Pewaris Tahta

Pewaris Tahta
Eps 164


__ADS_3

"Ja, jam itu, jadi sejak tadi dia memakai jam pemberian Antony?! Astaga, kenapa aku bisa tidak menyadarinya?!" Arsen pun terus bertanya-tanya dalam hatinya.


"Itu berarti, dia sudah tau jika aku membuang hadiah dari Antony." Tambahnya lagi yang mulai merasa tak tenang.


Sementara Rachel, yang saat itu menyadari wajah Arsen yang nampak mulai memerah saat mendengar ucapan Antony, membuat Rachel semakin bersemangat untuk memanasinya.


"Aaaa ini dia waktunya." Celetuk Rachel dalam hati.


"Ah iya hehehe aku suka sekali, terima kasih ya sebelumnya, aku sangat tidak menyangka kamu rela merogoh saku begitu dalam hanya untuk memberiku beberapa hadiah hehe" Jawab Rachel yang semakin mengembangkan senyumannya yang sengaja ia buat-buat.


"Tidak perlu sungkan, itu hanyalah sebuah hadiah kecil untuk seseorang yang baru saja menjadi temanku."


"Aaaa kamu baik sekali," Rachel pun sengaja bersikap begitu centil di depan Antony,


Hal itu pun berhasil membuat Arsen semakin merasa kalang kabut dan merasakan panas yang seakan mulai menjalar di sekujur tubuhnya.


"Oh ya, bagaimana menurutmu, apa jam ini terlihat cocok di tanganku?"


"It was perfect." Jawab Antony yang juga terus tersenyum.


"Aaaa astaga, aku jadi semakin malu." Rachel pun terus tersenyum dan menutup sejenak wajahnya dengan kedua tangannya.


Antony yang melihat gelagat aneh Rachel, jadi dibuat mulai memicingkan matanya saat memandangi Rachel.


"Ada apa dengan sikapnya hari ini? Kenapa seakan-akan ia sengaja?" Tanya Antony dalam hati.


Kemudian Antony pun mulai melirik ke arah Arsen yang terus menatap tajam ke arahnya dengan wajahnya yang nampak mulai memerah.


"Oh I see, sepertinya dia memang sengaja ingin memanas-manasi Arsen. Eemm baiklah, walaupun disini aku tau aku sedang dimanfaatkan, tapi tetap akan kulanjutkan permainannya, karena aku pun menikmati permainan ini." Gumamnya lagi dalam hati dan kembali tersenyum tipis.


"Tuan muda, sudah saatnya kita pergi, karena klien kita Mr, Maher dari Suriname sedang menuju ke kantor utama One Light Corp untuk meeting perdana." Bisik asisten pribadi Antony.


"Eeemm baiklah, kau keluar saja duluan dan tunggu aku di mobil!"


"Baik tuan muda."


Asisten pribadi dan dua orang staff lain dari One Light Corp pun beranjak pergi meninggalkan ruang meeting.


"Aaah tuan muda sudah mau pergi? Baiklah, mari saya antar sampai di loby." Rachel pun mengajak Antony untuk keluar dari ruang meeting, meninggalkan Arsen dan Alex yang masih terdiam memandangi mereka.

__ADS_1


Sorot mata Arsen pun semakin menajam dengan rasa kesal yang seakan semakin memuncak,


"Apa?! Dia bahkan rela meninggalkan aku begitu saja disini demi lelaki itu??? Apa-apaan!!" Ketus Arsen yang akhirnya ikut beranjak menyusul langkah Antony dan Rachel yang telah berjalan lebih dulu.


"Jadi, saat ini kamu sedang memanfaatkan aku untuk memanasi suamimu?" Bisik Antony saat mereka tengah berjalan beriringan menyusuri sebuah koridor.


"Hah?!" Rachel pun mendelik karena begitu terkejut saat Antony mengetahui hal itu.


"Tidak perlu berteriak, apa kamu mau Arsen mendengar hal ini?" Ucapnya lagi dengan suara pelan.


"Ti, tidak, mak, maksudku bukan begitu..." Rachel nampak jadi begitu gelagapan.


"Tidak masalah, aku akan membantumu, aku akan tetap bersikap seolah-olah aku tidak tau." Ujar Antony yang langsung menghentikan langkahnya, ia berdiri menghadap Rachel, dan langsung memegang sebelah pundaknya.


Saat itu Arsen baru saja keluar dari ruang meeting dan langsung mendapati pemandangan yang tidak mengenakkan. Tangannya pun kembali mengepal dan langsung melangkah dengan begitu cepat untuk menghampiri mereka,


"Haruskah aku melihat adegan seperti ini di kantor?!" Ketus Arsen sembari menatap tajam ke arah Antony.


Antony pun kembali menarik tangannya dengan santai, lalu berdiri tegak menatap Arsen dengan raut wajahnya yang datar.


"Beruntung aku masih mencoba untuk menghormatimu sebagai rekan kerja, jadi, tolong jaga batasanmu!" Tegas Arsen lagi.


Antony pun tersenyum, sembari memasukkan kedua tangan ke dalam saku celanan, ia pun menjawab,


"Bukankah begitu?" Kali ini Antony kembali menatap ke arah Rachel.


"Aaah iya benar, kami sudah resmi berteman. Rachel pun kembali tersenyum.


Membuat Arsen seketika mendengus, kepalanya semakin terasa ingin meledak, di tambah sekujur tubuhnya yang seakan terasa seperti sebuah teko dengan air panas yang begitu mendidih di dalamnya. Saat itu, Arsen begitu berusaha keras untuk tidak memukul Antony, karena ia sangat menyadari jika saat itu mereka sedang berada di kantor.


"Masuk ke ruanganmu!" Tegas Arsen menatap tajam ke arah Rachel.


"Tapi aku harus mengantar klien kita sampai loby, setelah itu baru aku akan masuk."


"Ayo tuan muda." Rachel pun melanjutkan langkahnya.


Membuat Antony kembali tersenyum ke arah Arsen dan akhirnya ikut melangkah pergi bersama Rachel.


Membuat Arsen semakin menggeram, dan langsung berjalan begitu cepat mengejar langkah Rachel dan menarik tangannya begitu saja.

__ADS_1


"Uncle!" Pekik Arsen.


Alex pun bergegas keluar dari ruang meeting.


"Tolong antar tamu kita ke loby!" Tegas Arsen sembari terus menarik tangan Rachel dan membawanya menjauh dari Antony.


"Baik." Alex pun mengangguk dan langsung menghampiri Antony.


Antony yang memandangi Rachel pun hanya bisa terdiam dan mendengus, lalu ia pun memilih untuk melanjutkan langkahnya menuju lift yang bisa membawanya turun ke loby.


Di tengah koridor, Rachel seketika melepas kasar tangannya yang sejak tadi di tarik oleh Arsen dengan begitu kuat.


"Lepaskan aku!" Tegasnya,


Rachel pun seketika mendekap tangannya, lalu mulai mengusap-usap pergelangan tangannya yang nampak sedikit memerah,


"Tidak seharusnya anda bersikap begitu, sangat tidak profesional." Ketus Rachel yang langsung beranjak kembali ke ruang meeting.


Rachel kembali ke ruang meeting karena masih ada beberapa barangnya yang tertinggal disana, salah satunya laptop. Sementara Arsen, saat itu hanya bisa mendengus saat memandangi kepergian Rachel, ia pun seketika mengusap kasar wajahnya sembari kembali beranjak menuju ruangannya.


Sesampainya di dalam ruangan meeting yang sudah nampak kosong, Rachel pun seketika tertawa geli, lalu ia kembali mengintip ke arah Arsen yang kala itu terlihat begitu kesal dan akhirnya melangkah pergi menuju ruangannya.


"Hahaha rasakan kau Arsen Lim, bagaimana rasanya terbakar api cemburu? Apakah panas? Hahaha, sudah begitu masih saja sok cuek padaku." Gumam Rachel seorang diri.


Rachel pun kemudian beralih menuju meja dan bergegas membereskan semua barangnya.


"Aaagh, tapi ini benar-benar sakit," keluh Rachel yang kembali memegangi pergelangan tangannya yang nampak memerah.


"Sepertinya dia benar-benar sedang dikuasai amarah karena melihatku begitu dekat dengan Antony." Gumamnya lagi.


Arsen tiba di ruangannya dan langsung membanting keras pintunya, lalu menduduki kasar kursi kerjanya dengan membawa perasaan kesal yang masih terasa menumpuk di dadanya.


"Apa-apaan?! Kenapa jadi dia yang berbalik marah padaku?! Bukankah seharusnya aku lah orang yang paling pantas untuk marah di situasi ini??! Keluh Arsen yang kembali mengusap kasar wajahnya.


Tak berapa lama, Rachel pun terlihat kembali ke ruangannya dengan sengaja membawa wajahnya yang masam. Rachel meletakkan seluruh barang-barangnya di atas meja sembari menatap Arsen dengan tatapan tajam, menyadari Arsen yang kala itu juga memandangnya, membuat Rachel seketika langsung memalingkan wajahnya.


Arsen pun bergegas meraih ponselnya, lalu mengirimkan pesan singkat pada Rachel. Kelang beberapa detik, ponsel Rachel pun berbunyi menandakan adanya sebuah pesan yang baru masuk. Rachel dengan tak bersemangat meraih ponselnya yang ia letakkan di atas meja kerja. Lalu matanya mulai memicing saat mendapati pesan baru itu adalah dari Arsen suaminya.


"Kemari sekarang!!!" Isi pesan Arsen.

__ADS_1


Rachel pun kembali menoleh ke arah Arsen dengan menampilkan wajah masam, lalu Arsen dengan wajah dinginnya, pun kembali memanggilnya hanya dengan menggunakan gerakan jari-jarinya yang seolah memanggilnya untuk datang. Melihat hal itu, membuat Rachel mulai membuang nafas kasar dan kembali bangkit dari duduknya, dengan lesu ia pun mulai melangkah menuju ruangan atasan sekaligus suaminya itu.


...Bersambung......


__ADS_2