Pewaris Tahta

Pewaris Tahta
Eps 38


__ADS_3

Ke esokan harinya...


Hari ini adalah hari dimana pertama kalinya pengalaman Arsen dalam dunia perkantoran akan di mulai. Benzie selaku CEO Blue Light sebelumnya, begitu antusias dalam menyambut Arsen yang akan segera menggantikan kedudukannya di kerajaan bisnis yang telah ia kelola 20 tahun lebih lamanya.


Suasana meja makan pagi itu begitu damai pagi itu, namun seketika ponsel Alex berdering menandakan sebuah pesan masuk. Alex pun dengan tenang langsung membuka ponsel yang ia letakkan di atas meja, dan secara tiba-tiba nasi goreng yang sedang di kunyah oleh Alex seketika ia semburkan begitu saja saat menatap layar ponselnya.


"Uhuk-uhuk." Alex pun sontak terbatuk-batuk tak karuan sembari menepuk-nepuk dadanya.


"Sayang kamu kenapa?" Tanya Tere yang ikut terkejut sembari mengusap-usap punggung Alex dan memberikannya air untuk di minum.


"Hei, ada apa denganmu?" Ketus Benzie sembari mengerutkan dahinya.


Begitu pun dengan Arsen, Yuna, dan Lylia yang terus memandang aneh ke arah Alex namun tanpa berkata apapun.


Alex pun langsung menatap ke arah Arsen, lalu ia pun mulai bangkit dari duduknya dan langsung menghampiri Benzie.


"Hei kakak lihat lah ini." Bisik Alex.


"Berhenti menyebutku kakak, itu sangat menggelikan!" Ketus Benzie sembari menampar pelan pipi orang yang telah lama menjadi sahabat, asisten, sekaligus kini telah menjadi bagian dari keluarganya itu.


"Astaga iya-iya." Jawab Alex dengan wajah masam.


"Ada apa?" Tanya Benzie lagi.


"Lihat ini." Bisiknya lagi.


Alex pun menyerahkan ponselnya pada Benzie, mata Benzie pun langsung membulat saat menatap ponsel Alex, lalu matanya pun mulai melirik ke arah Arsen anaknya.


"Berita ini muncul di beberapa situs berita online, aku mendapat kiriman ini dari staff kantor." Bisik Alex lagi.


"Wanita ini, ini wanita yang semalam di permalukan oleh Laura kan? Tapi kenapa ada fotonya tengah berciuman dengan Arsen? Siapa wanita ini sebenarnya? Karena aku merasa tidak mengundang orang asing dalam pestaku semalam." Gumam Benzie dalam hati.


"Nanti kita bahas di kantor, sekarang lanjutkan saja dulu sarapan mu."

__ADS_1


Alex pun mengangguk lalu memilih duduk di kursinya kembali.


"Papa, ada apa? Kenapa begitu melihat ponsel itu kalian jadi menatapku sedikit aneh?" Tanya Arsen.


"Ah tidak, nanti saja, sekarang lanjut lah sarapan." Benzie pun tersenyum tipis dan kembali menyantap makanannya dengan berbagai pikiran yang mulai menyelinap masuk ke dalam benaknya.


Sarapan pun selesai, namun tak lama Tony menghampiri mereka semua dengan sebuah karangan bunga beserta kotak hitam di tangannya.


"Maaf telah mengganggu sarapan kalian tuan dan nyonya."


"Katakan!" Ucap Benzie dengan tenang sembari mengusap ujung bibirnya dengan tisu.


"Ini ada beberapa kiriman hadiah untuk tuan dan nyonya."


"Hadiah? Dari siapa? Sepertinya di antara kami tidak ada yang sedang berulang tahun."


"Kiriman ini dari Mr. Liong dan keluarga, lalu ada pula dari Mr. Wong rekan bisnis anda dari hongkong."


"Oh benarkah? Baiklah letakkan disini."


"Selamat atas kesuksesanmu Benzie Lim, selamat pula untuk putra sulungmu Arsen karena secara resmi telah menggantikan posisimu. Maafkan aku tidak bisa hadir ke pesta mewah kalian karena aku ada pertemuan penting yang tidak bisa ku tinggalkan, ini ada hadiah kecil dariku untukmu keponakanku, dan tadi malam pula sudah ku kirim cucuku Rachel yang baru datang dari Paris sebagai perwakilan dari kami. Semoga kalian bisa kembali saling menyapa. Salamku, Mr. Liong."


Begitulah isi surat itu, mata Benzie lagi-lagi kembali membulat dan kini pikiran di benaknya semakin menumpuk.


"Rachel, sahabat kecil Arsen? Apakah itu dia? Tapi jika itu memang Rachel, kenapa sikapnya tadi malam seolah tidak ingin kami tau jika itu adalah dia, ada apa?" Gumam Benzie dalam hati sembari seperti tengah berfikir.


"Sayang ada apa? Kenapa sejak tadi kamu sepertinya jadi banyak pikiran dan terus melamun?" Tanya Yuna yang jadi merasa bingung melihat sikap aneh sang suami.


"Ah tidak sayang, nanti saja aku cerita, aku harus pergi ke kantor sekarang." Benzie pun langsung berdiri dan kembali merapikan jasnya.


Ia pun mengecup kening Yuna, lalu beralih mengecup ujung kepala Lylia putrinya lalu kemudian melemparkan kunci mobilnya pada Alex.


"Ayo Lex, kita pergi sekarang!" Ucap Benzie yang langsung melangkah keluar begitu saja.

__ADS_1


Alex yang saat itu masih menyantap sarapannya dengan lahap pun akhirnya harus cepat-cepat menghabiskan sisa makanannya.


"Sayang, suamimu yang tampan pergi dulu ya, i love you so much." Ucap Alex dengan keadaan mulutnya yang masih di penuhi nasi goreng.


"Arsen, papa tunggu kau di kantor." Teriak Benzie sebelum akhirnya ia benar-benar keluar.


"Iya pa." Jawab Arsen dengan tenang.


"Ada apa dengan papamu? Dia bahkan membawa pergi suratnya." Celetuk Yuna sembari memandangi kepergian sang suami dengan raut wajah yang masih terlihat bingung.


Setibanya di kantor, Benzie duduk begitu saja di kursinya.


"Tapi apa kau yakin dia itu Rachel?" Tanya Alex yang terus mengikuti langkah Benzie hingga ke dalam ruangannya.


"Aku sangat yakin, karena siapa lagi? Aku merasa tidak pernah mengundang orang asing ke dalam pestaku semalam."


"Benar juga, lalu bagaimana dengan foto itu? Kenapa Arsen bisa menciumnya? Bukankah Arsen sudah memiliki pacar? Apa, apa anakmu sungguh mewarisi bakat dari pamannya yang tampan ini?" Tanya Alex seperti seolah tengah berfikir keras tanpa memasang raut wajah bersalah sedikit pun saat mengatakannya.


"Apa katamu? Mewarisi bakatmu?!" Benzie seketika melotot menatap Alex.


"Hehehe lalu apa lagi? Kenapa dia bisa mencium wanita lain sedangkan dia memiliki pacar? Oh apa jangan-jangan Arsen akhirnya tau jika wanita yang dipermalukan semalam itu adalah Rachel, dan Arsen pun langsung terharu, ia terkejut dan syok, lalu seketika langsung menciumnya begitu saja? Begitu?"


"Astaga itu sungguh pemikiran yang paling konyol yang pernah ku dengar! Sudah lah, tolong urus berita online itu Lex, lenyapkan semua berita itu dari media mana pun. Dan beri peringatan pada media yang sudah berani memasang gosip miring tentang keluargaku."


"Baiklah Ben serahkan saja padaku. Tapi apa kau tidak penasaran akan hal itu?"


"Aku akan menanyakannya sendiri pada Arsen kenapa dia bisa kedapatan berciuman dengan wanita itu yang kucurigai sebagai Rachel sahabat kecilnya?"


"Emm baiklah jika begitu, kalau begitu aku kembali ke ruanganku dulu."


"Emmm." Benzie pun mengangguk.


Selang tak berapa lama, Arsen pun yang baru saja tiba pun langsung saja menuju ke ruangan sang ayah.

__ADS_1


...Bersambung......


__ADS_2