
Tak membutuhkan waktu yang lama, kini Arsen pun telah kembali masuk ke mobilnya dengan sudah membawa bungkusan.
"Ini, peganglah." Ucap Arsen sembari memberikan bungkusan itu pada Rachel.
"Apa ini?"
"Itu obat untuk kakimu." Jawab Arsen sembari kembali melajukan mobilnya.
Mobil sport yang di kendarainya pun kembali melaju seolah merajai jalanan dengan suaranya yang terdengar garang. Hingga hanya dalam waktu kurang dari 15 menit, mereka pun telah sampai di parkiran apartement Rachel.
"Terima kasih sebelumnya sudah mau mengantarku." Ucap Rachel pelan sembari mulai membuka pintu mobil.
"Mau kemana?" Tanya Arsen datar.
"Aku? Ya aku mau turun."
"Memangnya bisa turun sendiri?" Tanya Arsen lagi tanpa menoleh ke arah Rachel.
"Emmm a, aku...." Ucap Rachel yang mulai kebingungan karena ia baru ingat jika kakinya masih sangat sakit jika di bawa berjalan.
Arsen pun akhirnya mendengus sembari tersenyum sinis, lalu ia pun langsung turun dan menghampiri Rachel.
"Ka, kamu mau apa?" Tanya Rachel yang terlihat kebingungan saat Arsen mulai mendekatinya.
"Menurutmu aku mau apa?" Tanya Arsen sembari menatap kesal ke arah Rachel.
Namun belum sempat Rachel menjawab, Arsen pun langsung saja kembali meraih tangannya, Arsen kembali menggendong tubuh mungil Rachel dan mulai membawanya memasuki apartement.
Saat itu Rachel kembali terdiam, matanya seolah tak lekang menatap ke arah wajah Arsen yang saat itu begitu datar namun tetap terlihat begitu manis dan tampan bagi Rachel.
"Arsen Lim, sikapmu benar-benar membingungkan." Celetuk Rachel dalam hati sembari mulai tersenyum tipis.
"Katakan di mana!" Ucap Arsen yang seketika membuyarkan lamunan Rachel.
"Di, dimana? Dimana apanya?" Tanya Rachel yang nampak bingung.
"Dimana unitmu? Di lantai berapa?"
"Oh hehehe." Rachel pun seketika langsung cengengesan.
"Ada di lantai empat." Jawab Rachel kikuk.
Arsen pun kembali diam, ia terus menggendong Rachel hingga mereka pun akhirnya tiba di depan pintu apartment Rachel.
__ADS_1
Dengan cepat Rachel menempelkan ibu jarinya sebagai akses untuk bisa masuk ke dalam yang memang sudah secara otomatis akan terbuka hanya dengan sidik jari Rachel saja.
Arsen untuk pertama kalinya, mulai melangkah masuk, lalu mendudukkan tubuh Rachel dengan sangat hati-hati ke sebuah kursi.
"Aaww." Rachel kembali meringis pelan saat kakinya kembali tercecah ke lantai.
Arsen yang kini duduk di hadapan Rachel pun kembali meraih sebelah kaki Rachel yang sakit.
"Coba aku lihat." Ucapnya pelan.
"Kakimu terlihat memar." Ucapnya lagi sembari terus memandangi kaki Rachel.
"Berikan obatnya padaku." Arsen pun menjulurkan tangannya.
Dengan cepat Rachel pun memberikan obat yang tadi dibeli sendiri oleh Arsen. Lalu Arsen dengan penuh kelembutan dan sangat hati-hati mulai mengoleskan salap yang ia beli ke area kaki Rachel yang memar.
"Aww." Membuat Rachel kembali meringis.
"Tahan ya." Ucap Arsen pelan sembari mulai meniup-niup kakinya.
Tindakan Arsen kala itu sungguh terlihat begitu tulus, begitu lembut seolah-olah saat itu ia tidak sedang mengobati sekretarisnya melainkan pacarnya.
"Bagaimana rasanya?" Tanya Arsen kemudian.
"Rasanya? Emm rasanya dingin." Jawab Rachel pelan.
"Terima kasih banyak, terima kasih lagi-lagi kamu sudah menolongku."
"Tidak apa, lagi pula aku melakukan ini karena atas perintah dari papaku. Jadi ku harap kamu jangan salah paham ya, jangan berfikir aku mencoba mendekatimu apalagi ingin merebutmu dari Antony. Menggoda wanita yang sudah memiliki pasangan itu sama sekali tidak ada di dalam kamusku." Jelas Arsen dengan tenang namun dalam hatinya entah kenapa ia kembali merasa kesal saat ia menyebut nama Antony.
Rachel pun seketika terdiam, dan mulai menundukkan kepalanya, ia merasa sedih mendengar pernyataan dari Arsen, namun entah mengapa dalam hatinya ia benar-benar merasakan ketulusan dari Arsen.
"Ya sudah, hari nampaknya mulai gelap, sebaiknya aku pulang." Arsen pun langsung bangkit dari duduknya.
"Oh ya, lalu bagaimana dengan ponselmu?" Tanya Rachel refleks.
"Oh astaga, iya benar juga, aku belum mengambil ponselku."
"Memangnya ponselmu tertinggal dimana? Apa kamu yakin ponsel itu hanya tertinggal di suatu tempat? Apa masih ada kemungkinan ponselmu masih aman?"
"Sepertinya ponselku tertinggal di rumah Laura, karena tadi aku berkunjung ke rumahnya."
"Apa?!" Seketika Rachel membesarkan matanya.
__ADS_1
"Ja, jadi tadi kamu ke rumah Laura?"
"Iya, memangnya kenapa?" Tanya Arsen dengan tenang sembari mulai memasukkan kedua tangan ke dalam saku celananya.
Ti, tidak, tidak apa-apa." Jawab Rachel pelan.
"Emm baiklah kalau begitu, sepertinya aku harus kembali ke rumah Laura untuk mengambil ponselku. Bye." Arsen pun mulai melangkah pergi menuju pintu.
"Apa? Di, dia ingin kembali ke rumah hama betina itu?" Gumam Rachel dalam hati.
"Tunggu Arsen Lim!" Ucap Rachel spontan.
Arsen yang baru saja membuka pintu pun langsung menghentikan langkahnya, ia berbalik arah dan kembali menatap Rachel.
"Ada apa?" Tanya nya.
"Apa kamu yakin masih mencintainya?"
"Emm kurasa begitu." Jawab Arsen dengan santainya.
"Memangnya kenapa? Apa kamu ingin mengatakan hal yang buruk tentangnya lagi?"
"Percaya lah padaku, cepat atau lambat, kamu akan tau sisi buruk darinya." Ucap Rachel pelan dengan matanya yang mulai berkaca-kaca.
"Hal satu-satunya yang aku paling tidak suka darimu adalah ucapanmu barusan. Berhenti berfikir buruk tentang pacarku!"
Rachel pun akhirnya hanya bisa mendengus pelan dan mulai meneteskan air matanya di hadapan Arsen.
"Aku berharap semoga ucapanmu itu tidak terbukti, jadi sekali lagi ku ingatkan padamu, berhenti berbicara buruk tentang pacarku dan urus lah saja pacar barumu!" Tegas Arsen yang kemudian langsung pergi begitu saja.
Kini Rachel hanya bisa mengusap kasar wajahnya dan semakin menangis, sikap Arsen benar-benar membingungkan. Baru saja ia membuat Rachel seolah merasa special, namun pikiran itu seolah kandas begitu saja saat Arsen ternyata masih begitu membela pacarnya.
Saat itu jam sudah menunjukkan pukul 19:00 malam, Arsen langsung menuju ke rumah Laura tanpa sepengetahuan Laura. Saat itu Laura sudah siap dengan tampilannya yang tampak seksi yang memang ia persiapkan untuk bertemu dengan Erick.
"Kamu dimana? Aku sudah menunggumu." Ucap Laura ketika menelepon Erick.
"Sebentar lagi aku tiba." Jawab Erick.
Laura pun semakin mengembangkan senyumnya.
"Baiklah, aku tunggu kamu di depan pintu."
Panggilan telepon pun berakhir. Laura yang tidak menyadari ponsel Arsen yang tertinggal di sela-sela guling di atas ranjangnya pun masih bersikap tenang tanpa berfikir sedikit pun jika malam ini Arsen akan datang ke rumahnya.
__ADS_1
Karena memang sejak dulu, Arsen tidak pernah secara mendadak datang ke rumah Laura tanpa memberitahunya terlebih dulu.
...Bersambung......