Pewaris Tahta

Pewaris Tahta
Eps 158


__ADS_3

Sore hari...


Sore itu, Arsen terlihat sedang berdiri seorang diri di balkon apartementnya, dengan tatapannya yang menatap kosong ke arah pemandangan perkotaan yang di sajikan dari atas gedung.


Tak lama, Rachel pun terlihat muncul dan berdiri tepat di sampingnya.


"Pilihanmu dalam memilih hunian sungguh sangat strategis, itu terbukti dari pemandangan yang disajikan dari balkon apartement itu memang begitu pas dan indah." Celetuk Rachel yang mulai memandangi keindahan pemandangan senja di tambah dengan hembusan angin sepoi-sepoi yang mulai mengibas-ngibaskan rambutnya yang panjang.


"Besok aku sudah harus masuk kantor." Ucap Arsen datar tanpa menoleh sedikit pun ke arah Rachel.


Mendengar hal itu membuat Rachel seketika langsung menoleh ke arah Arsen dengan tatapan yang tak biasa.


"Besok?!"


"Emm." Jawab Arsen pelan.


Membuat Rachel sejenak jadi terdiam, dalam hatinya benar-benar merasa sedih hingga membuat matanya seketika mulai berkaca-kaca, karena harapannya untuk honeymoon kini benar-benar kandas.


Rachel pun akhirnya menghela nafas panjang, mengusap matanya agar air mata yang sejak tadi mulai tergenang, tak jatuh ke pipinya.


"Emmm baiklah, kalau begitu aku juga akan ikut masuk kerja mulai besok." Ucap Rachel yang akhirnya kembali memunculkan senyumannya.


"Sebaiknya kamu tidak perlu bekerja lagi di kantor."


"Hah?! Ta, tapi kenapa?" Mata Rachel pun kembali membulat sempurna.


"Kamu memulai pekerjaanmu sebagai Sekretarisku dengan sebuah kebohongan besar, kamu memalsukan identitasmu, yang ternyata hal itu akhirnya di permudah oleh papaku sendiri hingga kamu bisa dengan mudah masuk ke Blue Light tanpa seleksi seperti yang lainnya. Kurasa itu sangat tidak adil bagi yang lain."


"Dalam hal itu aku memang bersalah, tapi aku juga cukup berbakat di bidang itu, itu terbukti dari beberapa proyek besar yang telah kita dapatkan karena presentasiku."


"Tapi tetap saja, untuk melanggar prinsip dari perusahaan itu sendiri. Blue Light sejak dulu selalu memegang prinsip, bahwa setiap karyawan yang bisa bekerja disana hanyalah yang terbaik, yang telah melalui beberapa seleksi tanpa adanya sogokan atau bantuan orang dalam." Jelas Arsen lagi.

__ADS_1


Membuat Rachel jadi terdiam sejenak dengan bibirnya yang manyun.


"Diam mu ini, berarti ku anggap kamu setuju. Besok aku akan suruh uncle untuk membuatkan surat pengunduran dirimu, dan memintanya untuk mencarikan penggantimu secepatnya."


"Ma, maksudmu kamu akan menggantikan aku dengan perempuan lain? Begitu?" Mata Rachel pun kembali melotot.


"Ya, lebih tepatnya menggantikan posisimu sebagai Sekretaris pribadiku."


"Oh ya tuhan, terserah bagaimana kamu mau menilaiku. Tapi aku rasanya benar-benar tidak bisa membayangkan jika ada wanita lain yang berada di sisi Arsen setiap hari dan mendapinginya kemana pun ia pergi. Aaaaa aku tidak mau." Gumam Rachel dalam hati.


"Tidak, aku tidak mau!" Tegas Rachel sembari setengah berteriak.


"Ada apa denganmu ha?" Tanya Arsen saat terkejut karena teriakan Rachel.


"Aku tidak mau ada yang menggantikan posisiku, baik di rumah maupun di kantor. Pokoknya mulai besok aku akan tetap bekerja sebagai Sekretaris Arsen Lim."


"Astaga, kenapa masih saja ngotot, mending kamu di rumah saja."


"Tolong jangan begini Arsen Lim, kamu tau aku cemburu jika ada wanita lain yang nantinya akanselalu berada di sisimu, oh tidak bisa, membayangkannya saja sudah membuatku ngeri." Rachel pun meraih tangan Arsen dan menatapnya dengan begitu lirih.


"Ya sudah, aku akan tetap datang besok. Kau dengar itu Arsen Lim? Aku Rachel Chou, akan tetap menjadi istri sekaligus Sekretaris mu di kantor!" Teriak Rachel.


Namun Arsen tak menggubrisnya, ia terus saja melangkah masuk ke dalam, meninggalkan Rachel yang masih begitu menggebu.


"Lihat saja, aku tidak perduli dan aku akan tetap bekerja sebagai Sekretarisnya di kantor." Gumam Rachel lagi seorang diri sembari tersenyum.


Sementara Arsen terus berjalan cepat menuju ruang kerjanya, lalu ia pun langsung menghempaskan kasar tubuhnya di sebuah kursi kerjanya.


"Kenapa wanita itu begitu keras kepala?!" Keluh Arsen sembari mengusap kasar ujung kepalanya.


Arsen dengan lesu pun kembali melirik ke arah tong sampah, tempat dimana ia membuang seluruh hadiah yang diberikan Antony untuk istrinya.

__ADS_1


"Jika dia terus menjadi Sekretarisku, maka besar kemungkinannya dia akan terus bertemu dengan lelaki itu. Jika terus bertemu, siapa yang bisa menjamin dia tidak di ganggu lagi oleh Antony?!" Gumam Arsen dalam hati.


"Haaais, bagaimana mengatakannya agar dia patuh dan berhenti bekerja?? Tidak mungkin aku mengatakan terus terang padanya jika aku cemburu bila ia terus bertemu dengan Antony meski sebagai rekan kerja" Tanya Arsen lagi yang kembali mengacak-acak rambutnya.


Kala itu, hari semakin petang, bias jingga pun semakin nyata menampilkan keelokannya di langit senja. Saat itu Rachel masih berdiri seorang diri di balkon dan tiba-tiba teringat tentang hadiah perjalanan honeymoon yang telah disiapkan oleh kedua orang tuanya. Tak lama, ia pun meraih ponselnya dari saku celana. Mencari kontak yang bertuliskan "Mommy" dan kemudian segera ia telpon,


"Mommy"


"Sayang, ada apa? Bagaimana? Kalian setuju untuk pergi kan?" Tanya Shea yang seolah nampak tak sabaran.


"Iya mommy, aku menelpon memang untuk membahas hal itu." Jawab Rachel dengan suara begitu pelan.


"Aaa benarkah? Lalu bagaimana? Kalian setuju untuk pergi kan?" Tanya Shea lagi yang kedengarannya begitu bersemangat.


"Maaf mommy." Ucap Rachel lirih.


"Maaf?" Dahi Shea yang mendengar hal itu sontak langsung mengernyit.


Saat itu, rasanya Rachel ingin kembali menangis dan menceritakan semuanya, rasanya ia ingin sekali menumpahkan segala isi hati dan unek-unek yang ia rasakan saat itu, ingin sekali ia memberitahukan pada orang tuanya betapa inginnya ia pergi berbulan madu dengan orang yang ia cintai.


Namun Rachel akhirnya menarik nafas panjang, ia memilih untuk tetap bungkam dan menutupi masalah keluarganya.


"Maaf mommy, sepertinya kami belum bisa pergi kemana-mana dulu untuk saat ini." Jelas Rachel yang tetap berusaha bersikap tenang.


"Hah?! Apa?!"


"Iya mommy aku dan suamiku sungguh minta maaf. Ada beberapa pertemuan penting dengan klien besar yang tidak bisa di hindari dalam waktu dekat ini. Jadi kami memutuskan untuk menyelesaikan pekerjaan lebih dulu baru pergi berlibur."


"Tapi tadi Arsen tidak berkata apapun."


"Iya, sepertinya dia lupa jika ada jadwal meeting yang mendesak. Jadi sekali lagi aku mohon maaf mommy, tolong tiket dan bookingan hotelnya di refund saja mommy." Ucap Rachel dengan sangat hati-hati.

__ADS_1


Membuat Shea jadi sejenak terdiam, dengan segala macam pikiran yang kini mulai kembali di penuhi dengan tanda tanya.


...Bersambung......


__ADS_2