Pewaris Tahta

Pewaris Tahta
Eps 167


__ADS_3

Mobil yang di tumpangi oleh Rachel dan Antony akhirnya tiba di depan loby restaurant. Rachel terdiam sejenak sembari menatap ragu ke arah restaurant itu.


"Antony, sebaiknya aku tidak perlu ikut makan, aku sangat tidak enak dengan klien mu."


"Tidak apa, lagi pula ini hanya makan siang biasa,"


Tak lama asisten pribadi Antony pun membukakan pintu untuk mereka, Rachel pun perlahan turun dari mobil dan di susul pula oleh Antony. Klien Antony sudah tiba lebih dulu, bahkan ia dan para staffnya sudah memesan makanan duluan.


"Why are you so long Mr. Antony?"


"I'm sorry Mr Maher." Antony pun tersenyum tipis.


"And, who is this?" Mr. Maher pun melirik ke arah Rachel dan memandanginya dari ujung kaki hingga rambut.


"Oh ya, this is Rachel Chou, she's my friend, as well as being a business partner." Jelas Antony yang kembali tersenyum menatap Rachel.


"Dan Rachel, ini Mr. Maher, dia adalah klienku yang baru datang dari Suriname."


"Hallo Mr, Maher, nice to meet you," Rachel pun secara ramah langsung mengulurkan tangannya ke arah Mr. Maher.


"Oh hallo Rachel, Nice to meet you too. You look so beautiful, almost perfect." Ucap Mr. Maher dengan wajahnya yang berbinar.


"Oh hehe thanks." Rachel pun hanya tersenyum tipis dan menarik kembali tangannya.


Akhirnya mereka pun kembali duduk, makan siang dilewati dengan damai dan selalu diselingi dengan perbincangan-perbincangan ringan. Mr, Maher nampaknya lagi-lagi dibuat begitu kagum pada pribadi Rachel yang menyenangkan, bukan hanya cantik parasnya, bahkan dari pembawaan badan dan cara ia berbicara, sudah cukup membuat lawan bicaranya merasa nyaman.


"Hey dude, I think she's gorgeous, are you sure just want to be her friend?" Bisik Mr. Maher pada Antony.


Karena menurut Mr, Maher, gadis secantik Rachel tidak mungkin jika Antony tidak memiliki rasa ketertarikan padanya.


"Oh no no, she is married." Jelas Antony yang masih memasang senyuman tipis seperti biasa.


"Oh really?!" Mr, Maher nampaknya cukup terkejut saat mengetahui jika Rachel sudah menikah.


"Rachel, are you really get married?!" Tanya Mr. Maher lagi.


"Oh, ya, I just got married." Jawab Rachel secara gamblang.


"Oh god, I'm so surprised hahaha."


Rachel dan Antony pun hanya tersenyum.


Tak lama setelah makan siang selesai, Mr. Maher pamit untuk kembali ke hotel lebih dulu, karena ia merasa sangat lelah karena sejak landing, ia belum memiliki istirahat yang cukup. Sementara Antony, memilih untuk tetap tinggal di restaurant bersama Rachel, karena menurutnya, masih ada hal yang harus ia bicarakan.


Antony pun memerintahkan asisten pribadinya untuk kembali ke kantor, agar ia bisa lebih leluasa berbincang dengan Rachel.


"Jadi, apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya Antony secara tiba-tiba saat yang lain sudah pergi.


"Hah?!" Rachel nampak bingung.


"Sebagai temanmu, apa aku boleh mengetahui apa yang sudah terjadi? Kenapa tadi kamu menangis di tepi jalan? Dan, kenapa seluruh barang pemberianku di kembalikan?"


"Tidak ada apa-apa," Jawab Rachel dengan lesu dan mulai kembali tertunduk.


Membuat Antony yang mendengarnya seketika kembali mendengus dan tersenyum tipis.


"Masih saja mencoba menutupinya dariku. Sejak melihat sikapmu yang berbeda tadi pagi, membuatku mulai berpikir, pasti ada sesuatu dalam hubungan kalian. Apa aku boleh tau?"


Rachel pun akhirnya kembali murung, dengan kembali menatap kosong ke arah dinding kaca di sebelahnya, ia pun akhirnya mulai menceritakan apa yang terjadi padanya dan Arsen.



"Jadi, dia belum juga bisa memaafkanmu karena hal itu?" Tanya Antony yang juga cukup dibuat terkejut.


Rachel hanya mengangguk pelan.


"Tapi, tidakkah itu terlalu berlebihan? Dan kamu, bagaimana kamu bisa bertahan hidup dengan orang seperti itu?!" Tanya Antony yang nampaknya terlihat kesal.

__ADS_1


"Biar bagaimana pun juga, ini tetap salahku, jadi mau tidak mau aku pun harus menerimanya. Ada banyak hadiah yang ternyata sudah ia siapkan untukku, maksudku saat dia masih mengenalku sebagai Bella. Jadi, saat tau jika Bella hanyalah fiktif, dan aku adalah Rachel sahabat kecilnya, menurutku sangat wajar jika dia merasa sangat kebingungan dan pasti marah." Jelas Rachel yang masih saja berusaha menjaga nama baik suaminya.


"Tapi, biar bagaimana pun juga..."


"Ya, biar bagaimana pun juga dia sudah menjadi suamiku saat ini, jadi aku tidak mau orang lain menganggapnya buruk." Tegas Rachel.


Perkataan Rachel kali itu seketika membuat Antony hanya bisa terdiam memandanginya.


"Oh ya, apa di kantormu masih ada lowongan?" Tanya Rachel mendadak.


"Lowongan?"


"Eemm" Jawab Rachel sembari mengangguk.


"Tidak mudah untuk bisa masuk ke kantorku, butuh melewati banyak seleksi ketat, karena aku hanya menginginkan yang terbaik dari yang baik." Jawab Antony dengan santai.


"Eeemm begitu ya, kata-katamu itu, sama persis seperti apa yang pernah di ucapkan CEO Blue Light padaku." Rachel pun kembali terkekeh lirih.


"Benarkah?" Antony ikut tersenyum.


"Iya."


"Sulit di percaya, ternyata aku masih punya kesamaan dalam hal lain dengannya. Ku pikir selama ini, aku dan Arsen hanya memiliki satu kesamaan,"


"Apa itu?" Tanya Rachel yang mulai penasaran.


"Sama-sama mencintai orang yang sama." Jawab Antony secara gamblang.


Membuat Rachel tertegun dengan tatapan yang seketika berubah menjadi canggung.


"Kenapa kamu membahasnya lagi? Bukankah kita sepakat untuk berteman?" Tanya Rachel yang kembali merasa kikuk dan canggung.


"Maaf, lagi-lagi aku melewati batas. Maafkan aku."


Rachel hanya diam dan memilih tersenyum singkat lalu mulai meraih gelas minumannya,


"Oh ya, memangnya siapa yang ingin melamar pekerjaan?" Tanya Antony mengalihkan pembicaraan.


"Hah?! Kamu?!"


"Iya, Arsen Lim mengatakan padaku jika ia sudah memutuskan untuk memecatku sebagai sekretarisnya. Jadi ku putuskan untuk mencari pekerjaan lain yang sekiranya bisa mengisi waktu kosongku. Tapi, saat mendengar jawabanmu tadi, kurasa aku langsung pesimis karena merasa aku tidak begitu baik hehehe."


"Benarkah? Ka, kalau begitu kamu bisa langsung bekerja di kantorku, bahkan jika perlu jadi Sekretarisku."


Rachel pun seketika mendengus dan tersenyum.


"Hah, bukankah Asisten pribadinya sudah merangkap semuanya."


"Sebelumnya memang begitu, tapi kurasa, belakangan ini kinerjanya mulai melambat, kurasa dia memang butuh sedikit bersantai."


Rachel pun semakin tersenyum dan mulai menggelengkan kepalanya.


"Kenapa malah tertawa?"


"Tiba-tiba saja aku terbayang saat kamu mengatakan jika sangat tidak mudah untuk bisa bekerja di kantormu. Tapi, kenapa justru sekarang kedengarannya sangat mudah."


"Kalau untukmu, aku bahkan tidak butuh waktu lebih dari sedetik untuk menerimanya. Tidak serta merta karena masalah perasaan, tapi beberapa waktu bekerja sama denganmu, aku pun sudah cukup tau skill mu, kamu cukup kompeten."


"Eeemm baiklah, tapi aku tidak terlalu serius saat mengatakannya tadi hehe."


"Tidak apa, tapi aku begitu serius saat menjawabnya, datang lah jika kamu memutuskan untuk bergabung, aku akan selalu membuka lepar pintu One Light Corp untukmu."


"Baiklah, nanti ku pikirkan, terima kasih sebelumnya."


Beberapa lama berbincang, membuat Rachel mulai terbuai hingga tak sadar jika kini jam sudah menunjukkan ke arah pukul 15:00 petang.


"Ini sudah petang, kamu sepertinya meluangkan banyak waktu untuk menemaniku berbincang hari ini, apa kamu tidak ada urusan lain?" Tanya Rachel yang kembali mengernyitkan dahinya.

__ADS_1


"Demi bisa berbincang intens seperti ini dengan mu, aku bahkan rela menunda seluruh kegiatanku hari ini." Jawab Antony dalam hati.


"Hei, kenapa diam saja?"


"Tidak, kebetulan setelah meeting bersama Mr. Maher, hari ini aku tidak punya jadwal apapun dari kantor." Jawab Antony berbohong.


"Ohh, begitu rupanya, emm baiklah. Tapi, sepertinya aku harus pulang sekarang."


"Baiklah, aku akan mengantarmu." Antony pun langsung bangkit dari duduknya.


"Aah ti,, tidak perlu, kamu sudah terlalu banyak membuang waktu hari ini karena aku."


"Khusus hari ini, aku memang sedang bermurah hati. Sudah lah, ayo, jangan menolak tawaran dari seorang teman."


Akhirnya Rachel kembali tersenyum dan mengangguk tanda setuju. Rachel pun bangkit dari duduknya, lalu berjalan beriringan keluar dari restaurant. Sepanjang jalan, Rachel banyak melamun, ia kembali memikirkan Arsen, membuat hatinya kembali terasa tercabik dan merasakan perih yang sulit untuk di jelaskan.


"Aku memang bersalah, tapi sikapmu juga benar-benar keterlaluan Arsen, aku sungguh kecewa." Gumamnya lirih.


"Rachel," panggil Antony yang seketika membuat buyar lamunan Rachel.


"Eh, iya." Rachel seketika menoleh ke arahnya.


"Are you ok?"


"It's ok, I'm fine." Rachel pun terpaksa kembali mengukir senyuman tipis di wajahnya,


"Are you sure? Tapi ku lihat dari sorot matamu, sepertinya tidak sesuai dengan jawabanmu barusan."


"I can handled." Jawab Rachel.


Antony pun akhirnya tersenyum dan memilih untuk kembali fokus mengemudi.


Jam sudah menunjukkan ke arah pukul 15.35 sore, mobil sedan yang mengantarkan Rachel akhirnya terhenti tepat di depan loby apartementnya.


"Terima kasih banyak." Ucap Rachel yang kembali tersenyum simpul.


"Jangan sungkan, jika terjadi sesuatu dan butuh bantuanku, maka jangan ragu untuk menghubungiku."


"Iya, terima kasih sekali lagi." Rachel pun turun dari mobil.


"Hati-hati di jalan." Ucapnya lagi masih dengan senyumannya yang tak hilang dari wajahnya.


"Bye."


"Byee." Rachel melambaikan tangannya memandangi mobil Antony yang mulai beranjak pergi.


Kini, mata Rachel mulai memandang nanar gedung yang menjulang tinggi di hadapannya, sejenak, ia merasa ragu untuk masuk, karena merasa sangat tak ingin bertemu dengan Arsen kala itu. Tidak seperti biasanya, kali ini Arsen sungguh membuat Rachel kecewa serta sakit hati dengan sikap dan ucapannya.


"Apakah aku masih pantas pulang ke sini? Apa masih pantas ini kujadikan sebagai rumah tinggalku?" Gumamnya lirih.


"Dia bahkan begitu kejam membiarkan aku pergi, tidak berusaha menahanku apalagi mengejarku, nampaknya kehadiranku memang tidak di perlukan lagi disini." Tambahnya lagi.


Setelah menghela nafas berat, Rachel akhirnya memutuskan untuk memutar haluan, dan berniat untuk kembali ke apartementnya yang lama. Tapi baru beberapa langkah pergi, Rachel teringat jika di apartement itu, begitu banyak barang-barangnya.


"Emm baiklah, sepertinya memang aku harus masuk dulu untuk mengemas seluruh barangku." Ujarnya seorang diri dan akhirnya mulai memasuki loby.


"Lagi pula masih jam segini, tidak mungkin Arsen ada di dalam." Gumamnya lagi sembari memandangi jam yang ada di ponselnya.


Rachel berjalan lesu menyusuri koridor untuk menuju ke unit miliknya, hanya perlu menempelkan ibu jarinya, kini pintu pun otomatis terbuka. Dengan langkah lesu dan kepala yang lebih banyak menunduk, Rachel pun terus berjalan menuju kamar tanpa melirik ke sekitarnya. Hingga tanpa ia sadari, seseorang ternyata sudah duduk menunggunya di sofa.


"Jam segini baru pulang, kemana saja?"


Mendengar hal itu sontak membuat Rachel menghentikan langkahnya dan seketika langsung menoleh ke arah dimana suara itu berasal.


"Arsen, dia sudah pulang?" Tanyanya dalam hati dengan kedua bola matanya yang nampak membesar.


"Bukan urusanmu!" Ketusnya dan memilih untuk melanjutkan langkahnya.

__ADS_1


Namun ternyata kali ini Arsen tak tinggal diam, Arsen langsung bangkit dari duduknya dan menarik tangan Rachel seolah tak membiarkannya beranjak.


...Bersambung......


__ADS_2