Pewaris Tahta

Pewaris Tahta
Eps 117


__ADS_3

Kini jarum jam telah menunjukkan pukul 22.15 malam, Mobil Arsen pun akhirnya berhenti tepat di depan loby apartement Rachel. Dengan cepat Arsen turun dari mobilnya untuk membantu membukakan pintu mobil untuk calon istrinya.


"Terima kasih." Ucap Rachel yang tersenyum manis sembari mulai turun dari mobil.


Arsen pun ikut tersenyum tanpa membalas ucapan dari Rachel.


"Apa kamu ingin singgah?"


"Emm sepertinya tidak, sudah malam, lagi pula bukankah besok pagi kita ada rapat seluruh staff."


"Oh ya sudah kalau begitu."


Arsen pun akhirnya pamit pulang pada Rachel, tak lupa pula sebelum masuk ke mobil, ia pun mengecup dahi Rachel untuk pertama kalinya. Entah kenapa, semakin hari perasaan sayang Arsen pada Rachel semakin tumbuh berkembang.


"Kamu langsung istirahat ya, good night." Ucap Arsen dengan lembut setelah mengecup dahi Rachel.


"Emm," jawab Rachel sembari mengangguk patuh.


"Kamu juga ya, dan hati-hati di jalan." Tambahnya lagi sembari mengusap lembut pipi Arsen.


Arsen pun kembali tersenyum, lalu meraih tangan itu dan mengecupnya dengan lembut.


"Pasti." Ucapnya.


Arsen pun akhirnya masuk ke dalam mobilnya, sebelum akhirnya ia benar-benar menjalankan mobilnya, ia pun kembali membuka kaca jendela mobilnya.


"Ada apa lagi?" Tanya Rachel bingung.


"Aku lupa mengatakan sesuatu."


"Apa itu?" Rachel pun mulai mengernyitkan dahinya.


"Je t'aime." Ucap Arsen sembari tersenyum.


Mendengar calon suaminya menyatakan cinta dalam bahasa Pranciss, membuat Rachel jadi kembali seketika tersenyum simpul.


"Bahasa Pranciss mu boleh juga." Celetuk Rachel.


"Tidak juga, karena sebenarnya aku baru saja searching di google." Arsen pun tertawa kecil.


Membuat Rachel hanya bisa mendengus menahan tawanya sembari menggelengkan kepalanya.


"Baiklah, aku pulang ya, kamu masuk lah sekarang. Bye."


"Daah." Rachel pun melambaikan tangannya.

__ADS_1


Rachel dengan hatinya yang begitu riang dan berbunga, terus melangkah penuh semangat menuju unit miliknya. Sepanjang langkahnya ia terus tersenyum sumringah memandangi buket bunga yang di bawanya sembari sesekali tak lupa pula ia melirik ke arah jari tangannya yang sudah di lingkari oleh sebuah cincin yang begitu indah.


Hingga pada akhirnya langkahnya tiba-tiba saja terhenti saat ia telah sampai di koridor di depan pintu kamarnya. Matanya dibuat mendelik saat mendapati Benzie dan Yuna telah berdiri tegak di hadapannya.


"Pa, paman, bibi. Se, sejak kapan kalian berdiri disini?" Tanya Rachel yang begitu terkejut.


Benzie dan Yuna pun tersenyum tipis.


"Baru saja." Jawab Benzie dengan tenang.


"Dimana Arsen, apa dia langsung pulang?" Tanya Yuna basa basi.


"Ah iya bi, dia memilih untuk langsung pulang mengingat besok pagi di kantor ada rapat."


"Syukur lah." Ucap Benzie pelan.


"Syukur lah? Memangnya kenapa paman?" Tanya Rachel sembari menatap Benzie dengan tatapan yang terlihat sedikit bingung.


Benzie pun diam sejenak sembari menatap Yuna, begitu pula dengan Yuna yang seketika langsung melirik ke arah Benzie. Merasa suasana saat itu sedikit canggung, Rachel pun akhirnya langsung menyuruh mereka untuk masuk ke apartement miliknya.


"Ah astaga saking terkejutnya, aku sampai lupa mengajak kalian masuk. Ayo paman, bibi, ayo masuk lah dulu, akan lebih baik jika kita berbincang di dalam." Rachel pun tersenyum ramah, lalu dengan bersigap ia pun langsung membukakan pintunya.


Benzie dan Yuna pun masuk, mata mereka pun seolah tak bisa diam menyisir ke seluruh sudut ruangan apartement yang kala itu terlihat begitu bersih dan tertata rapi.


"Duduklah dulu paman, bibi, aku akan membuatkan minum. Mau minum apa? Teh, kopi, atau jus?" Tanya Rachel yang terlihat begitu semangat menawarkan.


"Ah tidak mungkin repot jika hanya membuatkan minum bibi." Rachel pun tersenyum.


"Terserahmu saja." Tambah Benzie.


"Baiklah kalau begitu akan ku buatkan yang paling ringkas saja ya." Ucap Rachel.


Benzie dan Yuna pun mengangguk singkat.


"Apa kamu tinggal sendiri di sini?" Tanya Benzie yang mulai duduk di sebuah sofa.


"Tentu saja paman." Jawab Rachel yang langsung saja menuju ke minibar yang berada di sisi kiri ruang tamunya.


"Sepertinya kamu sangat berbakat dalam menata ruangan, itu terbukti dari caramu menata ruangan ini dengan begitu apik dan rapi " Basa basi Yuna sembari ikut menduduki sofa di samping Benzie.


"Hehehe terima kasih bibi, sepertinya dalam hal itu, aku mewarisinya dari momy yang tidak akan merasa nyaman jika ruangan berantakan." Jelas Rachel sembari mengaduk dua cangkir teh yang ia buat untuk calon mertuanya.


"Apakah Benar Shea begitu?" Bisik Yuna pada Benzie.


"Mana aku tau." Jawab Benzie yang juga berbisik sembari mengangkat singkat kedua pundaknya.

__ADS_1


"Mana mungkin kamu tidak tau, bukankah kamu dulu begitu mengaguminya, sudah pasti kamu tau semua hal tentang dia."


"Hei hei hei, apa kamu sungguh ingin membahasnya disini? Apa kamu sungguh ingin membahasnya di hadapan putrinya?" Bisik Benzie sembari melototi Yuna.


Membuat Yuna akhirnya terdiam dengan bibirnya yang sengaja ia manyunkan.


Tak lama Rachel pun datang dengan membawa teh yang ia buat.


"Silahkan di minum paman, bibi." Ucapnya sembari meletakkannya di atas meja.


"Terima kasih ya sayang." Timpal Yuna yang kembali tersenyum.


Setelah memastikan kedua calon mertuanya menyeduh teh buatannya, akhirnya Rachel pun ikut duduk di hadapan mereka dan memberanikan diri untuk bertanya maksud kedatangan mereka ke apartement di saat malam hari begini.


"Aku sangat kaget saat mendapati paman dan bibi mau berkunjung ke apartementku yang sederhana ini. Sebenarnya, hal penting apa yang membawa paman dan bibi datang kesini disaat malam hari begini?" Tanya Rachel dengan begitu lembut.


"Apa ini ada hubungannya dengan Arsen yang baru saja..." Tambah Rachel lagi yang mendadak jadi sedikit tersipu.


"Yang baru saja melamarmu?" Tanya Benzie memotong ucapan Rachel.


Rachel pun hanya cengengesan dengan wajahanya yang memerah.


"Iya benar nak, kedatangan paman dan bibimu kesini untuk membahas hal itu." Jawab Benzie dengan tenang.


"Memangnya ada apa paman? Kenapa harus di bahas malam ini? Bukankah Arsen mengatakan jika ia telah mengantongi restu dari paman dan bibi?"


"Itu benar, jika masalah Restu, tentu kami sangat merestuinya. Tapi, ada satu hal yang mungkin kamu lupakan Rachel."


"Satu hal?" Dahi Rachel mulai mengernyit di tambah dengan ekspresi wajahnya yang tampak bingung.


"Ya, satu hal yang hingga sekarang masih begitu mengganjal, hingga membuat paman dan bibi tak tenang." Jawab Benzie lagi sembari melirik singkat ke arah Yuna.


Saat itu Yuna masih memilih untuk bungkam dan membiarkan Benzie untuk menjelaskannya.


"Maaf paman, tapi aku masih belum mengerti hal yang yang paman dan bibi maksud."


"Baiklah Rachel, ada satu hal yang ingin kami tanyakan, apa setelah Arsen melamarmu, kamu mengatakan siapa kamu sebenarnya?" Benzie pun mulai menatap Rachel dengan tatapan yang begitu serius.


Mendengar pertanyaan itu, seketika membuat jantung Rachel berdebar, ia pun terdiam sejenak dengan perasaan yang mendadak menjadi gelagapan serta begitu tak tenang.


"Astaga benar juga, begitu larut dengan perasaan bahagia saat di lamar Arsen, membuatku lupa jika Arsen mengenalku sebagai Bella, bukan Rachel." Gumam Rachel dalam hati sembari kedua tangannya tanpa ia sadari mulai *******-***** lututnya sebagai tanda ia jadi begitu gugup.


"Oh astaga, melihat dari gelagatmu yang mendadak terlihat gugup, membuat paman bisa menebak dengan jelas jika kamu belum mengatakan siapa kamu sebenarnya pada Arsen. Benarkah begitu" Ucap Benzie yang juga mulai merasa sedikit cemas dan tak tenang.


Rachel pun semakin dibuat gemetar, ia pun langsung menelan ludahnya sendiri saat Benzie bisa menebaknya dengan mudah. Akhirnya, dengan ragu-ragu ia pun kembali menatap wajah Benzie dan Yuna secara bergantian.

__ADS_1


"Iya benar paman, hingga detik ini, Arsen masih mengenalku sebagai Bella." Jawab Rachel akhirnya sembari mulai menundukkan kepalanya.


...Bersambung......


__ADS_2