
Rachel dibawa masuk ke IGD, kebetulan dokter sedang standbye disana hingga bisa langsung menangani Rachel.
"Ya memang ada kenaikan gas asam pada lambung, hingga memicu rasa sakit pada ulu hati." Jelas Dokter pada Rachel.
"Tapi sepertinya bukan hanya karena faktor itu." Tambahnya lagi seperti sedikit ragu.
"Lalu karena faktor apalagi Dokter?" Tanya Rachel mulai cemas.
"Apakah ada penyakit yang serius Dokter?" Tanya pelayan yang terus mendampingi Rachel kala itu.
"Oh tidak, bukan itu." Jawab cepat Dokter sembari menggelengkan kepalanya.
"Lalu?" Nampak dahi Rachel mulai sedikit mengkerut.
"Aku tidak berani menjelaskannya lebih detail, aku takut salah dalam mendiagnosa pasien karena ini bukan ranahku. Ada baiknya sekarang anda pergi ke bagian Obgyn untuk lebih memastikannya." Jelas Dokter sembari tersenyum tipis.
"Dan juga, karena ini belum jelas, jadi aku juga tidak mau meresepkan sembarang obat untuk anda nona. Maka dari itu, ada baiknya jika sekarang juga anda ke bagian obgyn terlebih dulu, setelahnya kami baru bisa meresepkan obat yang tepat untuk kondisi anda." Tambah Dokter itu lagi.
Dokter pun pamit undur diri karena kebetulan pula, ada seorang pasien yang baru masuk ke IGD yang tepat bersebelahan dengan bilik Rachel.
Mendengar hal itu, membuat Rachel sedikit tercengang sembari mulai memegangi perutnya. Begitu pula dengan pelayan yang sejak tadi masih berdiri di sisi Rachel.
"Obgyn? Aku tidak salah dengarkan?" Tanya Rachel pada pelayannya.
"Tidak nona, sangat jelas jika Dokter itu memang mengatakan Obgyn." Jawab pelayan itu.
"Kenapa perasaanku mendadak jadi tidak enak begini." Gumam Rachel dalam hati.
Rachel pun perlahan mulai berusaha untuk bangkit, pelayan yang cekatan pun bergegas membantunya untuk duduk di tepi tempat tidurnya kala itu.
"Bagaimana nona? Apakah kita harus mengikuti saran Dokter?"
"Lebih baik begitu." Jawab Rachel singkat, dengan wajahnya yang masih nampak memucat.
Rachel masih tidak kuat untuk berjalan jauh, ulu hatinya masih saja terasa sakit ketika ia terus berjalan, hingga membuatnya dibawa menggunakan kursi roda. Pelayan mengambil antrian pada jalur prioritas untuk Rachel sehingga memungkinkan bagi Rachel untuk masuk duluan dan memotong nomor antrian setelahnya, hal seperti itu bisa saja terjadi namun tentu saja biaya yang dikeluarkan akan jauh lebih mahal di banding jika kita mengantri normal seperti biasa.
__ADS_1
"Maaf sebelumnya, tapi bisakah kamu menungguku di luar saja?" Tanya Rachel pada pelayannya.
Pelayan pun akhirnya mengangguk patuh. Setelah menghentikan kursi roda Rachel di dalam ruangan Dokter, ia pun bergegas keluar dan meninggalkan Rachel dalam ruangan yang hanya berukuran 5x5m itu.
Rachel menyampaikan keluhannya dan mengatakan apapun yang Dokter sebelumnya katakan padanya. Hal pertama yang Dokter suruh Rachel lakukan setelah mendengar penjelasannya ialah menyuruhnya untuk tes urine. Bukan untuk pemeriksaan narkoba melainkan untuk dimasukkan testpack ke dalamnya.
Rachel awalnya kembali dibuat tercengang, ia masih saja terpaku sembari memandangi wadah kecil yang diberikan oleh Dokter padanya yang berfungsi sebagai tempat menampung urine miliknya.
"Kamar mandinya di sebelah sini nona." Ucap Dokter menunjuk ke arah pintu yang tertutup.
"Ohh, eemm iya." Jawab Rachel yang sontak seolah tersentak dan sedikit gugup.
Tak lama setelahnya, Rachel pun keluar dengan sudah membawa wadah itu yang sudah dalam keadaan terisi oleh air yang berwarna kuning sedikit kecoklatan.
Dengan memakai sarung tangan karet, Dokter pun bergegas membuka bungkus testpack, lalu langsung mencelupkan ujungnya pada urine Rachel.
Rachel terdiam, jantungnya berdebar cepat, bahkan wajahnya juga nampak begitu menegang saat menantikan hasil dari testpack itu.
Tak lama dokter mengangkat testpack itu kembali, mulai memandanginya, untuk menunggu hasilnya dengan sabar. Dan ya, apa yang terjadi begitu mengejutkan bagi Rachel. Perlahan tapi pasti, pada testpack itu muncul dua buah garis berwarna merah terang, merahnya begitu jelas, tidak samar sama sekali.
Dokter pun mulai tersenyum tipis dan menunjukkannya lebih jelas pada Rachel yang masih tegang.
Mata Rachel seketika membulat sempurna, bukan perasaan senang yang pertama ia rasakan kala itu, melainkan rasa shock.
"Baiklah nona, sekarang berbaring lah, kita akan lebih memastikannya lagi melalui USG."
Rachel perlahan pun mulai berbaring di tempat tidur yang telah disediakan, matanya mulai berkabut memandangi langit-langit ruangan sepetak itu. Pikirannya mulai berkelana, memikirkan apa yang harus ia lakukan ke depannya.
Gel mulai terasa dingin menyentuh perut Rachel yang masih terlihat rata, Dokter dengan lihai mulai menggerak-gerakkan alatnya sembari matanya fokus menatap ke arah monitornya yang begitu besar terpampang. USG yang Rachel pilih adalah 4D sehingga membuat gambaran pada monitor semakin jelas, dan tentu saja lagi-lagi harganya pasti akan jauh lebih mahal dari USG biasa.
"Baiklah nona, disini kita akan benar-benar melihat keadaan rahim anda. Karena hasil testpack kadang kala tidak 100% akurat," jelas Dokter yang terus saja menggerak-gerakkan alatnya pada perut Rachel.
"Ya dokter, dan aku berharap hasil testpack itu memang salah." Gumam Rachel dalam hati.
"Tarik nafas perlahan nona, lalu buang lewat mulut."
__ADS_1
Rachel menurut dan melakukannya. Dokter sedikit menekan perut Rachel dengan alatnya, dan akhirnya benar saja, di monitor pun mulai terlihat ada bulatan, terlihat seperti kacang tanah bagi Rachel.
"Selamat nona, anda memang benar-benar tengah mengandung saat ini, dan ini adalah embrionya yang sudah mulai terbentuk."
Lagi dan lagi, Rachel sepenuhnya membulatkan matanya, ia terpaku, memandangi layar yang terpampang di hadapannya.
"Apa anda yakin Dokter?" Tanya Rachel lagi yang masih sulit percaya, di susul pula dengan matanya yang mulai berkaca-kaca.
"Ya tentu saja nona, Alat USG kami saat ini sudah menggunakan alat yang tercanggih, jadi keakuratannya juga sudah tidak diragukan lagi."
Rachel pun perlahan mulai bangkit dari duduknya, dokter juga kembali ke mejanya, lalu dengan cepat mulai menuliskan resep untuk Rachel.
"Ini resep obat yang perlu ada tebus di bagian farmasi nona, semua obat-obat itu saya pastikan aman untuk ibu hamil."
"Terima kasih dokter."
Rachel berjalan pelan untuk keluar dari ruangan sembari terus memandangi selembar kertas resep yang sebenarnya ia sendiri pun tak terlalu mengerti dengan tulisannya. Kini pikirannya semakin jauh dan liar berkelana, segala macam pikiran dan hal-hal terburuk yang akan ia hadapi kelak pun seolah menumpuk di dalam benaknya saat itu. Benar-benar membuat dadanya seakan sesak.
"Bagaimana nona?" Tanya pelayan yang telah menunggunya di depan pintu.
"Nanti saja di bahas, aku mohon tolong tebuskan resep ini ke bagian farmasi,"
"Baik nona, sebaiknya nona menunggu di mobil saja, saya akan meminta supir untuk kesini dan membantu mendorong kursi roda untuk anda."
Rachel pun hanya mengangguk pelan. Menunggu setengah jam lamanya, akhirnya pelayan masuk ke mobil dengan sudah membawa beberapa macam obat.
"Jalan pak." Perintah Rachel yang terlihat semakin lesu bersandar di kaca jendela mobilnya.
Disepanjang jalan, Rachel hanya diam, mematung, bahkan untuk bergerak pun ia seperti kehilangan minat. Kini di dalam otaknya, terus memikirkan langkah apa yang harus ia ambil dengan adanya janin di dalam perutnya.
"Apa aku harus mengatakannya pada Arsen?? Apa dia perlu tau tentang hal ini??" Gumam Rachel dalam hati yang saat itu merasa sangat ragu.
"Tapi,, sepertinya percuma. Kurasa ia tidak akan senang saat tau hal ini, dan kurasa juga dia akan berfikir jika anak ini bukan anaknya, mungkin saja ia akan berfikir jika ini anak Antony, mengingat terakhir sebelum aku pergi, ia mengira jika aku dan Antony berselingkuh." Rachel terus bergumam dalam hatinya.
Hati dan otaknya seolah saring serang untuk menyampaikan argumen mereka masing-masing.
__ADS_1
"Oh ya tuhan, apa lagi kali ini?? Bukankah seharusnya aku merasa senang dengan hadirnya janin di rahimku? Tapi kenapa aku justru merasa jika duniaku semakin hancur??"
...Bersambung......