Pewaris Tahta

Pewaris Tahta
Eps 85


__ADS_3

Rachel masuk dengan perasaan sedikit gugup ke mobil Arsen, memastikan Rachel telah terduduk dengan sempurna, Arsen pun seketika mulai menjalankan mobilnya dan meninggalkan pekarangan rumah megah itu. Sejenak suasana terasa hening, kala itu Arsen dan Rachel layaknya dua orang asing yang tak saling bicara satu sama lain. Rachel dengan perasaan gugupnya semenjak moment ciuman semalam, sementara Arsen dengan perasaannya yang saat ini masih begitu berkecamuk dan tak menentu.


Namun saat di tengah perjalanan, akhirnya Arsen pun memilih untuk memulai perbincangan.


"Jadi kamu yang membawaku pulang semalam?" Tanya Arsen datar tanpa menoleh ke arah Rachel sedikit pun.


"Menurutmu?" Rachel pun menjawab dengan sebuah pertanyaan.


Arsen pun akhirnya terdiam sejenak. Namun ia bukan menjawab, namun memilih untuk langsung mengucapkan terima kasih.


"Apapun itu, aku sangat berterima kasih padamu." Ucap Arsen dengan tenang namun dengan sorot matanya yang seolah kosong.


"Apa yang membawamu datang ke tempat itu dan mabuk disana?" Tanya Rachel yang mulai memberanikan diri untuk melirik ke arah Arsen yang saat itu seolah bersikap sangat dingin.


"Tidak ada." Jawab Arsen singkat seolah seperti tidak berminat untuk menceritakan hal yang sesungguhnya.


"Apa... emm apa ada hubungannya dengan Laura?" Tanya Rachel dengan ragu-ragu.


"Sudah ku bilang jangan pernah berani menyebut nama wanita itu lagi!!" Bentak Arsen secara spontan sembari menatap Rachel dengan tatapan yang begitu tajam.


Hal itu seketika membuat Rachel begitu terkejut, ia pun langsung terdiam dengan perasaan yang mulai takut dan sedih karena bentakan dari Arsen yang terlihat begitu marah.


Arsen pun semakin melajukan mobilnya, entah kenapa setiap ia mendengar nama Laura, bayangan Laura dan Erick yang sedang berhubungan intim di dalam kamar itu kembali terbayang jelas di ingatan Arsen. Hingga membuatnya kembali meradang dan sulit mengendalikan amarahnya yang masih sulit ia kontrol.


Hingga berselang beberapa menit, mobil itu pun terhenti tepat di depan Loby, Rachel yang merasa sedih pun memilih untuk langsung turun begitu saja tanpa menoleh sedikit pun ke arah Arsen.


"Terima kasih untuk tumpangannya tuan muda." Ucapnya datar dan langsung keluar dari mobil begitu saja.


Rachel pun terus berjalan cepat memasuki gedung utama, sementara saat itu Arsen masih terdiam di dalam mobilnya sembari terus memandangi kepergian Rachel. Ia pun akhirnya kembali mengusap kasar wajahnya sendiri, terbesit perasaan bersalah karena sudah membentak Rachel begitu kerasnya, namun ia pun masih begitu frustasi menerima kenyataan pahit yang baru dialaminya.

__ADS_1


"Harusnya aku tidak perlu membentaknya seperti itu, ku yakin saat ini dia pasti syok." Gumam Arsen dalam hati sembari terus memandangi kepergian Rachel dengan ekspresi penuh penyesalan.


Akhirnya Arsen pun ikut turun dari mobilnya dan langsung melangkah masuk ke gedung utama begitu saja tanpa membalas sapaan dari sang security seperti biasanya. Arsen yang biasanya cukup ramah pada para pegawai, kini seketika berubah menjadi sangat dingin dengan keadaan wajahnya yang terus menerus ia tekuk tanpa adanya lagi senyuman manis darinya.


Setibanya di dalam ruangannya, ia pun duduk dengan kasar sembari menatap ke arah Rachel yang sudah lebih dulu duduk di dalam ruangannya. Saat itu Rachel terlihat sedang memandangi laptopnya, namun terlihat jelas dari ekspresi wajahnya jika ia sangat bersedih.


"Aku benar-benar menyesal, tidak seharusnya ia menjadi sasaran emosiku." Gumam Arsen dalam hati.


Beberapa puluh menit pun berlalu begitu saja tanpa ada kegiatan yang berarti yang bisa dilakukan Arsen di ruangannya. Namun tak lama, ia melihat Rachel tiba-tiba saja beranjak dari duduknya dan mulai menuju ke arah ruangannya. Hal itu membuat Arsen yang sejak tadi terus memandanginya, kini seketika langsung meraih salah satu map yang ada di mejanya dan bersikap seolah sedang sibuk mengecek isi laporan yang ada di dalam map itu.


"Permisi tuan muda." Ucap Rachel pelan.


"Emm" Jawab Arsen datar sembari terus memandangi isi map itu tanpa melirik sedikit pun ke arah Rachel.


"Ada beberapa file yang harus mendapat tanda tangan darimu. Ini dia filenya." Rachel pun menyerahkan beberapa map dan meletakkanya di atas meja tepat di hadapan Arsen.


"File apa ini?" Tanya Arsen sembari mulai meraih map itu.


"Itu beberapa desain yang sudah di acc oleh klien, dan perlu tanda tangan anda juga selaku CEO." Jelas Rachel secara singkat.


Tanpa berpikir panjang, Arsen pun langsung menandatangani file-file itu, lalu kembali menyerahkannya pada Rachel dengan wajah datarnya.


"Ada lagi?"


"Tidak ada, saya permisi." Rachel pun membungkukkan badannya dan langsung ingin beranjak pergi begitu saja.


Melihat ekspresi sedih yang masih terlihat di wajah Rachel, kian membuat Arsen semakin merasa bersalah.


"Tu, tunggu." Ucap Arsen yang berhasil menghentikan langkah Rachel.

__ADS_1


"Ada apa tuan muda? Ada yang bisa saya kerjakan lagi?" Tanya Rachel yang berusaha bersikap biasa saja.


Arsen pun memilih diam sejenak, lalu perlahan mulai bangkit dari duduknya dan menghampiri Rachel yang saat itu tengah berdiri tak jauh dari mejanya.


Hingga akhirnya kini posisi Arsen sudah berdiri tepat di hadapan Rachel, membuat Rachel mau tak mau mulai tersenyum tipis untuk menunjukkan sikap profesionalisme nya.


"Ada apa tuan muda?" Tanyanya lagi.


Tanpa berkata apapun, Arsen akhirnya memeluk Rachel begitu saja. Membuat mata Rachel seketika melotot, dan kembali terdiam seribu bahasa.


"Ternyata kamu benar." Ucap Arsen dengan begitu pelan sembari semakin mengeratkan pelukannya.


Saat itu Rachel masih terdiam dengan perasaannya yang masih bercampur aduk.


"Apa yang kamu katakan tentang wanita itu, ternyata semuanya benar." Ucap Arsen lagi dengan begitu lirih.


Seketika Rachel sedikit demi sedikit pun mulai mengerti ke arah mana pembicaraan Arsen saat itu. Ia pun akhirnya mulai mengusap lembut punggung Arsen dengan pandangannya yang masih kosong.


"Maaf, maaf karena telah meragukan ucapanmu yang ternyata telah terbukti kebenarannya. Maaf, maafkan aku."


Entah kenapa mendengar perkataan Arsen yang terdengar begitu lirih, membuat Rachel ikut terhanyut, seolah ia pun ikut merasakan kesedihan yang dirasakan Arsen saat itu. Akhirnya sebuah tetesan bening pun mengalir begitu saja dari mata indah Rachel, ia begitu bersedih melihat Arsen memeluknya dengan membawa perasaannya yang sedang hancur.


"Menangis lah jika kamu ingin menangis, jangan kamu tahan, terkadang dengan menangis justru akan membuat perasaanmu menjadi lebih lega." Ucap Rachel dengan begitu lembut.


Perkataan Rachel seketika membuat Arsen semakin terhanyut dan akhirnya ia pun mulai meneteskan air matanya.


"Ya, peluk saja aku seberapa lama pun yang kamu mau, aku ada disini, pundak ku akan selalu ada kapan saja saat kamu butuh bersandar." Ucap Rachel lagi sembari terus mengusap lembut punggung Arsen.


...Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2