Pewaris Tahta

Pewaris Tahta
Eps 127


__ADS_3

Arsen akhirnya pulang ke rumahnya dengan membawa perasaan bingungnya pada sikap Rachel yang seolah mendadak berubah. Dengan wajah yang nampak letih, ia pun terus melangkah lesu melewati berbagai ruangan untuk menuju ke kamarnya.


"Hei calon pengantin, dari mana saja sih?" Suara Lylia tiba-tiba saja terdengar pada saat Arsen melintasi ruang keluarga.


Arsen pun seketika menoleh ke arah sofa, saat itu Benzie, Yuna, serta adiknya Lylia nampak sedang duduk di sofa sembari menikmati puding buah segar buatan Yuna. Benzie nampak sedang mengamati beberapa lembar kertas yang sedang ia pegang, sementara Yuna dan Lylia terlihat sedang mengobrol ringan. Tanpa menjawab pertanyaan dari adiknya, Arsen pun langsung melangkah menghampiri mereka dan ikut duduk di samping Benzie.


"Anak kecil tau apa?" Ucapnya kemudian sembari mengacak singkat ujung kepala adiknya.


"Ihhh aku bukan anak kecil." Ketus Lylia sembari merapikan kembali rambutnya.


Arsen pun hanya mendengus dan tersenyum tipis.


"Apa ini?" Tanya Arsen sembari mengambil satu potong puding yang memang sudah terhidang di atas meja.


"Mama baru saja membuat puding dari buah-buahan yang ada di kulkas. Makan lah." Jawab Yuna sembari tersenyum tipis.


Tanpa basa basi Arsen pun langsung menyantapnya.


"Dari mana saja kamu? Kamu bahkan tidak menghabiskan makan malam mu dan langsung pergi begitu saja." Tanya Benzie.


"Maaf pa, tadi aku ke apartement Bella. Sejak sore dia terlihat pucat, aku khawatir pada kesehatannya, makanya aku datang kesana untuk memastikan keadaannya." Jelas Arsen dengan singkat.


Benzie pun hanya mengangguk dan kembali menyeduh secangkir teh miliknya.


"Bagaimana pa, apa papa sudah menghubungi menejer hotel?" Tanya Arsen kemudian.


"Alex sudah mengurus semuanya, ballroom hotel kita yang akan kau gunakan untuk resepsi Minggu depan sudah aman."


"Terima kasih banyak pa." Arsen pun tersenyum tipis.


"Kenapa harus berterima kasih, sebagai orang tuamu, tentu saja papa bersedia untuk direpotkan untuk hal penting ini." Benzie pun ikut tersenyum tipis.


"Lalu bagaimana dengan urusan dekorasi ma?"


"Tenang lah sayang, semua sudah di rancang sesuai dengan seleramu. Kamu pasti suka." Jelas Yuna yang ikut tersenyum.


"Terima kasih untuk itu juga ma."


"Tidak perlu sayang, mama juga siap direpotkan untuk hari bahagiamu." Yuna pun semakin tersenyum.


"Oh ya, besok setelah makan siang, kamu dan Bella tidak perlu masuk kantor lagi ya. Karena mama sudah membuat janji pada salah satu fotographer yang akan memotret kalian besok, besok kalian akan melakukan foto prawedding Sekaligus foto untuk di cetak di undangan." Jelas Yuna lagi.


"Benar juga, undangan juga belum di cetak, apa itu mungkin untuk mencetak beberapa ribu undangan dalam waktu beberapa hari?"


"Tenang saja, serahkan saja semua pada mamamu ini." Jawab Yuna dengan raut wajah yang begitu meyakinkan.


"Kamu tidak perlu meragukan kemampuan mamamu Arsen Lim, saat ini mamamu memiliki banyak link untuk bisa mengatur segalanya dengan mudah. Bahkan seorang Benzie Lim saja berada di bawah kendalinya saat ini. Bukan begitu sayang?" Benzie pun tersenyum sembari melirik ke arah Yuna.


"Haruskah kamu berbicara begitu di depan anak-anak kita?" Yuna pun tersipu malu.


"Ayolah sayang, anak-anak kita sudah beranjak dewasa sekarang."


Yuna pun hanya mendengus dan kembali tersenyum.


"Oh ya kak, bicara soal undangan, bolehkah aku mengundang beberapa teman dekatku? Mereka secara diam-diam ternyata begitu ngefans dengan kakak." Tanya Lylia.


"Kau boleh mengundang teman seberapa banyak yang kau mau." Jawab Arsen dengan tenang.


"Benarkah? Ah asikkk." Lylia pun bersorak girang.


Membuat Benzie dan Yuna hanya bisa tersenyum menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Oh ya pa, ma, bicara soal undangan juga, bisakah papa mengundang uncle Martin dan Aunty Shea?"


"Ha?!" Yuna dan Benzie nampak terkejut secara bersamaan dengan permintaan Arsen.


"Ke, kenapa kamu tiba-tiba memikirkan mereka? Maksud papa, mereka kan sudah tinggal di luar negeri."


"Ayolah pa, meskipun sudah jarang berkomunikasi, aku yakin papa dan mereka tetap punya ikatan persahabatan hingga saat ini. Aku yakin mereka pasti bisa datang jika diberitahukan dari sekarang."


"Iya kami tau, tapi kenapa Arsen Lim?" Tanya Yuna lagi yang merasa penasaran.


"Tidak, hanya saja malam ini aku tiba-tiba teringat pada Rachel teman kecilku." Jawab Arsen dengan tenang.


Mendengar hal itu membuat Benzie yang baru saja menyeduh kembali tehnya langsung refleks menyemburkan teh yang telah di seruputnya.


"Uhukk.. uhukk.." Benzie pun terbatuk-batuk sembari terus mengusap dadanya.


"Kamu tidak apa?" Tanya Yuna yang langsung mendekati Benzie dan membantu mengusap punggungnya.

__ADS_1


"Apa menurutmu aku akan baik-baik saja saat mendengar ucapan Arsen barusan?" Bisik Benzie pada Yuna.


"Entah lah, sampai kapan Rachel siap untuk mengatakan semuanya pada Arsen? Aku juga takut masalah ini semakin berlarut." Jawab Yuna yang juga berbisik.


Melihat kedua orang tuanya terus berbisik, membuat dahi Arsen yang melihatnya mulai berkerut dan menatap heran kedua orang tuanya.


"Pa, ma, ada apa ? Kenapa kalian berdua malah asik bisik-bisikan?"


"Oh haha tidak, hanya sedang berbicara tentang hal yang tidak seharusnya kalian dengar." Jawab Benzie yang jadi sedikit kikuk.


"Emm begitu. Jadi bagaimana pa, papa bisakan mengatur agar Rachel dan keluarganya bisa datang ke acara pernikahanku?"


"Emmm soal itu, ba, baiklah nanti papa akan mendiskusikannya pada uncle Alex. Biar dia yang urus." Jawab Benzie dengan senyum keterpaksaan.


"Sekali lagi terima kasih ya pa."


Benzie pun hanya bisa mengangguk pelan.


"Aaah aku benar-benar berharap, Rachel bisa datang, aku ingin lihat bagaimana bentuk tubuhnya sekarang hahaha. Aku begitu yakin dia pasti betambah gemuk dengan banyak jerawat di pipinya karena keseringan makan coklat hahaha." Gumam Arsen sembari mulai bangkit dari duduknya.


Lagi-lagi Yuna dan Benzie jadi terdiam dan saling bertatapan satu sama lain dengan raut wajah mereka yang terlihat sedikit camas.


"Baiklah kalau begitu, aku pamit untuk masuk ke kamar duluan." Tambah Arsen lagi.


"Ya, ya, masuk dan istirahat lah." Jawab Yuna.


Arsen hanya tersenyum lalu mengangguk, ia pun mulai melangkah menuju tangga.


"Dan kamu juga Lylia, naiklah ke kamarmu dan tidur, ini sudah hampir larut." Tambah Benzie.


Lylia pun akhirnya patuh, ia pun ikut bangkit dari duduknya dan menyusul langkah Arsen.


"Perasaanku jadi kembali tidak enak." Celetuk Benzie pelan sembari terus memandangi kepergian Arsen.


"Kamu benar, aku juga merasakan hal yang sama." Jawab Yuna yang juga tengah memandang sendu punggung Arsen yang semakin menjauh dari mereka.


Ke esokan harinya...


Suara bel apartement pagi itu benar-benar mengganggu bagi Rachel yang kala itu sedang bersenabut bersiap-siap untuk berangkat kerja.


"Astaga, siapa yang berani bertamu disaat aku lagi buru-buru seperti ini." Keluh Rachel seorang diri sembari dengan cepat memasang seluruh kancing kemejanya.


Rachel dengan langkah cepat langsung menuju pintu dan tanpa mengintip terlebih dulu. Namun kedua mata Rachel langsung dibuat terbelalak saat mendapati seseorang yang kini sudah berdiri dengan tatapan sinis di hadapannya.


"Kenapa? Apa kamu kaget melihat kedatangan mommy anak nakal?"


"Hehehe, ini sungguh mengagetkan saat pagi-pagi melihat mommy sudah berdiri disini." Jawab Rachel yang langsung cengengesan dan seolah ingin memeluk manja ibunya.


Namun belum sempat melakukannya, Shea sudah lebih dulu menjewer telinga Rachel layaknya anak kecil dan membawanya kembali masuk ke dalam Apartement.


"Aaww, sakit mommy, ampunnn.." teriak Rachel.


Akhirnya Shea pun melepaskan jewerannya, dia kembali menatap Rachel dengan kedua tangannya yang mulai bersedekap. Rachel yang melihat hal itu hanya bisa memanyunkan bibirnya, karena ia mengerti kenapa ibunya bisa bersikap seperti itu.


"Maaf mommy." Ucapnya memasang wajah lirih.


"Sekarang jelaskan pada mommy secara detail, dan kamu tidak bisa mengelak lagi!"


Rachel pun tak sengaja melirik ke arah jam dinding yang tepat tergantung di hadapannya.


"Mommy, aku sungguh ingin sekali menjelaskan semuanya pada mommy, ta, tapi..."


"Tapi apa lagi?" Shea pun semakin melotot dan mengecak pinggang.


Rachel kembali melirik ke arah tasnya yang berada tak jauh darinya.


"Tapi aku..."


kemudian dengan gerakan cepat Rachel pun langsung meraih tas kerjanya dan berlari keluar dari unitnya begitu saja.


"Tapi saat ini aku sudah terlambat bekerja mommy, aku harus pergi sekarang. Bye."


"Rachel Chou!!" Teriak Shea menggeram.


Shea benar-benar dibuat kesal dengan putrinya yang masih saja seperti anak kecil yang nakal.


Hari-hari berlalu dan semakin dekat dengan hari pernikahan, pemotretan telah rampung, begitu pula dengan undangan yang telah tercetak dan mulai di sebarkan. Martin pun ikut datang menyusul Shea untuk bertemu dengan putri semata wayang mereka yang sudah begitu lama tidak kembali ke Paris. Akhirnya Shea dan Martin pun secara pribadi menemui Benzie dan Yuna, bahkan mereka pun sudah mendengar penjelasan dari Rachel secara detail. Hingga akhirnya membuat Martin paham dan menyadari, jika putrinya itu sungguh mewarisi sifat ibunya.


"Sudah lah sayang, jangan terus memarahinya, anak kita begini kan juga karena mewarisi hal itu darimu." Ucap Martin sembari mengusap lembut pundak Shea.

__ADS_1


"Apa sekarang kamu sedang mengejekku karena dulu aku selalu mengejar-ngejarmu bahkan hingga ke Paris? Begitu? Ha?"


"Hehehe aku tidak bilang begitu." Jawab Martin dengan senyuman manisnya.


Di sisi lain, Laura yang mendapat kabar pernikahan Arsen dari Mila sahabatnya dibuat begitu terkejut saat melihat undangan pernikahan Arsen yang di tunjukkan Mila padanya.


"Tidak, tidak, ini tidak mungkin! Tolong katakan padaku, jika hal ini hanya prank.."


"Ini sungguhan Laura, aku pun sama kagetnya dengan mu." Jawab Mila.


"Tidak, tidak mungkin secepat ini dia memutuskan untuk menikahi wanita yang sama sekali tidak selevel dengannya!"


"Entahlah, soal itu aku tidak tau. Kelihatannya Arsen sudah benar-benar mencintai sekretarisnya itu."


"Tidak!!! Arsen Lim hanya boleh menikah denganku! Aku tidak rela jika Arsen jatuh ke pelukan wanita rendahan seperti dia. Aku tidak rela!" Ketus Laura sembari menggebrak meja hingga membuat Mila terkejut.


"Aku harus menemuinya lagi, harus! Bahkan jika perlu merendahkan harga diriku di hadapannya pun, kali ini akan kulakukan." Tambah Laura lagi dengan tatapan tajamnya.


H-2 sebelum resepsi, Arsen benar-benar membuat Rachel semakin frustasi karena ia yang terus menerus menanyai tentang keluarga Rachel yang alibinya sedang berada di Paris tak kunjung tiba.


"Mereka sudah setuju dan sudah menyerahkan seluruhnya pada wali, jangan khawatir, aku tidak apa jika harus menikah tanpa keluargaku kali ini."


"Baiklah, aku janji akan membuat dua kali resepsi, resepsi kedua akan kita adakan di Paris khusus untuk keluargamu." Jawab Arsen akhirnya.


Rachel hanya bisa mengangguk saja, nanti malam adalah malam pertunangan Arsen dengan Rachel secara resmi, namun hingga saat ini pula ia pun masih belum berhasil mengungkapkan jati dirinya.


"Apa kamu sudah siap untuk nanti malam?" Tanya Arsen yang tersenyum sembari meraih tangan Rachel.


"Aku, aku sangat gugup."


Arsen pun melebarkan senyumannya.


"Kamu harus beristirahat yang cukup dari sekarang agar lebih rileks ya."


Rachel hanya mengangguk.


"Ayo ku antar kamu pulang."


Arsen pun mengantarkan Rachel sampai depan loby apartementnya.


"Maaf aku tidak mengantarmu sampai dalam ya, aku harus ke hotel, aku mau mengecek persiapan untuk acara nanti malam."


"Apa tidak masalah jika aku tidak ikut serta kesana?"


"Tidak apa, kamu memang perlu banyak istirahat agar terlihat fresh. Karena ku lihat akhir-akhir ini kantung matamu mulai terlihat."


"Terima kasih untuk pengertiannya."


Tak lama Arsen pun pergi, namun baru saja mobil Arsen keluar gerbang gedung Apartement, tiba-tiba saja Antony muncul dan mengagetkan Rachel.


"Halo Rachel Chou."


Rachel terkejut dan seketika menoleh ke arah Antonya.


"An, antony."


"Hai, lama tidak bertemu." Ucapnya sembari tersenyum tipis dan melanjutkan langkahnya untuk menghampiri Rachel.


"Sedang apa kamu disini?" Tanya Rachel yang mendadak menjadi gelagapan.


"Sedang apa aku disini? Astaga ku yakin kamu pun tau jawabannya, ya tentu saja aku mau menemuimu. Bukankah aku cukup baik menemuimu disaat calon tunanganmu sudah pergi. Dan aku sengaja tidak menyebutkannya sebagai calon suami karena aku pun tak yakin kalian tetap akan menikah atau tidak."


"Apa maksudmu?!"


"Kamu tentu tau maksudku." Antony kembali tersenyum.


Namun senyuman Antony kali itu sungguh bagaikan mimpi buruk bagi Rachel.


"Hingga detik ini pun nyatanya kamu belum mengucapkan apapun pada Arsen Lim. Apa aku boleh tau alasannya? Atau kamu sungguh butuh bantuanku untuk mengatakan pada Arsen jika kamu ini sebenarnya adalah Rachel Chou sahabat kecilnya yang dulu selalu disebut si pipi bakpao olehnya?" Saat itu Antony seakan terus menekan Rachel, membuat posisinya semakin terpojok.


"Aku yang akan mengatakannya sendiri padanya!" Tegas Rachel.


"Astaga, aku sebenarnya tidak tega mengatakan ini padamu, tapi sejujurnya aku sungguh muak mendengar kata itu yang sebelumnya juga pernah kamu ucapkan padaku."


"Apa aku tidak salah dengar?!" Tiba-tiba saja, seorang wanita cantik muncul begitu saja ke tengah-tengah Rachel dan Antony.


Kemunculan wanita itu pun seketika membuat mata Rachel terbelalak bahkan nyaris keluar dari sarangnya.


"La, Laura?!" Ucap Antony yang juga nampak begitu terkejut.

__ADS_1


"Astaga kenapa ada wanita ini disini? Bisa-bisa dia merusak semuanya." Celetuk Antony dalam hati.


...Bersambung......


__ADS_2