
"Antony? Siapa Antony?" Tanya Shea.
"Mom, nanti aku telpon lagi! bye." Jawab Rachel yang langsung bergegas mengakhiri panggilannya.
"Antony, se, sedang apa kamu disini? Kenapa kamu menguping pembicaraanku dengan ibuku?" Tanya Rachel yang mulai ketar ketir.
Namun seolah tak berminat menjawab pertanyaan Rachel, Antony justru berbalik menyerang Rachel dengan pertanyaannya yang begitu mematikan.
"Jadi kamu sebenarnya adalah Rachel Chou? Sahabat kecil Arsen Lim yang sedang menyamar menjadi Bella?"
"Sssssttt" Dengan begitu panik Rachel langsung menyuruh Antony untuk segera diam.
"Pelankan suaramu." Bisik Rachel sembari melirik ke dalam resto.
"Kenapa aku harus memelankan suaraku? Apa kamu takut Arsen Lim mendengarnya? Apa kamu takut dia kecewa?" Tanya Antony yang semakin membuat Rachel merasa terpojok.
Namun belum sempat mendapat jawaban dari Rachel, ponsel Antony tiba-tiba berdering.
"Hallo." Jawabnya sembari terus menatap wajah Rachel.
"Emm ya, aku sudah sampai," Ucapnya yang kemudian langsung mengakhiri panggilannya begitu saja.
"Aku masih ada urusan penting, tapi aku masih perlu penjelasan tentang semua ini darimu Bella, oh sorry, maksudku Rachel." Ucap Antony yang kemudian tersenyum tipis.
"Antony, aku mohon jangan bicara apapun pada Arsen tentang hal ini." Rachel dengan tatapan lirih mulai menyatukan kedua tangannya di hadapan Antony.
"Nanti malam temui aku! Ku harap kamu datang jika ingin mengajakku berkompromi." Antony pun kembali memiringkan senyumannya lalu beranjak memasuki resto begitu saja.
"Ta, tapi...." Ucap Rachel yang mencoba mencegah kepergian Antony,
Namun nampaknya saat itu Antony lebih memilih untuk terus melangkah pergi, ia sama sekali tak menggubris Rachel dan meninggalkan Rachel yang masih berdiri di depan Loby.
"Rachel oh Rachel, kenapa kau ceroboh sekali?" Ketus Rachel sembari terus menepuki jidatnya seolah sedang menyumpahi dirinya sendiri.
Tak ingin membuat Arsen curiga, akhirnya Rachel pun memutuskan untuk kembali masuk ke dalam resto. Ia duduk perlahan membawa perasaannya yang semakin berkecamuk, kini ia merasa seolah beban di pundaknya semakin bertambah saat rahasia besarnya di ketahui oleh Antony.
"Kenapa lama sekali?" Tanya Arsen.
"Ma, maaf, saking asiknya berbincang hingga membuatku sedikit lupa waktu. Maafkan aku ya."
"Oh begitu, lalu apa saja yang kalian bicarakan? Kenapa tidak memberiku kesempatan untuk berbicara pada calon mertuaku?"
"Ah tidak usah terburu-buru, masih banyak kesempatan." Jawab Rachel sembari tersenyum kikuk.
Tak berapa lama, mata Rachel tak sengaja melirik ke arah meja dimana Antony dan rekannya duduk. Saat itu, ternyata Antony pun terlihat sedang memandangi Rachel dengan senyuman tipisnya, membuat perasaan Rachel semakin tak tenang.
"Oh ya tuhan, senyuman itu, perasaanku mendadak jadi tak enak saat melihatnya." Gumam Rachel dalam hati yang langsung memalingkan pandangannya.
Tak lama ponsel Rachel pun berbunyi menandakan ada pesan baru masuk. Rachel pun membuka pesan itu. Sebuah pesan dari Antony, membuat mata Rachel seketika melirik ke arahnya lagi.
"Antony, dia mengirim pesan apa?" Tanya Rachel dalam hati sembari mulai membuka pesan singkat itu.
"Nanti malam jam 20:00, aku tunggu di Mooncafe, kita perlu bicara! Itu pun jika kamu tidak ingin aku mengatakan semuanya pada Arsen sekarang juga!" Isi pesan Antony.
__ADS_1
Mata Rachel pun seketika membulat, di susul pula dengan jantungnya yang juga semakin di buat berdebar saat membaca pesan itu.
"Tolong jangan lakukan itu! Baiklah, kita bertemu di Mooncafe." Balas Rachel.
"Kamu kenapa? Kenapa setelah membaca pesan di ponselmu, raut wajahmu jadi berubah?" Tanya Arsen sembari mengerutkan dahinya.
"Oh tidak, ini hanya, emm ini hanya pesan tagihan kartu kredit." Jawab Rachel berbohong.
"Astaga, tolong jangan membuatku malu, bukankah sebagai sekretarisku kamu memegang sebagian keuanganku? Gunakan lah untuk membayar tagihan itu."
"Ah tidak, tidak perlu!"
"Tidak apa, lagi pula sebentar lagi kamu akan menjadi nona muda di keluarga Lim, uangku akan menjadi uangmu juga." Ucap Arsen yang terlihat begitu tulus saat mengatakannya.
"Iya nanti aku bayar ya."
Merasa perut mereka sudah kenyang dan sudah cukup lama berbincang, akhirnya mereka pun memutuskan untuk kembali ke kantor.
Tik tok tik tok...
Waktu terus berjalan, tak terasa kini waktu sudah menunjukkan pukul 17:00 sore, menandakan waktu bekerja di kantor utama telah usai untuk hari ini. Rachel dengan lesu mulai merapikan barang-barang yang ada di meja kerjanya. Entah kenapa, semenjak Benzie dan Yuna datang untuk mengingatkan tentang penyamarannya, sejak saat itu pula hidup Rachel seolah jadi tak tenang.
"Sudah siap?" Arsen tiba-tiba saja masuk ke ruangan Rachel.
"Oh, iya sudah." Jawab Rachel pelan.
"Ayo ku antar pulang."
"Kamu kenapa? Kenapa terlihat begitu lesu?" Arsen pun mendekati Rachel, ia meraih kedua pipi Rachel lalu menatapnya dengan begitu lekat.
"Tidak ada, hanya sedikit lelah saja."
"Apa kamu sakit?" Arsen nampak mulai cemas, ia langsung memegang dahi dan leher Rachel untuk memeriksa suhu badannya.
"Ah tidak, tidak! Sudah ku bilang aku hanya lelah."
"Ya sudah, ayo ku antar pulang sekarang agar kamu bisa langsung beristirahat ya."
Rachel pun mengangguk patuh, membuat Arsen tersenyum tipis dan langsung mengecup dahi Rachel dengan begitu lembut. Harusnya moment seperti itu, menjadi moment yang membahagiakan dan romantis bagi Rachel, namun karena pikirannya yang kalut, membuatnya tak begitu bahagia, bahkan ia jadi semakin cemas, ia takut kehilangan Arsen.
Beberapa puluh menit berlalu, kini mobil Arsen telah berhenti sempurna di depan apartement milik Rachel.
"Apa perlu ku antar ke atas?" Tanya Arsen menawarkan diri.
"Ah tidak usah, kamu pulang saja biar bisa langsung istirahat juga."
"Emm baiklah kalau begitu." Arsen pun mengangguk singkat.
Rachel pun tersenyum tipis dan ingin segera turun dari mobil,
"Tunggu!"
Namun tiba-tiba saja tangannya di tarik oleh Arsen, membuat Rachel seketika kembali menoleh ke arahnya.
__ADS_1
"Kenapa?"
"Nanti malam aku jemput ya," Ucap Arsen sembari melebarkan senyumannya.
"Je, jemput?!" Mata Rachel pun jadi sedikit terbelalak.
"Iya, aku ingin mengajakku makan malam di rumah ku, karena aku ingin secara resmi mengenalkanmu pada seluruh keluargaku. Bukan sebagai Bella sekretarisku, melainkan sebagai calon istriku." Jelas Arsen yang mulai mengusap-usap lembut tangan Rachel.
Lagi dan lagi, jantung Rachel pun kembali dibuat berdegub tak beraturan.
"Ta, tapi, ak, aku..."
"Tapi apa?" Tanya Arsen lembut.
"Astaga bagaimana ini? Malam ini aku harus menemui Antony, karena jika tidak, dia pasti akan melakukan hal nekat."
"Sayang, kamu terlihat aneh, kamu kenapa?" Arsen kembali meraih pipi Rachel hingga membuatnya kembali tersentak.
"Ka, kamu, kamu memanggil ku apa?"
"Sayang. Memangnya kenapa? Apa ada masalah dengan panggilan itu?"
"Tidak, sama sekali tidak, hanya saja rasanya masih sedikit canggung saat mendengarnya. Ini, pertama kalinya kamu memanggilku sayang." Jelas Rachel dengan wajah sendunya.
"Mulai hari ini, besok, dan seterusnya, aku akan terus memanggilmu sayang."
Membuat Rachel tersenyum dan memandangi wajah Arsen dengan begitu lekat.
"Entah kenapa, semakin kamu bersikap manis seperti ini, membuatku jadi semakin merasa takut, Arsen Lim." Gumam Rachel dalam hati.
"Jadi bagaimana, kamu mau kan? Aku jemput jam setengah delapan ya."
Mendengar hal itu, membuat Rachel seolah kembali tersadar.
"Ta, tapi aku tidak bisa."
"Tidak bisa?! Tapi kenapa?"
"Sepertinya dugaanmu tadi benar, aku merasa sangat tidak enak badan dan butuh istirahat semalaman. Bolehkah acara makan malamnya di tunda sampai besok malam?" Rachel pun menatap Arsen dengan tatapan begitu lirih.
"Ya tuhan, jadi kamu sungguh sakit? Apa perlu aku bawa ke dokter dulu?" Arsen mendadak dibuat jadi begitu cemas.
"Tidak, aku hanya butuh istirahat penuh malam ini. Boleh kan?"
Akhirnya Arsen mengangguk, ia pun mengusap ujung kepala Rachel dengan penuh kelembutan dan ketulusan.
"Ya sudah, kamu istirahat ya. Tapi ingat, segera hubungi aku jika merasa sakitmu semakin parah, atau saat kamu butuh sesuatu, minta lah padaku. Mengerti?"
"Iya, saya mengerti tuan muda." Rachel pun kembali tersenyum tipis.
Rachel akhirnya turun dari mobil dengan perasaan sedikit lega, lalu langsung melangkah memasuki apartement.
...Bersambung......
__ADS_1