
Menyadari pergelangan tangannya kembali di genggam oleh Arsen, membuat Rachel mulai menyorot tajam ke arah tangannya sejenak, lalu setelahnya, ia pun mulai menatap wajah Arsen dengan tatapan tak senang.
"Apa?! Apa lagi sekarang?! Apa kau mau memarahiku lagi? Apa mau memakiku kali ini? Apa kau mau mengatakan jika aku adalah seorang istri yang pembangkang? Begitu?! " Ketus Rachel dengan matanya yang semakin melotot.
Saat itu, Rachel sungguh terlihat begitu menggebu-gebu saat mengeluarkan kekesalan serta unek-unek yang selama ini coba ia tahan.
Sementara Arsen, kala itu ia justru masih diam dan terus menatap Rachel dengan tatapan yang berbeda.
"Kenapa kali ini kau hanya diam?! Ayo marahi aku seperti biasanya!!" Rachel pun mulai meninggikan suaranya, sorot matanya semakin terlihat seperti ingin membunuh namun juga mulai berkaca-kaca.
"Dengar Arsen Lim, aku memang bersalah, aku bahkan sangat menyadari itu dan tetap berusaha untuk menebus semuanya. Tapi, tindakan dan ucapanmu di kantor itu, juga tidak bisa ku abaikan begitu saja, itu sungguh kelewatan dan membuat hatiku sangat sakit. Seolah aku ini sama sekali tidak berharga dimata mu lagi. Jika kamu memecatku, baik, aku terima, bahkan jika kamu juga ingin memecatku sebagai istrimu, aku juga sudah siap dengan hal itu!" Tambah Rachel lagi yang kali ini mulai kembali meneteskan air matanya.
Namun ia segera menyeka tetesan bening yang mulai mengalir di pipinya, seolah kali ini ia begitu tak ingin terlihat lemah di hadapan Arsen.
Kata-kata Rachel kali itu, sungguh membuat Arsen jadi begitu tertegun, tak ada sepatah katapun yang mampu ia ucapkan saat itu. Kini perasaan penyesalan semakin terasa nyata menyelusup ke jiwanya, bahkan kian membesar saat kembali melihat Rachel menangis untuk kesekian kalinya.
Menyadari Arsen yang masih tak bergeming, membuat Rachel semakin muak hingga menepis kasar tangannya. Membuat tautan tangan Arsen jadi terlepas begitu saja, dan ia pun langsung beranjak.
"Ka, kamu mau kemana?" Tanya Arsen dengan suara begitu pelan.
"Hal ini sungguh membuat seluruh badanku seperti ingin terbakar saja rasanya, aku butuh melakukan sesuatu agar aku tidak semakin meledak!!" Ketus Rachel yang langsung berlalu menuju kamarnya.
Meninggalkan Arsen yang masih terdiam meratapi penyesalannya yang semakin mendalam.
Rachel merasa tubuhnya semakin terasa gerah, bukan hanya tubuhnya, bahkan hatinya juga sangat terasa panas seperti siap untuk meledak. Ia pun bergegas masuk ke kamar mandi yang ada di dalam kamar, lalu langsung mengguyur tubuhnya dengan air dingin, membuat pikirannya sedikit lebih tenang dan setidaknya merasa sedikit lebih baik dari sebelumnya.
Di tengah guyuran air shower yang menyucur deras, ia kembali menangis, membayangkan bagaimana nanti jika Arsen benar-benar akan menceraikannya. Memikirkan apakah dia sungguh siap dengan semua itu.
"Ya, kali ini aku sudah tiba di ambang batas kesabaranku, aku tidak bisa mempertahankannya lagi, hubungan ini sudah terlalu rumit bahkan di saat masih di awal pernikahan." Gumam Rachel lirih dalam hati,
Kini Rachel merasa lebih mantap dengan langkah yang ia pilih, ia memutuskan untuk kembali ke apartementnya yang lama untuk menenangkan pikirannya.
Rachel keluar dari kamar mandi dengan sudah nampak sedikit merasa lebih tenang. Ia melirik ke arah jendela kaca yang berada di sisi ranjang, saat itu hujan terlihat begitu lebat turun membasahi jendela kaca itu.
"Bahkan alam pun seakan tau dan ikut menyuarakan bagaimana perasaanku saat ini." Gumam Rachel lagi yang terasa semakin lirih.
Rache memakai pakaiannya yang cukup tebal, lalu ia bergegas mengambil koper yang ia letakkan di bagian bawah lemari. Dengan cepat ia langsung saja memasukkan baju-bajunya ke koper tanpa ingin melipatnya terlebih dulu. Tak lama Arsen pun terlihat masuk, dan begitu terkejut saat mendapati Rachel yang sedang sibuk mengemasi barang-barang.
"Hei, apa-apaan kamu?" Tanyanya yang kembali menarik tangan Rachel.
Namun Rachel seolah tak berminat untuk di tanya saat itu, ia kembali menarik kasar tangannya dan melanjutkan aksinya.
"Kamu sungguh mau pergi?"
"Tidak ada gunanya lagi aku disini, mempertahankan rumah tangga yang baru seumur jagung seorang diri ternyata membuatku begitu merasa lelah dalam segala hal. Lelah fisik, hati, maupun pikiran. Dan kurasa cukup, aku tidak mau mempertahankan hubungan ini hanya seorang diri." Ketus Rachel sembari terus sibuk mengemasi seluruh barang-barangnya yang ada di kamar.
__ADS_1
Arsen semakin merasa gelisah dengan sisa pertahanan egonya yang perlahan terasa mulai melemah.
Rachel kembali menegakkan koper yang telah ia tutup, lalu meraih dompet dan menyerahkan kredit card yang pernah Arsen berikan padanya.
"Ku kembalikan ini padamu, aku pergi, jaga dirimu." Ucapnya lirih sembari mulai menarik kopernya untuk membawanya keluar dari kamar.
Kini Arsen sudah tidak bisa menahan perasaannya lagi, menyaksikan Rachel yang bersiap ingin pergi darinya, membuat jiwanya semakin memberontak, hingga akhirnya ia pun melangkah cepat untuk mengejar langkah Rachel, lalu langsung memeluknya dari belakang.
"Jangan!" Bisiknya pelan.
Rachel terdiam, ia cukup terkejut dengan kedua matanya yang kembali mendelik.
"Jangan lakukan itu, jangan!" Bisik Arsen lagi yang semakin mengeratkan pelukannya,
Hal itu membuat Rachel kembali meneteskan air matanya, kini antara hati dan logikanya harus kembali bertarung sengit karena keduanya sedang tidak berada di jalan yang sama. Saat logika bersikeras menyuruhnya untuk segera pergi tanpa mendengarkan ucapan Arsen, namun hatinya, hatinya seolah berbisik untuk menyuruhnya agar tetap bertahan.
"Kenapa?" Tanya Rachel pelan dengan tatapannya yang kosong.
"Kenapa aku tidak boleh melakukannya?" Tambahnya lagi.
Arsen pun perlahan mulai melepaskan pelukannya, lalu dengan pelan, ia pun mulai memutar tubuh Rachel agar menghadap ke arahnya,
"Karena,,, karena aku tidak mau kamu pergi meninggalkan aku lagi seperti dulu." Arsen pun meraih kedua pipi Rachel, lalu menatapnya dengan begitu lekat.
Rachel pun hanya diam dan justru semakin dibuat menangis.
"Tolong, jangan pergi lagi, tetaplah di sini, di sisiku." Suara Arsen terdengar semakin pelan, hingga tanpa ia sadari, tetesan bening pun mulai menetes begitu saja dari matanya.
"Jadi, kamu sudah tidak marah padaku lagi?" Tanya Rachel yang juga terdengar lirih.
Arsen pun kembali menegakkan pandangannya, dan menggelengkan kepalanya.
"Saat aku memutuskan untuk tetap menikah denganmu, saat itu sebenarnya aku sudah memaafkan mu dan tidak marah lagi. Hanya saja, saat itu masih ada perasaan kecewa yang membuatku jadi sulit bersikap baik dengan begitu cepat."
"Benarkah begitu? Apa kamu sungguh tidak akan ketus-ketus lagi padaku setelah ini?"
"Tidak, tidak akan!" Arsen pun menggelengkan kepalanya lagi.
Rachel pun semakin di buat menangis dan langsung memeluk erat tubuh Arsen. Dengan cepat Arsen langsung membalas pelukan hangat itu, lalu mulai tersenyum lirih.
"Apa kamu juga sudah memaafkan aku?"
"Sepertinya itulah kelemahanku saat ini, aku tidak sanggup melihatmu berkata lirih dan menangis." Jawab Rachel yang kembali melepaskan pelukan mereka dan mulai mengusap lembut air mata Arsen.
"Jadi, tolong jangan lakukan hal yang membuatku gila, jangan pernah."
__ADS_1
"Hal apa yang bisa membuatmu gila?"
"Saat kamu bersikap centil di hadapan Antony, aku sangat tidak tahan melihatnya, apalagi saat kamu mengatakan ingin bekerja dengannya. Oh tidak, masih membayangkannya saja sudah membuat kepalaku serasa ingin pecah." Ungkap Arsen dengan bibirnya yang mulai ia manyunkan.
Membuat Rachel mulai tersenyum dan mengusap lembut pipinya.
"Baiklah, itu tidak akan terjadi lagi." Jawabnya patuh.
Arsen pun akhirnya ikut tersenyum, dan kembali melingkarkan kedua tangannya ke pinggang Rachel.
"Jadi, apakah kita resmi berdamai sekarang?" Tanya Arsen lagi yang seolah ingin lebih memastikan.
"Eemm baiklah, mari kita berdamai." Rachel pun semakin mengembangkan senyumannya dan ikut melingkarkan kedua tangannya ke pinggang suaminya.
Arsen kembali menatap lekat wajah Rachel yang terlihat sembab, lalu mulai mengusap lembut sisa air mata yang masih terlihat membasahi pipinya.
"Baiklah jika kamu memaksa, mau tidak mau kita harus berdamai." Celetuk Arsen.
Membuat bibir Rachel kembali mengerucut, dan itu justru semakin membuat Arsen gemas melihatnya. Ia pun perlahan mulai mendekatkan wajahnya ke arah Rachel, membuat Rachel semakin tersenyum dan bertanya,
"Kamu mau apa?"
Arsen pun kembali tersenyum dan menghentikan sejenak gerakannya,
"Ingin mencium istriku, sudah sangat lama tidak melakukannya." Jawab Arsen dengan tenang dan kemudian ia pun langsung saja mencium bibir Rachel tanpa permisi.
Kala itu, tak ada hal lain yang bisa Rachel lalukan selain menyambut ciuman itu dengan senang hati. Arsen mulai memindahkan sebelah tangannya ke leher Rachel, membuat ciuman di antara mereka menjadi lebih dalam dan lebih menuntut.
Sore itu, dalam keadaan hujan yang begitu derasnya mengguyur bumi, kedua insan yang baru saja kembali menyatu, mulai melampiaskan perasaan rindu yang selama ini terpendam cukup lama melalui sebuah ciuman hangat dan bergairahh.
Arsen, yang seolah tak ingin melepaskan tautan bibirnya, mulai membawa tubuh mungil Rachel melangkah perlahan dan menyandarkannya di tembok, membuat Rachel tak bisa kemana-mana, hingga ciuman itu pun semakin berlarut hingga menuju leher mulus Rachel.
Tak puas sampai disitu, Arsen kembali mengarahkan tubuh Rachel untuk memasuki kamar mereka, dengan kedua bibir mereka yang tetap terus bertautan satu sama lain. Langkah keduanya saat memasuki kamar terkesan begitu tak sabaran, hingga tak sengaja tubuh Arsen menyenggol meja rias yang letaknya tak begitu jauh dari pintu, membuat beberapa botol parfum yang tertata di atasnya jadi berjatuhan.
Namun hal itu tidak membuat keduanya berhenti, justru semakin menggebu dan terus saja melangkah menuju ranjang. Tubuh Rachel lebih dulu terhempas ke atas ranjang yang begitu empuk, lalu di susul pula dengan tubuh tegap Arsen yang tanpa ragu mulai menghimpitnya.
Mereka kembali menautkan kedua bibir, lumataan serta hisapaan pun terjadi kembali dengan waktu yang cukup lama. Beberapa saat, Arsen kembali melepaskan tautan bibirnya, lalu menatap Rachel dengan begitu dalam dan bertanya,
"Apakah boleh melakukannya sekarang?" Ucapnya dengan suara begitu pelan dan terkesan seperti setengah berbisik.
"Apa sekarang, aku masih punya waktu untuk menghindar?" Jawab Rachel yang kembali tersenyum.
Arsen pun ikut tersenyum, lalu tanpa berkata apapun lagi, ia kembali melahap bibir Rachel, memutarnya ke kanan dan ke kiri seperti sangat sulit untuk berhenti.
__ADS_1
...Bersambung......