Pewaris Tahta

Pewaris Tahta
Eps 41


__ADS_3

Benzie pun seketika mendengus sembari tersenyum, lalu mulai menggeleng-gelengkan kepalanya melihat sikap Rachel yang begitu natural tanpa di buat-buat.


"Sepertinya Rachel memang gadis yang tepat untuk Arsen, namun aku tidak ingin menjodohkannya seperti nenek dulu saat menjodohkan aku. Biarlah Rachel memperjuangkan cintanya terlebih dulu." Gumam Benzie dalam hati.


Namun seketika Rachel yang terlihat begitu girang seketika langsung terdiam dan kembali cengengesan.


"Ta, tapi paman, apa, emm apa itu artinya paman memberi lampu hijau untuk ku? Apa paman mengizinkan aku mendekati putramu?"


"Tentu saja, kenapa tidak? Bukankah jika memang cinta itu harus di perjuangkan? Seperti ibumu dulu yang begitu berjuang demi mendapatkan cintanya ayahmu." Benzie pun kembali tersenyum tenang.


"Hehehe terima kasih banyak paman, aku jadi sedikit malu karena telah mengakui perasaanku di hadapan kalian hehehe."


"Justru itu bagus, paman jadi tau harus berbuat apa ke depannya."


"Jadi bagaimana paman bisa membantuku untuk melamar kerja disana?"


"Astaga Rachel, apa kau ini mulai pikun dengan siapa kau bicara? Kenapa masih menanyakan hal konyol itu pada sang pemilik perusahaannya?" Nyonya Irene pun menepuk pelan paha sang cucu.


"Aku mungkin tidak bisa memberimu ide bagaimana cara bisa melamar disana, tapi aku bisa memastikan jika besok kamu sudah resmi bekerja sebagai sekretaris Arsen." Ucap Benzie dengan tenang.


"Apa?!!" Rachel yang dengan tenang sedang menyeruput secangkir teh pun akhirnya menyemburkan kembali teh hangat yang baru saja akan di minumnya.


"Rachel, apa-apaan ini? Astaga ya tuhanku." Keluh nyonya Irene yang sontak merasa tak enak hati pada Benzie.


"Ma, maafkan aku paman, aku sungguh sangat terkejut."


"Kamu ini sungguh lucu Rachel, sikapmu benar-benar tanpa di buat-buat dan aku justru suka itu." Jelas Benzie lagi.


"Ta, tapi paman, besok?? Ba, bagaimana bisa secepat itu? Hehehe aku bahkan belum mempersiapkan berkas apapun."


"Berkas mu bisa menyusul, dan tidak perlu pusing untuk membuat identitas palsu, karena identitas mu akan aman tanpa Arsen tau."


"Sungguh paman?"


"Emmm" Benzie pun mengangguk penuh percaya diri.

__ADS_1


Ini sungguh membuat Rachel girang bukan kepalang, bagaikan mendapat door prize di siang bolong.


Beberapa saat berbincang, Benzie pun akhirnya pamit undur diri.


"Ingat Rachel, Besok pagi jam 08.00 paman tunggu di kantor utama. Berpakaian lah yang formal dan rapi seperti sekretaris pada umumnya ok?"


"Baiklah paman, siap laksanakan." Rachel dengan semangatnya yang membara pun langsung memberi hormat layaknya memberi hormat pada seorang komandan.


Benzie pun akhirnya pergi, meninggalkan Rachel dan nyonya Irene.


"Yes yes yes, yuhuuu." Lagi-lagi Rachel melompat-lompat kegirangan sembari memeluk hangat tubuh sang nenek.


"Astaga Rachel, oma sungguh tidak menyangka kamu se nekat ini."


"Ini namanya perjuangan cinta oma, oma seperti tidak pernah muda saja."


"Tentu saja oma pernah muda, tapi masa muda oma tentu saja tidak sepertimu, justru opa mu lah yang begitu memuja oma lebih dulu."


"Sekarang jaman sudah maju dan jauh berbeda oma, jaman sekarang wanita maupun pria sama saja dalam hal perasaan." Rachel pun tersenyum dan kemudian ia langsung berlalu begitu saja dengan membawa wajahnya yang begitu berbinar.


Benzie Lim turun bersama Yuna dengan sudah berpakaian rapi, mereka pun duduk di kursi mereka masing-masing dan bersiap untuk menyantap sarapan seperti biasanya.


Di meja telah lebih dulu terlihat Alex dan Tere, saat itu Alex nampaknya begitu fokus pada ponselnya hingga membuatnya begitu tak menghiraukan Benzie yang baru duduk bergabung.


"Sayang, letakkan dulu ponselmu, ayo kita sarapan dulu, kakak dan kakak ipar sudah turun." Bisik Tere.


Alex pun seketika melirik ke arah Benzie.


"Oh hahaha astaga maaf Ben, aku tidak melihatmu datang." Alex pun segera meletakkan ponselnya di meja makan.


"Hal penting apa yang membuatmu jadi tak menyadari kedatanganku di meja makan ini Lex?"


"Oh tidak, aku sedang memeriksa berbagai email yang masuk, ada banyak CV yang di kirimkan untuk melemar menjadi sekretaris Arsen hingga membuatku begitu bingung memilihnya," Jelas Alex dengan tenang.


"Jadi ku pikir nanti di kantor, aku akan suruh Arsen sendiri lah yang menginterview mereka semua, yang paling cocok menurut Arsen, maka dia lah yang terpilih." Tambah Alex lagi sembari mulai melahap makanannya.

__ADS_1


"Oh astaga untuk masalah itu aku lupa menyampaikannya padamu."


"Menyampaikan apa Ben?"


"Untuk sekretaris baru bagi Arsen, aku sudah punya kandidat ku sendiri dan dia akan mulai bekerja hari ini. Jadi tutup saja lamaran itu dan tidak perlu memanggil mereka untuk interview." Jelas Benzie dengan tenang.


"Apa?! Apa aku tidak salah dengar? Ta, tapi siapa? Kamu dapat kandidat itu dari mana? Apa kau mulai mengenal banyak wanita tanpa sepengetahuan kami ha?" Alex mulai menggoyang-goyangkan alisnya dan mulai menggoda Benzie.


Mendengar hal itu mata Yuna pun langsung melirik sedikit tajam ke arah Benzie, hingga membuat Benzie yang baru saja mengunyah makanannya jadi terdiam memandangi wajah Yuna dan Alex secara bergantian.


"Hey, hey, hey, apa yang sedang kalian pikirkan ha?"


"Siapa wanita itu? Kamu kenal dari mana? Apa benar kata Alex kamu mulai memiliki banyak kenalan wanita tanpa sepengetahuan Alex? Apa aku mulai tidak menarik lagi dimatamu?" Tanya Yuna sedikit berbisik yang mulai memasang wajah masam.


"Astaga Lex! Lihat lah akibat ucapan mu istriku jadi menuduhku yang tidak-tidak!" Ketus Benzie sembari melemparkan sebuah kacang goreng ke arah Alex.


"Aku kan hanya bertanya. Lagi pula memang sangat aneh tiba-tiba kau memiliki kandidat sendiri tanpa sepengetahuan ku." Jelas Alex yang merasa tak bersalah.


Benzie pun hanya mendengus kesal menatap Alex. Lalu ia pun kembali menatap Yuna istrinya,


"Ceritanya panjang sayang, maaf semalam aku belum sempat menjelaskannya padamu. Tapi nanti sepulang kerja akan ku jelaskan semuanya ok. Yang perlu kamu tau, seorang Benzie Lim tidak akan mungkin dan tidak akan pernah mengkhianati istri yang paling ia cintai."


Yuna pun akhirnya diam dan tersenyum, lalu ia pun akhirnya mengangguk patuh.


"Dan kau Lex, tolong jangan bicarakan hal ini dulu pada Arsen. Nanti kita bahas di kantor saja." Tegas Benzie


"Emmm baik baik." Alex pun dengan tenang kembali menyantap makanannya.


Tak lama Lylia pun terlihat mulai menuruni anak tangga, dan di belakangnya menyusul pula Arsen yang hari itu pun sudah berpakaian begitu rapi layaknya seorang CEO pada umumnya.


"Wah wah wah, lihat lah CEO kita yang baru, dari penampilanmu sepertinya kamu sudah begitu siap untuk menggantikan posisi ayahmu sebagai CEO tertampan Arsen." Celetuk Alex.


Mendengar celetukan Alex membuat Benzie hanya mendengus dan terus melanjutkan sarapannya. Sementara Arsen pun hanya tersenyum tenang dan mulai duduk di kursinya untuk ikut menyantap sarapan pagi itu.


...Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2