Pewaris Tahta

Pewaris Tahta
Eps 53


__ADS_3

Tanpa banyak bertanya dan membuang waktu, lelaki itu pun langsung saja meminum teh itu hingga habis total. Setelah meminumnya, Laura pun tersenyum dan langsung menarik kembali lelaki itu untuk kembali ia ciumi dengan ganas.


Di atas sofa itu mereka terus bergulat layaknya dua ekor singa yang saling kelaparan, tak puas hanya di sofa, Laura pun akhirnya menarik lelaki itu, ia mengajaknya pindah menuju ke kamarnya agar mereka bisa lebih leluasa melakukan apapun dan dengan gaya apapun. Kini Laura benar-benar telah di kuasa oleh nafsunya yang begitu memuncak.


Bahkan ia tak lagi mengingat Arsen sebagai kekasihnya saat itu, yang ia tau hanya bagaimana cara agar gairahnya malam itu bisa dengan puas terlampiaskan. Ya begitulah sisi buruk dari seorang Laura yang hingga kini belum diketahui oleh Arsen. Lalu bagaimana dengan lelaki yang sedang bersama Laura? Siapakah gerangan lelaki itu?


Ya, lelaki itu ialah Erick, sahabat Arsen sendiri. Bagaimana itu bisa terjadi? Semua berawal dari ketika Laura dan Erick mabuk bersama di sebuah club malam. Saat itu Arsen Lim tidak bisa ikut, begitu juga dengan Mila pacar Erick yang sedang tidak enak badan.


Laura, Erick dan bersama teman-teman mereka yang lain pun mengadakan party, mereka begitu banyak minum untuk menikmati malam itu. Hingga akhirnya club malam itu pun tutup, mereka yang mabuk mau tak mau harus menyudahi party dan pulang ke rumah masing-masing. Namun Laura yang begitu oleng akhirnya di antar oleh Erick, saat itu mereka sama-sama mabuk berat, di tambah lagi bertepatan juga dengan rumah Laura yang sering kosong. Itulah awalnya bagaimana mereka memulai hubungan semacam itu tanpa ada satu orang pun yang tau.


Erick dan Laura hingga detik ini masih berstatus teman, namun meski begitu, layaknya budaya barat, mereka bisa dengan mudah dan tanpa beban melakukan hubungan intim saat mereka butuh. Hanya sekedar saling memuaskan meski tanpa ada perasaan cinta sama sekali.


Sisi lain di kediaman keluarga Lim...


Benzie akhirnya menceritakan semuanya pada Yuna istrinya, awalnya Yuna begitu kaget saat tau Rachel anak dari Shea dan Martin kini telah resmi menjadi sekretaris dari putranya Arsen. Namun akhirnya ia pun ikut mendukung keputusan Benzie yang ingin menyatukan Arsen dan Rachel tanpa harus memaksa menjodohkan mereka.


Tak lama mobil sport Arsen pun terlihat mulai memasuki kawasan rumah yang begitu luas itu.


"Akhirnya dia pulang juga." Celetuk Benzie saat melirik ke arah bawah balkon rumahnya.


Benzie dan Yuna pun beranjak masuk untuk segera menemui putranya, tak lama Arsen pun terlihat dengan lesu mulai menapaki anak tangga.


"Akhirnya kau pulang juga." Ucap Benzie.


Arsen pun langsung melirik ke arah lantai dua dimana Benzie dan Yuna sedang berdiri menunggunya untuk tiba di lantai dua.

__ADS_1


"Ada hal penting apa pa? Apa cukup serius?" Tanya Arsen kemudian.


Seketika Benzie pun langsung jadi sedikit gelagapan, karena sesungguhnya itu hanya sebuah siasatnya saja agar Arsen segera pulang dan memang tidak ada hal penting yang harus dibicarakannya.


"Ada apa pa? Apa masalahnya begitu serius?" Tanya Arsen lagi dengan wajahnya yang terlihat seperti kelelahan.


Namun hal itu justru bisa menjadi alibi baru bagi Benzie, nampaknya setiap hari bersama dengan Alex ada untungnya juga karena membuat Benzie jadi mudah mencari alasan seperti seorang Alex yang selalu jago mencari alasan agar dirinya tidak terpojok.


"Arsen Lim, wajahmu nampak sedikit pucat dan terlihat begitu kelelahan." Ucap Benzie yang kembali bersikap tenang.


"Ah iya pa, aku merasa lelah sekali hari ini, sepertinya aku butuh istirahat lebih awal malam ini." Jawab Arsen sembari mengusap-usap tengkuknya.


"Oh ok baiklah, kalau begitu kau istirahat lah sekarang, ayo, ayo, segeralah masuk ke kamarmu ." Ucap Benzie yang langsung tersenyum sembari mendorong pelan tubuh Arsen seolah menyuruhnya untuk masuk ke kamarnya saat itu juga.


"Tapi pa, bagaimana dengan hal penting yang ingin papa bicarakan?"


"Emmm baiklah, kalau begitu aku masuk dulu. Selamat malam pa, ma." Arsen dengan membawa sedikit rasa bingung dan aneh melihat sikap papanya pun akhirnya memilih langsung beranjak menuju kamarnya.


"Selamat malam Arsen, selamat tidur." Ucap Yuna yang akhirnya ikut tersenyum.


Benzie pun kembali merangkul pundak Yuna sembari terus tersenyum memandangi kepergian putranya. Yuna pun mulai melirik ke arah suaminya dan kembali berkata.


"Sikapmu tadi benar-benar terlihat aneh, aku merasa seolah sedang melihat seorang Alex yang sedang beralibi." Celetuk Yuna sembari menahan tawanya.


"Mau bagaimana lagi, sebagai orang tua terkadang aku perlu melakukan itu agar putraku tidak melakukan hal-hal di luar batas. Lagi pula, banyak bergaul dengan Alex ternyata ada gunanya juga hehehe." Benzie pun akhirnya tertawa geli.

__ADS_1


Yuna pun akhirnya ikut tertawa sembari mencubit kecil perut suaminya.


"Awww sakit sayang, kenapa kamu begitu hobi mencubit perutku?" Keluh Benzie sedikit meringis sembari mengusap-usap perutnya.


"Biar saja." Jawab Yuna yang semakin tersenyum.


"Cobalah cari hobi yang lain sayang, yang sekiranya bisa membuatku lebih senang." Bisik Benzie.


"Contohnya?"


"Contohnya, cobalah hobi baru yaitu membelaiku seperti ini." Benzie pun menarik tangan Yuna, lalu meletakkan jemari Yuna pada bagian dadanya dan kemudian ia pun mulai membelai dadanya sendiri.


"Nah begini lebih bagus dari pada mencubitku sayang." Bisik Benzie yang semakin melebarkan senyumnya.


"Astaga sayang, ini benar-benar terlihat menggelikan." Ucap Yuna yang kemudian langsung beranjak pergi sembari tertawa geli.


"Sayang, ayolah," Benzie pun berjalan cepat menyusul istrinya dan kembali merangkulnya sembari berjalan menuju kamar mereka.


"Ayo apa?" Tanya Yuna.


"Ayo kita lanjutkan yang tadi." Bisik Benzie lagi.


Yuna pun akhirnya hanya bisa tersenyum, lalu ia pun terus melangkah masuk ke kamarnya, dan di susul dengan Benzie yang masih saja memepet istrinya seolah tak membiarkan istrinya lolos lagi.


Pintu kamar pun mulai di tutup rapat, lampu kamar yang terang mulai di padamkan, hingga hanya tersisa dua lampu tidur di sisi kanan dan kiri ranjang. Selanjutnya, hal yang sejak tadi begitu di inginkan oleh Benzie pun akhirnya bisa terwujudkan saat itu juga.

__ADS_1


Yuna begitu memahami kewajibannya sebagai seorang istri, hingga meski dalam keadaan se lelah apapun atau bagaimana pun, ia akan tetap melayani Benzie saat Benzie menginginkannya meski kadang permintaan Benzie sering di tempat-tempat yang tak terduga.


...Bersambung......


__ADS_2