
Kala itu, dengan mata sembabnya, Rachel seolah mematung memandangi langit yang sudah berubah warna menjadi lebih gelap.
"Salju pertama, bukankah harusnya ini menjadi moment paling romantis?" Gumam Rachel lirih dalam hati.
Rachel kembali menangis, kali ini dia benar-benar tidak tahan lagi untuk menahan semuanya, dia ingin mengeluarkan segala yang ia rasakan lewat tangisannya yang semakin tak terbendung.
Ia terus menangis tersedu-sedu di tengah hujan salju yang dinginnya semakin menyatu dengan tulang.
Arsen yang menyaksikan hal itu dari belakang, seketika ikut merasakan perih pada dadanya saat melihat Rachel mulai menangis sendirian. Dengan mata yang mulai berkaca-kaca, ia pun kembali melangkahkan kakinya dengan perlahan untuk mendekati Rachel.
"Jangan menangis lagi, aku disini." Gumam Arsen yang terus melangkah mendekati Rachel.
"Sudah berapa hari aku pergi, tapi kenapa rasanya justru semakin sakit saat jauh darimu Arsen Lim." Gumam Rachel di tengah tangisannya.
Rachel tiba-tiba teringat, dulu waktu ia kecil, ia pernah melihat Shea berteriak sekencang-kencangnya di atas balkon yang menghadap ke sungai saat sedang ada pertengkaran hebat dengan daddynya. Saat itu Rachel dengan polosnya menghampiri mommynya dan bertanya,
"Mommy kenapa berteriak sekeras itu? Apa lehernya tidak sakit?"
Saat itu Shea terkejut dengan kehadiran Rachel, ia pun langsung berlutut di hadapan Rachel demi menyetarakan kepala mereka.
"Sayangku, kamu tau tidak, kalau dengan berteriak dan menyampaikan apa yang kita rasakan di dalam hati kita, itu akan membuat kita lega?"
"Lega?? Benarkah bisa begitu mommy?"
"Iya sayang, jadi mommy berteriak hanya karena sedang ingin mengurai unek-unek saja, biar plong." Jelas Shea lagi.
"Ah ok mommy, apa aku boleh ikut berteriak??"
"Aaaa jangan sayang, kamu kan masih kecil, belum mengalami masa yang sulit. Nanti, saat kamu sudah besar, saat kamu mulai merasa sesak karena unek-unek, kamu boleh berteriak." Shea kemudian tersenyum sembari mencubit pelan pipi Rachel.
Lamunan Rachel pun buyar dengan di susul dengan ia yang langsung bangkit dari duduknya, ia dengan cepat mulai menyeka air matanya, menghela nafas beberapa kali.
Hal itu pula membuat langkah Arsen yang sudah semakin dekat dengannya ikut terhenti,
Setelah satu tarikan nafas panjang yang terakhir, seolah sedang mengumpulkan energy, akhirnya Rachel pun mulai berteriak kuat, menyuarakan isi harinya di tengah hujan salju yang mulai bergemurih, di tambah pula halaman belakang rumah berada di bukit, hingga membuat suara itu semakin menggema
"Arsen Lim!!! Aku tidak kuat menjalani ini sendiri!! Aku tidak mampu, dadaku sesak setiap hariiii!!! Aku rindu kamu!!!" Teriak Rachel yang seketika terdengar begitu menggema.
Arsen, tentu saja ia bisa mendengar hal itu, mengingat jaraknya hanya tinggal beberapa langkah saja dari Rachel. Seutas senyuman, terlihat mulai tercipta di bibirnya, meski saat itu matanya masih menatap sendu pada Rachel yang terlihat begitu rapuh.
"I miss you more!!" Jawab Arsen kemudian.
Rachel sontak terdiam, kedua bola matanya sontak terbelalak saat mendapat jawaban spontan atas apa yang di teriakinya. Rachel seketika berbalik badan, melihat sosok yang kini ada di hadapannya, membuat matanya semakin melebar seolah nyaris keluar dari sarangnya.
"Arsen Lim??!" Gumamnya tak percaya dalam hati.
Arsen melanjutkan langkahnya dengan tenang sampai kini ia pun tepat berada di hadapan Rachel, lebih tepatnya berada dalam jarak yang hanya beberapa jengkal.
"I miss you more Rachel Chou, pipi bakpao ku, istriku." Ucap Arsen lagi dengan pelan.
Rachel masih mematung, kedua matanya nampak mulai ikut berkaca-kaca, antara percaya dan tidak dengan apa yang ia lihat saat ini. Ia mulai berfikir jika ini hanyalah halusinasi, ia berfikir jika ia mulai gila, tapi Arsen wujudnya sangat nyata kala itu.
"Maaf!" Ucap Arsen yang mulai meneteskan air mata dari sebelah matanya.
"Maafkan aku," Tambahnya lagi yang kini mulai menundukkan pandangannya.
"Kurasa aku mulai gila sekarang, bayanganmu seakan terasa begitu nyata di hadapanku Arsen Lim." Gumam Rachel dengan sorot matanya yang masih menatap Arsen namun terasa tatapan itu kosong.
"No!! It's me, I'm real, touch me and feel it." Arsen dengan cepat membuka sarung tangannya dan langsung menyentuh kedua belah pipi Rachel.
Rachel kembali tercengang, pipi yang awalnya memerah karena suhu yang begitu dingin, mendadak menghangat saat mendapat sentuhan dari Arsen. Mata Rachel kembali membulat, perlahan ia mulai menyentuh tangan hangat itu dengan tangannya yang sudah terasa hampir beku sejak tadi, disertai pula dengan sorot matanya yang semakin lekat menatap mata Arsen.
"Arsen Lim, benarkah ini kamu?? Apa aku sungguh tidak berhalusinasi saat ini??"
Arsen mengangguk cepat.
"Ya, ini aku." Jawabnya yang kemudian tanpa basa basi langsung memeluk erat tubuh Rachel.
Rachel saat itu masih begitu speechless dengan keadaan, otaknya saat itu seolah ikut membeku seiring dengan dedaunan beku yang mulai berguguran.
"Kamu kah ini?? Ini sungguh kamu??" Tanya Rachel lagi seraya kembali menangis.
"Iyaa, ini aku, Arsen Lim, suamimu." Jawab Arsen sembari semakin mengeratkan pelukannya.
Saat itu Arsen juga ikut meneteskan air matanya, tentu saja kali ini air mata itu bukan lagi air padah kepedihan seperti sebelumnya. Melainkan air mata haru biru karena ia bisa kembali memeluk sang pengisi hati.
"Maafkan aku, maaf karena aku terlalu lama berfikir, maafkan aku karena membuatmu menunggu lama disini. Maaf." Ungkap Arsen lagi dengan nada seolah penuh dengan penyesalan.
Mendengar hal itu, Rachel segera melepaskan tautan tubuh mereka sembari menggelengkan kepalanya.
"No! Aku lah yang patut disalahkan, maka aku juga yang patut minta maaf. Maafkan aku, karena berani pergi begitu saja. Maafkan aku, I love you so much."
"No, I love you more than you!"
Rachel mulai tersenyum tipis, lalu kembali berbalik memeluk tubuh tegap suaminya, tubuh yang telah lama ia rindukan, aroma maskulin Arsen begitu nyata masuk ke rongga hidung, aroma yang begitu menenangkan, aroma yang juga begitu dirindukan oleh Rachel.
Arsen kembali melepaskan tautan tubuh yang entah sudah berapa lama saling mendekap, ia mulai menatap dalam wajah Rachel, wajah yang beberapa waktu belakangan sempat hilang dari pandangan matanya.
"Kembali lah! aku mohon, kembali ke sisiku, jangan pernah berani meninggalkan aku lagi! Anggap saja ini perintah, dari CEO BLue Light yang berkuasa, dengan begitu kamu tidak mungkin berani melanggarnya jika masih mau hidup tenang. Mengerti?!"
"Tapi,,, sayangnya saat ini kamu berada di Paris, disini aku lah yang mendominasi." Jawab Rachel sembari menyeka air matanya.
Arsen pun tersenyum geli melihat Rachel yang terharu namun masih bisa membantahnya.
"Tidak bisakah kamu patuh saja tanpa harus berkata seolah membuat harga diriku terusik." Arsen kembali meraih kedua pipi Rachel.
Lalu Rachel pun akhirnya mengangguk patuh.
"Iya, baiklah tuan muda, mulai saat ini aku akan patuh selalu."
"Gadis pintar." Arsen pun tersenyum, lalu perlahan tapi pasti, ia mulai mendaratkan bibirnya pada bibir Rachel yang mulai terasa dingin.
Rachel terdiam, seolah menantikan dan ingin menyambut segera bibir yang juga sudah pasti ia rindukan. Di tengah guyuran hujan salju yang turun ke bumi, kedua insan itu saling beradu, bertukar cairan mulut yang jauh dari kata menjijikan bagi keduanya. Arsen terus menjelajah seluruh isi mulut istrinya, memberi rasa hangat meski hanya sesaat.
__ADS_1
Namun secara mendadak, Rachel teringat akan satu hal, satu berita penting yang hampir ia lewatkan begitu saja. Satu hal yang sejak kemarin terus mengganjal, apalagi kalau bukan berita kehamilannya. Ia pun seketika melepaskan tautan bibir mereka, mulai menatap Arsen dengan sedikit ragu dan berkata,
"Sepertinya ada satu hal yang hampir ku abaikan."
"Apa?" Dahi Arsen pun mulai mengkerut.
"Apapun reaksimu setelah mengetahui ini, aku tidak peduli, hanya saja aku rasa aku perlu memberitahukan hal ini."
"Tentang apa? Katakan lah, jangan membuatku cemas." Arsen kembali meraih kedua pipi Rachel.
"Kamu tau aku begitu mencintaimu kan?" Tanya Rachel dengan matanya yang kembali berkaca.
Arsen mengangguk.
"Kamu tau aku hanya melakukan hal itu denganmu, suamiku."
"Ya, aku tau itu." Jawab Arsen.
Rachel terdiam sejenak, lalu mulai meraih sebelah tangan Arsen dan memindahkannya dengan perlahan ke perutnya.
"Disini, tepatnya di dalam sini, sedang tumbuh seorang malaikat kecil, darah dagingmu." Bisik Rachel yang kemudian mulai kembali meneteskan air matanya.
Sekarang gantian kedua mata Arsen yang terlihat membulat sempurna, lidahnya mendadak kelu, seolah tak bisa berkata apapun saat itu.
"Are you kiding me?" Tanya Arsen kemudian.
"No," Jawab Rachel pelan sembari menggelengkan kepala.
"Seriously? Be a father?"
"Ya." Kali ini Rachel mengangguk, bibirnya tersenyum tipis meski air matanya tetap saja menetes.
"Are seriously????!!" Tanyanya lagi sembari memegang erat kedua lengan Rachel.
Rachel kembali mengangguk dan kembali menangis. Saat itu Rachel berfikir jika Arsen tidak bisa menerima kenyataan itu, segala macam pikiran buruk pun telah berutar-putar di otaknya kala itu.
Tapi nyatanya, ternyata diluar ekspetasi Rachel sendiri, reaksi Arsen justru jauh dari prediksi.
Arsen kemudian dengan cepat langsung memeluk lagi tubuh Rachel, memeluknya bahkan sangat erat.
"Tolong katakan sekali lagi," Pinta Arsen dengan suara pelan.
"Aku hamil, anakmu!"
Arsen pun tersenyum lebar, diiringi dengan semakin kuatnya ia memeluk istrinya itu.
"Apa kamu senang?"
"Sangat, bahkan jika ada kata yang melebihi itu, akan aku utarakan saat ini." Jawab Arsen.
"Terima kasih, terima kasih banyak. Kamu menyempurnakan hidupku." Tambahnya lagi.
Rachel sangat merasa lega, seolah berton ton beban yang sebelumnya terasa berat di pundak, kini seketika langsung lenyap begitu saja, kehadiran Arsen benar-benar mempu mengubah seluruh keadaan jadi jauh lebih baik, bahkan salju pertama pun turun seolah menyambut kedatangannya.
"Aaaaaaaa." Teriak Rachel yang juga akhirnya ikut girang. Seluruh masalahnya lenyap seolah terbawa angin, tak berbekas.
Tanpa mereka sadari, Shea dan juga Martin yang juga baru tiba di Villa, memandangi mereka dari depan pintu belakang, senyuman haru pun tak ketinggalan mereka tampilkan.
"Arsen benar-benar seorang yang gantle, aku benar-benar salut dan tidak jadi kecewa padanya," celetuk Martin yang tersenyum sembari mulai merangkul Shea.
Shea hanya tersenyum, melihat putrinya kembali tertawa lepas seperti saat itu, benar-benar membuatnya sebagai seorang ibu merasa sangat lega, dan tentunya juga merasa bahagia.
Martin yang kedinginan akhirnya mengajak Shea untuk masuk, dan membiarkan kedua insan itu saling melepas rindu.
"I Love you," Ucap Arsen yang kemudian mengecup singkat bibir Rachel.
"Aku lebih mencintaimu."
Tak tahan udara yang semakin dingin, Rachel membawa Arsen untuk masuk, bukan hanya sekedar masuk ke ruang tamu atau ruang keluarga untuk menghangatkan diri di dekat tungku perapian, namun Rachel langsung membawa Arsen menuju kamarnya. Kedua insan yang saling dilanda rindu, saat baru saja kembali bertemu, tentu saja punya cara sendiri untuk menghangatkan diri satu sama lain, bukan dengan api unggun, melainkan dengan cara lain di atas ranjang.
Begitu pintu di tutup, Arsen dengan cepat menerkam bibir dingin Rachel, memberinya kehangatan dengan terus mengecap bibir itu dari berbagai arah. Arsen membuka dan menjatuhkan mantel hangatnya begitu saja, lalu membantu Rachel untuk membuka mantelnya tanpa melepaskan tautan bibir itu sedetik pun. Arsen terus menggiring tubuh mungil itu sampai ke ranjang, menjatuhkannya dengan pelan dan langsung menindihnya dalam keadaan bibir yang masih sibuk mencecap bibir mungil istrinya.
Salju pertama benar-benar membuktikan keromantisannya bagi mereka berdua, di tengah hujan salju yang mendera, mereka memadu kasih, memadu cinta seolah dua singa yang sedang saling memangsa, sangat menggebu.
Bunyi dari jendela yang kala itu masih terbuka akibat diterpa angin, seolah saling bersahut sahutan dengan bunyi dari kedua inti yang mulai menyatu dengan gerakan keluar masuk yang berirama dan sedikit cepat. Di tambah pula dengan suara ******* seksi Rachel yang mengalun indah, menggema di ruangan itu, turut menambah suasana menjadi lebih hangat.
2 Minggu kemudian...
Waktu dua minggu rasanya telah cukup bagi Arsen untuk berbulan madu dengan Rachel, mengelilingi Negara Pranciss dan negara-negara di eropa sekitarnya. Kini pesawat yang mereka tumpangi telah mendarat dengan sempurna di kota dimana mereka berasal. Kedatangan mereka di sambut haru oleh Benzie dan keluarganya di bandara terkecuali Alex dan Tere. Mereka tidak bisa ikut menjemput karena mereka juga sedang membawa anak tunggal mereka berlibur ke luar kota.
Yuna memeluk hangat tubuh Rachel, lalu mulai mengusap-usap perutnya yang masih saja terlihat rata. Yuna dan yang lainnya tau karena sebelumnya Arsen telah melakukan video call dan memberitahukan berita bahagia itu pada mereka.
"Ah ayolah kita pulang, kita tidak perlu berlama-lama disini kan, kasihan Rachel dia pasti kelelahan." Celetuk Yuna sembari merangkul Rachel.
"Ya mama benar, istriku tidak boleh kelalahan, karena dia sedang mengandung calon penerus keluarga Lim," Jawab Arsen kemudian.
Begitu mereka berbalik arah, tak sengaja troly yang di bawakan oleh Benzie menabrak troly milik satu pasangan yang juga sedang berlalu lalang.
"Oh sorry." Ucap Benzie dengan tenang.
Namun Benzie sejenak terdiam saat memandangi kedua orang itu, begitu pula dengan Yuna yang juga cukup dibuat tercengang.
"Katy???!" Tanya Yuna.
Wanita itu langsung menoleh, dengan matanya yang kemudian juga membulat sempurna.
"Yuna??!" Ucap seorang lelaki yang berada di samping Katy.
Melihat lebih dalam lelaki itu, membuat Yuna dan Benzie lebih syok lagi, dan di antara pembaca ini apakah ada yang bisa menebak siapa gerangan lelaki di samping katy.
Dan ya, lelaki tegap di samping katy adalah seorang Marcus.
"Marcuss???!" Ucap Benzie dan Yuna secara serentak.
__ADS_1
"Tuan muda Benzie, Yuna? Ini sungguh kalian??" Katy dengan rasa tak percaya langsung menghampiri Yuna.
Setelah berbincang singkat, akhirnya Benzie yang sejak awal di buat cukup syok dan penasaran, mulai bertanya.
"Tapi, bagaimana bisa kalian....???"
"Katy yang mengerti, akhirnya terkekeh geli dan kembali menggandeng marcus yang sejak tadi banyak diam.
"Yuna, apa kau ingat dulu aku pernah bercerita tentang wanita yang dulu pernah begitu aku cintai?"
Yuna pun mengangguk.
"Inilah dia wanita brengsek itu. Dia yang memang terlahir matre, meninggalkan aku yang saat itu belum kaya demi mencari lelaki kaya." Jelas Marcus tanpa basa basi.
"Hei, kau yang brengsek tau tidak." Ucap Katy melotot.
"Diam kau matre." Ketus Marcus,
Yuna dan Benzie nampak tercengang melihat dua sejoli yang saling mencaci namun masih bisa bergandengan tangan dengan mesra.
"Dia berganti nama menjadi katy, entah dia dapat dari mana nama aneh itu, yang jelas namanya dulu adalah Rossa." Jelas Marcuss lagi.
"Jadi akhirnya kalian kembali dipertemukan dan memutuskan untuk kembali bersama? Begitu?" Tanya Benzie.
"Eeeemm ya, aku tak sengaja melihatnya sedang berjualan bunga di pinggir jalan, aku merasa tidak tega dan akhirnya memungutnya." Jawab Marcus santai.
"Hei brengsek! Bicaralah yang benar, jangan bicara seperti itu pada mereka."
"Marcus, ternyata masih menaruh hati padaku, dan akhirnya kami memutuskan untuk menikah dan kembali bersama. Dan sekarang, kami baru saja ingin pergi berlibur." Jelas Katy.
Oh ya, kalau begitu selamat berlibur, safe flight ya kalian.
"Ah yuna, terima kasih banyak, kamu masih saja ramah seperti dulu ya." Celetuk Katy yang meski juga sudah paruh baya, namun tetap terlihat centil.
"Tolong jangan tunjukan sikap centil yang menjijikan itu di hadapanku." Gumam Marcus nampak geli pada kelakuan istrinya.
Namun katy nyatanya adalah pawang Marcus, ia sama sekali tidak ambil pusing dengan ucapan itu.
" Dan ini...??" Tanya Katy saat melirik Arsen.
"Oh hai tante, perkenalkan aku Arsen Lim,"
"Arsen Lim, oh my god, dia anakmi Yuna?"
Yuna pun hanya mengangguk saja.
"Oh gosh, dia sangat tampan, sama tampannya seperti papanya saat muda dulu."
Mendengar itu Benzie hanya tersenyum tipis serta mendengus.
Tak lama panggilan operator pun terdengar, mereka harus pergi untuk menaiki pesawat. mereka pun akhirnya berlalu pergi, meninggalkan Yuna dan Benzie yang nampaknya masih begitu tak menyangka dengan kebenaran yang baru mereka lihat.
"Astaga Yuna, sudah berumur tapi kenapa dia masih terlihat cantik, dia bahkan terlihat lebih anggun sekarang." Celetuk Marcus tanpa segan di hadapan katy.
"Hei jaga bicaramu! Jika bilang seperti itu lagi maka akan aku gigit lidahmu!" Ketus katy yang nampak cemburu.
Beberapa hari kemudian...
Setelah makan siang, Benzie membawa Yuna, Arsen, Lylia, dan Rachel ke suatu tempat yang tak lain ialah club malam milik keluarga mereka.
"Untuk apa papa membawa kami kesini?" Tanya Arsen bingung.
"Iya, untuk apa kesini? Siang-siang begini?" Tambah Yuna yang juga terlihat bingung.
"Papa ingin memberitahukan kalian, jika club ini sudah papa jual, dan uangnya akan disumbangkan seluruhnya ke berbagai panti asuhan dan panti jompo yang ada di kota ini. Ini sesuai saranmu dulu, dan sesuai permintaan nenek Maria." Jelas Benzie.
Arsen terkejut begitu pula dengan yang lainnya, karena akhirnya Benzie merelakan club malam yang sejujurnya paling mendatangkan banyak keuntungan bila dibandingkan usaha mereka yang lainnya.
"Papa yakin? Bukankah ku dengar belakangan ini club malam ini semakin bertambah ramai?"
"Itu benar, tapi jika tidak sekarang, lalu kapan lagi menjalani amanat itu?"
Arsen pun memeluk Benzie, benar-benar sangat merasa bangga pada papanya itu.
Tak lama beberapa orang terlihat memanjat ke atas gedung club untuk melepaskan logo dari blue light, dan akan menggantikannya dengan nama baru.
"Apakah ini hanya berlaku pada club ini saja?" Tanya Rachel kemudian.
"Tidak nak, seluruh club milik blue light, dimana pun itu, akan di jual." jawab Benzie.
Arsen pun tersenyum, lalu merangkul Rachel dengan mesra, Benzie hanya bisa memandangi bagaimana para orang suruhannya mulai melepaskan dan menurunkan satu persatu huruf yang berukuran sangat besar itu. Ada banyak kenangan di club itu, ada banyak kisah, terutama kisahnya bersama Yuna, yang berawal dari sana, namun sekarang ia harus merelakan itu demi menjalankan amanah sang nenek agar menjalankan usaha yang benar-benar lurus saja.
Dengan itu pula, Benzie pun telah resmi menyerahkan seluruhnya pada Arsen untuk ia kelola sendiri tanpa ada campur tangan sedikit pun lagi darinya. Ia ingin fokus pada hidupnya dan Yuna saat ini, ingin banyak menghabiskan waktu bersama Yuna di rumah, berlibur, dan melakukan banyak aktivitas di luar kantor.
"Sekarang giliranmu yang berjuang nak, papa serahkan semuanya padamu, tolong kendalikan kerajaan bisnis yang sudah lama berdiri ini, jangan buat mendiang kakekmu kecewa." Ucap Benzie sembari menepuk pundak Arsen.
Arsen pun mengangguk tegas.
"Papa bisa mengandalkan aku, percaya lah." Jawab Arsen.
"Ya, papa yakin kamu bisa lebih dari papa."
Yuna sangat terharu, Benzie benar-benar sudah menjadi suami idaman selama ini, benar-benar selalu mengutamakan dirinya, tidak berubah dari waktu ke waktu. Yuna memeluknya erat, begitu pula dengan Arsen, ikut memeluk mama dan papanya, lalu di susul pula dengan Lylia yang juga ikut menangis haru.
"Hei nak, apa yang kamu lihat? Apa kamu tidak ingin bergabung?" Tanya Benzie pada Rachel.
Rachel pun tersenyum lebar dan akhirnya ikut memeluk erat tubuh keluarganya, keluarga barunya.
Tentunya banyak hal yang Rachel pelajari dari keluarga barunya, contohnya adalah sebuah kesetian dan tanggung jawab. Keluarga Arsen adalah keluarga yang menjunjung tinggi dua hal itu, setia dan tanggung jawab. Itulah sebabnya, power perusahaan mereka juga tidak terkikis oleh jaman, justru semakin berdiri kokoh dan berkembang hingga saat ini.
Kini Rachel telah masuk ke dalam bagian dari keluarga Lim, hidup rukun, tanpa adanya masalah yang berarti. Rachel menjalani masa-masa kehamilannya dengan bahagia dan penuh rasa syukur karena Arsen setiap hari terus menghujaninya dengan banyak kasih sayang serta perhatian yang terkadang berlebihan. Bahkan Arsen selalu saja memberikan berbagai hadiah meski tanpa Rachel minta sekalipun, benar-benar suami idaman. Rachel pun berjanji pada dirinya sendiri, tidak akan pernah mau berbohong tentang apapun lagi, sekecil apapun tidak akan pernah mau berbohong.
...- TAMAT -...
__ADS_1