
"Ada apa ini?" Tanya Arsen mendekati Laura yang saat itu terlihat begitu berapi-api.
"Sayang, lihatlah apa yang dilakukan wanita itu pada bajuku!" Keluh Laura sembari menunjuk bagian gaunnya yang telah robek.
Dengan keadaan wajah yang menunduk, Rachel pun kembali menjelaskan.
"Dia menabrak ku hingga aku hampir tersungkur ke lantai, tapi dengan spontan saja tanganku menarik gaunnya untuk menahan agar tubuhku tidak jatuh. Aku sudah meminta maaf dan berniat ingin mengganti gaunnya, namun dia sepertinya begitu marah dan terus memaki ku." Jelas Rachel dengan tenang.
Mendengar penjelasan Rachel, Arsen pun menghela nafas dan kembali menatap Laura.
"Sayang, ini hanya masalah sepele, tolong redakan emosi mu dan tolong jaga sikap mu, kita sedang berada di sebuah pesta besar sayang." Bisik Arsen yang kembali mencoba menenangkan Laura.
"Jadi kamu membelanya? Kamu membeli wanita itu? Ha? Dia merusak gaun mahalku dan itu kamu katakan masalah sepele?" Ketus Laura yang berbalik menatap tajam ke arah Arsen.
Akhirnya perdebatan itu pun sampai di telinga Benzie dan Yuna, Benzie pun segera undur diri sejenak dari para tamunya untuk melihat ada kejadian apa sebenarnya yang membuat suasana pestanya berubah jadi sedikit kacau.
"Ada keributan apa lagi ini?" Tanya Benzie dengan datar saat baru saja menghampiri mereka.
"Oh tidak pa, hanya masalah salah paham saja, masalah kecil, papa kembali lah ke para tamu, aku bisa mengatasinya." Jawab Arsen yang mencoba untuk tenang.
"Masalah kecil apa hingga hal itu berhasil membuat pesta ini jadih sedikit kacau seperti ini? Bahkan suara teriakan pacarmu sampai terdengar di telinga papa."
"Maafkan Laura pa, dia hanya emosi."
"Paman, bibi, tolong maafkan aku, tapi wanita asing ini, dia telah merusak gaun ku. Bagaimana mungkin aku bisa berada di tengah-tengah pesta mewah ini dengan gaun yang telah robek." Laura mencoba menjelaskan pada Benzie dan Yuna.
"Astaga, sungguhkan hanya karena hal sesepele itu kau jadi kehilangan rasa malu berteriak-teriak seperti itu di tengah orang ramai begini? Benar-benar memalukan." Ucap Benzie.
"Aku sudah mengatakan jika aku akan mengganti gaunnya, namun sepertinya dia tidak menginginkannya dan terus memaki ku, dia bahkan ingin menamparku." Kelas Rachel lagi namun dengan keadaan wajah yang terus ia tundukkan.
Benzie seketika terdiam memandangi Rachel dengan keadaan dahinya yang mengernyit.
"Siapa wanita ini? Aku belum pernah melihatnya, apa aku mengundangnya?" Tanya Benzie dalam hati.
Namun tak ingin begitu fokus pada hal itu, Benzie pun kembali menatap Laura dengan tatapan dinginnya.
"Dengar lah Laura, nona ini sudah punya niat baik untuk mengganti gaunmu, lalu kenapa kau masih mempermasalahkan nya?"
"Tapi paman, tidak semudah itu dia..." Laura nampaknya masih bersikeras dengan pemikirannha.
__ADS_1
Namun Arsen yang sungguh sudah merasa malu dan tak enak hati pada sang ayah pun sontak menghentikan ucapan Laura.
"Cukup Laura!" Bisiknya.
Tak lama para wartawan pun terlihat datang mendekat dan mulai memotret-motret kejadian itu, Benzie pun sontak jadi mengusap kasar wajahnya karena ia sungguh merasa malu atas kejadian ini.
Yuna yang tak ingin masalah semakin runyam pun akhirnya melangkah mendekati Laura,
"Laura, ikutlah denganku." Yuna langsung saja menarik tangan Laura dan membawanya keluar dari kerumunan.
Namun Rachel, yang merasa saat itu begitu banyak wartawan yang tengah mengambil foto dirinya pun langsung berlari pergi, dengan menutup wajahnya dengan tas mungilnya, ia terus berlari keluar dari ballroom.
Melihat hal itu, Benzie pun langsung menghampiri Arsen.
"Lihat lah kelakuan kekasihmu, dia telah membuat salah satu tamu pesta ini malu, papa tidak mau tau, kau harus bertanggung jawab atas ini Arsen Lim, papa tidak ingin wanita itu mengecap jelek nama keluarga kita atas kelakuan kekasihmu itu apalagi sampai mengatakan hal buruk pada publik tentang kejadian memalukan ini." Tegas Benzie.
"Baiklah pa, aku akan segera menyusulnya dan meminta maaf." Ucap Arsen.
Benzie pun mengangguk. Arsen pun segera berlari mengejar Rachel yang telah lebih dulu meninggalkan area pesta.
"Nona tunggu." Teriak Arsen.
"Astaga bagaimana ini? Apa dia akan mengenaliku?" Rachel pun kembali menundukkan kepalanya.
"Ada apa tuan?" Tanya Rachel dengan pelan.
"Aku ingin meminta maaf atas perlakuan kekasihku, aku amat mengerti, tidak sepantasnya dia memperlakukan tamu seperti itu, namun aku mohon agar anda bisa memaafkan nya dan melupakan kejadian ini. Dia hanya belum begitu mengerti tentang situasi penting dan resmi seperti ini, jadi tolong maafkan dia." Ucap Arsen dengan tenang dan penuh hormat.
"Huh dasar payah, memiliki pacar seperti itu masih saja di bela, apa dia begitu mencintai hama betina itu?" Gumam Rachel dalam hati.
"Iya, aku akan melupakan masalah ini, asal wajahku tidak terpampang di surat kabar besok. Karena aku cukup panik saat ada banyak wartawan yang memotret diriku tadi."
"Untuk itu anda tenang saja, serahkan semua padaku. Aku bisa pastikan jika tidak ada berita miring apapun di surat kabar tentang kejadian malam ini." Arsen pun tersenyum dengan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya.
"Astaga senyum mu, melihat senyummu seperti itu kenapa membuat jantungku semakin berdebar Arsen Lim."
Namun tak ingin Arsen menyadari jika ia sedang gugup dan salah tingkah, Rachel pun akhirnya memilih untuk kembali pergi.
"Baiklah, kurasa aku harus pergi." Ucap Rachel yang dengan terburu-buru ingin segera berlalu.
__ADS_1
Namun melihat wajahnya sekilas, seketika dahi Arsen pun langsung mengernyit.
"Wanita itu, bukankah dia." Arsen pun langsung berbalik badan dan kembali memandangi Rachel yang mulai berjalan cepat.
"Hey tunggu!" Tegas Arsen lagi.
"Ada apa lagi? Bukankah sudah tidak ada masalah lagi?" Tanya Rachel yang kembali menghentikan langkahnya namun sama sekali tidak berbalik badan.
Arsen kembali menghampirinya, dengan tenang dan tersenyum akhirnya Arsen pun mendengus.
"Astaga, sungguh kah ini kau?" Tanya Arsen lagi.
Mendengar pertanyaan Arsen sontak membuat mata Rachel membuat dan refleks mengangkat kepalanya untuk menatap Arsen.
"Ma, maksud mu?"
"Hey, bagaimana kau bisa melupakan nya? Kita sempat bertemu dua kali di Paris." Ucap Arsen sembari tersenyum lebar.
"Oh hehehe jadi kau sungguh mengingatku ya?" Rachel pun akhirnya cengengesan sembari menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Kalau bertemu sekali, mungkin aku bisa lupa, tapi jika sudah dua kali, dan bertemu lagi dalam waktu yang lumayan dekat, tentu aku pasti akan ingat."
"Hehehe begitu ya," Rachel pun di buat jadi semakin salah tingkah.
"Apa kabarmu? Aku tidak menyangka jika kau termasuk salah satu tamu undangan yang masuk daftar undangan papaku."
"Astaga, bagaimana aku harus menjelaskannya ya?" Rachel pun kembali di buat tergagap-gagap untuk mencari sebuah alasan yang tepat.
Namun belum sempat ia menjawab, para wartawan yang sejak tadi mengejarnya pun kembali muncul.
"Wah itu wanita yang tadi, kali ini dia sedang berduaan dengan tuan muda Arsen Lim." Celetuk salah satu wartawan yang kembali ingin mengambil foto mereka berdua.
Menyadari hal itu, menyadari ada banyak lampu camera yang berkedip-kedip ke arahnya, membuat Rachel kembali panik dan langsung ingin berlari pergi, namun karena hak sepatunya yang cukup tinggi membuat kakinya jadi tergelincir, tubuh Rachel seakan siap terjatuh namun tangan Arsen segera meraih tangannya dan kembali menarik tubuhnya.
Hal itu sontak membuat jarak di antara keduanya jadi begitu dekat, bahkan tanpa sengaja bibir Rachel pun jadi menempel begitu saja ke bibir Arsen. Hal itu sontak membuat mata Rachel membulat sempurna, begitu juga dengan Arsen.
...Bersambung......
__ADS_1