Pewaris Tahta

Pewaris Tahta
Eps 51


__ADS_3

Di sisi lain, Rachel terus merasa gelisah di kamarnya yang begitu nyaman. Otaknya seakan tak bisa berhenti memikirkan Arsen Lim. Di sisi lain, ia merasa begitu kesal dengan sahabat masa kecilnya itu karena sikap Arsen yang sok cuek padanya namun bersikap bodoh pada kekasihnya yang matrealistis. Namun di sisi lain, selalu ada rasa kagum bahkan melebihi itu yang mengarah ke perasaan cinta pada seorang Arsen yang sekarang, karena sikapnya yang terkadang begitu manis dan lembut.


"Apa dia jadi mengajak hama betina itu makan malam? Lalu setelah itu apa yang akan mereka lakukan ya?" Gumam Rachel seorang diri.


Namun Rachel yang tak ingin terlalu pusing memikirkan hal itu memilih untuk mengalihkan pikiran, ia pun membuka laptopnya, dan memilih untuk melakukan video call dari sebuah aplikasi pada sahabatnya Arcie.


Namun sayangnya saat itu Arcie sedang tidak online, hingga membuat Rachel harus menutup kembali laptopnya dengan lesu.


"Astaga, kenapa aku jadi terus kepikiran dengan Arsen Lim? Aku disini gelisah seperti orang gila, sementara dia, bisa saja dia sedang bermesraan dengan hama itu." Gerutu Rachel lagi sembari mengusap-usap kasar rambutnya.


Setelah berfikir beberapa saat, akhirnya Rachel pun mendapat ide yang cukup bagus. Senyumnya seketika melebar, dengan cepat ia pun langsung meraih ponselnya, lalu mulai mencari sebuah kontak yang bertuliskan "Paman Ben"


Di waktu yang sama, Benzie dan Yuna terlihat sedang duduk di balkon rumah mereka sembari menikmati secangkir teh hangat dan beberapa cemilan.


"Rumah ini terasa begitu sepi sekarang." Celetuk Yuna sembari mengusap-usap lengannya yang mulai terasa kedinginan.


"Kamu kedinginan sayang, pakai ini." Benzie pun meraih selembari kain rajut yang ada di sandaran kursinya, lalu mulai mengalungkannya ke kedua pundak Yuna.


"Terima kasih suamiku." Yuna pun tersenyum hangat saat suaminya masih memperlakukannya dengan begitu manis tanpa ada yang berubah sedikit pun dari waktu ke waktu.


Benzie pun ikut tersenyum, lalu kemudian ia mulai menghela nafas dan kembali berkata.


"Mau bagaimana lagi, anak-anak kita sudah beranjak dewasa dan sudah memiliki dunia mereka masing-masing sekarang, itulah yang membuat rumah ini kembali sepi. Tapi rumah ini bisa saja di buat ramai kembali jika kitaa...." Benzie pun kembali melirik nakal ke arah istrinya.


"Jika kita apa?" Yuna pun mulai mengernyitkan dahinya sembari tersenyum.


"Jika kita.... Jika kita membuatkan adik lagi untuk Arsen dan Lilya." Bisik Benzie sembari tersenyum dan mulai menyondongkan tubuhnya ke arah Yuna.


Yuna pun seketika tersenyum geli, diikuti dengan Benzie yang ikut tertawa kecil sembari mulai memeluk istrinya, Benzie pun mencium kening Yuna, lalu berpindah ke hidung, dan akhirnya berlabuh di bibir Yuna. Meski sudah memasuki usia 40an, namun gairah Benzie pada Yuna seolah tak pernah padam, bahkan Yuna dan Benzie layaknya vampir yang selalu terlihat awet muda.


Di bawah sinar bulan, Benzie mencium hangat bibir Yuna, layaknya dua insan yang sedang jatuh cinta kembali, mereka terus menautkan bibir mereka satu sama lain, hingga akhirnya sebuah deringan ponsel membuat keduanya tersentak dan langsung melepaskan tautan bibir mereka yang sudah entah berapa lama saling membasahi.


"Ada telpon hehehe." Ucap Benzie sembari meraih ponselnya.

__ADS_1


"Angkat lah, siapa tau penting." Jawab Yuna sembari mengusap bibirnya yang basah.


Ternyata sebuah panggilan dari Rachel, Benzie awalnya tidak tau karena ia belum sempat menyimpan nomor Rachel.


"Ya hallo."


"Halo paman selamat malam, apa aku mengganggumu?" Tanya Rachel dengan pelan.


"Rachel?" Tanya Benzie.


"Hehehe iya paman ini aku."


"Astaga, maaf maaf, paman belum sempat menyimpan nomormu."


"Tidak apa paman,"


Yuna yang mendengar Benzie menyebut nama Rachel pun seketika langsung membulatkan matanya, ia pun langsung menggoyang-goyangkan lengan Benzie seolah bertanya siapa gerangan Rachel yang di maksud oleh Benzie.


"Ya Rachel, ada apa? Apa ada masalah?" Tanya Benzie lagi.


Akhirnya Rachel pun mengutarakan apa yang membuatnya gelisah malam itu, sementara Benzie terus diam sembari sesekali mengangguk mendengarkan perkataan Rachel dengan seksama.


"Baiklah, serahkan saja pada paman mu ini." Jawab Benzie akhirnya.


Panggilan itu pun berakhir dengan di susul oleh Benzie yang menghela nafas sembari tersenyum kecil.


"Sekarang giliranmu menjelaskan padaku!" Ucap Yuna.


"Tunggu sebentar sayang, aku ingin menelpon Arsen lebih dulu."


Sisi lain di kediaman Laura...


Arsen menghentikan langkahnya saat dirinya sudah tepat berada di depan pintu rumah Laura.

__ADS_1


"Nanti akan aku pesankan makanan saja untuk mu." Ucapnya kemudian.


"Tidak perlu, ini sudah terlalu malam dan sudah melewati jam makan malamku, jika aku makan semalam ini bisa-bisa aku gendut." Jawab Laura dengan manja sembari mulai melingkarkan kedua tangannya ke lengan Arsen.


"Ya sudah kalau begitu, kalau begitu aku pulang dulu ya, jaga dirimu." Arsen pun tersenyum tipis lalu mulai ingin beranjak.


Namun lagi-lagi Laura menahan tangannya.


"Ehhh, tunggu dulu sayang, kenapa harus buru-buru? Ini masih jam 9."


"Aku lelah sekali, rasanya ingin segera beristirahat saja di rumah."


"Istirahat disini saja sebentar ya, ayo masuk lah, akan aku buatkan teh hangat untukmu." Laura pun langsung menarik tangan Arsen untuk membawanya masuk ke dalam rumah.


"Laura, sebaiknya aku langsung pulang saja."


"Ssssttt diam dan duduk lah sayang." Laura pun membawa Arsen ke sebuah sofa.


"Kamu tunggu disini dan jangan kemana-mana ok! Aku akan membuatkan teh untuk mu agar kamu sedikit lebih rileks." Laura pun menampilkan senyuman termanisnya dan kemudian ia pun beranjak pergi menuju dapur.


Sementara Arsen akhirnya hanya bisa duduk diam sembari mengusap kasar wajahnya dengan kedua tangannya.


Laura terus melebarkan senyumannya saat memutar-murarkan sebuah sendok ke dalam secangkir teh yang sudah ia buat, lalu ia mulai melirik ke arah ruang tempat dimana Arsen terduduk untuk memastikan jika Arsen masih berada di tempatnya.


"Malam ini, kamu tidak bisa menghindar lagi sayang, aku tidak akan pernah merasa puas jika kamu belum menjadi milikku seutuhnya." Gumam Laura dalam hati sembari mulai mengeluarkan botol kecil dari dalam tas yang masih di bawanya.


Botol kecil berbahan kaca itu ialah botol yang berisi obat perangsang, Laura ternyata sering membawa serbuk perangsang itu setiap ia pergi dengan Arsen maupun lelaki yang sebelumnya pernah berkencan dengannya. Namun sejauh ini ia belum menemukan moment yang tepat untuk memberikan serbuk itu pada Arsen, dan ia berfikir malam ini adalah malam yang tepat.


"Nafsuku begitu kuat, jadi kamu tentu akan membutuhkan serbuk ini untuk bisa melakukannya denganku dan membuatku merasa puas." Gumam Laura lagi sembari semakin melebarkan senyumannya.


Adanya serbuk perangsang itu bukanlah tanpa alasan, selain matrealistis, ternyata Laura juga hypersex yang tentu membutuhkan obat itu untuk ia berikan pada lelaki yang akan menidurinya agar bisa lebih tahan lama dan memuaskannya, bahkan ia pun sudah sering melakukan hal semacam itu jauh sebelum ia berpacaran dengan Arsen. Namun mirisnya Arsen sama sekali tidak mengetahui hal itu, dimata Arsen Laura masih lah gadis yang baik dan nyaris sempurna.


...Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2