
Arsen akhirnya memasuki Lounge yang cukup besar, matanya mulai melirik kesana kemari guna mencari keberadaan Rachel. Mulai melangkah perlahan menyusuri beberapa meja dengan tatapan tajamnya.
"Dimana mereka? Apa ini hanya pikiranku saja?" Tanya Arsen dalam hati.
Namun tak sengaja telinga Arsen mendengar seseorang mengucapkan "ayo minum lagi." Ia pun seketika menoleh ke sumber suara, bisa terlihat dengan begitu jelas oleh mata Arsen, beberapa orang yang tengah berada di meja bagian sudut, sedang begitu semangat menyuruh salah seorang untuk minum.
Dahinya mulai mengernyit saat menyadari jika orang itu adalah Rachel. Saat itu Rachel terlihat seolah hampir tepar, ia duduk tersandar dengan lesu di sandaran kursi sembari terus melambaikan tangannya pada ketiga orang tersebut.
"Tidak, aku tidak mau minum lagi, kepalaku sudah sangat pusing." Jawab Rachel pelan.
Namun nampaknya Mr. Fredy terus memaksa hingga terus menjulurkan segelas minuman ke hadapan Rachel.
Melihat hal itu, Arsen pun seketika menghampiri meja mereka, lalu dengan cepat meraih gelas itu dari tangan Mr. Fredy.
"Cukup!" Ucapnya dengan tatapan tajam menatap Mr. Fredy.
"Kau siapa berani melakukan ini padaku?" Tanya Mr. Fredy sembari tertawa geli menatap Arsen.
Rachel yang saat itu sudah setengah sadar, dengan mata sayunya mulai mendongakkan kepalanya untuk melihat siapa gerangan lelaki yang kini tengah berdiri di sampingnya. Saat itu mata Rachel semakin terasa berat, namun dia berusaha membuka lebar matanya agar bisa dengan jelas melihat wajah lelaki yang cukup familiar baginya itu.
Akhirnya ia pun menyadari jika orang itu adalah Arsen, membuatnya seketika langsung berusaha untuk berdiri agar lebih bisa menatap wajah Arsen lebih jelas lagi.
"Ar, Ar, Arsen Lim?!" Ucap Rachel yang mulai mabuk sembari meraih kedua belah pipi Arsen dengan kedua tangannya.
"Kenapa kamu bodoh sekali mau di tuba oleh mereka ha?!" Bisik Arsen yang terlihat begitu kesal pada Rachel.
"Oh maafkan aku tuan muda, aku melakukan ini demi perusahaan kita, demi mendapatkan kepercayaan klien, dan agar bisa membuatmu bangga padaku." Jawab Rachel sembari menyatukan kedua tangannya di hadapan Arsen dengan nada bicara seperti khas orang mabuk.
Mendengar hal itu sontak membuat Mr. Fredy dan bawahannya sedikit tercengang.
"Arsen Lim?" Tanya Mr. Fredy yang masih nampak bingung seolah seperti sedang mengingat-ingat sesuatu.
__ADS_1
"Bukankah dia putra Benzie Lim?" Bisik asisten Mr. Fredy.
"Benzie Lim?" Tanya Mr. Fredy lagi.
"Iya tuan, Benzie Lim, pemilik Blue Light Group yang akan bekerja sama dengan kita untuk kedua kalinya ini." Jawab sang asisten.
"Oh hahaha, astaga benar hahaha bagaimana aku bisa melupakan hal itu ya hahaha." Mr. Fredy pun tertawa sembari mulai bangkit dari duduknya.
"Oh jadi kau lah Arsen Lim, sang putra sulung dari Benzie Lim?" Tanya Mr. Fredy lagi untuk lebih memastikan.
Arsen pun mengangguk.
"Wah wah wah, suatu kehormatan bagi ku, sang pewaris tahta dari Blue Light Group bisa hadir kesini secara pribadi hehehe" Celetuk Mr. Fredy yang juga sudah setengah mabuk.
"Ku rasa meeting kalian sudah selesai, jadi terima kasih untuk waktu hari ini, dan aku permisi." Ucap Arsen dengan tenang dan langsung ingin memapah Rachel untuk pergi.
Namun langkahnya seketika di cegah oleh Mr. Fredy.
Arsen pun ikut menoleh, ia memandangi kedua botol itu lalu akhirnya mulai mendengus.
"Kerja sama ini, tidak menghasilkan lebih dari 5% pun dari kekayaan yang kumiliki, jadi kehilangan satu klien pun kurasa sangat tidak masalah." Jawab Arsen dengan tenang sembari memancarkan senyuman sinisnya pada Mr. Fredy.
"Hahaha lihat lah bagaimana putra Benzie Lim ini tumbuh menjadi sangat angkuh." Mr. Fredy pun tertawa terpingkal-pingkal.
"Tapi bagus, aku suka sekali dengan sikap anak muda seperti mu hahaha." Ucap Mr. Fredy lagi sembari menepuk-nepuk pundak Arsen.
Arsen hanya diam, dengan wajah datarnya ia pun terus memandangi tangan Mr. Fredy yang terus menepuki pundaknya.
"Tapi tidak kah kau tau nak, ini bukanlah semata-mata tentang hubungan kerja sama antara kedua perusahaan. Tapi ini lebih ke bagaimana kau bisa menjaga kepercayaan dari klien mu, lebih ke bagaimana kamu menjalin hubungan kerja sama yang panjang." Jelas Mr. Fredy kemudian.
Rachel yang mendengar itu pun akhirnya mulai berbisik.
__ADS_1
"Benar apa yang pak tua itu ucapkan tuan muda, lagi pula aku sudah hampir mati karena banyak minum seperti ini, jadi jangan membuat usahaku ini seakan sia-sia."
"Jadi maksudmu, kau akan minum lagi saat kondisimu sudah sangat kacau seperti ini? Begitu?" Ketus Arsen berbisik.
Bibir Rachel seketika mengerucut, tanda tak senang dengan ucapan Arsen namun begitu tak tau harus menjawabnya dengan kata apalagi.
"Baiklah jika begitu, sesuai perjanjian kalian di awal, tidak akan ada yang pulang sebelum minuman habis. Sebagai CEO dari Blue Light, kali ini biarkan aku yang menggantikannya." Ucap Arsen kemudian.
"Hahahaha pilihan yang bijak nak." Ucap Mr. Fredy yang kembali tertawa puas.
"Ayo ayo, duduk lah dan kita lanjut minum." Ucap Mr. Fredy dengan penuh semangat.
Arsen pun akhirnya ikut duduk, ia memilih untuk menggantikan posisi Rachel dan memerintahkan Rachel untuk tetap duduk diam di sampingnya.
"Ka, kamu tidak se, seharusnya melakukan ini." Ucap Rachel dengan mata sayunya.
"Duduk saja dan diam lah!" Jawab Arsen.
Arsen meraih sebuah gelas yang telah di isi penuh oleh wine dan satu sloky bir, lalu langsung menenggaknya hingga habis.
"Wow, aku suka anak ini." Teriak Mr. Fredy yang semakin terlihat girang kala Arsen bisa menghabiskan segelas minuman itu hanya dalam waktu beberapa detik saja.
Hingga akhirnya gelas kedua, ketiga, hingga gelas ke enam pun bisa di sikat habis oleh Arsen. Arsen meletakkan dengan keras gelas yang sudah kosong ke atas meja, itu adalah minuman terakhir mereka yang sudah berhasil mereka habiskan.
"Bagaimana? Apa kami bisa pergi sekarang?" Tanya Arsen dengan nafas yang sedikit terengah-engah karena banyak minum tanpa jeda.
Saat itu Mr. Fredy dan yang lainnya sudah hampir tepar, ia yang mulai tertidur di atas meja pun hanya bisa mengacungkan jempol tangannya ke arah Arsen sebagai jawaban. Arsen yang mengerti pun langsung kembali tersenyum sinis, ia langsung bangkit dan mulai memapah Rachel yang saat itu juga sudah tepar lebih dulu.
"Kamu sudah bekerja keras hari ini, ayo ku antar pulang." Ucap Arsen dengan lembut.
Menyadari Rachel yang sudah sepenuhnya tak sadarkan diri, membuat Arsen memutuskan untuk langsung menggendongnya lalu membawanya kembali ke mobilnya.
__ADS_1
...Bersambung......