
"Kau sudah datang?"
"Aku baru saja tiba pa."
"Nanti jam makan siang, para staff kantor utama mengadakan pemotongan tumpeng dan acara makan-makan bersama sebagai penyambutan untuk bergabungnya kau di kantor ini Arsen Lim."
"Begitu kah? sangat baik sekali." Arsen pun tersenyum.
"Ya nanti kita akan menuju aula bersama."
Arsen pun mengangguk.
"Ada satu hal yang harus papa tanyakan padamu Arsen."
"Apa pa?"
"Semalam, apa yang terjadi padamu dan wanita asing yang di permalukan oleh Laura di parkiran mobil? Apa kau mengenalnya?"
"Oh haha astaga, jadi ternyata dia itu adalah wanita yang sempat beberapa kali kutemui ketika aku berlibur ke Paris pa, pada saat itu aku sempat menolongnya di Paris."
"Benarkah? Apa kamu tau siapa namanya?"
"Benar juga, hingga sekarang aku bahkan tidak tau namanya."
"Tidak salah lagi, dia pasti Rachel anak dari Martin dan Shea." Kini akhirnya Benzie pun semakin yakin.
"Lalu, apa lagi yang terjadi, kenapa bisa ada berita online dengan foto kalian tengah...."
"Berciuman? Begitu?"
"Jadi kalian sungguh melakukannya?" Benzie pun nampaknya mulai sedikit membulatkan matanya.
"Oh tentu tidak pa, itu terjadi karena ketidak sengajaan saja, kurasa dia begitu panik saat melihat ada banyak wartawan, lalu dia ingin berlari pergi, dan seketika ia sepertinya ingin tergelincir dan aku pun spontan menarik tangannya agar dia tidak jatuh. Dan terjadilah hal seperti yang di foto itu." Jelas Arsen dengan tenang.
"Oh begitu rupanya."
"Tapi aku juga bingung kenapa dia secara tiba-tiba ada di kota ini dan bahkan ia bisa menghadiri pesta kita semalam. Apa papa juga mengenalnya? Karena setauku, hanya orang-orang yang papa kenal saja yang papa undang ke pesta itu."
"Oh tidak, sepertinya belum saatnya aku harus mengatakan hal ini pada Arsen." Benzie pun mulai bergumam dalam hati.
"Pa, kenapa papa malah diam saja?" Tanya Arsen yang sontak membuyarkan lamunan Benzie.
"Ah tidak, papa juga sama sekali tidak mengenalnya dan tak tau kenapa dia bisa berada disana. Namun sudah lah, acara pesta pun telah usai dengan dia tidak membuat onar sama sekali di pesta, bahkan dia yang jadi korban untuk di permalukan oleh Laura pacarmu."
__ADS_1
"Ya sudah pa, aku mohon jangan di bahas lagi."
"Emm baiklah, sekarang ayo kita ke ruangan kerjamu yang baru, dan papa akan meminta Alex untuk mengenalkanmu kepada para petinggi dan beberapa staff di kantor utama ini."
"Baik pa."
Arsen dan Benzie pun akhirnya keluar dari ruangan untuk menuju ke ruangan Alex.
"Lex, kemari lah."
"Oh Arsen, kau sudah datang rupanya." Alex pun tersenyum ramah seperti biasa dan menghampiri mereka berdua yang berdiri di depan pintu.
"Lex, aku minta agar kau membawa Arsen untuk berkeliling untuk mengenalkan dia ke berbagai ruangan penting yang ada di lantai ini, dan kenalkan dia kepada para petinggi di kantor utama lainnya."
"Siap bos."
"Baiklah, aku harus pergi keluar sebentar." Ucap Benzie dengan tenang.
"Pergi, papa mau kemana pa?" Arsen pun mulai mengerutkan dahinya.
"Iya Ben, kau mau kemana? Apa ada pertemuan dengan klien? Tumben sekali aku tidak tau hal itu." Tambah Alex yang juga terlihat bingung.
"Tidak, ini bukan urusan pekerjaan."
"Sudah lah, kamu fokus lah pada kantor utama ini saja, kantor ini sekarang ada di bawah kendalimu. Mengerti?" Benzie pun menepuk pundak putranya.
"Baiklah pa."
Benzie pun akhirnya pergi, ia mengendarai sendiri mobilnya untuk menuju ke suatu tempat, yaitu tak lain ialah rumah orang tua Shea atau tempat dimana Rachel tinggal saat ini.
*Ting tong*
Bel berbunyi beberapa kali, menandakan ada tamu yang datang, salah satu pelayan pun bersigap untuk membukakan pintu untuk melihat siapa sekiranya yang bertamu pagi itu.
"Selamat pagi." Sapa Benzie sembari tersenyum tipis.
"Tuan Benzie Lim, oh ya tuhan selamat pagi tuan, ayo silahkan masuk tuan." Pelayan yang kaget pun akhirnya langsung mempersilahkan Benzie untuk masuk.
"Terima kasih." Benzie pun kembali tersenyum dan mulai melangkah dengan tenang memasuki rumah yang sudah begitu lama tak ia kunjungi.
Benzie pun duduk di ruang tamu yang begitu luas dan tak kalah megah itu, lalu kemudian nyonya Irene selaku ibu Shea tak lama terlihat menuruni tangga dengan wajahnya yang sumringah.
"Selamat pagi bibi." Benzie pun kembali berdiri, dengan senyumannya yang khas untuk menyambut kedatangan ibu dari sahabatnya Shea.
__ADS_1
"Ya tuhan Benzie Lim, Kedatangan tamu sepertimu di pagi hari seperti ini seperti mendapat anugrah bagiku."
"Hehehe bibi terlalu berlebihan."
Akhirnya mereka pun kembali duduk, nyonya Irene pun langsung menyuruh pelayan untuk membuatkan minuman untuk Benzie.
"Apa yang membawamu kesini nak? Apa kau ingin bertemu dengan paman Liong? Karena jika ya, mohon maaf sekali karena dia sudah berangkat sejak pagi tadi."
"Oh tentu tidak bibi, bukan hal itu yang membawaku kemari."
"Lalu apa nak? Sudah begitu lama kau tidak pernah kemari, hingga sekarang aku masih seperti mimpi."
"Hehehe aku kemari ingin bertemu dengan cucu mu bi, Rachel Chou."
"Wah hahaha nampaknya kalian sudah kembali akrab ya setelah pesta semalam. Baiklah akan ku panggilkan."
Nyonya Irene pun segera memanggil salah satu pelayannya.
"Tolong panggilkan Rachel, katakan jika uncle Benzie datang untuk menemuinya."
"Baik nyonya."
"Oh tunggu, sebaiknya jangan katakan jika aku yang datang. Katakan saja jika ada yang ingin bertemu, begitu lebih baik." Ucap Benzie.
"Oh baiklah tuan."
Sang pelayan pun kemudian berlalu.
"Kenapa begitu Benzie Lim?" Tanya nyonya Irene yang tampaknya bingung.
"Nanti juga bibi akan tau." Jawab Benzie dengan sebuah senyuman simpulnya.
Saat itu, Rachel lagi-lagi sedang di landa kebingungan. Dia bingung harus memulai darimana rencananya untuk melamar kerja di Blue Light Group. Karena tidak mungkin ia melamar dengan identitas aslinya, itu sama saja akan membongkar siapa dia sebenarnya dan menghancurkan rencananya.
"Aku harus membuat identitas palsu terlebih dulu untuk melamar kerja sebagai sekretaris Arsen, kurasa opa bisa membantuku dalam masalah ini. Ta, tapi, bukankah itu membutuhkan waktu beberapa hari, aku cemas sudah ada orang yang lebih dulu melamar disana." Rachel pun terus berjalan mondar-mandir di kamarnya.
Seketika, ia kembali terbayang bagaimana semalam bibirnya dan Arsen menyatu meski dalam keadaan yang tidak di sengaja.
"Lelaki itu, bagaimana bisa dia memiliki bibir selembut itu? Bahkan aku masih ingat jelas bagaimana tekstur bibirnya yang benar-benar lembut." Gumam Rachel dengan bibirnya yang senyum-senyum sendiri sembari kembali memegangi bibirnya sendiri.
"Ya tuhan maaf kan aku, oh astaga kenapa pemikiran ku jadi mesum seperti ini. Oh ayo lah Rachel ada hal yang lebih penting yang harus kau pikirkan, kenapa jadi memikirkan bibirnya." Rachel pun kembali menggerutu seorang diri sembari terus memukuli jidatnya.
...Bersambung......
__ADS_1