Pewaris Tahta

Pewaris Tahta
Eps 141


__ADS_3

"Kalian baru saja menikah, harusnya paman yang memberikan hadiah untuk kalian berdua. Tapi paman masih bingung harus memberikan apa, mengingat kalian sudah memiliki segalanya."


"Cukup doakan saja aku dan Arsen bahagia selamanya paman, itu jauh lebih berharga untuk saat ini." Jawab Rachel dengan begitu bijak.


Tak lama Arsen pun keluar dari kamar dengan sudah berpakaian rapi, badannya yang tegap terlihat begitu menawan saat dibalut dengan setelan jas berwarna abu tua. Rachel yang melihat hal itu sontak langsung bangkit, ia terlihat bingung memandangi Arsen yang nampak rapi seolah ingin pergi bekerja.


"Ka,, kamu mau kemana? Ke,, kenapa tiba-tiba sudah rapi begini?"


"Ingin pergi bekerja." Jawab Arsen datar sembari mulai mengancing jas nya.


"Hah?! Kerja?!"


"Tenang Chel, aku hanya meminjam Arsenmu sebentar saja. Kami hanya akan melakukan meeting mendesak selama lebih kurang dua jam, setelah itu Arsen bisa kembali pulang dengan damai hehehe." Jawab Alex yang kembali terkekeh.


"Ta, tapi, kenapa kamu tidak memberitahuku jika ingin pergi? Jika tau, aku tentu akan menyiapkan pakaian untukmu." Ucap Rachel lirih sembari menghampiri Arsen.


"Tidak perlu, aku terbiasa melakukannya sendiri." Jawab Arsen dengan tenang sembari mulai mengancing bagian tangan pada jasnya.


"Tapi masalahnya, sekarang kamu sudah menikah, jadi mau tidak mau, kamu harus menyerahkan tugas itu padaku." Jawab Rachel yang tanpa permisi, mulai meraih dasi Arsen dan membantu merapikannya.


Arsen pun kembali dibuat tertegun, ia merasa sikap Rachel begitu dewasa dan begitu pengertian hingga membuatnya terus memandangi wajah Rachel yang begitu meneduhkan jiwanya.


Melihat pemandangan romantis di pagi hari yang menghangatkan jiwanya, membuat Alex kembali mendengus dan mengeluh.


"Haaaissh, tolong lanjutkan lagi nanti, apa kalian berniat membuatku iri?" Alex pun menggeleng-gelengkan kepalanya.


Membuat Rachel dan Arsen seketika tersadar.


"Emm baiklah, paman tunggu di luar saja." Alex bangkit dari duduknya dan langsung beranjak keluar.


"Biar aku saja." Arsen pun menjauhkan diri dari Rachel.


Membuat Rachel terdiam dengan perasaan bingungnya.


"Lelaki ini sangat membingungkan, padahal seingatku tadi dia mulai...." Rachel terus bergumam dalam hatinya sembari memandangi Arsen.


"Baiklah, aku pergi." Ucap Arsen datar yang kemudian langsung beranjak pergi.


"Hei tunggu!" Rachel dengan cepat menarik tangan Arsen.

__ADS_1


"Ada apa?" Tanya Arsen tapi sama sekali tidak berani menatapnya.


Rachel dengan penuh semangat kembali ke meja, lalu meraih secangkir kopi yang tadi dibuatkannya untuk Arsen.


"Ini, minumlah dulu walau sedikit."


"Astaga, tapi aku buru-buru."


"Tidak mau tau, kamu harus minum walau sedikit." Pujuk Rachel.


Arsen dengan wajah datarnya pun sejenak terdiam memandangi wajah Rachel.


"Ayo minum, mumpung masih hangat. Lagi pula tidak ada apa-apa yang bisa ku hidangkan untuk sarapan mu hari ini."


Akhirnya Arsen hanya bisa menghela nafas, lalu meraih secangkir kopi dari tangan Rachel dan mulai meminumnya dengan pelan.


"Arsen, ayo cepat lah." Teriak Alex dari luar.


"Tidak ada waktu lagi, aku harus segera pergi." Arsen pun menyerahkan kembali cangkir kopi itu pada Rachel dan bergegas pergi.


Baru saja selangkah Arsen keluar dari pintu, langkahnya kembali di hentikan oleh Rachel.


"Aku mau minta uang." Jawab Rachel sembari cengengesan.


Tanpa berkata apapun, Arsen langsung merogoh saku celananya untuk mengambil dompet. Dengan tenang Arsen mengambil salah satu kartu berwarna hitam dari dompetnya, kartu ajaib yang disebut sebagai black card, yang kesaktiannya bahkan bisa menutup sebuah toko jika pemegang kartu ingin menjadi pembeli satu-satunya yang berbelanja di toko itu.


"Pegang ini, Beli apa saja yang kamu butuhkan." Ucap Arsen saat memberikan black card pada Rachel.


Rachel pun meraihnya sembari tersenyum.


"Tapi aku tidak terbiasa jika tidak memegang uang cash sedikit pun. Berikan aku uang cash juga." Pinta Rachel lagi dengan senyuman menggoda.


Arsen dengan perlahan mulai mendekatkan diri ke Rachel, membuat Rachel mendadak jadi grogi dan salah tingkah.


"Mau apa dia? Apa dia ingin memberi ciuman sebelum berangkat kerja seperti di drama-drama." Gumam Rachel dalam hati sembari terus menahan senyumnya.


Namun nyatanya, yang terjadi sungguh di luar ekspetasinya, bukan ingin mencium, Arsen justru mendekat ke arah telinga Arsen untuk berbisik padanya.


"040492."

__ADS_1


Mendengar beberapa susunan angka yang ia sebutkan, membuat Rachel sontak tercengang karena ia sama sekali tak tau maksud dari itu.


"Itu maksudnya apa?" Tanya Rachel yang kembali cengengesan dan mulai menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal.


"Pin brangkas, ada di dalam lemari bagian bawah." Jelas Arsen yang kemudian langsung pergi begitu saja.


"Ayo uncle." Ucapnya sembari terus melangkah melewati Alex.


Meninggalkan Rachel seorang diri yang kala itu masih tercengang di depan pintu memandangi kepergiannya.


"Hah, apa dia sungguh mempercayakan brangkasnya padaku?!" Tanya Rachel seorang diri yang masih memandangi punggung Arsen yang semakin menjauh darinya.


"Huh, tidak ada ciuman perpisahan layaknya pengantin baru pada umumnya. Benar-benar menyebalkan." Rachel pun mendengus dan memilih untuk kembali masuk dan menutup rapat pintunya.


Rachel mulai berjalan menuju kamar, meletakkan begitu saja black card yang diberikan Arsen padanya di atas nakas tanpa ada rasa ragu.


"Emm baiklah, mari kita lihat seberapa banyak uang yang telah dihasilkannya." Celetuk Rachel sembari membuka pintu lemari.


"Haissh, mengingat dia yang tanpa ragu memberikan sandi brangkasnya padaku, sepertinya uang yang ada di dalam sini tidak terlalu banyak." Imbuhnya lagi sembari memandangi brangkas berwarna hitam.


Dengan perlahan Rachel mulai memutar-mutar kunci sesuai dengan sandi yang disebutkan oleh Arsen, tak butuh waktu lama, pintu brangkas pun langsung terbuka. Mata Rachel pun seketika dibuat membesar, saat memandangi uang-uang yang telah terikat oleh logo beberapa bank tersusun rapi memenuhi brangkas yang berukuran seperti kulkas kecil itu.


"Wah, ternyata di luar dugaanku." Celetuk Rachel sembari tersenyum tipis.


Rachel ingin menutup kembali pintu brangkas itu, namun matanya tak sengaja melirik ke rak bagian bawah, lebih tepatnya di bagian paling sudut di dalam brangkas itu. Terdapat sebuah kotak berbentuk persegi, berwarna hitam, berbahan bludru, tepat seperti kotak perhiasan.


"Apa ini?" Tanya Rachel penasaran dan mulai meraihnya.


Rachel membukanya perlahan, lagi-lagi matanya dibuat melebar, saat mendapati sebuah kalung berlian yang begitu berkilau dan memiliki liontin begitu mewah dengan susunan permata-permata membentuk huruf 'B'


"B??" Dahi Rachel mulai mengkerut sembari mulai mengangkat kalung itu dan terus memandanginya.


"Astaga, apa B yang di maksud adalah Bella?!" Rachel pun spontan menutup mulutnya yang terbuka lebar saking kagetnya.


Dan lagi, Rachel pun kembali merasa bersalah pada Arsen yang nampaknya sudah banyak menyiapkan hadiah untuknya, lebih tepatnya saat ia masih dikenal sebagai Bella. Dia pun semakin mengerti kenapa Arsen terlihat begitu kecewa saat mengetahui kebenaran itu, ternyata ada banyak hal yang telah ia siapkan tanpa sepengetahuan Rachel.


"Dia memilih untuk menyimpannya saat mengetahui jika aku adalah Rachel, bukan Bella. Lalu, apa ada lagi hadiah yang belum ku ketahui?" Gumam Rachel lirih.


"Maafkan aku Arsen Lim."

__ADS_1


...Bersambung......


__ADS_2