Pewaris Tahta

Pewaris Tahta
Eps 40


__ADS_3

Namun tak lama sebuah ketukan pintu kembali terdengar.


"Yaa." Jawab Rachel dari dalam.


"Nona, ada tamu yang datang untuk bertemu dengan mu."


Mendengar hal itu, Rachel pun segera membuka pintu kamarnya.


"Ada tamu mencariku? Siapa?" Tanya Rachel begitu membuka pintu.


"Dia sudah menunggu di ruang tamu nona." Pelayan pun langsung berlalu pergi begitu saja tanpa memberitahu siapa yang datang.


Rachel pun terdiam sejenak, sembari mulai menerka-nerka siapa sekiranya yang datang. Namun tak ingin menambah pikiran, Rachel pun langsung saja turun untuk menemui tamu yang di maksud, dengan penampilan yang masih berantakan, Rachel pun dengan santainya terus melangkah menuju ke ruang tamu.


Dan betapa kaget bukan kepalangnya Rachel saat melihat sosok Benzie Lim yang telah terduduk dengan sebuah senyuman tipis di bibirnya. Mata Rachel seketika membulat sempurna, mulutnya pun jadi begitu menganga saking syoknya.


"Pa, pa, paman Ben." Ucap Rachel tergagap-gagap dan seketika ia langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya.


"Selamat pagi keponakanku Rachel." Sapa Benzie tersenyum tenang.


"Astaga, bagaimana paman Ben bisa tau siapa aku? Ya tuhan, bagaimana ini?" Gumam Rachel dalam hati dengan sikap yang terlihat begitu gelagapan.


"Rachel, kenapa hanya berdiri disana? Ayo duduk lah disini." Ucap sang nenek sembari menepuk sofa yang ada di sampingnya.


"Iy, iya, ba, baiklah oma." Rachel pun dengan ragu-ragu mulai duduk.


"Akhirnya setelah bertahun-tahun lamanya, aku bisa kembali melihat anak tunggal dari kedua sahabatku." Benzie pun semakin melebarkan senyumannya.


Mendengar ungkapan itu, Rachel hanya bisa tersenyum cengengesan tidak jelas, karena sejujurnya ia masih begitu syok dan gugup.


"Sudah, hancur sudah, hancur sudah semuanya, semua rencana yang telah ku susun semuanya kini hancur karena identitasku telah terbongkar." Gumam Rachel sembari mulai menggaruk-garuk bagian kepala belakangnya yang tak gatal.

__ADS_1


"Tenang lah Rachel, jangan gugup saat melihatku, aku tentu tidak akan menyakitimu hehehe."


"Hehehe, aku, emm aku, aku hanya sedikit gugup saja paman." Ucap Rachel yang masih terus cengengesan.


"Baiklah Rachel, paman tidak akan banyak basa basi, kita langsung to the point saya ya. Kenapa semalam kamu seolah tak ingin kami semua mengenalimu? Bahkan kamu sama sekali tidak menyapa kami dan memperkenalkan dirimu."


Mendengar hal itu nyonya Irene langsung terkejut dan menatap Rachel dengan wajah bingung.


"Ha, benarkah begitu Rachel? Jadi, jadi kalian tidak saling mengobrol saat di pesta semalam?"


"Benar bibi, dia bahkan terus menunduk saat berhadapan denganku dan Arsen." Jawab Benzie.


"Astaga Rachel, kenapa kamu bisa begitu? Apa yang sebenarnya ada di pikiranmu? Bukankah kamu bilang ingin sekali bertemu dengan Arsen sahabat kecilmu?"


"Ma, maafkan aku paman, maafkan aku oma, aku, aku hanya, aku." Rachel pun terlihat semakin tergagap-gagap.


"Dan Arsen Lim putraku pun sempat mengatakan jika kalian sudah bertemu beberapa kali saat di Paris namun nampaknya hingga kini pun ia masih belum tau siapa kamu sebenarnya, dan kenapa kamu tidak memberitahunya jika kamu ini adalah Rachel sahabat kecilnya?"


"Ayolah Rachel, jawab pertanyaan paman mu, kenapa kamu terus diam? Ada apa sebenarnya?" Ucap sang nenek yang juga ikut penasaran.


Akhirnya setelah merasa sedikit tenang, dan sudah beberapa kali menghela nafas, akhirnya Rachel yang sejak awal terus menundukkan kepala pun kini mulai mengangkat kepalanya untuk menatap Benzie.


"Sebelumnya aku sungguh minta maaf paman, bukan maksudku untuk begitu, namun sebenarnya aku telah menyukai Arsen sejak moment pertama dia menolongku saat di Paris, saat itu aku belum tau jika dia adalah Arsen sahabat kecilku, hingga pertemuan kedua pun kami bahkan belum saling mengenal. Namun aku merasa semakin menyukainya karena melihat sikapnya yang begitu berbeda dari lelaki yang sering ku jumpai sebelumnya. Di tambah pula, ternyata aku tau, jika kekasihnya itu sepertinya bukanlah wanita yang baik, dia wanita yang matrealistis paman, aku mendengar percakapannya dan temannya saat mereka berbelanja di butik kami di Paris. Dan beberapa hari setelah Arsen pulang, baru lan aku tau jika ia adalah Arsen Lim, aku tau hal itu saat melihat berita siaran internasional." Jelas Rachel secara detail.


"Jadi, jadi itulah sebabnya aku mulai berfikir untuk mengambil hatinya dengan caraku sendiri dan aku pun mulai berfikir untuk melepaskannya dari jeratan hama betina itu, eh maaf paman maksudku dari jeratan kekasihnya itu, itulah sebabnya aku datang kembali kesini, itu semua sudah masuk dalam rencanaku, dan rencananya lagi, aku, emm aku akan...." Seketika ucapan Rachel terhenti dan dia mendadak ragu untuk mengatakan rencananya selanjutnya.


"Katakan Rachel, apa rencanamu selanjutnya?"


"Aku, rencananya aku ingin melamar kerja di kantor Blue Light paman, aku ingin melamar menjadi sekretaris Arsen hehehe." Jawab Rachel yang kemudian kembali cengengesan.


"Namun aku tidak ingin melamar sebagai Rachel paman, aku tidak ingin Arsen tau siapa aku, aku ingin membuatnya suka padaku tanpa alasan apapun. Aku, aku benar-benar menyukai Arsen paman, aku sama sekali tidak ada niat jahat atau apapun yang akan menjatuhkan apalagi menjerumuskannya paman, sumpah, percaya lah padaku paman."

__ADS_1


Mendengar penjelasan Rachel dengan panjang lebar dan detail, akhirnya Benzie Lim pun semakin melebarkan senyumannya menatap Rachel.


"Melihat mu seperti ini, aku jadi seolah melihat seorang Shea Hauw ada di hadapanku saat ini. Dalam hal ini kalian sungguh mempunyai sifat dan sikap yang sama." Ucap Benzie.


"Ma, maksud paman?"


"Ya, tidak kah kamu tau bagaimana ibumu ketika gadis dulu? Dia pun rela menyusul ayahmu ke Paris hanya demi menunjukkan rasa cintanya pada ayahmu, meski saat itu ayahmu masih cuek dan acuh padanya, namun ibumu seolah pantang menyerah dan akhirnya sekarang ayahmu lah yang seperti tak bisa hidup tanpa ibumu." Jelas Benzie dengan tenang.


"Begitu kah? Mommy bahkan belum pernah cerita se detail itu tentang masa mudanya padaku, namun paman sepertinya begitu tau tentang hal itu, apakah paman, mommy, dan daddy sungguh benar-benar sedekat itu dulu?"


"Tentu saja Rachel, paman Benzie mu ini dulu adalah pengagum rahasia dari ibumu hehehe. Bukankah begitu Ben?"


"Hehehe bibi, semua sudah berlalu bi, itu hanya bagian kisah dari masa remajaku saja."


"Astaga, benarkah begitu?" Rachel pun nampak begitu terkejut.


"Hehehe iya, bahkan dulu paman Ben dan ibumu hampir ingin bertunangan, namun sayangnya paman Ben ternyata sudah terlanjur jatuh hati pada bibimu Yuna, itulah sebabnya akhirnya mommy mu bisa kembali bersama cinta pertamanya yaitu daddy mu."


"Astaga, fakta ini benar-benar mengagetkan ku, aku sungguh baru tau akan hal ini." Ucap Rachel yang masih begitu kaget.


"Sudah lah Rachel, hal itu tentu tidak penting lagi untuk di pikirkan saat ini. Karena ada hal yang lebih penting yang harus paman katakan padamu."


"Apa itu paman?"


"Paman setuju saat kamu mengatakan jika sepertinya Laura bukanlah gadis yang baik. Dan paman juga setuju dengan rencanamu, dan bukan hanya itu, paman sendiri lah yang akan membantumu untuk masuk ke kantor utama Blue Light."


"Haa?! Benarkah paman??" Rachel pun kembali membulatkan matanya.


"Tentu." Jawab Benzie dengan tenang sembari tersenyum.


"Aaaaa yes yes yes." Rachel yang merasa begitu girang pun mulai spontan berjoget-joget hingga berjingkrak-jingkrak tanpa sadar jika Benzie dan neneknya masih ada di hadapannya.

__ADS_1


...Bersambung......


__ADS_2