Pewaris Tahta

Pewaris Tahta
Eps 159


__ADS_3

Malam hari...


Makan malam kali ini di lewati dengan keheningan, bagaimana tidak, antara Rachel dan Arsen terus saja saling diam setelah perdebatan mereka di balkon tadi sore.


Seperti biasa, saat malam hari, Arsen lebih banyak menghabiskan waktu di dalam ruang kerjanya. Begitu juga dengan Rachel, malam itu dia nampak kembali gugup serta ragu saat ingin mengenakan kembali lingerie yang diberikan Yuna untuknya.


"Pakai, tidak, pakai, tidak, pakai." Ucapnya seorang diri saat menghitung kancing baju yang kala itu sedang di pakainya.


Rachel terdiam sejenak dan kembali memandangi lingerie yang sudah ia pegang. Tiba-tiba saja, ucapan Yuna seakan kembali terngiang-ngiang di telinganya.


"Jika percobaan pertama gagal, maka coba lagi, jika kedua gagal, maka coba lagi sampai berhasil."


Mengingat kembali ucapan sang ibu mertua, seolah membuat Rachel merasa mendapatkan keberaniannya lagi. Ia pun menghela nafas panjang dan akhirnya mantap untuk kembali memakai lingeri itu.


Lingeri yang Rachel kenakan malam ini terlihat sedikit lebih terbuka dibanding sebelumnya, membuatnya sedikit merasa malu, tapi tetap berusaha meyakinkan diri agar terus percaya diri.


Rachel keluar perlahan dari kamar, melangkah pelan menuju ruang kerja Arsen. Tidak seperti sebelumnya saat Rachel memilih datang dengan membawa secangkir teh, hingga suatu kejadian tak terduga pun terjadi hingga cukup membuatnya trauma. Kini Rachel memilih datang dengan tangan kosong, mengetuk pelan pintu ruangan Arsen dan mengintip sejenak dari balik pintu.


"Apa aku boleh masuk?" Tanyanya pelan sembari memunculkan bagian kepalanya di sela-sela pintu yang terbuka.


Hal itu membuat Arsen seketika melirik ke arahnya.


"Ada apa?" Tanya Arsen yang masih saja datar dan memilih kembali fokus pada lembaran file yang di pegangnya.


Tanpa menjawab, Rachel pun mulai masuk, melangkah perlahan mendekati Arsen. Hal itu membuat Arsen melirik sekali lagi ke arahnya, begitu melihat penampilan Rachel yang terlihat lebih berani, lagi-lagi membuat mata Arsen kembali melebar.


Arsen seketika jadi terdiam mematung, wajahnya mulai terlihat tegang hingga memerah, dan membuatnya jadi berkali-kali harus menelan ludahnya sendiri.


"Kamu sedang sibuk apa? Apa perlu bantuanku?" Tanya Rachel dengan lembut saat dirinya semakin dekat dengan Arsen.


"Berhenti disitu!" Tegas Arsen yang langsung memalingkan wajahnya.


"Kenapa?" Dahi Rachel pun kembali dibuat mengkerut.


"Tidak ada!"

__ADS_1


"Kenapa wajahmu selalu terlihat tegang setiap kali aku masuk kesini?"


"Tidak, aku hanya takut, kamu akan menumpahkan teh panas lagi ke tanganku." Ucap Arsen berkilah.


"Tapi aku aku sedang tidak membawa teh panas sekarang." Kata Rachel yang kembali melangkah dan membuat posisinya semakin dekat dengan Arsen.


"Astaga, kenapa dia harus selalu menyiksaku begini." Keluh Arsen dalam hati sembari mulai mengusap wajahnya.


"Kamu kelihatannya sangat lelah, biarkan aku memijatmu ya." Dengan cepat Rachel melangkah dan berdiri di belakang kursi Arsen,


Tanpa permisi, ia pun langsung saja menyentuh kedua pundak suaminya dan mulai memijatnya dengan pelan dan lembut. Hal itu berhasil membuat bulu kuduk Arsen kian berdiri, bulu-bulu halus di sekujur tubuhnya pun mengalami hal yang sama, terlihat berdiri dengan gagahnya.


"Aaagh, aku benar-benar sangat kesulitan menahannya." Keluh Arsen lagi.


"Bagaimana sekarang, apa kamu merasa lebih baik?" Tanya Rachel polos dan terus memijat lembut pundak suaminya.


Tak menjawab, Arsen justru seketika bergegas bangkit dari duduknya. Membuat Rachel begitu terkejut dan memandanginya dengan penuh rasa bingung dan tanda tanya.


"Ak,, aku..." Ucap Arsen yang nampak tergagap-gagap.


"Aku tiba-tiba mengantuk, aku masuk kamar duluan." Ucapnya yang kemudian langsung beranjak pergi begitu saja meninggalkan Rachel seorang diri dalam keadaan masih terlihat begitu tercengang karena keanehan Arsen.


"Aneh sekali, kenapa sekarang dia setiap melihatku, seperti melihat hantu saja." Gumam Rachel seorang diri sembari menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal,


Rachel pun memandangi meja kerja Arsen yang terlihat begitu berantakan, dengan sekali menghela nafas kasar, ia pun akhirnya berinisiatif untuk membersihkannya.


Dengan sigap Rachel merapikan seluruh lembaran kertas yang berserakan di atas meja, lalu menyusunkan kembali di dalam sebuah map. Beberapa menit berlalu, kini Rachel akhirnya tersenyum sembari mengecakkan pinggangnya.


"Begini baru benar." Celetuknya seorang diri saat memandang puas meja kerja suaminya yang sudah tersusun dan tertata rapi berdasarkan seleranya.


Baru saja ingin berlalu pergi, tak sengaja mata Rachel melirik ke arah tempat sampah yang letaknya tak terlalu jauh dari meja kerja Arsen.


"Apa itu?" Celetuknya saat melihat ada sebuah pita dan kotak yang sedikit menyumbul keluar.


Dengan perlahan Rachel pun mulai melangkah mendekati tempat sampah itu, lalu mulai meraih kotak dan pita yang sejak tadi membuatnya begitu penasaran.

__ADS_1


"Kotak apa ini?" Tanyanya lagi saat meraih kotak itu.


"Auh, berat sekali, apa masih ada isinya?" Tanpa ragu, Rachel pun mulai membuka penutup bagian atas kotak itu,


Seketika mata Rachel melebar sempurna, saat mendapati sebuah tas dari brand terkenal dunia, ada di dalamnya.


"Oh my god, di dalam kotak ini ada tas semahal ini dan dia membuangnya??" Tanya Rachel yang masih nampak begitu terperangah dan seolah tak percaya.


Rachel mengangkat tas yang berwarna putih gading itu, lalu memandanginya.


"Haissh, dari baunya saja aku sudah bisa memastikan jika ini memang sangat lah mahal, apalagi ini handmade dan dari kulit buaya asli." Celetuk Rachel yang begitu takjub.


Memandangi tas seharga hampir satu milyar, membuat naluri kewanitaan Rachel keluar. Mata Rachel tak sengaja melirik secarik kartu yang juga berada di tempat sampah, ia pun kembali memungutnya dan membacanya.


Lagi dan lagi, mata Rachel seketika membulat sempurna saat menyadari jika itu adalah hadiah pemberian Antony.


"Ja,, jadi inikah hadiah yang dimaksud Antony?"


Rachel kembali melirik ke arah dua kotak hitam yang berukuran kecil yang juga ada di dalam sebuah kotak besar itu.


"Lalu ini apa lagi?"


Entah sudah keberapa kalinya mata Rachel dibuat mendelik, saat mendapati jam yang lingkarnya dikelilingi butiran berlian dan juga kalung berlian dari brand terkenal di kota itu.


"Astaga, Antony memberika banyak hadiah, tapi,,, tapi kenapa semua hadiah ini ada di tempat sampah di ruang kerja Arsen?"


Rachel kembali melirik ke arah pintu ruangannya,


"Lelaki itu, apa dia yang memang sengaja membuang hadiah dari Antony? Emm apa ini artinya..."


"Hah, apa artinya dia sungguh masih merasa cemburu pada Antony??"


Rachel pun tiba-tiba saja jadi dibuat tersenyum, lalu ia memutuskan untuk memungut hadiah itu kembali di menyimpannya di suatu tempat.


"Benar-benar aneh, lelaki itu selalu bersikap cuek padaku, tapi begitu tidak ingin jika ada lelaki lain yang sempat menjadi saingannya dalam percintaan memberikan hadiah padaku." Celetuk Rachel lagi yang terus tersenyum dan akhirnya membawa keluar hadiah itu dari ruangan kerja Arsen.

__ADS_1


...Bersambung......


__ADS_2