
Rachel pun hanya diam tercengang saat di peluk secara spontan oleh Alex, berbeda halnya dengan Benzie Lim yang langsung melotot memandangi adegan yang dirasanya begitu tak senonoh di hadapannya.
"Heh, apa-apaan kau?!" Bentak Benzie sembari sebelah tangannya menghentakkan meja.
"Lepas dan menjauhlah darinya!" Tegas Benzie lagi.
Rachel pun langsung terkejut dan melepaskan dirinya dari pelukan Alex.
"Kau ini benar-benar predator ya!" Gumam Benzie lagi.
"Astaga Ben, aku hanya memeluk keponakan kita yang baru kembali setelah berpuluh tahun lamanya. Apa itu salah ha?" Jawab Alex dengan santai.
"Dasar kau saja yang berlebihan." Ketus Benzie sembari memutarkan bola matanya.
Rachel hanya terdiam sembari terus cengengesan memandangi kedua pamannya yang masih saja terlihat seperti anak kecil.
"Oh astaga Rachel, tapi bagaimana bisa kau berubah menjadi selangsing ini sekarang ha? Bahkan pipi bakpao mu sama sekali tidak terlihat dan berganti menjadi tirus." Alex kembali memandangi Rachel dari ujung kaki hingga rambut.
"Apa kamu melakukan diet ekstrim?" Tanya Alex lagi yang masih nampak begitu syok melihat pertumbuhan Rachel yang berubah menjadi gadis dewasa yang cantik.
"Hehehe sama sekali tidak paman, di Paris aku lebih sering bepergian dengan berjalan kaki, bahkan orang-orang disana juga begitu, mungkin itulah sebabnya aku jadi kurus seperti sekarang hehee." Jawab Rachel dengan tenang.
"Ya tuhan, benar-benar mencengangkan." Alex pun akhirnya hanya bisa menggelengkan kepalanya.
Sementara Rachel dan Benzie hanya bisa terdiam dengan ekspresi mereka masing-masing.
"Oh ya, saking terkejutnya aku sampai menjatuhkan surat kontraknya hehehe." Alex pun dengan cepat langsung memunguti beberapa lembar kertas yang terjatuh ke lantai.
"Ini Ben." Lalu ia pun meletakkannya di atas meja.
"Rachel, kamu boleh duduk kembali, dan bisa segera menanda tangani surat kontrak kerja ini. Namun jika masih ragu kamu bisa membacanya lebih dulu." Jelas Benzie.
Rachel pun tersenyum dan kembali duduk, lalu tanpa basa basi ia langsung saja meraih sebuah pena yang di serahkan oleh Benzie.
"Tidak perlu paman, aku yakin tidak akan merasa di rugikan dalam hal apapun saat menanda tanganinya hehehe." Rachel pun segera menanda tangani surat kontraknya.
Akhirnya Rachel secara resmi telah bergabung ke dalam Blue Light Group sebagai sekretaris pribadi dari Arsen Lim.
"Selamat bergabung ke Blue Light Group Rachel Chou." Benzie pun menjulurkan tangannya.
Lalu Rachel dengan wajah berbinar pun akhirnya membalas jabatan tangan Benzie.
__ADS_1
"Terima kasih banyak paman, terima kasih telah mempercayaiku dan memberiku kesempatan untuk bekerja disini." Ungkap Rachel dengan lembut.
Begitu pun Alex yang ikut mengucapkan selamat pada Rachel. Tak lama, ponsel Alex pun kembali berdering menandakan ada sebuah panggilan masuk. Dengan cepat Alex meraih ponsel dari saku jas nya.
"Ini dari Arsen." Ucap Alex sembari melirik ke arah Benzie dan Rachel secara bergantian.
"Ya Arsen." Sahut Alex begitu mengangkat panggilannya.
"Uncle dimana?"
"Oh uncle sedang berada di ruangan papamu, dan sekarang uncle akan kembali ke ruanganmu untuk memperkenalkan sekretarismu yang baru." Jelas Alex sembari tersenyum lebar.
"Benarkah? Apakah sudah ada?"
"Tentu saja."
"Emm baiklah, aku tunggu, aku juga ingin menilai seperti apa sekretaris pilihan paman itu."
"Baiklah, tidak masalah."
"Lalu, jika dalam beberapa hari aku merasa tidak cocok dengan cara kerjanya? Apa aku bisa menggantinya?"
"Emmm." Alex seperti tengah berfikir sejenak.
"Ya sudah, aku tunggu di ruanganku paman." Arsen pun kemudian langsung mengakhiri panggilannya.
"Emm baiklah Rachel sudah saatnya aku mengantarku ke ruangan bos mu yang sesungguhnya." Ucap Alex sembari memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku jas nya.
"Oh benarkah? Apa harus sekarang?" Tanya Rachel yang mendadak jadi merasa gugup.
"Astaga ya tentu saja sekarang, masa lusa." Alex pun kembali tertawa.
"Hehehe maaf paman, aku, emm aku hanya sedikit gugup." Rachel pun kembali cengengesan.
"Tenangkan dirimu Rachel, jangan buat rasa gugup itu jadi menggagalkan misimu." Sahut Benzie dengan tenang.
Akhirnya Rachel pun menghela nafas panjang untuk menenangkan dirinya dan mengatur kembali detakan jantungnya yang mendadak jadi tak karuan.
"Dan kau Lex, jangan pernah ungkap siapa Rachel sebenarnya di hadapan Arsen. Mengerti?"
"Lalu bagaimana jika Arsen bertanya tentang data dirinya dan seluruh CV nya?"
__ADS_1
"Beritahukan saja namanya, dan jika ia bertanya tentang CV, katakan saja jika aku yang memegangnya." Jelas Benzie.
"Dan kamu Rachel, kamu bisa memakai name tag ini. Aku sudah membuatkannya khusus untuk misi mu." Benzie pun membuka laci meja lalu menyerahkan sebuah gantungan nama atau tanda pengenal itu pada Rachel.
Di situ tertera foto dan nama Rachel yang sudah berubah menjadi Bella.
"Bagaimana? Apa kami setuju jika sementara namamu berubah menjadi Bella?" Tanya Benzie lagi.
Rachel pun tersenyum sembari mulai mengalungkan name tag itu ke lehernya.
"Apapun nama yang telah paman pilihkan untukku, aku pasti akan menyukainya paman." Jawab Rachel yang semakin melebarkan senyumannya.
"Bagaimana Rachel, eh maksudku Bella, apa kau sudah siap?" Tanya Alex lagi.
"Baiklah paman, aku siap." Ungkap Rachel yang kali ini terlihat penuh percaya diri.
"Nah begitu baru bagus, ayo ikut aku." Alex pun akhirnya keluar dari ruangan Benzie.
"Aku permisi dulu paman, dan jangan lupa nikmati pancake mu selagi masih hangat." Rachel pun akhirnya ikut pamit pada Benzie.
Benzie pun hanya tersenyum tipis sembari menganggukkan kepala singkat.
Sepanjang jalan menuju ruangan Arsen, Rachel berkali-kali harus menghela nafas demi menenangkan detak jantungnya yang seolah kian berpacu.
"Oh come on Rachel, you can do it, you can do it." Gumam Rachel dalam hati.
"Ini ruangannya, kamu tunggu disini sebentar ya." Alex pun masuk ke dalam ruangan yang di depan pintunya sudah tertera papan nama yang bertuliskan Arsen Lim, CEO.
"Arsen, sekretarismu sudah tiba."
"Dimana dia? Suruh dia masuk paman!" Ucap Arsen yang langsung meletakkan pena yang sejak tadi ia pegang.
Arsen pun mulai duduk dengan bertopang dagu oleh kedua tangannya menantikan kedatangan sekretarisnya yang baru. Dengan langkah yang sedikit ragu-ragu, akhirnya Rachel pun mulai memasuki ruangan itu.
"Selamat pagi tuan muda." Sapa Rachel dengan lembut namun dengan wajah yang masih menunduk.
Namun meski begitu, ternyata kali ini Arsen Lim sudah begitu hapal dengan wajah Rachel hingga membuat dahi Arsen sontak mengernyit.
"Kau" Ucap Arsen.
Rachel pun seketika mulai menegakkan kepalanya, dengan sedikit cengengesan dan rasa gugup pun seakan kembali menyerangnya saat berhadapan kembali dengan Arsen namun kali ini di situasi yang berbeda, situasi yang jauh lebih formal dari sebelumnya.
__ADS_1
"Iy, iya tuan muda ini aku hehehe." Jawab Rachel dengan pelan.
...Bersambung......