
Rachel kembali ke mejanya dengan langkah lesu, namun seolah tak ingin berputus asa, ia pun kembali mencari alasan agar bisa kembali ke ruangan Arsen.
"Ayo Rachel ayo, ayo pikirkan sesuatu." Gumamnya terus dalam hati.
Tapi saat tengah asik berfikir, tiba-tiba saja ponselnya berdering, ia pun dengan lesu mulai meraih ponselnya yang ia letakkan di atas meja.
"Mommy?" Celetuknya dalam hati saat melihat tulisan 'Mommy' terpampang jelas di layar ponselnya.
"Ya halo mommy." Jawabnya pelan.
"Sayang, kamu dimana?" Tanya Shea yang suaranya terdengar begitu melengking di telinga Rachel.
Rachel pun akhirnya perlahan bangkit kembali dari duduknya, lalu mulai melangkah keluar dari ruangannya. Arsen yang saat itu tak sengaja melirik ke arahnya, mulai kembali di buat memicingkan matanya saat mendapati Rachel yang tengah menerima telepon dan bergegas keluar dari ruangannya.
"Siapa yang menelponnya hingga membuat dia harus keluar ruangan? Apa Antony?!" Tanya Arsen dalam hati.
Rachel terus melangkah menuju balkon yang letaknya tak jauh dari ruangannya, ia mulai berdiri memandangi indahnya taman kota namun dengan tatapannya yang kosong.
"Aku tentu saja di kantor, ada apa mommy?" Tanya Rachel kembali.
"Jadi kamu sungguh-sungguh masih ingin tetap bekerja di kantor sebagai sekrataris Arsen sayang?"
"Kurasa memang lebih baik begitu kan," Jawab Rachel namun seolah tak begitu bersemangar saat mengatakannya.
"Hei, ada apa? Apa ada masalah? Katakan pada mommy."
"Ah tidak mommy, sama sekali tidak!" Jawab Rachel berbohong.
"Haaiss, masih saja ingin berbohong, jika mendengar dari nada bicaramu, sangat jelas jika kau sedang menghadapi suatu masalah, ada apa anak nakal?"
Rachel pun menghela nafas panjang, jika menuruti kata hati, saat itu rasanya ingin sekali ia mengadu pada ibunya. Menumpahkan seluruh rasa penyesalan dan rasa bersalahnya, setidaknya agar ia bisa sedikit merasa lega, tapi sayangnya pikirannya kala itu seolah menghalanginya untuk melakukan hal itu.
"Tidak mommy, sungguh! Tidak ada apa-apa, aku hanya sedikit tidak enak badan saja?" Jawab Rachel akhirnya.
"Tidak enak badan?" Tanya Shea lagi.
"Iya, hanya tidak enak badan biasa."
"Tidak enak badan, di awal-awal pernikahan bukankah itu pertanda awal kehamilan?" Pikir Shea yang mulai sedikit kegirangan.
"Sekarang katakan, apa kamu ada merasakan mual?"
"Mual??" Rachel pun mulai mengernyitkan dahinya.
"Iya mual, apa akhir-akhir ini kamu ada merasakan mual? Terutama di pagi hari, ada?"
"Ti, tidak!" Jawab Rachel sembari menggelengkan kepalanya.
"Tidak? Apa kamu yakin sayang?"
__ADS_1
"Iya, yakin! Memangnya kenapa mom? Kenapa tiba-tiba harus bertanya seperti itu?"
"Eeemm bisa saja kamu hamil muda sayang."
Mendengar hal itu, sontak membuat mata Rachel seketika jadi terbelalak.
"Hah?! Ha,, hamil muda????"
"Iya, hamil muda. Itu mungkin saja terjadi sayang."
"Tapi, apakah mungkin aku hamil? Rasanya tidak mungkin, lagi pula, bukankah aku hanya berbohong pada mommy saat mengatakan tidak enak badan." Gumam Rachel dalam hati yang kemudian mengangkat singkat kedua pundaknya.
"Sudah lah mommy, tidak perlu membahas hal itu. Sekarang katakan, ada apa mommy menelponku pagi ini?"
"Astaga iya, mommy hampir lupa. Eeemm begini, mommy ingin menyampaikan, jika lusa mommy dan daddy akan kembali ke Paris." Ungkap Shea.
"Ha, benarkah mom?"
"Iya sayang, pokoknya mommy mau, kamu dan Arsen harus mengantar mommy dan daddy ke bandara! Ok?"
Mendengar hal itu, sontak membuat Rachel jadi terdiam sejenak, ia pun mulai kembali memasang wajah sendu sembari mulai menundukkan kepalanya.
"Hei sayang, kenapa kamu malah diam saja?"
"Kenapa,,, mommy dan daddy harus kembali secepat ini?" Tanya Rachel lirih.
Kini Rachel benar-benar di landa nestapa, namun ia tak ingin mengatakan masalah sebenarnya pada kedua orang tuanya. Ia tidak ingin masalah di rumah tangganya di ketahui oleh orang luar, termasuk orang tuanya sendiri.
"Iya sayang, karena sudah banyak pekerjaan yang terbengkalai disana. Terutama mommy, langganan butik kita di Paris hampir setiap hari menelpon."
"Eemm baik lah mommy, nanti akan aku bicarakan pada Arsen."
"Memangnya dimana Arsen? Bukankah kamu sekretarisnya di kantor, sudah pasti kamu bekerja berdampingan dengannya kan? Mana dia, berikan ponselmu padanya, mommy ingin bicara."
Permintaan Shea yang mendadak sontak membuat Rachel jadi gelagapan serta kebingungan.
"Oh ti,, tidak mommy, Arsen sedang,, eemmm dia sedang ada rapat mom, iya dia sedang rapat!"
"Rapat?"
"Iya rapat mom, rapat bersama klien baru." Ucap Rachel berbohong.
"Eeemm begitu, baik lah. Kalau begitu sampaikan saja padanya ya."
"Iya mommy, tenang lah."
"Ya sudah, lanjut lah bekerja, Mommy mau menemui oma dulu."
"Iya mommy, bye."
__ADS_1
"Bye bebe."
Bebe, dalam bahasa prancis juga termasuk panggilan sayang.
Rachel menutup telepon dengan membuang nafas kasar, saking merasa lega karena telah berhasil melewati perbincangan dengan Shea tanpa dicurigai oleh Shea.
Rachel pun bergegas untuk kembali ke ruangannya, ia kembali melirik ke arah meja Arsen, saat itu ternyata sudah ada Alex.
Alex yang menyadari kehadiran Rachel, mulai menatapnya dengan tatapan yang berbeda, sementara Arsen, saat itu ia masih terlihat diam, namun sorot matanya seolah begitu fokus menyorot pada layar ponsel milik Alex.
"Ada apa? Kenapa mereka berdua nampaknya begitu serius?" Gumam Rachel dalam hati sembari mulai duduk kembali ke kursinya.
*prraakkk*
Alex seketika dibuat terkejut saat Arsen meletakkan ponselnya ke atas meja dengan sangat keras. Membuat kedua bola matanya seketika mendelik memandangi ponselmya yang kini terletak di meja.
"Aku tau ini buruk, ta,, tapi kenapa kau harus membanting ponselku bung??" Tanya Alex yang langsung meraih ponselnya dan memandanginya dengan begitu lirih.
"Siapa yang memuat berita sampah seperti ini uncle?!" Tanya Arsen yang kembali menggebrak meja kerjanya dengan sebelah tangannya.
Kali ini, bukan hanya Alex, melainkan Rachel juga ikut dibuat terkejut saat mendengar suara gebrakan meja begitu keras.
"Astaga, ada apa?" Tanya Rachel dalam yang mulai bangkit dari duduknya.
"Aku juga tidak tau, tapi sekarang beritanya sudah muncul di mana-mana. Terutama situs online, ini benar-benar tidak akan baik untuk kelangsungan bisnis dan juga nama baik." Jelas Alex yang juga terlihat cemas.
Rachel pun akhirnya memberanikan diri untuk kembali masuk ke ruangan Arsen, dengan sedikit gugup, ia pun mulai bertanya pada Alex.
"Paman, ada apa?" Tanyanya pelan.
Alex kembali menatap Rachel, lalu menghela nafas panjang dan kembali terlihat melesu.
"Apa kau sudah melihat berita online hari ini?"
"Berita online?" Tanya Rachel sembari mengerutkan dahinya.
"Ya, buka lah! Kau akan tau jawabannya." Jawab Alex tanpa menatap Rachel lagi.
Arsen, saat itu juga hanya diam, bahkan semenjak Rachel kembali datang ke ruangannya, ia sama sekali tidak menatap Rachel meski sedetik pun.
"Eeemm baik lah, aku permisi dulu, aku akan mencari tau siapa dalangnya." Ucap Alex lagi yang kemudian langsung pergi.
Sebelum benar-benar keluar, Alex kembali menghentikan langkahnya dan kembali menatap Rachel, entah apa makna tatapannya kali ini, namun setelah itu, Alex kembali menghela nafas dan menggeleng-gelengkan kepalanya, dan kemudian langsung keluar dari ruangan Arsen.
"Ada apa? Kenapa sejak pagi tadi orang-orang terus menatapku dengan tatapan aneh?" Gumam Rachel yang semakin tak mengerti.
Ia pun teringat kata-kata Alex, lalu bergegas meraih ponsel dari saku celananya, dan membuka salah satu situs berita online yang biasa sering ia buka. Dan, betapa terkejutnya ia, bahkan, beritanya di muat dan terpampang nyata di halaman utama, kedua mata Rachel pun seketika membulat sempurna, sembari sebelah tangannya langsung menutupi mulutnya yang terbuka, disertai pula dengan kepalanya yang terus menggeleng-geleng tanda seolah tak percaya dengan apa yang baru ia lihat.
...Bersambung......
__ADS_1