
Ke esokan harinya...
Kini tiba lah hari yang paling di nantikan oleh hampir seluruh orang di kota itu. Hari dimana, putra sulung dari Benzie Lim, sang pewaris perusahaan raksasa di kota itu akan menikah. Ini pun termasuk hari patah hari nasional baru sebagian wanita yang begitu mendambakan Arsen Lim.
Ballroom yang luas kini telah di dekor sedemikian rupa, seolah di sulap menjadi seperti kebun bunga yang indah layaknya negeri dongeng. Berbagai jenis makanan khas dari mancanegara pun turut meramaikan meja-meja panjang yang tersedia di berbagai sudut.
Mulai dari makanan Nusantara, Jepang, China, Itali, Pranciss, korea, hingga timur tengah semua lengkap terhidang. Mengingat perusahaan milik keluarga Lim banyak bekerja sama dengan perusahaan luar negeri, membuat mereka pun ingin menjamu para tamu dengan sangat baik.
Saat itu Rachel sedang duduk di depan cermin, ia hanya terdiam saat perias mulai mendandaninya.
"Tolong dandani aku senatural mungkin." Ucap Rachel dengan lembut.
"Anda yakin ingin tampil natural di hari pernikahan yang super mewah ini?"
"Lakukan saja." Jawab Rachel pelan sembari tersenyum lirih.
"Baik nona."
Tak lama, Shea pun datang menghampiri anaknya, ia berdiri tepat di belakang Rachel, lalu memegang kedua pundaknya sembari memandangi pantulan diri anak semata wayangnya itu dari cermin.
"Sayang, apa kamu sungguh yakin tidak ingin membatalkan ini semua? Karena, hingga saat ini Arsen masih belum ada kabar." Ucap Shea yang sangat merasa cemas.
Ia takut, jika Arsen tidak datang, maka Rachel akan menanggung rasa malu itu sendirian.
"Entah lah mommy, tapi entah kenapa, hatiku begitu yakin jika Arsen akan datang." Jawab Rachel dengan raut wajahnya yang sendu.
"Emm baiklah, mommy akan menuruti apapun yang kamu inginkan sayang. Tapi, mommy tidak akan memaafkan Arsen jika dia benar-benar tidak datang dan membuatmu bersedih. Dan kamu tidak akan bisa melarang mommy untuk membencinya, kamu dengar itu?"
Rachel pun akhirnya mengangguk lesu. Shea pun kembali mengusap-usap pundak putrinya, ia tersenyum tipis dan kembali berkata.
"Kamu anak mommy yang cantik dan sangat mandiri, Arsen akan menyesal seumur hidupnya jika melepaskan wanita seperi kamu."
Rachel pun akhirnya tersenyum, meski di balik senyumannya masih begitu terlihat jelas rasa cemasnya memikirkan Arsen yang masih tak kunjung terlihat.
"Terima kasih banyak mommy, terima kasih sudah mau mengerti." Rachel pun memegang kedua tangan Shea dan ikut mengusapnya.
Shea pun pergi, dan membiarkan Rachel kembali di rias.
Satu jam berlalu, kini satu persatu tamu undangan terlihat mulai berdatangan memenuhi ballroom. Saat ini Rachel pun telah siap dengan segalanya, ia yang telah memakai gaun pengantin berwarna putih kini berdiri di depan cermin memandangi pantulan diri sendiri yang kala itu wajahnya terlihat begitu sendu.
"Harusnya, hari ini adalah hari yang paling membahagiakan bagiku. Arsen Lim, aku masih sangat mengharapkan kedatanganmu hingga detik ini." Gumam Rachel dalam hati.
Tak lama Yuna dan Benzie yang juga sudah nampak rapi dan serasi dalam balutan pakaian yang senada, datang menemui Rachel yang masih berada di dalam kamar hotel.
"Ya tuhan Rachel, kamu terlihat sangat cantik sayang." Ucap Yuna dengan lembut.
Rachel hanya bisa tersenyum tipis.
"Terima kasih bibi." Jawabnya lirih.
"Paman, apa belum ada kabar dari Arsen?" Tanya Rachel sembari menatap Benzie dengan lirihnya.
__ADS_1
Benzie pun menggeleng, membuat Rachel seketika tertunduk lesu dan kembali terduduk di kursi yang tepat berada di belakangnya.
"Apakah dia benar-benar tidak akan datang? Apa dia sungguh semarah itu?" Air mata Rachel akhirnya kembali menetes.
"Tapi paman sudah menyuruh Alex, agar mengutus orang untuk menjemput Arsen,"
"Benarkah paman?" Rachel pun kembali bangkit dari duduknya dan menyeka air mata yang mulai membasahi pipi.
"Iya. Tapi apa kamu juga yakin sudah meyakinkan dia kemarin?"
"Ya paman, aku sudah menemuinya dan mengutarakan semua isi hatiku padanya. Aku yakin Arsen tidak sekejam itu yang tega membatalkan pernikahan begitu saja."
"Baiklah, semoga saja yang akan terjadi, sesuai dengan harapan kita."
"Tapi, bagaimana jika dia bersikeras tidak mau menikahiku paman?" Tiba-tiba saja Rachel merasa pesimis dan semakin cemas.
"Berarti kita harus siap menanggung malu, karena acara sudah mau di mulai, sangat tidak mungkin lagi jika di batalkan mengingat sudah banyak tamu-tamu yang hadir." Jelas Benzie yang terlihat tenang meski dalam hati ia pun sama cemasnya seperti Rachel.
Kini Rachel pun memutuskan untuk keluar dari kamar hotelnya dan memilih untuk menunggu Arsen di ruang tunggu yang ada di Ballroom. Para tamu terlihat semakin memadati ruangan megah itu, bahkan Antony pun terlihat datang. Namun kedatangan Antony kala itu bukanlah untuk mengucapkan selamat atau apapun, melainkan, ia sengaja datang karena ingin menyaksikan sendiri bagaimana gagalnya pernikahan antara Arsen dan Rachel.
Rachel terus berjalan mondar mandir menunggu kedatangan Arsen, ia pun masih berusaha mencoba menghubungi Arsen namun rasanya percuma karena Arsen mematikan ponselnya. Tak lama Benzie kembali datang menghampirinya, Rachel pun dengan cepat mendekati Benzie untuk bertanya.
"Paman, bagaimana? Apa orang suruhan paman sudah berhasil membawanya?"
Benzie Lim menggeleng lesu.
"Maksudnya paman?" Tanya Rachel dengan kedua matanya yang mulai membulat.
"Tidak mungkin paman, barangkali dia ada di dalam tapi masih tidak ingin membuka pintunya."
"Tidak Rachel, atas perintahku, menejer apartement bahkan sudah membukakan pintu apartement Arsen dan mendapati apartement itu sudah kosong."
Mendengar penjelasan Benzie, membuat Rachel seketika menutup mulutnya yang ingin menganga. Beberapa tetesan bening pun turut melengkapi kesedihannya hari itu. Tak lama suara MC pun terdengar, ia memanggil kedua pengantin untuk memulai pernikahan karena memang sudah waktunya.
Tak lama Alex datang menyusul Benzie yang saat itu masih bersama Rachel.
"Ben, orang-orangku masih belum juga menemukan Arsen. Bagaimana ini?" Alex kali ini terlihat panik, tidak seperti biasanya melihat Alex yang sudah handal dalam segala hal merasa panik seperti sekarang.
Benzie seketika terdiam, seolah tak bisa berbuat apapun. Tak lama Yuna, Shea, dan Martin juga menghampiri mereka.
"Bagaimana? Apa sudah ada kabar dari Arsen?" Tanya Martin.
Suasana seketika hening, tak ada yang mampu menjawab pertanyaan Martin kali ini, Rachel sudah begitu pusing dengan pikirannya yang menumpuk, begitu pula dengan Benzie.
"Jadi Arsen sungguh ingin membatalkan pernikahan ini secara sepihak? Apa dia sungguh ingin mempermalukan kita semua?" Tanya Martin lagi yang mulai di lalap rasa kesal.
"Aku sungguh sangat kecewa dengan sikap putra kalian yang sama sekali tidak bijak dalam masalah ini. Ternyata dia begitu egois, yang hanya memikirkan perasaannya sendiri." Tambah Shea sembari menatap ke arah Benzie dan Yuna secara bergantian.
"Sudah mommy, daddy! Sudah cukup, tolong jangan berbicara buruk tentang Arsen." Rachel pun menghela nafas panjang.
Ia mulai menyeka air matanya, dan menampilkan senyuman lirih.
__ADS_1
"Baiklah, MC sudah memanggil dari tadi, aku akan keluar untuk menemuinya dan mengatakan semuanya." Ucap Rachel yang berusaha tetap tersenyum demi membuat kedua orang tuanya tenang dan tidak marah-marah.
"Mengatakan apa? Kamu mau mengatakan apa Rachel?" Tanya Shea lagi.
"Mau tidak mau, aku harus memberitahukan pada semuanya jika acara pernikahan ini di batalkan."
"Apa?!" Seluruh orang yang satu ruangan dengan Rachel seketika dibuat melotot.
"Maafkan aku, aku mohon maafkan ke egoisanku selama ini yang membuat kalian semua jadi dalam masalah serius. Tapi mau tidak mau, aku harus mengatakannya, maafkan aku." Ucap Rachel yang kemudian langsung beranjak pergi begitu saja.
"Rachel, jangan! Tunggu!" Teriak Shea yang ingin menahan Rachel.
Namun Rachel justru semakin melajukan langkahnya dan sama sekali tidak menggubris ucapan Shea. Dengan ragu-ragu akhirnya Rachel muncul dari belakang panggung, ia pun terus melangkah mendekati MC dengan wajahnya yang mulai sedikit sembab.
"Nah akhirnya pengantin wanitanya keluar juga, nampaknya kedua pengantin kita sangat malu-malu ya sehingga butuh tenaga ekstra untuk memanggil mereka keluar hehehe." Celetuk MC.
"Sekarang tersisa pengantin prianya, kita akan menunggu sebentar lagi."
"Tidak usah di tunggu." Ucap Rachel pelan.
"Ha?! Tidak usah? Ada apa nona?" Mc nampak kebingungan.
Antony yang menyaksikan itu sejenak merasa tak tega dengan Rachel, namun ia kembali berfikir jika itu memang harus dirasakan oleh Rachel agar dia tau rasanya sakit hati karena memilih lelaki yang salah.
"Andai kamu memilihku, tentu hal memalukan seperti ini tidak perlu kamu lalui." Gumam Antony.
Sementara di sisi lain, Laura dan Mila sahabatnya terus tersenyum puas menyaksikan bagaimana Rachel yang sudah seperti orang kehilangan arah dan tergagap-gagap di hadapan banyak orang.
"Karena dia tidak akan datang! Begitu lah kira-kira yang akan dikatakan wanita itu sebentar lagi hahaha." Celetuk Laura pada Mila.
Mila pun hanya tersenyum saat melihat sahabatnya yang merasa senang karena Arsen, mantan terkasihnya batal menikahi Rachel.
"Ya, kita tidak perlu menunggunya lagi, karena... ka, karena dia..." lidah Rachel tiba-tiba mendadak kelu hingga membuatnya terbata-bata.
"Ayo cepat katakan wanita bodoh, aku sudah tidak sabar ingin melihatmu merasakan malu hahaha." Tambah Laura lagi seolah sangat tidak sabar menantikan hal yang ia inginkan terjadi.
Suasana saat itu yang mendadak berubah menjadi hening, semua mata kini tertuju pada Rachel seolah mereka semua sedang menantikan hal apa yang ingin di sampaikan olehnya.
"Ka, karena...."
"Karena aku sudah disini!" Tiba-tiba saja suara lelaki yang begitu familiar menjawab dari balik kerumunan.
Kedua mata Rachel seketika menoleh ke sumber suara, matanya jadi begitu membulat sempurna saat mendapati Arsen Lim yang saat itu sedang berjalan ke arahnya.
"Arsen Lim." Ucapnya pelan dengan keadaan yang masih tercengang.
Kedua mata Rachel saat itu seolah tak kuasa berkedip sedetik pun, ia terus memandangi Arsen yang kala itu dibalut setelan jas berwarna hitam sedang melangkah ke arahnya.
"Kalian tidak perlu menungguku, karena aku sudah disini sekarang." Ucap Arsen lagi saat ia telah berdiri tepat di samping Rachel.
Hal itu sontak membuat Antony ikut tercengang, begitu pula dengan Laura yang dibuat syok bukan kepalang saat melihat kehadiran Arsen.
__ADS_1
...Bersambung......