony.


"Hei tunggu!" Antony pun dengan cepat menarik tangan Rachel.


Membuat langkah Rachel seketika terhenti, lalu mulai kembali menoleh dengan wajah datarnya ke arah Antony.


"Sebenarnya ada apa denganmu? Kenapa tiba-tiba jadi marah seperti ini?" Tanya Antony yang masih tidak paham dengan perubahan sikap Rachel saat itu.


"Tidak ada, aku hanya lelah dan ingin segera pulang. Tolong lepaskan tanganku." Ucap Rachel sembari mencoba melepaskan tangannya dari genggaman Antony.


Namun nampaknya hal itu sama sekali tak berhasil karena Antony seolah tidak membiarkan Rachel kembali pergi begitu saja.


"Baiklah, biarkan aku mengantarmu." Ucap Antony.


"Ah tidak perlu, aku bisa pulang sendiri."

__ADS_1


"Aku antar kamu pulang! Jika tidak aku takkan melepaskan tanganmu." Tegas Antony.


Membuat Rachel seketika terdiam dan mendengus kesal. Akhirnya mau tak mau Rachel pun setuju, ia pun masuk ke mobil Antony dengan perasaan terpaksa. Sepanjang jalan Rachel terus berdiam diri dengan tatapannya yang kosong menghadap ke arah jendela mobil.


Kini pikirannya seolah semakin liar berkelana, memikirkan kemana gerangan Arsen pergi, ia pun kembali terbayang bagaimana raut wajah Arsen saat dirinya tak mampu membuat pilihan ketika Arsen memintanya. Kini perasaan bersalah mulai datang menyelusup ke lubuk hati, di tambah pula dengan sebuah tanda tanya besar pun ikut hadir dalam pikirannya.


"Dari raut wajahnya terlihat jelas pancaran kekecewaan, apa itu artinya dia sungguh mulai memiliki perasaan untuk ku? Atau hanya sekedar tidak rela aku dekat dengan Antony karena ia begitu tak suka padanya?" Gumam Rachel dalam hati.


"Sejak tadi terus diam dan melamun, apa ada yang mengganggu pikiranmu?" Tanya Antony yang membuat buyar lamunan Rachel saat itu.


"Tidak ada." Jawab Rachel singkat.


"Tapi sayangnya kamu tidak memiliki bakat akting yang bagus, hingga aku bisa melihat dengan jelas kebohongan dari wajahmu." Celetuk Antony sembari tersenyum tipis.


Rachel seketika terdiam dan mulai menoleh ke arah Antony.


"Apa sebenarnya hubungan kalian?" Tanya Antony lagi.


"Kalian?" Tanya Rachel yang nampak bingung.


"Ka, kami, emm... kami tidak ada hubungan apapun, hanya sebatas partner kerja saja." Jawab Rachel berbohong.


Mendengar hal itu lagi dan lagi membuat Antony mendengus sembari tersenyum.


"Sampai kapan kamu terus mencoba membohongiku? Aku melihat tatapan Arsen Lim tadi sangat berbeda padamu. Sebenarnya ada apa? Apa dia sudah tidak berpacaran lagi dengan pacarnya?"


"Aku, emmm aku... aku tidak tau." Jawab Rachel dengan suara yang semakin pelan.


"Bahkan Antony pun menyadari jika tatapan Arsen malam ini begitu berbeda padaku, apa itu benar? Aku bahkan tak tau harus merasa senang atau sedih saat ini." Gumam Rachel dalam hati.


Tak lama mobil yang membawa mereka pun tiba di lahan apartement Rachel. Rachel pun turun dari mobil itu dengan lesu.

__ADS_1


"Terima kasih banyak sudah mengantarku pulang." Ucap Rachel pelan.


"Harusnya aku yang berterima kasih. Terima kasih, terima kasih telah bersedia untuk makan malam denganku." Jawab Antony tersenyum tipis.


Rachel pun hanya mengangguk pelan.


"Baiklah kalau begitu, nampaknya aku harus pergi karena hari sudah malam. Selamat beristirahat dan semoga mimpi indah."


"Iya, kamu juga." Jawab Rachel yang ikut tersenyum tipis.


Antony pun pergi, meninggalkan Rachel yang masih berdiri di depan loby apartement nya.


Lagi-lagi Rachel teringat Arsen, pikirannya kembali di buat tak karuan memikirkan Arsen.


"Sedang apa dan dimana kamu Arsen Lim? Aku harap kamu tidak bertindak bodoh seperti kemarin." Gumam Rachel dalam hati sembari menatap nanar jalanan yang mulai nampak lengang.


Rachel begitu khawatir Arsen akan kembali datang ke bar dan kembali mabuk seperti beberapa waktu lalu. Namun saat itu Rachel tak bisa berbuat banyak, ia pun memilih untuk mengirim pesan pada Benzie untuk menanyakan ada tidaknya Arsen di rumah mereka.


Dan ternyata balasan Benzie mengatakan jika Arsen sudah pulang sejak setengah jam yang lalu, membuat perasaan Rachel pun akhirnya sedikit lebih tenang.


Rachel pun akhirnya masuk ke apartement miliknya, lalu mulai menghempaskan tubuhnya yang memang merasa begitu lelah ke atas ranjang empuk miliknya.


Pagi hari yang cerah...


Pagi itu, dengan di temani sinar mentari pagi yang begitu cerah, Rachel terus melangkah setengah berlari menuju loby kantor utama. Karena memang ia selalu menyuruh supirnya untuk selalu menurunkannya agak jauh dari loby kantor agar penyamarannya tidak ketauan.


Hari ini, Rachel datang sedikit lebih awal dari biasanya, ia pun masuk ke dalam ruangannya sembari melirik ke arah meja Arsen yang saat itu masih terlihat kosong. Rachel pun mulai duduk di kursinya sembari melirik ke arah jam tangan miliknya.


"Sudah jam segini, tumben sekali dia belum datang." Celetuk Rachel seorang diri.


Karena memang selama ini Arsen lah yang selalu datang lebih dulu ketimbang dirinya. Setengah jam pun berlalu, namun wujud Arsen masih belum juga terlihat memasuki ruangannya, hal itu pun membuat Rachel yang sejak tadi menunggunya mulai merasa resah dan gelisah. Berkali-kali ia melirik ke arah jam tangannya, dan berkali-kali pula ia melirik ke arah meja kerja Arsen yang masih kosong.

__ADS_1


"Kemana dia? Sudah hampir jam sembilan, kenapa masih belum datang? Dia bahkan tidak ada mengabariku sama sekali." Gumam Rachel dalam hati yang mulai bangkit dari duduknya sembari memandangi ponselnya yang saat itu sama sekali tidak ada pesan atau pun panggilan.


...Bersambung......


__ADS_2