Pewaris Tahta

Pewaris Tahta
Eps 143


__ADS_3

Baru beberapa saat bersandar lesu di sofa, Rachel pun seketika kembali duduk tertegak sembari melirik ke arah jam dinding yang berada tepat di hadapannya.


"Sudah lebih dari dua jam, kenapa masih belum pulang juga?" Tanya Rachel seorang diri.


Tapi anehnya, dalam hitungan detik, tiba-tiba bel kembali berbunyi. Membuat senyuman Rachel seketika berkembang dan langsung bangkit dari duduknya.


"Aaa, itu pasti dia." Celetuknya sembari mulai merapikan rambut dan pakaiannya.


Rachel pun bergegas menuju pintu, lalu langsung membuka pintunya seolah sudah begitu tak sabar ingin menyambut suaminya. Tapi sayang, wajah Rachel yang sebelumnya begitu berbinar, kini harus berubah menjadi begitu tercengang saat menyadari yang datang bukanlah yang ia harapkan.


"Selamat siang nona." Sapa seorang lelaki berbadan tegap yang memakai pakaian serba hitam.


"Siapa? Perasaan aku tidak ada menyuruh siapa pun lagi." Ucap Rachel sembari mulai menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal.


"Memang tidak nona, karena saya utusan dari nyonya besar Yuna Lim."


"Hah, mama mertua?"


"Benar nona, beliau menugaskan saya untuk mengantarkan ini."


Ucapnya sembari menunjukkan sebuah koper berbahan fiber yang berukuran sedang.


"Koper?" Tanya Rachel yang masih tampak bingung.


"Nyonya besar mengatakan, anda pasti akan sangat membutuhkan apa yang ada di dalamnya." Jelas lelaki itu.


"Ouh begitu kah? Emm ya sudah serahkan padaku." Ucap Rachel sembari tersenyum tipis.


"Baiklah nona, tugas saya sudah selesai, saya permisi."


Rachel pun hanya mengangguk pelan.


"Hei tunggu," panggil Rachel lagi.


Lelaki itu pun menghentikan langkahnya dan mulai menoleh ke arah rachel.


"Kemari lah."


"Ya nona, ada lagi yang bisa saya bantu?"


"Ah tidak," Rachel yang tersenyum tipis pun seketika menggelengkan kepalanya.


"Ini untukmu, ambil lah." Lagi, lagi, dan lagi, Rachel memberikan setiap orang yang berhadapan dengannya uang tips.


"Astaga, sungguh tidak perlu nona, nyonya besar telah membayarku lebih dari cukup."

__ADS_1


"Ah tidak apa, anggap saja ini bonus, karena kamu sudah bekerja keras hari ini." Rachel pun kembali melebarkan senyumannya dan langsung saja meletakkan beberapa lembar uang itu ke tangan lelaki itu.


"Terima kasih banyak nona, terima kasih."


"Iya, sekarang kamu boleh pergi."


Rachel pun kembali masuk dengan menggeret koper yang di kirimkan Yuna untuknya. Ia meletakkan koper itu di atas meja dan mulai membukanya.


"Memangnya apa yang aku butuhkan?" Celetuk Rachel seorang diri.


Koper pun terbuka lebar, membuat mata Rachel mulai membulat memandangi isi dalamnya. Terdapat begitu banyak lingeri dengan berbagai macam bentuk dan warna. Rachel mulai mengangkat salah satu lingeri yang berwarna hitam yang bahannya cukup transparan, membuatnya lagi-lagi jadi begitu tercengang.


"Hah?! Apa aku sungguh membutuhkannya?!" Tanya Rachel seorang diri yang masih dibuat begitu tercengang seolah tak habis pikir.


Tak lama ponsel Rachel berdering, lalu ia pun segera mengambil ponselnya yang berada di dalam tas.


"Tidak ada nama?"


Tanpa pikir panjang, Rachel pun segera mengangkat telepon dari nomer asing itu.


"Hallo."


"Rachel..." Panggil seorang wanita yang suaranya begitu familiar.


"Bibi?" Ucap Rachel menerka.


"Hehe iya, ini mama, apa kamu tidak ada menyimpan nomor mama?"


"Belum ma, tapi tenang, setelah ini aku akan langsung menyimpannya."


"Ah baiklah." Jawab Yuna yang terdengar begitu lembut.


"Oh ya, bagaimana, apa kamu sudah menerima kado kecil dari mama?"


"Apa kado kecil yang mama maksud adalah lingeri-lingeri ini?"


"Hehehe iya, bagus lah kalo kamu sudah menerimanya."


"Ta, tapi ma, apa ini tidak terkesan terlalu vulgar? Sepertinya aku tidak akan sanggup memakainya, apalagi jika di lihat oleh Arsen, oh astaga, aku tidak bisa membayangkannya."


"Hehehe, mendengar ucapanmu ini, seketika membuat mama kembali teringat bagaimana mama dulu. Mama pun di awal juga seperti itu, sangat tidak percaya diri memakai pakaian seperti itu."


"Lalu, kenapa mama malah menyarankan nya padaku ma?"


"Sekarang mama tanya, bagaimana sikap Arsen sekarang, apa dia masih ketus padamu?"

__ADS_1


"Emmm begitu lah ma, masih saja bersikap dingin dan sok cuek." Jawab Rachel mulai melesu.


"Nah, justru saat ini mama sedang memberikan solusi untuk masalah kalian."


"Solusi?" Rachel nampaknya masih belum paham.


"Iya solusi, lingeri-lingeri itu bisa jadi senjata paling ampuh untuk meluluhkan dan menjinakkan para lelaki yang sedang marah pada istrinya." Jelas Yuna sembari terkekeh kecil.


Rachel pun menjadi terdiam sejenak saat mendengarnya, lalu ia kembali meraih salah satu lingeri itu dan memandanginya lagi.


"Apa benar-benar seampuh itu ma?" Tanya Rachel yang masih terus memandangi lingeri yang di pegangnnya.


"Coba saja jika ingin membuktikan ke ampuhannya." Jawab Yuna yang terdengar seolah begitu yakin.


Rachel kembali terdiam, sembari dalam hati terus bergumam,


"Apa aku harus mencobanya? Ta, tapi, aku sungguh sangat tidak percaya diri."


"Rachel?" Panggil Yuna saat menyadari jika saat itu Rachel hanya diam tanpa respon.


"Eh iy, iyaa ma."


"Kenapa kamu diam saja sayang? Sudahlah, percaya saja sama mama. Lagi pula Arsen telah menjadi suamimu sekarang, tidak ada yang salah jika berpakaian minim di hadapan suami, justru itu sangat di anjurkan agar hubungan kalian selalu harmonis." Jelas Yuna yang seolah sedang memberi wejangan pada menantunya itu.


"Ba, baiklah ma, akan aku coba." Jawab Rachel meski terdengar sedikit ragu-ragu.


"Nah begitu baru benar. Dengar nak, jika nanti malam gagal, maka coba lagi ke esokan malamnya, jika gagal, coba lagi, pokoknya kamu harus terus mencoba sampai pertahanan Arsen runtuh. Kamu dengar mama?"


"Iy,, iya ma. Terima kasih untuk saran dan masukannya ma, terlebih lagi, terima kasih untuk lingeri-lingeri ini." Rachel pun akhirnya tersenyum.


"Iya sayang, itu masih hadiah kecil, sisanya akan menyusul. Ok?"


"Iyaa, terserah mama saja."


"Baiklah, mama tutup dulu ya."


"Iya ma."


Rachel kembali melihat satu persatu lingeri itu, lalu mulai menjatuhkan pilihan pada lingeri yang berwarna merah muda, lingeri yang menurutnya memiliki model paling sopan di antara semua lingeri yang transparan. Tak lama ia pun bergegas menyimpan semua lingeri di dalam lemari, lemari yang ada di kamar mereka memang cukup besar, terdapat banyak ruang kosong meski Arsen telah mengisinya dengan banyak pakaian miliknya.


Rachel kembali melirik ke arah jam, sudah 4 jam lebih, tapi Arsen masih juga belum pulang. Membuat Rachel akhirnya memutuskan untuk mulai menyusun barang-barang yang baru ia beli, mengisi kulkas dengan segala macam makanan dan bahan masakan, mengisi rak rak dapur dengan berbagai bumbu, serta mulai menatap bagian ruang tamu dan keluar.


Hanya dalam waktu sejam, kini hampir seluruh ruangan telah di sulap menjadi hunian yang sangat nyaman dan begitu tertata rapi sesuai dengan selera Rachel.


Rachel dengan nafas terengah, mulai tersenyum sembari mengecakkan pinggangnya saat memandang kagum hasil decorasinya.

__ADS_1


"Huh, begini baru benar." Celetuknya sembari tersenyum puas.


...Bersambung......


__ADS_2