Pewaris Tahta

Pewaris Tahta
Eps 156


__ADS_3

Rachel meletakkan tas dan bukunya ke atas meja bar, lalu langsung beranjak ke dapur dan mulai memasak. Sesekali ia melirik ke arah kamarnya dengan memasang wajah sedikit sinis.


"Jelas-jelas sudah mulai menyukai masakanku, tapi masih saja berlagak sok cuek." Celetuk Rachel seorang diri.


Kemudian Rachel pun akhirnya kembali tersenyum sembari menggelengkan kepalanya.


"Dasarrr." Ujarnya lagi.


Waktu 40 menit berlalu, kini Rachel telah berhasil menghidangkan makanan panas di meja. Ia pun kembali tersenyum sembari mulai mengendus aroma masakan yang ia masak.


"Eemm, baru mencium aromanya saja sudah cukup membuatku bersemangat, apalagi memakannya." Gumamnya lagi sembari semakin mengembangkan senyumannya.


"Apa sudah?" Tanya Arsen yang tiba-tiba saja muncul dan berdiri tepat di hadapannya.


"Oh, iya sudah, baru saja selesai. Makan lah."


Arsen mulai duduk dan memandangi hidangan makan siang yang tercium begitu harum aromanya itu.


"Aku masak grill Salmon dan Chicken Teriyaki." Jelasnya lagi yang masih berdiri di hadapan Arsen,


Arsen hanya diam, lalu meraih garpu dan pisau untuk mulai menyantap grill salmon terlebih dulu. Menyadari Rachel yang hanya diam dan terus memperhatikannya, membuat Arsen kembali melirik ke arahnya.


"Lalu kamu, apa hanya akan berdiri disitu?"


"Oh tentu saja tidak, aku juga lapar dan ingin makan." Rachel pun bergegas duduk di hadapan Arsen.


"Seharian berada di luar, kenapa kamu tidak makan?" Tanya Arsen datar sembari terus fokus menyantap makanan.


"Aku sengaja, karena ingin makan denganmu." Rachel pun tersenyum lebar dan mulai ikut menyantap makanan miliknya dengan penuh semangat.


Makan siang pun berjalan dengan damai, seolah tidak terjadi apapun sebelumnya. Namun hal itu nampaknya menimbulkan tanda tanya bagi Arsen yang kala itu sesekali melirik ke arahnya secara diam-diam.


"Semenjak kembali dari luar, sikapnya jadi kembali seperti semula, bukankah ini aneh?!" Gumam Arsen dalam hati.


"Eehm, sepertinya sikapmu sudah kembali seperti sedia kala, bukankah seharusnya kamu marah karena aku menolak untuk pergi honeymoon?!" Tanya Arsen yang kembali menatapnya dengan wajah dingin seperti biasa.


Rachel pun membalas tatapannya, ia kembali tersenyum dan menggelengkan kepalanya.


"Apapun keputusanmu, aku akan menghormatinya, tidak pergi juga tidak masalah, lagi pula, setelah memikirkannya, aku rasa akan lebih baik jika kita memang di rumah saja untuk saat ini." Jelas Rachel yang kala itu terlihat sangat tegar.


Membuat Arsen seketika tertegun dan terus memandanginya dalam diam,


"Tidak perlu membahasnya lagi, secepatnya akan aku sampaikan hal ini pada mommy dan daddy." Rachel kembali tersenyum dan melanjutkan makannya dengan tenang.


"Apa ini benar-benar jawaban yang keluar dari hatinya, atau dia hanya mencoba untuk tegar di hadapanku?"


"Kenapa?" Tanya Arsen tiba-tiba.

__ADS_1


"Kenapa apanya?"


"Kenapa tiba-tiba kamu berubah pikiran? Padahal seingatku tadi pagi kamu terlihat begitu menggebu ingin pergi honeymoon."


"Oh itu, emm tidak, aku hanya sebisa mungkin menyingkirkan apapun yang menjadi masalah di rumah tangga yang masih seumur jagung ini. Aku sudah cukup bersalah dengan membohongimu selama ini, jadi aku tidak ingin menambah dosaku lagi sebagai istri pembangkang." Rachel pun kembali memunculkan sebuah senyuman tipis di ujung kalimatnya.


"Oh begitu rupanya." Arsen pun mendengus.


"Baguslah." Tambahnya lagi yang kemudian kembali meletakkan pisau dan garpu yang ia pegang ke dalam piringnya yang sudah kosong.


"Kamu sudah selesai?" Tanya Rachel terkejut.


Arsen pun mengangguk pelan.


"Kenapa cepat sekali, makananku bahkan masih banyak." Keluh Rachel sembari memanyunkan bibirnya.


"Kamu lanjutkan saja, makananku sudah habis, dan aku mau mandi,"


"Hoh." Rachel yang terkejut seketika menutup mulutnya yang terbuka lebar.


"Ja, jadi sejak pagi tadi kamu belum juga mandi? Bahkan saat aku pergi tadi?" Tanya Rachel yang seolah tak menyangka.


Pertanyaan semacam itu nyatanya berhasil membuat Arsen sedikit malu dan mulai kikuk.


"Haaish, bukankah ini cukup memalukan bagi seseorang yang menjabat sebagai CEO sebuah perusahaan besar." Gumam Rachel seolah sedang mengejeknya sembari terus menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Karena apa?" Tanya Rachel yang mulai memicingkan matanya menatap Arsen.


"Haruskah aku menjawabnya?!" Celetuk Arsen dalam hati.


"Heii, kenapa diam saja? Ayo jawab, jawab karena apa?" Rachel pun menarik-narik tangan Arsen dengan manja.


"Ka,, karena...."


"Karena aku sejak tadi sangat gelisah dan tak tenang karena kamu pergi dalam waktu cukup lama. Jika sudah begitu, mana bisa aku terpikir untuk mandi." Gumam Arsen dalam hati yang terus menatap datar wajah Rachel.


"Karena???" Tanya Rachel lagi yang seolah begitu menantikan kelanjutannya.


"Karena,,, karena tidak mandi pun, aku tetap wangi dan tampan!" Tegas Arsen dengan nada bicara yang kembali meninggi.


Hal itu pun sontak membuat Rachel mendengus sembari terus berusaha menahan tawanya karena jawaban Arsen yang terdengar begitu percaya diri.


"Apa? Apa ada yang lucu ha?" Arsen mulai melototi Rachel.


Membuat Rachel seketika menggelengkan kepalanya dengan cepat sembari terus saja berusaha menahan tawanya.


"Sudah lah, aku sedang malas berdebat." Arsen langsung bangkit dari duduknya.

__ADS_1


Melihat hal itu, Rachel pun bergegas ikut bangkit dan menahan tangannya.


"Ada apa lagi?"


"Tidak ada, aku hanya merasa belum puas jika belum membuktikannya sendiri." Jawab Rachel santai.


"Membuktikan apa?" Arsen mulai memicingkan matanya.


"Membuktikan apa yang baru saja kamu katakan, saat kamu mengatakan kamu tetap wangi meski tidak mandi sejak pagi."


"Ohh, jadi kamu mulai meragukan itu?" Arsen pun tersenyum sinis dan mulai mengecakkan pinggangnya di hadapan Rachel.


"Maka dari itu biarkan aku membuktikannya sendiri." Rachel dengan penuh semangat pun mulai mengalungkan kedua tangannya ke leher Arsen.


Membuat Arsen terkejut serta mulai terlihat kikuk serta gelagapan.


"Ka,, kamu mau apa?" Tanya Arsen yang terlihat begitu tercengang.


"Tentu saja mencium mu." Jawab Rachel santai seolah tanpa ragu saat menjawabnya.


Arsen pun terdiam, membuat Rachel akhirnya mulai tersenyum dan perlahan ia pun mulai menciumi leher Arsen. Dari leher, dagu, pipi, sampai ke rahang-rahang Arsen seolah tak terlepas dari kecupan Rachel. Arsen pun lagi-lagi sontak merinding di buatnya, bulu kuduknya jadi berdiri dengan begitu gagahnya saat bibir Rachel menyentuh permukaan kulit di bagian lehernya.


"Ra,, Rachel apa yang kamu lakukan? To, tolong hentikan." Arsen mencoba mengelak.


Akhirnya ciuman Rachel berakhir di bibir Arsen, ia mengecupnya dengan singkat dan kembali melepasnya dengan senyuman yang begitu hangat.


"Kamu lolos! Aku sudah membuktikannya, dan itu benar." Ucap Rachel yang kembali tersenyum lembut,


Namun Arsen nampaknya masih terpaku dengan apa yang dilakukan Rachel padanya. Wajahnya nampak mulai memerah dan terlihat begitu kaku seperti menahan sesuatu.


"Kenapa reaksimu jadi seolah begitu takut?" Tanya Rachel polos sembari mulai melepaskan tautan tangannya dari leher Arsen.


"Ti,, tidak," Jawab Arsen yang langsung tersadar dan mulai mengusap-usap tengkuknya.


"Aaaa, apa jangan-jangan kamu...."


"Aku apa?" Arsen semakin nampak gelagapan.


"Aaaa I see, kamu terlihat tegang pasti karena...." Rachel semakin memicingkan matanya dan mulai tersenyum sinis.


Membuat Arsen semakin tak tenang dan memilih untuk mengalihkannya dengan cara langsung beranjak pergi begitu saja.


"Sudah lah, aku mau mandi!! Buang-buang waktu saja!!" Ketus Arsen yang langsung pergi menuju kamarnya.


Meninggalkan Rachel seorang diri yang memandangi Arsen dengan terus menahan tawanya karena merasa begitu puas saat berhasil membuat wajah Arsen jadi memerah.


...Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2