Pewaris Tahta

Pewaris Tahta
Eps 46


__ADS_3

"Astaga, jangan sampai dia sadar jika sejak tadi aku terus memandanginya, jangan sampai!"


"Hei." Panggil Arsen dengan datar.


Rachel pun kembali menatap Arsen.


"Apa kamu dengar dan paham dengan apa yang kukatakan barusan?" Tanya Arsen lagi.


"Oh iya tuan muda, aku paham." Jawab Rachel dengan cepat.


"Kalau begitu, apa yang ku katakan barusan?" Arsen pun mencoba mengetes Rachel.


"Oh itu, emm oh iya masih ada sedikit kesalahan di, emm di bagian ini, ini, dan..." jawab Rachel yang kembali gugup sembari sedikit terbata-bata karena memang dia tidak terlalu fokus mendengar apa yang di ucapkan oleh Arsen.


"Dan...." Rachel pun semakin kebingungan mencari bagian mana lagi yang salah.


Arsen pun terdiam sejenak dengan terus menatap datar ke arah Rachel, lalu akhirnya ia mulai menghela nafas dan mengarahkan jari telunjuk Rachel ke arah sebuah kolom di laptopnya.


"Dan ini." Ucap Arsen lagi.


Arsen pun kembali berdiri tegak, lalu mulai merapikan jas nya, hingga akhirnya ia kembali beranjak.


"Fokus lah Bella, jangan kebanyakan main ponsel di jam kerja." Ucapnya sembari terus melangkah.


Saat itu Rachel pun terus terdiam dengan sebelah tangannya yang mulai memegangi jantungnya yang kian berdetak begitu cepat.


"Oh god, jantungku, jantungku terasa seperti mau copot. Astaga, astaga bagaimana ini? Oh Arsen, sikapmu sok dingin tapi kenapa jadi terasa begitu manis sekali." Gumam Rachel yang terus menahan senyumannya dan kembali melirik Arsen yang sudah kembali duduk di mejanya.


"Ok Rachel, fokus, fokus, fokus!" Rachel pun akhirnya menepuk-neluk pelan pipinya agar bisa kembali fokus pada pekerjaannya.


Tanpa ia sadari, Arsen dari ruangannya masih memandanginya dan langsung menggelengkan kepalanya saat melihat tingkah aneh Rachel.


"Benar-benar aneh." Celetuk Arsen.


Beberapa saat pun berlalu, jam makan siang pun tiba, Arsen pun akhirnya bangkit dari duduknya, ia mulai merapikan jasnya untuk bersiap makan siang di luar bersama ayahnya Benzie Lim. Namun tiba-tiba Rachel dengan grasak grusuk dan terlihat begitu tergesa-gesa langsung masuk ke dalam ruangan Arsen dengan sudah membawa laporan yang sejak tadi ia kerjakan.


"Ini laporannya tuan muda." Ucapnya sembari langsung meletakkan map berwarna hitam itu ke atas meja kerja Arsen.


Sejenak Arsen terdiam, dengan wajah datarnya ia pun mulai memandangi Rachel dan map hitam itu secara bergantian.


"Baiklah, nanti ku periksa." Ucap Arsen dengan tenang yang ingin mulai melangkah pergi.

__ADS_1


Namun hal itu sontak membuat mata Rachel membulat dan dengan spontan ia langsung memanggil Arsen hingga membuat langkahnya terhenti.


"Hei tuan muda."


Arsen pun seketika menoleh tanpa menjawab.


"Apa begitu saja? Apa anda tidak ingin memeriksanya lebih dulu?" Tanya Rachel.


"Kan sudah ku bilang, nanti saja aku periksa, apa kamu tidak melihat jam?" Arsen dengan tenang dan dengan jari telunjuknya mulai menunjuk ke arah jam tangan mewah miliknya.


"Ini sudah jam makan siang, dan aku tentu tidak mau mengalami sakit magh hanya karena menunggu laporanmu selesai yang sangat tidak tepat waktu ini." Tambah Arsen lagi yang kembali memasukkan kedua tangan ke dalam saku celananya.


"Ta, tapi saya menyelesaikannya tidak terlambat tuan muda."


"Aku bilang selesaikan sebelum jam makan siang, apa kamu mulai pikun?" Tanya Arsen dengan sikapnya yang masih terlihat tenang namun datar.


Rachel pun seketika terdiam, dengan bibirnya yang sedikit manyun, sementara Arsen tanpa berkata apapun lagi langsung saja keluar dari ruangannya meninggalkan Rachel yang masih berdiri terdiam.


Begitu Arsen keluar, Rachel pun mulai menggeram seorang diri, seolah ia ingin sekali memukuli Arsen saat itu juga.


"Huhhh, dasar menyebalkan! Ternyata dia masih sama seperti dulu, sama-sama menyebalkan. Astaga, kenapa aku bisa suka pada lelaki seperti itu? Rachel oh Rachel, ku yakin ada yang salah dengan otakmu kali ini." Rachel terus menggerutu seorang diri sembari kembali melangkah untuk keluar dari ruangan pribadi milik Arsen itu.


"Tapi tidak bisa di pungkiri, sikapnya terkadang benar-benar sangat manis dan justru membuat ku makin meleleh." Gumam Rachel lagi yang terus tersenyum layaknya orang yang sedang kasmaran.


Tok tok tok


"Nona Bella." Suara ketukan pintu dan di susul pula dengan suara seorang wanita memanggil namanya sontak membuat Rachel tersadar dari lamunannya yang indah.


"Eh iya." Rachel pun spontan langsung berdiri.


Tak lama seorang wanita pun muncul dari balik pintu, wanita yang begitu terlihat ramah. Dia adalah Anna, sekretaris dari Alex.


"Nona Bella, tuan besar Benzie Lim dan tuan muda Arsen telah menunggu anda di loby."


"Hah?! Menungguku? Ta, tapi menungguku untuk apa?" Tanya Rachel yang merasa bingung.


"Tuan besar Benzie mengajak anda untuk makan siang bersama." Jawab Anna dengan senyum manisnya yang seolah tak pernah lekang.


"Makan siang bersama? Oh ok, aku akan segera turun." Rachel pun akhirnya ikut tersenyum.


"Baiklah." Anna pun akhirnya berlalu pergi.

__ADS_1


Wajah Rachel pun kian terlihat sumringah, hingga ia pun langsung melompat kegirangan.


"Yeayyy." Teriaknya yang spontan terlontar begitu saja.


"Ini pasti rencana paman Ben, sungguh sangat pengertian hehehe." Ungkapnya lagi yang jadi begitu kegirangan.


Dengan cepat ia pun langsung meraih bedak dan lipstick dari tasnya, lalu mulai memoles kembali wajahnya dengan penuh semangat.


"Ok saatnya turun." Ucapnya lagi sembari kembali memasukkan barang-barangnya ke dalam tas.


Rachel pun berjalan cepat menuju lift untuk turun ke lantai dasar gedung yang menjulang tinggi itu.


Ting


Suara pintu lift yang akhirnya terbuka dan sudah membawa Rachel ke lantai dasar, Benzie, Alex, dan Arsen pun terlihat sudah terduduk di sofa tunggu yang ada di sisi sebelah kanan loby.


"Maaf saya terlambat." Ucap Rachel sembari membungkukkan badannya saat berada di hadapan para bos Blue Light.


"Sepertinya kamu ini memang lambat ya dalam melakukan hal apapun." Celetuk Arsen namun masih dengan sikapnya yang tenang.


"Sudah lah, ayo kita berangkat sekarang." Ucap Benzie yang langsung bangkit dari duduknya dengan senyumannya yang begitu kharismatik.


Rachel yang cengengesan pun hanya bisa mengangguk, Arsen dan Alex pun akhirnya ikut bangkit dan mulai melangkah keluar dari loby.


"Oh ya, Ada hal yang harus papa bicarakan dengan uncle mu, kamu naik mobil mu sendiri ya." Ucap Benzie yang mendadak menghentikan langkahnya saat mereka tak jauh dari parkiran.


"Baik pa."


"Dan bawa Bella ikut di mobil mu ya, kita bertemu di restoran."


Mendengar hal itu, lagi-lagi Rachel kembali tersenyum senang, saat itu Benzie benar-benar membuktikan ucapannya untuk membukakan jalan selebar-lebarnya untuk Rachel agar bisa lebih dekat dengan Arsen.


"Emm baiklah pa." Jawab Arsen yang kemudian langsung saja melangkah masuk ke mobilnya.


Benzie pun tersenyum lalu melirik ke arah Rachel, saat itu Rachel ikut tersenyum lebar sembari menjulurkan jari jempolnya pada Benzie sebagai tanda kepuasannya dengan rencana pamannya itu.


"Terima kasih paman." Bisik Rachel yang kemudian akhirnya menyusul Arsen untuk masuk ke mobil.


"Huh, benar-benar calon mertua idaman ya hahaha." Celetuk Alex sembari tertawa lebar dan langsung masuk ke mobil.


...Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2