
Suapan perdana, saat indera perasa Rachel untuk pertama kalinya menyentuh nasi goreng buatan Arsen.
"Aaaaaa enak." Celetuknya dengan nada bicara yang sangat manja.
Arsen pun tersenyum, lalu mulai menuangkan susu ke dalam gelas, dan mendekatkannya pada Rachel.
"Kamu makan lah yang tenang, jangan lupa susunya juga diminum." Ucapnya sembari mulai beranjak.
"Ehh ka,, kamu mau kemana suami?"
"Aku harus siap-siap untuk ke kantor."
"Tapi kamu bahkan belum memakan sarapan sesendok pun, dan aku, aku juga belum siap-siap" Wajah Rachel pun mulai terlihat murung dengan bibirnya yang manyun.
Lalu Arsen mulai melangkah mendekatinya, tiba-tiba saja ia duduk berlutut di hadapan Rachel begitu saja, membuat kedua wajah mereka menjadi sejajar, kedua mata Rachel membulat dan ia pun terkejut saat Arsen melakukan hal tak terduga seperti itu.
"Su, suami, apa yang kamu lakukan? Kenapa berlutut??"
Arsen dengan tenang mulai meraih kedua tangan Rachel, lalu menatapnya dengan begitu dalam, perlahan sebelah tangan Arsen mulai berpindah ke pipi Rachel, ia membelainya dengan begitu lembut dan penuh kasih sayang.
"Jangan pernah menampilkan raut wajah seperti itu lagi di hadapanku, karena aku sangat tidak sanggup untuk melihatnya." Ungkap Arsen dengan begitu lembut.
Membuat Rachel sejenak hanya bisa terdiam memandangi wajah orang yang begitu dicintainya itu.
"Lagi pula, aku memasak memang khusus untukmu, aku harus segera pergi ke kantor, karena sebenarnya aku sudah sangat kesiangan,"
"Tapi kamu bos nya, terlambat juga tidak apa."
"Manabisa begitu, papaku selalu mengatakan, jika kita sebagai pimpinan berani membuat peraturan untuk selalu datang tepat waktu, maka kita lah orang yang paling pertama harus memberikan contoh pada bawahannya. Begitu cara seorang pimpinan yang bijaksana." Jelas Arsen dengan lembut sembari sebelah tangannya terus membelai lembut pipi Rachel.
"Eeemm baiklah." Ucap Rachel dengan bibirnya yang masih terlihat manyun.
"Kamu tentu akan mendukungku kan untuk menjadi pimpinan yang baik?"
"Tentu saja."
"Maka berikan aku senyuman, karena jika bibirmu masih terus manyun begini, rasanya aku sulit beranjak dari sini."
"Emm baiklah, aku juga mau siap-siap kalau begitu." Rachel pun tersenyum dan kembali bangkit dari duduknya.
Tapi seketika ia kembali meringis dan dengan spontan memegangi area kwanitaannya lagi.
"Aaaaww."
"Kenapa? Kamu kenapa?" Arsen pun seketika nampak cemas.
"Sakit." Jawab Rachel lirih.
"Sa,, sakit?? Yang mana yang sakit?" Arsen terlihat mulai panik.
"Haais, masih saja bertanya, kamu tentu tau mana yang sakit."
Arsen pun terdiam dan akhirnya mengerti setelah melihat tangan Rachel.
"Astaga, apakah masih sesakit itu? Aku sungguh minta maaf, maafkan aku karena semalam aku...."
"Ssssttt" Rachel seketika menempelkan jari telunjuknya di bibir Arsen seolah menyuruhnya untuk diam.
"Tidak perlu meminta maaf, meski sangat sakit, tapi aku pun menikmatinya." Ucap Rachel jujur.
"Ka,, kamu menikmatinya?" Suara Arsen pun terdengar semakin pelan.
Rachel pun mengangguk sembari menahan senyumnya karena merasa sedikit malu.
"Sungguh??" Arsen juga mulai ingin kembali tersenyum.
Rachel pun kembali mengangguk.
__ADS_1
Namun Arsen seketika tersadar dan seketika menepis pikirannya yang mulai traveling.
"Ah astaga, kenapa aku kembali memikirkannya disaat keadaanmu begini." Arsen pun mengusap kasar wajahnya.
"Emm Baiklah, aku akan segera memanggil dokter spesialis datang kemari. Dan kamu, kamu tidak perlu bekerja, istirahat lah di rumah. Aku akan meminta lilya untuk datang menemanimu disini, ku usahakan setelah meeting dengan klien selesai, aku akan langsung pulang." Tegas Arsen lagi.
Namun mendengar hal itu, Rachel justru semakin memanyunkan bibirnya seolah tanda kurang setuju. Namun Arsen yang menyadari hal itu, kembali meraih kedua pipinya dan menatapnya lagi dengan lekat.
"Aku mohon kali ini saja jangan keras kepala, patuh lah,, yaaa."
"Eeemm baiklah suami." Rachel pun kembali melesu.
"Istri pintar." Arsen pun akhirnya semakin mengembangkan senyumannya dan kembali mengusap ujung kepala Rachel.
Sementara Rachel hanya bisa diam dan terduduk lesu.
"Sekarang, kamu lanjutkan makannya ya, aku akan marah jika kamu tidak menghabiskannya."
Arsen akhirnya beranjak pergi menuju kamar, meninggalkan Rachel yang masih terduduk lesu di meja bar sembari memandang lesu sisa makanannya,
Beberapa menit berlalu, Rachel kembali menyusul Arsen ke kamar dan kembali terduduk di tepi ranjang. Saat itu Arsen sudah terlihat rapi dengan setelan jasnya dan siap untuk berangkat.
"Aku sudah menelpon dokter dan juga Lylia, dalam waktu dekat mereka akan datang. Dan ini, kamar ini, kamu tidak perlu membereskannya, karena aku juga sudah menelpon pegawai kebersihan apartement ini. Kamu hanya perlu berbaring dan beristirahat yang cukup ya."
Rachel hanya mengangguk patuh.
"Baiklah, aku sungguh harus pergi sekarang, klien ternyata sudah tiba di kantor sejak lima menit yang lalu, jadi aku harus segera kesana."Arsen bergegas meraih memakai sepatunya dan bersiap untuk pergi.
Ia mendekati Rachel dan mengecup singkat keningnya.
"I love you istri." Arsen pun tersenyum manis.
Membuat Rachel akhirnya ikut tersenyum.
"I love you too suamiii."
"Sepertinya aku benar-benar akan demam." Ujarnya seorang diri sembari memegangi dahinya yang mulai terasa hangat.
10 menit berlalu, tiba-tiba saja suara bel pun berbunyi, membuat mata Rachel yang baru beberapa menit terpejam, kini terbuka kembali.
"Itu pasti pegawai kebersihan." Celetuknya sembari mulai bangkit dari tidurnya.
*Tingtong*
Suara bel kembali berbunyi untuk kesekian kalinya.
"Iya sebentar." Jawab Rachel meninggikan suaranya.
Dengan langkah lesu, ia terus melangkah menuju pintu dan langsung membukanya begitu saja. Dan betapa terkejutnya dia saat menyadari yang datang bukanlah petugas kebersihan, melainkan Lylia yang sudah tersenyum sumringah di hadapannya.
"Gooood mowning sistaaa." Sapanya dengan begitu girang.
"Lylia." Ucap Rachel yang masih tercengang.
"Yuhuu Lylia Lim disini hehehe."
"Oh hehe." Rachel pun akhirnya ikut tersenyum kikuk.
"Sista, ada apa dengan eskpresi wajahmu? Kenapa menatapku seperti itu? Apa ada yang salah dengan penampilanku?" Lylia pun kembali memandangi dirinya sendiri.
"Oh ti,, tidak, aku, aku hanya sedikit terkejut, ku pikir yang datang adalah petugas kebersihan."
"Haiyoo, apa kali ini tampilanku mirip dengan petugas kebersihan?"
"Oh hehe tentu saja tidak, kamu cantik seperti biasa."
"Aaaaa sistaaa, membuatku malu saja."
__ADS_1
Rachel hanya tersenyum, sembari berusaha menutupi lehernya dengan rambutnya yang sengaja ia gerai.
"Oh ya, ngomong-ngomong, apa aku tidak di persilahkan masuk?!"
"Oh ya ampun, iya maaf aku lupa. Ayo masuk lah."
Lylia pun kembali tersenyum dan dengan penuh semangat mulai memasuki hunian mewah milik kakaknya itu. Itu pertama kalinya Lylia menginjakkan kakinya disana, jika saja tadi Arsen tidak menelponnya dan memintanya datang, mungkin Lylia tidak akan pernah tau bagaimana bentuk tempat tinggal kakaknya yang baru.
"Waaah, benar-benar hunian yang sangat nyaman dan begitu modern." Celetuk Lylia saat melangkah menuju balkon ruang tamunya yang mengarah ke pusat kota dengan menyajikan view gedung pencakar langit dan sungai yang terlihat begitu indah.
"Jadi ini kali pertamanya kamu kemari?" Tanya Rachel yang menyusul langkahnya namun dengan langkahnya yang pelan.
Lylia pun kembali menoleh ke arahnya dan mengangguk cepat.
"Dia benar-benar pintar dalam memilih tempat yang nyaman untuk dijadikan rumah tinggal." Celetuknya Lylia lagi sembari kembali memandangi pemandangan dari balkon.
Rachel hanya tersenyum, dan ikut berdiri di samping Lylia, matanya juga menyorot jauh ke pemandangan sungai yang memantulkan kilauan akibat pantulan sinar matahari.
"Oh ya kak, kakakku mengatakan, jika kakak sedang sakit dan dia begitu cemas hingga tak ingin meninggalkan kakak sendiri disini. Memangnya kakak sakit apa?"
"Oh itu, eeem sepertinya hanya demam biasa. Mungkin karena cuaca akhir-akhir ini yang begitu dingin."
"Demam? Benarkah?" Lylia tanpa permisi pun langsung menempelkannya telapak tangannya ke dahi Rachel.
Lalu ingin berpindah memegang lehernya, tapi Rachel dengan refleks menghindar dan kembali sibuk menutupi lehernya dengan rambut. Hal itu sontak mengundang tanda tanya besar bagi Lylia, matanya pun mulai ia picingkan saat memandangi leher Rachel.
"Kenapa begitu panik? Memangnya ada apa dengan lehermu kakak ipar?"
"Oh heheh tidak, tidak ada apa-apa, aku, aku hanya, eeemm mendadak aku kedinginan, sebaiknya aku memakai syal." Jawab Rachel yang terlihat begitu terbata-bata sembari ingin beranjak pergi.
Namun Lylia yang usil, sontak langsung saja menyingkap rambutnya dan ya, betapa terkejutnya Lylia saat mendapati ada banyak tanda merah di leher Rachel. Matanya seketika mendelik dan jadi begitu terperangah dibuatnya.
"Astaga,,, ini,,?? Oh tidak, di lihat dari bentuknya, jelas ini bukan karena alergi maupun iritasi. Apakah ini....?"
Rachel pun seketika jadi gelagapan, rasa malu bercampur kikuk tiba-tiba saja menyerangnya saat Lylia telah melihat area lehernya yang dipenuhi dengan cupangan.
"Oh my god hahahaha apa ini sungguhan?? Oh astaga, ini benar-benar mencengangkan, apa kakak ku benar-benar seganas itu?? Hahaha" Lylia pun terkekeh namun juga masih terlihat begitu tak menyangka.
"Ya ampun, bagaimana kalau papa dan mama tau hal ini, pasti mereka akan senang jika tau kalian akhirnya sudah baikan dan...."
"Ssssstttt." Rachel panik, dan langsung membekap mulut Lylia.
"Haaisss, kenapa kakak membekap mulutku, apa yang kakak takutkan? Apa kakak takut tetangga mendengarnya? Apartemen mewah begini tentu kedap suara kan??"
"Bu. Bukan, bukan itu, ma, maksudkuu tolong jangan katakan ini pada siapapun, aku, eeemm aku sangat malu." Rachel pun akhirnya menutup wajahnya yang mulai memerah.
"Huh baiklah, bersama Lylia, rahasia pasti akan terjamin aman, tapi...." Lylia dengan cengengesan dan mulai kembali menatap Rachel dengan penuh makna.
"Tapi apa??? Haaaiss kenapa perasaanku mulai tidak enak."
"Hehehe you know what I mean kak." Lylia pun menggoyang-goyangkan alisnya.
"Dilihat dari gelagat tak mengenakkan ini, sudah pasti kamu meminta imbalan."
"Hehehe kira-kira seperti itu lah. Tenang saja, permintaanku sangat sederhana dan tidak memakan banyak biaya, hanya satu tas keluaran terbaru dari brand yang memiliki lambang huruf H hehehe."
Mata Rachel membulat sembari menelan ludahnya sendiri.
"Lambang H??"
"Hehehe iya."
"Ya ya ya, sangat sederhana, hanya memerlukan angka 0 sebanyak 5 digit hehehe." Ucap Rachel sembari mulai terkekeh lirih.
Lylia terus merayu orang yang baru saja menjadi kakak iparnya itu dengan penuh kata/kata mutiara yang terdengar begitu manis. Membuat Rachel tak bisa berkata apapun selain menyetujuinya. Lylia sontak berloncat girang kesenangan, karena ia telah memimpikan tas itu dari dua pekan yang lalu, namun Yuna sama sekali tidak mengabulkannya karena menurutnya Lylia sudah membeli banyak tas belakangan ini.
...Bersambung......
__ADS_1