Pewaris Tahta

Pewaris Tahta
Eps 152


__ADS_3

Rachel kembali menatap lekat wajah Arsen, yang kala itu nampak raut wajahnya seketika berubah, senyumnya pun nampak memudar, seperti tengah ada yang sedang ia coba sembunyikan.


"Jadi mulai hari ini kamu sudah bisa mulai packing, karena lusa kalian sudah berangkat." Tambah Shea lagi.


Rachel yang memahami reaksi Arsen, tak mau langsung mengambil keputusan begitu saja.


"Emm kami sangat senang dengan hadiah ini mommy, karena jujur saja, sejauh ini kami belum memikirkan tentang honemoon, karena masih begitu menikmati suasana baru kami disini. Tapi..."


"Tapi apa?" Dahi Shea mulai mengkerut.


"Emm aku dan Arsen sepertinya masih harus mendiskusikan tentang hal ini lagi, kami tidak bisa memutuskan begitu saja." Jelas Rachel sembari tersenyum lirih.


"Tapi Rachel, apa yang menjadi masalah sehingga membuat kalian harus mendiskusikannya lagi?" Shea sungguh di buat tak habis pikir dengan penuturan Rachel.


"Oh ti,, tidak mom, sama sekali tidak masalah, hanya saja memang ini sepertinya sangat mendadak, dan kami juga belum ada merencanakan untuk pergi honeymoon. Jadi biarkan kami membicarakannya lebih dulu."


"Ya sudah jika memang begitu, kabari kami secepatnya ya jika kalian sudah memutuskan." Martin pun mulai bangkit dari duduknya.


"Oh pasti daddy, tenang saja." Rachel pun akhirnya ikut bangkit dari duduknya.


"Baiklah, Daddy juga masih ada beberapa hal yang harus di urus di sini sebelum kembali ke Paris. Kami pamit dulu ya,"


Arsen pun ikut bangkit, untuk mengantarkan kedua mertuanya hingga ke depan pintu.


"Baiklah sayang, mommy pamit ya, tolong kabari secepatnya." Shea pun mengusap-usap pundak Rachel sembari terus melangkah menuju pintu.


"Iya mommy." Rachel berusaha mempertahankan senyumannya di hadapan kedua orang tuanya.


Meskipun dalam hatinya kini mulai berkecamuk. Bagaimana tidak, sebagai seorang wanita yang baru saja menikah, honeymoon tentu sudah menjadi salah satu hal indah yang mereka dambakan. Tapi Rachel terpaksa harus memupus rasa senangnya saat diberikan hadiah semacam itu oleh kedua orang tuanya, mengingat reaksi Arsen yang sepertinya tidak senang dengan itu.

__ADS_1


"Jaga diri kalian ya, bye." Martin dan Shea pun akhirnya beranjak pergi.


Memastikan Shea dan Martin sudah benar-benar pergi, Arsen pun langsung kembali masuk begitu saja tanpa berkata sepatah katapun pada Rachel. Dengan cepat Rachel menutup rapat pintunya dan menyusul langkah Arsen.


"Arsen tunggu!"


Langkah Arsen terhenti.


"Ada apa?" Tanyanya dengan nada bicara yang kembali datar.


"Apa kita bisa berdiskusi sebentar?" Tanya Rachel ragu-ragu.


"Apalagi yang harus di diskusikan?" Arsen pun berbalik badan dan kembali menatap Rachel dengan wajah datarnya.


"Jika yang ingin kamu bahas adalah tentang perjalanan honeymoon ke Itali itu, maka kamu sudah tau jawabannya." Tambah Arsen lagi yang kemudian kembali ingin melangkah pergi.


"Ja,, jadi mak,, maksudmu, kamu tidak ingin pergi?" Tanya Rachel lirih.


"Sudah ku katakan sebelumnya, kamu tau jawabannya!" Tegas Arsen lagi.


"Ta,, tapi Arsen, tidak bisakah kita kembali berkompromi seperti tadi?" Pujuk Rachel.


Mendengar hal itu membuat Arsen lagi-lagi harus mendengus.


"Apalagi yang perlu di kompromikan? Honeymoon itu hanya untuk sepasang pengantin baru yang sedang di landa cinta dan kasmaran. Sementara kita?? Kita hanyalah sepasang pengantin baru yang menikah hanya karena untuk menyelamatkan nama baik kedua perusahaan besar! Lalu apa mungkin hubungan semacam ini bisa pergi honeymoon?!" Jelas Arsen sembari menatap tajam ke arah Rachel.


"Ta, tapi Arsen Lim, aku menikah denganmu bukan semata-mata karena hal itu, aku menikah denganmu karena aku sungguh mencintaimu. Dan aku tau, kamu sebenarnya juga mencintaiku, kamu begini hanya karena sedang marah padaku. Iya kan?" Mata Rachel pun mulai berkaca-kaca.


"Ternyata rasa percaya dirimu masih saja begitu tinggi."

__ADS_1


"Aku berbicara fakta, kamu memang mencintaiku, bahkan sangat mencintaiku, iya kan? Aku mendengarnya sendiri saat kamu berbicara pada mommy dan daddy."


Arsen kembali mendengus dan tersenyum sinis.


"Ternyata selain memiliki rasa percaya diri yang berlebihan, nampaknya kamu pun mulai pikun. Bukankah kamu yang memintaku untuk bersandiwara di hadapan kedua orang tuamu, memintaku bersikap seolah kita baik-baik saja?! Ingat Rachel, semua yang ku katakan tadi, itu hanya sandiwara, jadi tolong jangan menganggapnya serius."


Rachel pun akhirnya mulai meneteskan air matanya saat mendengar penjelasan Arsen yang cukup menyakitkan baginya.


"Jangan menangis! Jangan bawa sifat cengeng dan manjamu dari rumah sebelumnya ke sini! Aku tidak suka!!" Ketus Arsen yang langsung memalingkan pandangannya.


Ya, Arsen memang sangat tidak suka saat melihat Rachel mulai menangis, ia tidak suka karena hal itu seolah mampu menggoyahkan pendiriannya. Air mata Rachel seolah sihir bagi Arsen hingga mampu melunakkan amarahnya menjadi rasa tak tega dan serasa ingin langsung memeluknya saat itu juga.


Tapi Arsen tetap lah Arsen, yang masih berusaha tegar pada pendiriannya, yang masih ingin menunjukkan rasa kecewa dan juga marahnya pada Rachel dan keluarganya.


"Jika di hadapanku kedua orang tuaku kamu bisa bersandiwara seolah kita baik-baik saja, lalu kenapa kamu tidak bisa melakukannya juga agar kita bisa pergi honeymoon?" Tanya Rachel dengan suara yang terdengar semakin lirih.


"Apapun itu, aku tetap tidak akan pergi! Aku akan mempercepat masa cutiku, dan kamu, jika ingin pergi, aku tidak akan melarang." Arsen pun akhirnya kembali melangkah pergi, menuju ruang kerjanya.


Meninggalkan Rachel yang masih terpaku dengan air mata yang semakin deras mengalir di kedua belah pipinya. Rachel kembali terduduk lesu di sofa, mulai menangis sejadi-jadinya meratapi nasibnya.


Rachel, yang seharusnya menjadi wanita yang paling merasakan kebahagiaan saat ini karena baru dinikahi oleh seorang pengusaha muda yang tampan juga kaya raya. Yang seharusnya di awal pernikahan merasakan yang manis-manis dan indah-indah saja, kini justru seolah berbanding terbalik.


Arsen kala itu terus termenung di balkon ruang kerjanya, sorot matanya kini memandang kosong ke arah gedung-gedung pencakar langit yang terlihat jelas di depan matanya. Pikirannya kacau karena antara perasaan dan pikirannya sama sekali tidak singkron hingga membuatnya jadi merasa begitu kalut.


"Manusia mana yang tidak menginginkan honeymoon yang romantis dalam hidupnya? Bahkan aku pun sangat menginginkan hal itu, tapi sayangnya, saat ini kita sedang berada di waktu yang tidak tepat Rachel. Bukan aku tidak mau, aku hanya takut tidak bisa menahannya nanti." Gumam Arsen dalam hati yang juga sangat lirih.


"Mungkin kamu menganggapku egois dan kemungkinan juga kamu mulai membenciku karena keputusanku ini. Tapi untuk saat ini, memang biarlah dulu begini, biar waktu yang akan menjawab." Arsen pun akhirnya menghela nafas panjang, dan dengan lesu kembali masuk ke dalam ruang kerjanya.


...Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2