Pewaris Tahta

Pewaris Tahta
Eps 115


__ADS_3

Kala itu, Arsen sungguh terlihat begitu tampan saat dibaluti dengan setelan jas hitam, rambutnya pun di sisir begitu klimis, sungguh berbeda dari biasanya. Membuat Rachel yang memandangnya refleks tersenyum.



"Kenapa malam ini dia terlihat jauh lebih tampan saat berpakaian seperti itu." Gumam Rachel dalam hati.


Begitu pula dengan Arsen Lim, ia pun tak kalah di buat terperangah saat mendapati Rachel yang juga nampak begitu cantik nan anggun saat gaun hitam pemberiannya membaluti tubuh mungilnya di tambah rambut panjangnya yang ia biarkan terurai, sungguh membuat Arsen seketika terpana.


"Apakah dia sungguh secantik ini?" Tanya Arsen dalam hati yang seolah begitu tak menyangka.


Namun akhirnya Rachel pun tersadar dari lamunan singkatnya, dengan tatapannya yang masih terlihat begitu bingung, Rachel pun terus berjalan menghampiri lelaki yang belum lama menjadi kekasihnya itu.


"Ada apa ini? Kenapa untuk makan malam saja harus begitu formal seperti ini?" Bisik Rachel pelan sembari matanya terus melirik ke sana kemari.


Malam itu, Restaurant memang nampak begitu ramai pengunjung, tak sedikit pula pasang mata yang terus memandangi ke arah mereka hingga membuat Rachel sedikit merasa tak nyaman.


Tidak ada jawaban yang keluar dari mulut Arsen atas pertanyaan Rachel itu, Arsen hanya memilih terus tersenyum sembari mulai memunculkan apa yang sejak tadi ia sembunyikan di balik tubuh bidangnya.


"Ini untukmu." Ucapnya lembut saat memunculkan sebuket bunga mawar merah yang sudah ia pesan di toko bunga langganan Yuna.


Rachel pun seketika tertegun memandangi bunga yang indah itu.


"Ini,,, ini untukku?" Tanya Rachel masih seolah tak menyangka.


Arsen yang kala itu masih tersenyum hanya mengangguk.


Rachel pun perlahan menerimanya, lalu mulai memandanginya serta mengendus aromanya yang begitu harum.


"Atas dasar apa kamu memberiku bunga?" Tanya Rachel sedikit malu-malu.


"Duduk lah dulu." Jawab Arsen sembari mulai menggeserkan kursi untuk Rachel.


Rachel pun duduk, dan tak lama, beberapa pelayan langsung saja datang untuk menghidangkan beberapa menu makanan yang menjadi favorit Rachel. Membuat Rachel lagi-lagi merasa bingung serta keheranan dengan hal itu. Karena jujur saja, Rachel baru sekali ini benar-benar menjalin hubungan dengan seorang pria, dan ia sama sekali tak punya pengalaman apapun, itulah sebabnya ia masih nampak canggung.


"Dan kamu pun sudah memesan semua makanan yang kusuka?" Tanya Rachel sembari memandangi menu hidangannya yang sudah tersusun rapi di atas meja.


Lagi-lagi Arsen hanya tersenyum dan mengangguk.


Beberapa batang lilin di atas meja mereka pun turut menemani, membuat suasana makan malam itu jadi terkesan romantis.


"Ayo makan." Ucap Arsen kemudian.

__ADS_1


Sekarang giliran Rachel yang mengangguk, mereka pun akhirnya mulai menyantap makanannya seperti biasa. Sepanjang mereka makan, Arsen nampak jadi lebih pendiam dari biasanya, membuat Rachel juga keheranan atas itu namun saat itu ia memilih untuk tidak mempertanyakannya.


Makan malam selesai, sikap Arsen pun semakin terlihat aneh, beberapa butiran keringat mulai terlihat di dahinya yang padahal di dalam ruangan itu begitu dingin, ia seolah terlihat gugup hingga beberapa kali ia harus meneguk air minumannya.


"Kamu kenapa? Kamu terlihat aneh malam ini, apa kamu sakit?" Tanya Rachel sembari mengernyitkan dahinya.


"Oh tidak, sama sekali tidak."


"Tapi kamu terlihat berkeringat padahal ruangan ini begitu sejuk. Pasti kamu sakit, tolong jangan menyembunyikannya dariku, sudah lah, ayo kita pulang saja." Rachel pun seketika bangkit dari duduknya.


Ia menjulurkan tangannya untuk mengajak Arsen pulang bersamanya.


"Tidak!" Jawab tegas Arsen yang ikut bangkit seketika.


"Ma, maksudku tunggu, ada sesuatu yang ingin aku tanyakan padamu."


"Apa sebuah pertanyaan serius? Karena jika tidak, kamu tanyakan nanti saja saat di mobil." Rachel kembali ingin menarik tangan Arsen.


Namun lagi-lagi Arsen menghentikan Rachel dengan jawaban yang ia lontarkan.


"Ini hal yang serius!"


"Bahkan sangat serius." Tambah Arsen lagi sembari membalas tatapan Rachel dengan begitu lekat.


"Arsen Lim, ada apa? Tolong jangan membuatku takut." Ekspresi Rachel pun terlihat nampak cemas.


Arsen pun terdiam sejenak, saat itu ia benar-benar sedang mempersiapkan mentalnya untuk melamar Rachel di hadapan semua orang yang ada di restaurant itu.


"Arsen Lim, kenapa diam saja? Jawab aku!"


Arsen pun menghela nafas panjang, lalu ia mulai memandangi ke sekitarnya yang semakin nampak ramai pengunjung. Lalu ia pun perlahan mulai berlutut di hadapan Rachel, membuat mata Rachel seketika mendelik.


"Arsen Lim, apa yang kamu lakukan? Ayo bangun lah!" Bisik Rachel sembari ikut memandangi ke sekitarnya.


Saat itu, seluruh pasang mata yang tengah berada di ruangan restaurant yang megah itu sontak menyorot ke arah mereka.


"Bella, I think I love you, dan ku pikir juga, kamu adalah orang yang tepat untukku menghabiskan sisa umurku. So, will you marry me?" Tanya Arsen sembari mulai memunculkan sebuah cincin ke hadapan Rachel.


Hal itu pun kembali membuat mata Rachel bahkan semakin membulat sempurna, bahkan saking terkejutnya dengan aksi Arsen pada malam itu, mulutnya pun sampai di buat menganga tanpa ia sadari.


"Arsen Lim, benarkah ini?" Tanya Rachel begitu pelan, ia seolah masih begitu tak menyangka.

__ADS_1


Mata Rachel seketika dibuat berkaca-kaca, perasaan haru tiba-tiba saja menyelimuti jiwanya.


Ruangan yang sebelumnya tampak begitu hening saat Arsen mengutarakan isi hatinya, kini berubah menjadi kisruh.


"Terima,,, terima,,, terima,,, terima,,." Suara sorak-sorakan para pengunjung yang meminta Rachel untuk menerima lamaran Arsen pun terus menghiasi telinga Rachel.


"Tunggu apa lagi? Ayo terima!" Teriak salah satu pengunjung.


Rachel pun kembali menatap Arsen yang saat itu masih berlutut di hadapannya.


"Kenapa masih diam saja? Apa kamu sungguh ingin membuatku sakit pinggang karena berada di posisi seperti ini terlalu lama?" Bisik Arsen lagi.


Mendengar hal itu membuat Rachel jadi menahan tawanya.


"Oui, je veux." Jawab Rachel sembari mengangguk.


Dahi Arsen langsung mengkerut saat mendengar jawaban Rachel yang menggunakan bahasa Prancis.


"Apa kamu sungguh meledekku? Apa aku harus membuka kamus terlebih dulu untuk mengetahui arti dari jawabanmu?"


Lagi-lagi Rachel pun harus menahan tawanya.


"Artinya, yes, I do." Jawab Rachel.


Membuat Arsen seketika tersenyum begitu manis, lalu ia pun menjulurkan tangannya yang satunya lagi.


"Berikan tanganmu." Ucapnya lembut.


"Aku akan memberikan tanganku setelah kamu berdiri."


Arsen pun akhirnya langsung bangkit, dan berdiri di hadapan Rachel, Rachel yang semakin gugup pun langsung memberikan tangannya, kini sebuah cincin berlian yang begitu indah telah melingkar sempurna di jari manis Rachel.


Rachel pun mulai menjatuhkan air mata bahagianya dan langsung memeluk hangat tubuh Arsen begitu saja. Membuat Arsen kembali tersenyum, ia pun membalas pelukan hangat Rachel sembari mengusap lembut punggung wanita yang sudah menjadi calon istrinya itu.


"Horeeee.." suara sorakan disertai tepukan tangan dari orang-orang ramai di ruangan itu pun kembali terdengar.


"Apa hal ini bisa membuatmu sedikit lebih yakin padaku?" Tanya Arsen pelan.


Rachel pun seketika melepaskan tautan tubuh mereka, sembari menatap lekat mata Arsen, ia pun kembali menganggukkan kepalanya.


...Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2