Pewaris Tahta

Pewaris Tahta
Eps 199


__ADS_3

Security memencet bel yang terletak di sudut kanan atas pintu utama, selang beberapa detik, seorang pelayan paruh baya pun terlihat dengan sigap membukakan pintu. Sorot matanya langsung menangkap sosok yang begitu asing namun terasa familiar baginya. Sejenak ia terdiam dengan tatapan yang terus menyelidik ke arah Arsen, mulai dari ujung rambut hingga kaki.


"Selamat siang." Sapa Arsen sembari kemudian mulai menampilkan senyuman tipis.


Melihat senyuman Arsen, tiba-tiba kedua bola mata yang sejak tadi menatapnya sontak membulat, lalu kemudian disertai pula dengan senyum menyeringai seolah mendapatkan jawaban atas rasa penasarannya sejak tadi.


"Astagaa, benarkah itu anda? Tuan muda Arsen Lim? Suami nona Rachel??"


"Ya benar, ini tuan muda Arsen." Jawab security cepat.


Sementara Arsen, ia hanya semakin melebarkan senyumannya.


"Aku benar-benar tidak menyangka, ternyata aku cukup dikenal di sini." Celetuknya kemudian.


"Haaiis, akan keterlaluan rasanya jika kami tidak mengenali suami dari majikan sendiri, meskipun ini pertemuan pertama kita, tapi foto anda sudah pernah beberapa kali kami lihat tuan muda."


"Benarkah?"


"Hehehe iya, perkenalkan tuan muda, saya Rossalie pelayan senior di rumah ini."


"Hai, senang bertemu denganmu."


"Begitu juga dengan saya, sangat senang akhirnya bisa bertemu langsung dengan anda, yang ternyata sepuluh kali lipat lebih tampan bila di bandingkan di foto." Jawab Rossalie yang seolah begitu menatap kagum wajah Arsen.


"Ah ya, ayo masuk lah tuan muda, silahkan masuk, astaga bagaimana aku bisa membiarkan anda berlama-lama di luar saat udara dingin begini." Rossalie seketika tersentak dari keterpanaannya dengan wajah Arsen, ia pun bergegas menyuruh Arsen untuk masuk.


"Baik lah tuan muda, silahkan masuk dan bersantai lah dulu, saya harus segera kembali ke post."


"Oh ok, terima kasih banyak."


Arsen pun perlahan masuk, untuk pertama kalinya, ia melangkahkan kaki untuk masuk ke dalam rumah mertuanya yang begitu tenang serta terasa nyaman.


"Duduk lah tuan muda," Pelayan mengarahkan Arsen untuk duduk di sebuah sofa vintage.


"Terima kasih."


"Anda bisa tunggu sebentar, akan saya buatkan minuman. Oh ya, anda mau minum apa? Teh? Kopi? Wine? Atau jus?"


"Apa saja, asal tidak terlalu merepotkan."


"Oh baik tuan muda."


Pelayan pun berlalu pergi,


"Oh ya," Ucap Arsen tiba-tiba.


Pelayan seketika menghentikan langkahnya dan langsung berbalik badan.


"Selagi menunggu, boleh aku melihat-lihat?"


"Tentu tuan muda, bukankah ini juga rumah anda?"


"Oh baik, terima kasih." Arsen kembali tersenyum.


Arsen kembali bangkit dari duduknya, melangkah pelan menyusuri setiap sudut ruangan di sekitarnya. Langkahnya tiba-tiba terhenti saat ia tiba di sebuah ruangan, ruangan yang terlihat seperti ruangan keluarga, ada sebuah bufet dengan banyak bingkai foto di atasnya. Pandangan Arsen tertarik ke arah bufet, lalu ia mendekati bufet itu dan mulai memandangi satu persatu foto yang terpajang. Dan salah satunya terdapat foto ketika Rachel kecil, saat Rachel masih memiliki pipi yang begitu chuby dan menggemaskan, di dalam foto itu Rachel terlihat begitu sumringah sedang memainkan salju dengan mantel tebalnya, benar-benar menggemaskan.


Arsen meraih bingkai itu, memandanginya sejenak lalu kemudian mulai tersenyum.


"Si pipi bakpao yang menggemaskan." Gumamnya seorang diri.


Puas memandangi wajah Rachel kecil yang begitu ia rindukan, ia pun kembali meletakkan bingkai foto itu ke tempat asalnya. Di waktu yang sama pula, pelayan yang sebelumnya berjanji akan membuatkan minuman untuknya, kini telah datang bersama janjinya, secangkir teh hangat beraroma jasmine bersama dengan sepiring cookies telah ia hidangkan di atas meja.


"Tuan muda." Panggil pelayan itu.


"Ya." Jawab Arsen sembari menoleh ke arah pemilik suara.


"Minuman ada telah siap."


"Oh, baik lah." Arsen pun kembali melangkah menuju sofa tempat dimana pertama kali ia terduduk.


"Silahkan tuan muda."

__ADS_1


Arsen mulai menyeduh dengan tenang tehnya, aroma jasmine yang cukup kuat, cukup berhasil mengurangi jatlagnya akibat 15 jam berada di ketinggian.


"Terima kasih, tehnya sangat enak,"


"Itu menjadi salah satu minuman yang wajib ada di rumah ini, nyonya Shea sangat menyukainya."


"Oh begitu rupanya." Arsen semakin melebarkan senyumannya.


"Oh tuan muda, apa penjaga tadi sudah mengatakan jika nona Rachel pergi bersama nyonya??"


"Ah ya, itu juga yang ingin aku tanyakan, kemana mereka pergi? Apakah lama?"


"Jadi anda belum tau??"


"Bagaimana aku bisa tau??" Tanya Arsen bingung.


"Eemm, mereka pergi ke tepi kota paris, disana mereka memiliki sebuah Villa yang baru saja di beli oleh tuan Martin, disana lah mereka akan menginap dalam beberapa hari."


"Villa? Apa mereka sedang merayakan sesuatu?"


"Bukan perayaan, melainkan refreshing, nona Rachel nampak terpuruk semenjak kembali kesini, dia bahkan jarang keluar kamar, hal itu cukup membuat seluruh penghuni rumah ini cemas."


"Benarkah?"


"Ya, tapi syukur lah, hari ini akhirnya saya melihat anda datang kesini, dan itu cukup membuat saya merasa lega."


"Baik lah, kalau begitu aku akan segera menyusul kesana." Arsen pun bergegas bangkit.


"Tunggu tuan muda."


"Kenapa?"


"Anda tidak perlu repot, masih ada supir dirumah ini, dan saya yakin dia bisa mengantar anda hingga sampai ke tujuan."


"Ah bagus sekali, lalu dimana dia?"


"Sebentar."


Dan tak butuh waktu lama, Rossalie datang kembali dengan sudah bersama seorang pria paruh baya yang ternyata adalah suaminya sendiri.


Setelah berkenalan secara singkat, di tambah pula dengan Arsen yang tak ingin semakin membuang waktu, ia pun langsung memutuskan untuk segera pergi menyusul Rachel.


Sang supir nampaknya sudah handal dalam mengemudi, hingga ketika Arsen memintanya untuk menaikkan kecepatan, tanpa ragu ia melakukannya dengan tenang. Berniat melepas penat di dalam mobil yang sejak tadi terasa hening, sang supir pun mulai memutar sebuah radio demi membunuh keheningan kala itu.


Kebetulan, siaran radio pertama yang ia putar adalah sebuah berita tentang cuaca kota Paris, yang ternyata nanti sore akan mulai turun salju setelah beberapa tahun terakhir tidak terjadi.


"Wah, salju pertama akan turun nanti sore tuan muda, akhirnya." Celetuk supir itu dengan sebuah senyuman tipis.


"Salju pertama??"


"Ya tuan muda, setelah beberapa tahun terakhir salju tidak turun di kota Paris, akhirnya kini kembali turun. Biasanya salju pertama akan dijadikan sebagai moment paling romantis bagi warga sini."


"Oh begitu rupanya." Arsen hanya tersenyum tipis, lalu kedua matanya kembali memandangi jalanan dari kaca jendela.


Dalam benaknya saat itu bertanya-tanya, akan kah dia akan kembali merasakan moment romantis bersama Rachel, akan kah Rachel akan menerima kedatangannya.


Hingga tanpa sadar, Arsen kembali tertidur, ia benar-benar kelelahan, setibanya di Paris, ia bahkan belum sempat beristirahat sedikit pun, begitu keluar dari bandara, tujuan utamanya hanyalah rumah Rachel, tidak ada yang lain.


Hingga tiba-tiba, Arsen tersentak saat di hadapannya terpampang jelas wajah sang supir, Arsen terkejut dan langsung menegakkan tubuhnya.


"Maaf tuan muda, anda ketiduran dan kelihatan sangat nyenyak sekali,"


"Oh ya, tidak apa, terima kasih sudah membangunkanku." Jawab Arsen sembari mengusap wajahnya.


"Dimana kita? Kenapa berhenti?" Tanya Arsen lagi.


"Memang seharusnya kita berhenti tuan muda, karena kita sudah sampai."


"Sudah sampai??!" Kedua mata Arsen seketika mendelik dan seketika langsung melirik ke sekelilingnya.


Dan benar saja, di luar jendela terlihat jelas sebuah bangunan classic berwarna putih gading, ada banyak burung merpati putih yang hinggap di atas atapnya.

__ADS_1


"Inilah Villa itu tuan muda,"


Arsen perlahan keluar dari mobil, ketika ia sampai, hari nyatanya sudah mulai petang, warna langit pun tak lagi biru muda seperti sebelumnya, melainkan mulai berubah menjadi kuning kejinggaan, udara dingin semakin jelas menusuk tulang, angin yang berhembus pun turut menambah rasa sejuk di tubuh yang sedang merasakan nestapa itu.


Arsen terdiam sejenak, memandangi sebuah bangunan yang dimana di dalamnya dia yakini sudah berada seorang wanita yang begitu ia cintai.


"Rachel, ini aku, aku datang, untukmu!" Gumam Arsen dalam hati.


"Apa perlu saya antar ke dalam tuan muda?" Pertanyaan itu turut menyentak lamunan Arsen.


"Tidak perlu, biar aku saja." Jawab Arsen cepat.


"Baik, sebelum semakin gelap, sebaiknya saya kembali ke Paris sekarang juga."


"Ya, sebaiknya begitu, dan ini..." Arsen menyerahkan beberapa lembar uang pada supir itu.


"Oh god, apa itu tuan muda?"


"Hanya sedikit tips untukmu."


"Wah, terima kasih banyak tuan muda."


Arsen pun mengangguk.


Tak lama mobil sedan itu pun berlalu pergi, meninggalkan pekarangan Villa yang cukup luas, meninggalkan Arsen yang masih berdiri, sendiri di tengah hembusan angin yang kian terasa dingin.


Arsen menghela nafas panjang, lalu mulai memakai sebuah mantel berwarna hitam yang sejak awal hanya ia pegang. Dengan perlahan ia mulai melangkah, mendekati Villa itu, langkahnya semakin lama kian melambat ketika ia semakin dekat dengan pintu utama.


Bahkan belum sempat ia tiba di depan pintu, salju pun mulai turun, sedikit demi sedikit menyentuh permukaan kuliat Arsen yang sejak awal sudah terasa dingin.


Langkah Arsen terhenti sejenak, kepalanya mulai menengadah ke langit, memandangi salju yang kian banyak jatuh kebumi.


"Inikah salju pertama yang dimaksud?" Gumam Arsen dalam hati sembari terus mendongakkan kepalanya.


Ia mematung, membiarkan butiran es menyentuh lembut wajahnya yang memang sudah lama tak tersentuh, ia benar-benar sedang menikmatinya, menikmati moment dimana salju pertama turun. Tak lama, sebuah suara dari pintu yang sengaja di buka pun terdengar, Arsen terkejut dan langsung menoleh ke arah pintu.


Saat itu Shea terlihat muncul, awalnya ia ingin melihat salju pertama turun, namun ketika melihat sosok yang ada di hadapannya, niatnya sudah berubah, bukan lagi melihat salju, bahkan kala itu ia dibuat begitu tercengang melihat kehadiran seseorang yang begitu tak di sangka.


"Ar,,, Arsen Lim." Ucapnya pelan.


"Bibi."


Arsen pun bergegas mendekati Shea.


"Ka,, kamu disini??"


"Ya bibi, aku datang untuk Rachel, dimana dia?" Tanya Arsen tidak sabaran.


"Kenapa?? Kenapa baru sekarang?" Kini raut wajah Shea seketika berubah menjadi sinis.


"Bibi, please! Bibi boleh marah padaku, katakan apapun padaku, tapi ku mohon lakukan itu nanti, setelah aku bertemu dengan Rachel. Sekarang tolong beritahu aku, dimana Rachel bibi." Arsen memegang kedua lengan Shea, dan terlihat begitu memohon padanya.


Membuat Shea terdiam sejenak sembari tangannya menunjuk ke arah pintu belakang yang sedang terbuka tanpa mengeluarkan suara sedikit pun.


Arsen melihat pintu itu, lalu ia tersenyum singkat dan bergegas menuju pintu itu.


"Terima kasih banyak bibi."


"Tunggu!" Panggil Shea tanpa menoleh lagi ke arah Arsen.


Arsen dengan cepat menghentikan langkahnya.


"Setelah ini, jangan harap kamu bisa lepas dari amukanku, kamu dengar itu Arsen Lim!!"


"Lakukan semaumu padaku bibi, aku tidak akan keberatan!" Jawab Arsen yang kemudian langsung melanjutkan langkahnya.


Arsen dengan cepat melangkah kan kaki menyusuri beberapa ruangan hingga akhirnya ia tiba di pintu yang menghubungkan ke halaman belakang Villa. Ternyata, halaman belakang pun tak kalah luas dari halaman depan, bahkan di bagian belakang, ada banyak lampu-lampu kecil yang menambah gemerlap, Martin sengaja membuat itu karena nantinya mereka akan sering membuat party di halaman belakang itu.


Hari semakin gelap, di tengah-tengah halaman ada sebuah kursi, di kursi itu lah terlihat ada seorang wanita, wanita yang tengah terduduk membelakangi Arsen, kepalanya pun sedang mendongak ke atas seolah sedang menatap langit, membiarkan butiran salju juga menyentuh wajahnya.


Arsen tersenyum saat melihat punggung wanita itu, jiwanya benar-benar merasa lega saat akhirnya ia bisa kembali melihat punggung itu, punggung yang begitu ia kenal, punggung yang sebelumnya pernah ia belai dan ia ciumi, tentu dia hapal, siapa lagi sang pemilik punggung itu jika bukan Rachel, istrinya sendiri.

__ADS_1


...Bersambung......


__ADS_2