Pewaris Tahta

Pewaris Tahta
Eps 149


__ADS_3

Rachel berjalan lesu memasuki kamarnya, lalu mulai terduduk lemas di tepi ranjang sembari kembali memikirkan ucapan Arsen yang seolah terlihat risih dengan kehadirannya.


"Rachel oh rachel, kenapa kau jadi begitu ceroboh seperti ini?" Gumam Rachel lirih dalam hati.


"Haaaish, tangan ini, aku kesal sekali pada tangan ini! Gara-gara dia yang terus gemetaran, membuatku jadi harus melukai Arsen." Ketus Rachel lagi sembari memandangi kedua tangannya.


Rachel yang sudah sangat tak bersemangat, akhirnya mulai membaringkan diri di atas ranjang, mulai menarik selimut hingga menutupi setengah badannya. Ia kembali melamun, kedua matanya memandang nanar ke langit-langit kamar yang berukuran cukup luas itu.


"Huh, kalau sudah begini, rasa-rasanya tidak mungkin malam ini akan berakhir indah." Celetuk Rachel lirih.


Menghabiskan waktu setengah jam hanya untuk melamun dan memikirkan hal yang baru saja terjadi, membuat mata Rachel akhirnya perlahan terasa sayu, terasa berat, hingga akhirnya perasaan lelah hari itu pun mulai mempercepatnya memasuki alam mimpi. Rachel akhirnya tertidur, dengan membawa kesedihan dan rasa bersalahnya.


*Tik tok tik tok*


Jam terus berputar, malam semakin larut, Arsen yang sejak tadi berada di ruang kerjanya, sesekali mulai menguap karena mulai merasa ngantuk. Tapi entah kenapa, meski begitu, ia rasanya masih sangat enggan untuk kembali ke kamar. Hal itu bukan karena ia tak ingin melihat Rachel, melainkan karena rasa takutnya, ia begitu takut untuk tergoda lagi pada Rachel seperti tadi, ia takut lepas kontrol, ia belum mau menyerah pada amarahnya untuk saat itu.


Arsen pun mulai beralih ke ruang keluarga, lalu mulai duduk di sebuah sofa panjang yang berada tepat di depan tv. Sejenak ia kembali memandang sendu ke arah pintu kamarnya yang kala itu tertutup rapat.


"Maaf, sikapku tadi pasti menyakitimu dan membuatmu salah paham, tapi aku sungguh tidak bisa terlalu cepat melupakan semua yang sudah terjadi. Aku butuh waktu," Gumam Arsen dalam hati.


Arsen kembali menghela nafas, lalu mulai berbaring di sofa dan memutuskan untuk tidur disana malam itu. Arsen mulai memejamkan matanya, berharap bisa tidur dengan nyenyak di sofa yang hanya memiliki lebar sekitar 80cm itu.


Dan benar, beberapa saat Arsen yang sudah mengantuk memang bisa dengan cepat tertidur disana. Tapi di tengah malam, di saat udara malam semakin terasa sejuk, di tambah lagi unit apartementnya yang berada di lantai 27 membuat udara disana menjadi terasa lebih sejuk. Arsen yang tidur tanpa selimut mulai dibuat tak nyenyak tidur karena kedinginan, beberapa kali ia tersentak dan beberapa kali pula ia mencoba untuk tertidur kembali, tapi tetap saja tidak berhasil.


Akhirnya, ia pun bangkit dan terduduk sejenak, memandangi lagi ke arah pintu kamarnya, dan akhirnya mulai beranjak memasuki kamarnya tanpa berfikir lebih lama lagi.


Arsen melangkah pelan menuju ranjangnya, kala itu, Rachel terlihat sudah tertidur sangat pulas dengan keadaan selimutnya yang mulai berantakan. Arsen segera menghampirinya, lalu memasangkan lagi selimut untuknya hingga menutupi bagian pundaknya.

__ADS_1


Arsen dengan gerakan sangat pelan mulai naik dan berbaring di sebelah Rachel. Memandangi wajah teduh Rachel ketika ia tertidur nampaknya sudah menjadi kebiasaan baru bagi Arsen. Ia pun mulai mengusap lembut pipi istrinya, dari raut wajah Rachel kala itu, terlihat jelas jika ia sangat kelelahan.


"Terima kasih untuk kerja kerasmu hari ini dalam menghidangkan makanan yang enak untukku, jauh di lubuk hatiku, aku sangat menikmatinya." Kata Arsen dengan begitu lembut.


"Dan,,, masalah penampilanmu malam ini, sangat berhasil membuatku gelisah serta merasakan panas dingin saat melihatnya, bahkan jadi begitu tidak tahan jika aku harus melihatmu lama-lama dengan pakaian seperti itu. Maaf karena telah mengusirmu." Tambahnya lagi yang secara pelan dan lembut mulai mengecup dahi Rachel.


Arsen kembali tersenyum, lalu memejamkan matanya lagi dan memilih untuk melajutkan tidurnya dengan damai.


Pagi hari yang cerah...


Suara kicauan burung perlahan membangunkan Rachel dari tidurnya, begitu membuka mata, ia langsung mendapati wajah Arsen yang kala itu terlihat masih tertidur pulas. Rachel tersenyum tipis, mulai membelai rambutnya hingga pipinya.


"Kamu terlihat sangat pulas." Celetuk Rachel pelan.


"Emm baiklah, aku tidak akan mengganggu tidurmu kali ini." Tambahnya lagi yang kembali tersenyum.


Lalu Rachel pun mulai beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi yang ada di kamarnya. Suara air yang bercucuran pun mulai terdengar, siraman air di pagi hari benar-benar seketika menyegarkan tubuh serta pikirannya.


*Ting tong*


Bunyi bel di pagi hari, yang membuat aktivitas Rachel terhenti sejenak.


"Siapa lagi?" Gumamnya pelan sembari mulai bangkit.


Rachel keluar dari kamarnya, menuju pintu dan mulai mengintip dari lubang kecil yang ada di tengah-tengah pintunya, untuk melihat siapa kiranya yang datang. Mengetahui keberadaan ibu dan ayahnya yang sudah berdiri di depan pintu, membuat mata Rachel seketika mendelik.


"Astaga, mommy, daddy, ada apa pagi-pagi sekali kemari?" Tanya Rachel seorang diri dengan suara yang sangat pelan.

__ADS_1


*Ting tong*


Shea yang nampaknya begitu tak sabar, berkali-kali memencet bel agar sang tuan rumah lebih cepat membukakan pintu.


"Haaaish, kenapa lama sekali? apa mereka belum bangun?" Tanya Shea tak sabar.


"Sabar lah sayang, mereka adalah pasangan muda yang baru saja menikah, jadi sepertinya sangat wajar bila harus bangun telat." Jawab Martin yang bersikap tenang.


Tak lama, akhirnya Rachel pun langsung membukakan pintu dengan menampilkan raut wajah sedikit gelagapan.


"Mommy, daddy." Ucapnya sembari tersenyum kikuk.


"Ah akhirnya." Shea seketika jadi sumringah dan langsung menarik Martin untuk masuk ke kediaman putrinya itu.


"Sayang, tenang lah, kenapa langsung masuk begitu saja ke rumab orang." Bisik Martin pada Shea.


"Sudah lah sayang, lagi pula ini rumah Rachel dan Arsen, anak dan menantu kita, bukan orang lain."


Rachel yang jadi semakin kebingungan pun langsung bergegas menutup pintu dan mengikuti langkah kedua orang tuanya menuju ruang tamu.


"Astaga mommy, daddy, kenapa datang kesini tidak mengabariku terlebih dulu?"


Shea pun mulai duduk dengan tenang di sofa, lalu di susul pula dengan Martin.


"Apa kabar kamu sayang?" Tanya Martin pada putrinya.


"Haiyo, kenapa malah menanyakan hal semacam itu, yang sudah jelas-jelas kita tau jawabannya." Shea pun seketika menyenggol lengan Martin.

__ADS_1


"Lihat lah betapa sehat dan segarnya dia, bahkan ketika melihatnya berkeramas di pagi hari, itu juga sudah semakin memperjelas jika keadaannya sangat baik-baik saja." Bukankah begitu putriku sayang?" Shea pun tersenyum meledek.


...Bersambung......


__ADS_2