Pewaris Tahta

Pewaris Tahta
Eps 138


__ADS_3

Rachel perlahan mulai merasa jika matanya mulai berat, semakin berat, dan bertambah berat, hingga akhirnya perlahan tapi pasti ia pun memasuki alam mimpi. Tubuh yang terasa lelah membuatnya begitu mudah terlelap, meninggalkan Arsen yang masih tetap terjaga dengan pikirannya yang kalut.


Arsen kembali membuka matanya, lalu mulai memandangi wajah Rachel yang nampak sudah tertidur dengan begitu pulasnya. Beberapa helai rambut yang menghalangi wajah cantik Rachel, mulai ia tepiskan dengan sangat hati-hati agar tidak membuat Rachel terbangun.


"Sangat aneh rasanya saat teman bermain dimasa kecil, kini tidur seranjang denganku, lebih aneh lagi saat, seseorang yang dulu sering ku ejek hingga menangis, kini aku seolah ingin ikut menangis saat melihatnya menangis." Gumam Arsen dalam hati sembari mengusap lembut pipi Rachel yang telah menjadi tirus.


"Mungkin bagimu, amarah dan rasa kecewaku ini sangat berlebihan, tapi bayangkan jika kamu berada di posisiku. Saat aku berani menyerahkan sepenuhnya hatiku, mencintaimu sebagai sosok Bella yang pintar, lucu, dan sederhana, kini tiba-tiba aku harus menerima kenyataan jika sosok itu hanyalah fiktif belaka dan berganti menjadi Rachel Chou, sosok yang tertanam di memoryku sebagai anak gendut yang menggemaskan, kamu bisa bayangkan bagaimana bingungnya perasaanku karena hal itu?" Arsen berkata dengan suara begitu lembut dan pelan, ia berbicara seorang diri pada Rachel yang masih tertidur pulas.


"Rasa cintaku masih sama, tapi maaf, aku belum bisa berdamai dengan kenyataan yang cukup membuatku syok." Tambahnya lagi yang kemudian mulai menjauhkan tangannya dari pipi Rachel.


Arsen pun bersiap untuk tidur, namun tiba-tiba saja Rachel memeluk pinggangnya dengan begitu manja. Arsen yang terkejut sontak melirik ke arahnya, nampak kala itu mata Rachel masih terlihat terpejam, dan mulai bergumam sendiri.


"Maaf, aku mencintaimu, jangan pergi, tolong." Ucap Rachel lirih yang akhirnya Arsen sadar jika sedang mengigau.


Arsen dengan pelan ingin memindahkan tangan Rachel, namun hal itu justru membuat Rachel semakin mengeratkan pelukannya.


"Jangan, jangan lepaskan, biarkan begini saja." Suara Rachel terdengar semakin pelan.


Akhirnya Arsen pun hanya bisa terdiam, dan membiarkan dirinya di kuasai oleh Rachel meski hanya dalam mimpinya.


Pagi hari yang cerah...


Sinar mentari dari ufuk timur perlahan-lahan mulai naik dan menyinari seluruh kota, embun pagi yang begitu menyejukkan pun perlahan mulai menepi, berganti dengan bias kuning yang memberi kehangatan.


Arsen nampaknya cukup teliti dan pandai dalam memilih unit apartement nya, hal itu terbukti dari sempurnanya pemandangan yang terhampar indah dari balkon, serta pencahayaan yang sangat sempurna dari sinar mentari pagi, menambah kesan naturalis pada apartement itu,


Mata Rachel, perlahan mulai terbuka saat pipinya mulai terasa hangat akibat sengatan matahari pagi yang menerobos dari sela-sela jendela. Bibir mungilnya yang berwarna merah delima mulai tersenyum tipis sembari sebelah tangannya mulai mengucek-ngucak matanya.


Mata Rachel semakin terbuka lebar, perlahan tapi pasti ia pun semakin jelas bisa melihat apa yang ada di hadapannya pertama kali. Tapi mata Rachel seketika membulat sempurna, ia sontak langsung terperanjat dari tidurnya dan berteriak sekencang-kencang.


"Aaaaaghhh." Teriak Rachel terdengar begitu menggemparkan di ruangan kamar yang cukup luas itu.


Membuat Arsen yang masih tertidur, akhirnya bangun dan ikut terperanjat dari tidurnya karena saking kagetnya.


"Ada apa?" Tanya Arsen yang terlihat gelabakan.


Tapi Rachel malah terdiam, ia memasang raut wajah kikuk sembari mulai menutup mulutnya yang sejak tadi menganga lebar karena berteriak.

__ADS_1


"Ada apa??!" Tanya Arsen lagi.


"Ti,,, tidak, aku,, aku hanya kaget." Jawab Rachel dengan suara begitu pelan.


"Kaget?!" Arsen pun mulai mengernyitkan dahinya.


"Iya, bukankah sangat mengejutkan ketika baru bangun tidur, saat baru saja membuka mata, tapi sudah mendapati seorang pria yang tidur di hadapan mata. Itu,,, itu sangat membuatku syok, karena sebelumnya tidak pernah terjadi dalam hidupku." Jelas Rachel yang masih terlihat kikuk.


Mendengar hal itu membuat Arsen seketika jadi mendengus.


"Hanya itu?! Astaga, sungguh tidak masuk akal." Gumam Arsen yang kembali berbaring seolah ingin melanjutkan tidurnya.


"Tentu saja masuk akal, aku belum terbiasa sekamar apalagi seranjang dengan seorang pria, dan kebetulan juga aku lupa kalau kita sudah menikah, jadi kurasa itu cukup wajar bagi semua wanita yang baru saja menikah." Jelas Rachel yang merasa tak terima.


Namun Arsen yang kembali menutup matanya, kini mulai ikut menutup telinganya seolah tidak ingin mendengar celotehan Rachel di pagi hari.


"Berisik sekali." Celetuknya santai.


Hal itu membuat Rachel kembali kesal hingga membuatnya memanyunkan bibirnya.


"Kamu sungguh akan tidur lagi?" Tanya Rachel sembari mengecakkan pinggangnya.


Rachel yang menyaksikan hal itu pun semakin melotot, dan semakin memanyunkan bibirnya, ia pun seketika langsung menarik selimut yang menutupi tubuh Arsen.


"Bagaimana bisa kamu mau tidur lagi di saat matahari sudah begitu tinggi seperti ini?! Ayo bangunnn!!" Teriak Rachel.


Namun Arsen tidak menggubris dan terus menutup kedua telinganya.


"Arsen Limmmmm, bangun! Ayo bangun." Rachel pun menarik-narik tangan suaminya,


Meski usaha itu seolah sia-sia karena tenaganya tidak sebanding dengan tubuh Arsen yang tegap.


"Bangun tidak?!"


Rachel terus mengganggu Arsen hingga mulai membuat Arsen yang memang masih begitu mengantuk ikut geram dan spontan bangkit dari tidurnya.


"Haaaissh, apa-apaan? Hari ini aku tidak masuk kantor, kenapa aku harus bangun sepagi ini?"

__ADS_1


Saat itu rambut Arsen terlihat berantakan seperti ciri khas orang yang baru bangun tidur, matanya juga nampak sedikit sembab namun hal itu sama sekali tidak mengurangi ketampanan kala itu.


Rachel pun tersenyum, ia begitu puas karena akhirnya Arsen bangun meski harus membuatnya mengomel.


"Sudah jangan marah-marah terus, aku takut nanti ketampananmu akan pudar." Rayu Rachel.


Arsen kemudian mulai menatap Rachel dengan serius.


"Kamu sungguh ingin aku tidak marah-marah lagi?" Tanyanya.


Rachel pun semakin melebarkan senyumannya dan mengangguk cepat.


"Maka biarkan aku tidur!" Jawab Arsen melotot yang langsung kembali berbaring dan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.


Rachel pun semakin menggeram, namun kala itu dia tidak bisa berbuat apapun lagi. Ia pun memilih untuk beranjak dari tempat tidur, menuju kamar mandi dan memutuskan untuk mandi agar ia kembali segar.


Selesai mandi, tidak ada pilihan lain, ia kembali memakai baju kemeja Arsen yang lainnya, kali ini berwarna abu muda. Sembari melilitkan handuk ke atas kepalanya, ia pun mulai melangkah menuju dapur, ia membuka kulkas karena berniat ingin memasak sarapan. Namun lagi-lagi matanya kembali mendelik saat mendapati isi kulkas yang masih kosong melompong.


Rachel pun menatap tajam ke arah kamarnya,


"Haaissh, apa-apaan?! Bagaimana bisa seorang Arsen Lim yang kaya raya bisa hidup di apartement dengan keadaan kulkas yang sama sekali tidak ada isinya?!" Celetuk Rachel seorang diri yang merasa sangat heran.


Rachel pun melangkah cepat untuk kembali ke kamar, ia kembali membangunkan Arsen karena merasa sudah mulai lapar. Rachel kembali menarik selimutnya, menarik-narik tangannya, namun Arsen masih saja molor seperti orang mati. Rachel hampir kehabisan akal, tapi tiba-tiba saja ia teringat jika Arsen yang dulu, saat ia masih kecil, sangat tidak tahan bila perutnya di gelitik.


Membuat Rachel akhirnya tersenyum.


"Baiklah, mari kita coba." Celetuknya dalam hati.


"Baiklah Arsen Lim, aku terpaksa harus melakukan ini, jangan menyesal ya." Ucap Rachel yang akhirnya langsung menggelitik Arsen dengan kedua tangannya.


Dan benar saja, tubuh Arsen langsung dibuat tak karuan saat mendapat sentuhan secara spontan di perutnya.


"Aaaghh geli, hentikan Chel, hentikan." Teriak Arsen yang sesekali tertawa geli.


"Masih mau tidur? Bangun tidak? Bangun tidak? Hahaha rasakan." Namun Rachel dengan semangat terus saja menggelitik perut suaminya.


Membuat Arsen akhirnya secara spontan menarik tubuh Rachel demi menghentikan tindakannya, membuat tubuh Rachel yang mungil kembali terbaring tepat di bawah Arsen. Handuk yang sejak tadi melilit di kepalanya kini langsung terlepas begitu saja, membuat rambut basah Rachel kembali terurai, dan ya, cukup membuat Arsen yang kini tengah menghimpitnya kembali menelan ludahnya.

__ADS_1


...Bersambung......


__ADS_2