
Rachel tiba di apartementnya dengan wajahnya yang sudah terlihat begitu sembab karena di sepanjang jalan ia terus saja menangis tanpa memperdulikan apapun lagi. Rachel langsung masuk ke kamarnya dan mengambil kopernya yang ia letakkan di sisi sebelah kanan lemari pakaiannya.
Dengan cepat ia pun bergegas memasukkan semua pakaian yang ada di lemari ke dalam kopernya. Tidak ada hanya itu, bahkan semua barang-barangnya yang terpajang di meja rias tak tinggal ikut ia masukkan ke dalam kopernya yang memang berukuran cukup besar.
Setelah memastikan seluruh barangnya sudah masuk ke dalam kopernya, Rachel pun akhirnya terduduk lesu di tepi ranjang. Ia kembali menangis sembari terus memandangi seluruh sudut ruangan di kamar itu yang terdapat begitu banyak kenangan antara dirinya dan Arsen. Mungkin, Rachel dan Arsen memang belum terlalu lama tinggal di apartement itu, namun tetap tidak bisa dipungkiri bila kenangan manis saat kebersamaan mereka berdua telah ada di hampir setiap sudut ruangan di apartement itu.
"Sulit di percaya, jika sebentar lagi aku tidak akan lagi tinggal disini, bersama Arsen," Gumam Rachel dalam hati.
Kemudian, tak sengaja kedua mata Rachel menatap bingkai foto pernikahannya bersama Arsen yang terpajang di atas nakas yang terdapat di sisi sebelah kanan tempat tidur. Dengan perlahan Rachel meraihnya bingkai foto itu, lalu mulai memandang nanar gambar dirinya yang kala itu terlihat begitu anggun saat mengenakan gaun putih di sisi Arsen.
Lagi dan lagi, tangisan Rachel pecah, ia kembali menangis tersedu-sedu sembari terus meraba wajah Arsen yang ada di dalam foto itu.
"Maafkan aku, aku sungguh minta maaf, aku banyak salah padamu, tapi percayalah, aku hanya mencintaimu Arsen Lim, demi tuhan hanya kamu." Gumam Rachel seorang diri.
Puas menangisi keadaannya saat ini, Rachel pun akhirnya kembali menyeka air matanya, lalu memutuskan untuk membawa serta bingkai foto itu bersamanya untuk ia jadikan sebagai sebuah kenangan yang terindah di dalam hidupnya.
Lalu ia pun bergegas meraih selembar kertas dan pena, ia kembali menarik nafas dalam sebelum akhirnya ia pun mulai menuliskan sebuah surat seolah sebagai ungkapan isi hatinya dan sebagai salam perpisahan untuk Arsen.
"Saat kamu membaca surat ini, mungkin aku sudah tidak ada lagi disini, aku pamit untuk pergi. Aku pergi bukan karena aku menghindari masalah yang ada, tapi karena aku mulai merasa sangat tidak pantas lagi menjadi istrimu.
Terima kasih, terima kasih untukmu yang meski dalam keadaan marah, namun tetap ingin berusaha menjaga nama baikku walau harus berbohong pada seluruh orang yang nantinya akan mendengar pengakuanmu itu.
Kamu sangat baik, dan kamu memang pantas untuk bahagia, meski bahagiamu bukan bersamaku.
Apapun yang terjadi kelak, percayalah kalau aku sangat mencintaimu, aku rela melepaskanmu demi agar kamu bisa mencari bahagiamu yang baru, dan ku yakin tidak akan sulit bagimu untuk menemukan wanita yang kamu impikan, yang jelas ku yakin wanita itu bukanlah aku. Dan setelah ini, kamu bisa menceraikan aku dan menggugatku ke pengadilan, aku siap dan akan menerima semuanya.
Selamat tinggal Arsen Lim, I Love You!"
Air mata kesedihan kembali menetes saat Rachel membaca ulang isi surat uang ia tuliskan untuk Arsen. Dengan perlahan ia melipat kertas itu lalu dengan sengaja meletakkannya di atas nakas.
__ADS_1
Rachel akhirnya mulai menyeret kopernya keluar dari kamar, sebelum ia benar-benar keluar dari apartement itu, ia pun kembali memandangi sekali lagi setiap sudut ruangan, mulai dari ruang tamu hingga dapur yang juga tak kalah memiliki kenangan manis bersama Arsen.
"Selamat tinggal apartement yang nyaman, selamat tinggal semuanya, selamat tinggal Arsen Lim." Gumam Rachel yang akhirnya langsung keluar dan mulai pergi meninggalkan apartement itu dengan membawa tangisannya yang kembali tak bisa ia bendung.
Hari ini, entah sudah berapa banyak air mata yang ia curahkan hanya untuk menangisi segala kesedihannya. Ia benar-benar tengah di rundung nestapa seolah di waktu yang akan datang, ia merasa takkan pernah merasakan bahagia lagi. Karena bagi Rachel, kebahagiaannya hanyalah ada pada Arsen Lim bukan hal lain.
Rachel kembali pergi, kali ini ia pergi dengan membawa mobil miliknya yang memang ia parkirkan di basement apartement yang bisa di bilang mobil itu begitu jarang ia gunakan.
Sepanjang jalan Rachel terus melamun, memikirkan dan membayangkan bagaimana kelak ia bisa menjalani hidup tanpa sosok Arsen Lim di hidupnya. Hingga tanpa diduga, Rachel kehilangan konsentrasinya dalam mengemudi hingga membuatnya menabrak sebuah mobil yang ada di hadapannya.
*Brruuuakk*
Hal itu sontak membuat Rachel terkejut bukan kepalang hingga seketika menginjak kuat rem mobilnya. Rachel terdiam, dengan nafas yang jadi begitu terengah-engah saking syok dan terkejutnya. Tiba-tiba saja seseorang pria keluar dari mobil yang ia tabrak dan dengan cepat melangkah menghampiri mobil Rachel.
*Toktoktok*
"Hei buka!! Lihat lah apa yang kau lakukan pada mobilku!!" Ketus pria itu sembari terus mengetuk kaca jendela mobil Rachel.
Rachel pun mulai takut saat melihat seorang pria yang berbadan cukup tegap terlihat begitu parah pada perbuatannya.
"Hei, ku bilang buka!! Jangan sampai aku memecahkan kaca jendela ini agar aku bisa mencekikmu. Lihat bagaimana bagian belakang mobilku menjadi rusak, kau harus tanggung jawab!!" Teriak pria itu lagi yang semakin keras menggedor-gedor jendela mobil Rachel.
Hal itu membuat Rachel semakin panik dan takut, namun biar bagaimana pun, dia memang tetap harus menghadapinya dan bertanggung jawab karena hal ini memang lah murni kesalahannya karena mengemudi sambil melamun.
Rachel pun membuka kaca jendelanya, lalu ia bergegas meminta maaf pada pria itu dengan memasang wajah yang begitu tulus karena ia memang merasa bersalah,
Hal itu sontak membuat pria itu sejenak jadi terdiam, ia terus tercengang saat memandangi Rachel yang terus meminta maaf padanya. Pria itu pun perlahan mulai membuka kaca mata hitam yang saat itu tengah ia kenakan, agar bisa melihat lebih jelas wajah cantik Rachel.
"Wah, cantik sekali wanita ini, tapi aku seperti pernah melihatnya, tapi dimana ya?? Eeemm apa dia artist?" Gumam pria itu dalam hati.
__ADS_1
"Tuan, kenapa anda diam saja? Saya benar-benar menyesal, sebagai gantinya saya akan memperbaiki semuanya." Ucap Rachel kemudian yang membuat lamunan singkat lelaki itu menjadi buyar.
"Oh eemm tapi setelah ku lihat lagi, sepertinya rusaknya tidak terlalu parah nona." Ucap pria itu yang kemudian tersenyum manis di hadapan Rachel.
Rachel pun terdiam sejenak, karena menurutnya sikap pria itu sungguh begitu aneh karena sebelumnya pria itu terlihat begitu marah dan emosi.
"Ah tidak apa-apa tuan, memang sudah menjadi tanggung jawabku untuk menanggulangi biaya perbaikan mobil anda karena saya yang tidak hati-hati dalam mengemudi."
"Eeemm tapi nona, kurasa tidak perlu hehehe, kurasa aku hanya perlu kartu nama nona saja sebagai gantinya."
Lagi-lagi Rachel terdiam, namun tiba-tiba mobil dari belakang mobil Rachel mulai mengelakson, seolah menyuruh agar mereka kembali menjalankan mobil karena hal itu menyebabkan macet.
"Oh astaga, maaf tuan sepertinya hal ini membuat jalanan macet, dan jujur saja, sebenarnya saya juga buru-buru."
Rachel pun bergegas meraih tasnya yang ia letakkan di kursi yang berada di sampingnya. Dari dalam tasnya, ia mengeluarkan segepok uang yang masih terikat oleh tanda/logo sebuah bank tempat dimana ia mencairkan uang itu.
"Ini tuan, ambil lah, kurasa ini akan cukup untuk mengganti biaya kerugiannya, bahkan kurasa ini akan lebih. Jadi tolong maafkan aku atas ketidaksengajaan ini tuan, tapi aku benar-benar harus pergi sekarang, tuan, maaf."
Rachel pun menyerahkan segepok uang itu pada pria itu, lalu ia dengan cepat menutup kembali kaca jendela mobilnya dan langsung menjalankan mobilnya begitu saja.
Rachel tiba di kediaman Mr. Liong, disana Shea, Martin, oma, dan Opanya terlihat seolah memang sedang menunggu kedatangannya. Rachel masuk ke rumah itu dan di sambut oleh Shea yang langsung menghampirinya dan memeluk hangat tubuh putri semata wayangnya itu.
Rachel pun langsung memeluk erat tubuh sang ibu, ia kembali menumpahkan segala kesedihannya lewat sebuah tangisan yang kembali berderai kala itu.
"Menangis lah sayang, tidak apa, menangis lah, keluarkan semua kesedihanmu lewat tangisan, agar kamu bisa merasa sedikit lebih tenang setelahnya." Bisik Shea sembari terus mengusap-usap lembut rambut panjang putrinya yang kala itu memang sedang tergerai.
Hal itu, membuat Rachel semakin erat memeluk ibunya, ia tak menjawab sepatah katapun, hanya tangisan yang terdengar semakin nyata terdengar, hingga membuat Martin dan yang lain jadi ikut terdiam memandangi Rachel dengan wajah sendu mereka.
...Bersambung......
__ADS_1