
Mendengar hal itu seketika membuat Rachel menjadi tersipu malu hingga wajahnya pun mulai memerah.
"Ya sudah, bibi keluar dulu dan kamu cepat lah bersiap ok."
"Iya bibi." Jawab Rachel sembari mengangguk dengan sebuah senyuman manisnya.
Rachel pun dengan cepat langsung mengenakan pakaian yang diberikan Yuna untuknya. Dan benar saja, setelan baju yang formal itu nampak begitu pas di tubuhnya, bahkan baju itu tak nampak usang sama sekali meski sudah berpuluh tahun lamanya.
"Ini benar-benar pas." Celetuk Rachel seorang diri saat dirinya berdiri di depan cermin.
Selesai dengan urusan pakaian, kini Rachel mulai beralih menata rambutnya, dengan hanya berbekal bedak dan lipstick yang selalu ada di dalam tasnya, ia pun mulai berdandan ala kadarnya saja.
Namun Rachel seketika terdiam saat ia mulai memoles bibirnya, moment saat Arsen menciumnya pun sontak kembali terbayang hingga tanpa sadar, ia mulai menggigit bibirnya bawahnya saking merasa senangnya saat kembali mengingat moment yang begitu indah baginya. Dimana saat itu, Arsen begitu lembut melumatt bibirnya meski hal itu hanya sebentar dan saat Arsen mabuk, namun itu tetaplah menjadi hal paling romantis bagi Rachel.
"Astaga, bahkan lumattannya masih terasa begitu jelas di bibirku, andai, andai itu bisa sedikit lebih lama." Celetuk Rachel dalam hati sembari mulai memejamkan matanya dan terus terbayang moment ciumannya.
Namun seketika suara dari pintu kamar yang terbuka membuat Rachel sontak tersentak.
"Bi, bibi." Ucap Rachel gelagapan.
"Rachel, kamu kenapa? Kenapa nampak begitu terkejut dan gugup seperti itu?" Tanya Yuna sembari kembali menghampiri Rachel.
"Tidak bi, aku, aku hanya terkejut saja."
"Ya ampun, apa bibi mengejutkan mu? Hehe maafkan bibi ya." Yuna pun tertawa kecil sembari mengusap-usap pundak Rachel.
"Tidak bi, tidak apa." Jawab Rachel yang masih terlihat kikuk.
"Ya sudah, apa kamu sudah siap?"
Rachel pun mengangguk cepat dan tersenyum.
__ADS_1
"Ya sudah, ayo kita ke meja makan." Yuna pun langsung menggandeng lengan Rachel begitu saja.
"Karena Arsen mu sudah berada disana." Bisik Yuna lagi sembari menggoyang-goyangkan alisnya.
Hal itu pun sontak membuat Rachel kembali tersipu malu dan hanya bisa tersenyum.
Saat itu di meja makan sudah terduduk Benzie dan Arsen, kebetulan Alex dan Tere sedang tidak berada di rumah keluarga Lim, karena sejak semalam mereka pergi ke rumah orang tua Alex untuk bertemu dengan putri semata wayang mereka yang memang lebih sering menginap di rumah sang nenek.
Saat itu Arsen terlihat dengan tenang mulai menyeduh teh hangat miliknya, namun saat melihat Yuna datang dengan membawa Rachel, membuat Arsen begitu terkejut hingga seketika menyemburkan kembali teh yang baru ia minum.
Membuat Benzie, Rachel, dan Yuna pun ikut terkejut saat melihat Arsen menyemburkan teh itu di hadapan mereka.
"Bella? Sedang apa dia disini?" Tanya Arsen dalam hati.
"Astaga Arsen Lim, apa yang kamu lakukan nak?" Tanya Yuna sembari mengernyitkan dahinya.
"Ma, maaf ma, aku, emm aku," Arsen pun terlihat jadi begitu gelagapan sembari mulai meraih tisu yang tersedia di atas meja dan langsung mengusap meja disekitarnya yang basah akibat terkena semburannya.
"Kenapa? Apa kamu begitu syok dengan kehadiran Bella disini? Atau justru begitu terpukau melihat penampilannya?" Tanya Benzie dengan tenang.
"Emm tapi benar juga, penampilannya kali ini sedikit berbeda. Terlihat lebih menawan, bahkan jika begitu ia terlihat semakin mirip dengan mama." Gumam Arsen lagi di dalam hati sembari terus mencuri-curi pandang pada Bella.
Mendengar jawaban Arsen sontak membuat Benzie pun mulai tersenyum tipis sembari menggelengkan kepalanya. Ia merasa kali ini sikap anaknya sama persis dengan sikapnya dahulu saat masih bersikap pura-pura cuek pada Yuna.
"Oh astaga, ayo Bella duduk lah." Ucap Benzie kemudian.
Rachel pun tersenyum tipis dan mengangguk singkat, dengan sedikit ragu-ragu Rachel pun mulai duduk dengan posisi berhadapan dengan Arsen. Sementara Arsen, saat itu ia pun memilih untuk terus diam meski dalam hatinya ia terus berfikir bagaimana bisa Rachel berada di rumahnya bahkan bisa ikut sarapan bersama keluarganya.
Tak berapa lama kemudian, Lilya pun terlihat turun dari kamarnya dan langsung duduk di kursinya seperti biasa.
"Oh waw jadi ini kak Bella sang sekretaris yang sering kak Arsen ceritakan itu?"
__ADS_1
Mendengar pertanyaan Lilya yang polos sontak membuat Arsen yang awalnya mencoba bersikap tenang kini kembali melotot menatap Lilya sembari merapatkan giginya.
"Heh anak kecil, aku tidak pernah membicarakannya! Masih kecil sudah suka fitnah!" Gerutu Arsen sembari terus melototi Lilya.
Berbeda halnya dengan Rachel, mendengar pertanyaan polos Lilya sontak membuat wajahnya kembali memerah karena merasa tersanjung dan malu.
"Ternyata kak Bella sangat cantik ya, tidak hanya cantik sepertinya kak Bella juga memiliki etika yang baik." Celetu Lilya lagi.
"Diam lah anak kecil." Bisik Arsen yang semakin menggeram.
"Emm sudah sudah, waktu terus berjalan, ayo kita sarapan sekarang." Ucap Yuna yang memilih untuk menjadi penengah antara kedua anaknya.
Sarapan pun berlalu dengan damai, Rachel lebih banyak diam karena sejujurnya ia pun sangat merasa gugup karena ini pertama kalinya ia sarapan bersama keluarga Arsen. Begitu pula dengan Arsen yang juga terus diam, namun samar-samar ia mulai mengingat kejadian semalam. Ia mulai mengingat bagaimana ia yang tengah mabuk di bar di hampiri oleh seorang wanita yang mencoba menggodanya, lalu kemudian Rachel pun terlihat datang dan memarahi sang wanita penggoda.
"Astaga aku ingat, apakah dia yang membawaku pulang kesini? Apa itu artinya dia menginap disini semalam?" Gumam Arsen lagi dalam hatinya.
Hingga pada akhirnya sarapan pun selesai, Benzie pun meminta Arsen agar berangkat ke kantor bersama dengan Bella. Arsen pun tak bisa menolak hingga mau tak mau ia pun menurut.
Saat itu Arsen sudah masuk lebih dulu ke dalam mobilnya, mulai menghidupkan mesinnya dan menunggu Rachel yang masih berpamitan dengan Yuna.
"Bibi terima kasih untuk tumpangan kamarnya, dan terima kasih juga untuk sarapan yang sangat lezat." Ucap Rachel sembari tersenyum manis.
"Tidak usah berterima kasih, lagi pula dulu kamu juga sering kesini dan sudah menganggap ini rumah kedua mu kan hehehe." Jawab Yuna dengan wajah berbinar.
"Hehehe tapi itu kan dulu bibi, saat aku dan Arsen masih kecil dan tidak mengerti apapun."
"Bahkan jika sekarang kamu masih menganggap ini rumah kedua bagimu pun bibi akan sangat senang."
Mendengar hal itu membuat Rachel semakin terharu dan melebarkan senyumannya.
"Ya sudah, cepat pergi lah, jangan membuat Arsenku terlalu lama menunggu." Ucap Yuna yang semakin sumringah.
__ADS_1
Rachel pun akhirnya mengangguk dan langsung beranjak menuju mobil Arsen yang saat itu sudah terparkir di depan loby rumahnya.
...Bersambung......