
"Mulai sekarang, panggil aku guardian angel. Ok?" Ucap Rachel lagi sembari tersenyum saat melepaskan pelukannya.
Hal itu membuat Arsen yang awalnya terdiam mulai kembali tersenyum tipis sembari mengusap ujung kepalanya.
"Haissh astaga, aku hampir lupa jika kamu ini sedang mabuk. Mendengarkan celotehan orang mabuk bukankah suatu hal yang konyol?" Jawab Arsen kemudian.
"Ak, aku tidak mabuk, aku hanya...."
"Sudah, sudah ayo ku antar kamu pulang." Arsen pun kembali menarik tangan Rachel.
Lalu mulai membawanya untuk kembali ke mobil, kala itu kepala Arsen pun mulai terasa berat dan pusing, namun ia merasa masih bisa mengontrolnya dan memberanikan diri untuk menyetir sendiri.
Di tengah perjalanan, tubuh Rachel tiba-tiba saja ambruk ke pundak Arsen, membuat Arsen terkejut hingga langsung menghentikan laju mobilnya.
Ciitttt
Suara gesekan ban mobil pada aspal akibat di rem mendadak, Arsen seketika menoleh memandangi Rachel.
"Hei, ada apa denganmu? Kamu baik-baik saja?"
Namun Rachel tak menjawab, kedua tangannya justru mulai melingkar ke lengan Arsen dengan manjanya dalam keadaan matanya yang telah terpejam.
"Astagaa, mengagetkan saja." Celetuk Arsen yang akhirnya kembali menjalankan mobilnya.
Berselang beberapa saat, Rachel terdengar kembali menggumam.
"Tolong cintai saja aku, jangan kembali padanya." Gumam Rachel pelan.
Membuat dahi Arsen yang mendengar hal itu kembali mengernyit.
"Belajar cintai aku dan aku akan membuatmu bahagia." Rachel terus saja bergumam dalam tidurnya.
Membuat perasaan Arsen mulai tak karuan, ia masih bingung ucapan itu ia tujukan pada siapa. Namun mengingat Rachel yang kala itu sedang mabuk parah, membuat Arsen jadi tak mau terlalu menanggapi ucapannya.
Hingga akhirnya tibalah mereka di depan apartment milik Rachel, Arsen kembali memandangi wajah Rachel yang saat itu masih tertidur pulas.
Lalu perlahan mulai mengusap lembut pipinya sembari tersenyum.
"Lain kali jangan mabuk begini lagi ya, aku tidak suka melihatnya." Ucap Arsen dengan begitu pelan.
Namun tiba-tiba saja Rachel terbatuk-batuk hingga membuatnya tersentak, hal itu juga secara bersamaan membuat Arsen yang kala itu berjarak begitu dekat dengannya jadi terkejut dan seketika menjauhkan tubuhnya.
"Uhukk,, uhukk." Rachel terbangun sembari menepuk-nepuk dadanya.
"Aduh aku haus sekali." Ucapnya lirih.
Tanpa berkata apapun, Arsen pun segera memberikan sebotol air mineral yang ada di dalam mobilnya. Rachel pun menerimanya dan terus memandanginya.
"Aku belum meminumnya sama sekali, minum saja." Ucap Arsen kemudian.
__ADS_1
Rachel pun segera meminumnya, ia nampaknya memang sungguh begitu haus hingga membuatnya hampir menenggak habis sebotol air mineral itu.
"Bagaimana, sudah sadar?" Tanya Arsen dengan tenang.
"Kita dimana ini? Kenapa mobilnya berhenti?"
"Di depan apartement mu."
"Hah?! Kenapa tidak membangunkanku jika sudah sampai."
"Kamu bahkan sudah bangun sebelum ku bangunkan."
"Emm ya sudah," Rachel pun bergegas turun dari mobil Arsen.
Namun Arsen seolah tak membiarkannya untuk berjalan menuju apartementnya sendirian, ia pun ikut turun dari mobil untuk membantu Rachel.
"Terima kasih sudah mengantarku pulang, kamu sungguh baik sekali." Ucap Rachel sembari mulai melangkah dengan sempoyongan.
"Sama-sama." Jawab Arsen datar namun tetap terus melangkah mengikuti langkah Rachel.
"Ka, kamu mau kemana?" Tanya Rachel bingung.
"Ingin memastikan jika kamu bisa masuk ke unit mu tanpa terjatuh." Jawab Arsen sembari tersenyum tipis.
"Ah hahaha, itu tidak akan terjadi, bagaimana mungkin kamu bisa berfikir begitu." Rachel pun tertawa geli dan kembali melangkah.
"Baiklah, aku berharap hal itu tidak akan pernah terjadi, namun aku harus tetap memastikannya." Arsen pun mulai memasukkan kedua tangan ke dalam saku celananya.
Namun benar saja, tak perlu menunggu terlalu lama, kaki Rachel yang kala itu di lapisi oleh sepatu hak tinggi pun tiba-tiba saja membuatnya hampir tergelincir.
"Aaaaw" Teriak Rachel.
Namun untunglah, Arsen yang ada di belakangnya dengan sigap langsung menangkap tubuh mungil itu hingga Rachel pun jatuh ke dalam pelukan Arsen.
Kedua bola mata mereka pun kembali bertemu dan seolah saling beradu pandang, Arsen yang mulai merasa gugup mulai menelan ludahnya sendiri saat tak sengaja melirik ke arah bibir Rachel yang kala itu berjarak begitu dekat dengan wajahnya. Perlahan tapi pasti, Arsen tanpa sadar semakin mendekatkan wajahnya ke arah Rachel. Membuat Rachel pun semakin gugup hingga matanya pun mulai ia pejamkan karena dalam benaknya ia berfikir jika saat itu Arsen akan menciumnya.
Hingga jarak antara bibir keduanya sudah sangat dekat, namun nyata apa yang ada di dalam pikiran keduanya tidak sesuai dengan ekspetasi. Bayangan itu seketika buyar ketika seorang security datang menghampiri mereka.
"Ada apa nona?"
Pertanyaan itu seketika membuat keduanya terkejut dan bersigap saling menjauh satu sama lain dan kembali berdiri tegak.
"Oh, ti, tidak ada apa-apa pak." Jawab Rachel yang begitu gelagapan.
"Anda yakin? Orang ini tidak sedang mengancam anda kan?" Tanya security memastikan.
"Nona ini mabuk, dia hampir terjatuh dan aku hanya mencoba membantunya." Tambah Arsen yang juga merasa gugup.
"Ah iya, dia temanku, tidak perlu khawatir." Jawab Rachel.
Mendengar hal itu sang security pun pergi meninggalkan Arsen dan Rachel yang masih terlihat begitu gugup dan canggung. Tak lama sebuah lift pun terbuka, terlihat seseorang keluar dari dalam lift itu.
__ADS_1
"Oh ayo, mumpung liftnya terbuka." Ucap Arsen yang mencoba menghindari suasana canggung itu.
Di dalam lift mereka pun saling diam dengan pikiran mereka masing-masing, terutama Arsen yang kala itu merasa begitu malu karena aksinya itu.
"Astaga Arsen Lim, apa yang ingin kau lakukan tadi? Benar-benar memalukan." Ketus Arsen seolah sedang mengutuk dirinya sendiri.
Namun berbeda halnya dengan pemikiran Rachel kala itu.
"Andai tidak ada security yang datang, pasti jadinya akan begitu indah." Gumam Rachel dalam hati sembari terus menahan senyumnya.
Tak lama lift yang membawa mereka pun terbuka, Keduanya pun langsung keluar dan segera melewati koridor untuk menuju unit Rachel.
"Sudah sampai, dan aku sudah cukup memastikan jika kamu baik-baik saja."
"Lalu, apa yang ingin kamu lakukan sekarang?" Tanya Rachel seolah ingin memancing Arsen dengan matanya yang masih terlihat begitu sayu.
"Aku?!" Tanya Arsen sembari menunjuk ke arah dirinya sendiri.
Rachel pun mengangguk.
"Emm aku, aku, ya tentu aku akan pulang sekarang." Jawab Arsen yang mulai mengusap-usap tengkuknya karena begitu gugup di hadapan Rachel akibat kejadian sebelumnya.
"Ooh" Rachel pun nampak kecewa dan mulai menunduk, dalam hatinya ia tak mau Arsen pulang, ia mau Arsen tetap di sisinya untuk menemaninya.
"Baiklah, aku,, aku pulang sekarang."
"Ya, pulang lah." Jawab Rachel datar.
"Ok, jaga dirimu." Arsen pun tersenyum lirih.
"Ya." Rachel pun memalingkan wajahnya.
"Byee." Arsen pun akhirnya berbalik badan dan mulai melangkah.
Namun Rachel, yang kala itu seolah tak ingin membiarkan Arsen pergi begitu saja, sontak kembali memanggilnya.
"Arsen Lim tunggu!"
Membuat langkah Arsen terhenti dan kembali berbalik badan ke arah Rachel.
"Ada apa?" Tanya nya dengan tenang.
Rachel memandangi Arsen sejenak, lalu mulai berjalan cepat mendekatinya, dan....
Cuuppp
Rachel dengan tanpa ragu-ragu langsung mengecup bibir Arsen, perasaan hangat pun sontak seolah mulai menjalar di dalam jiwa keduanya, hingga membuat Rachel mengecup bibir Arsen cukup lama, membuat mata Arsen Lim kembali membulat sempurna.
"I love you." Bisik Rachel kemudian tepat di telinga Arsen, lalu kemudian langsung berlari pergi masuk ke dalam unitnya tanpa ingin melihat reaksi Arsen terlebih dulu apalagi menunggu jawaban darinya.
...Bersambung......
__ADS_1