
Namun saat masih menunggu kedatangan Laura, ponsel Arsen pun tiba-tiba berdering, Arsen meraih ponsel dari dalam saku jaketnya, dahinya mengernyit saat melihat tulisan "papa" pada layar ponselnya.
"Papa? Ada apa? Tumben sekali." Celetuk Arsen dalam hati.
"Ya halo pa." Jawab Arsen kemudian.
"Dimana kau?"
"Aku, saat ini aku sedang berada di rumah Laura pa."
Mendengar hal itu seketika Benzie pun terdiam sejenak.
"Ternyata Rachel memang memiliki feeling yang kuat terhadap Arsen, bukankah setauku kedua orang tua Laura sedang pergi ke luar kota? Lalu apa yang akan di lakukan sepasang kekasih saat sedang berduaan di dalam rumah?" Gumam Benzie dalam hati.
"Arsen Lim, papa mau kau pulang sekarang juga." Tegas Benzie namun masih dengan nada yang terdengar tenang.
"Ada apa pa? Apa ada masalah?"
"Ya, ada hal yang perlu papa bicarakan padamu, penting!"
"Ok, baiklah pa."
"Kau pulang sekarang juga ya, sekarang!"
"Iya pa."
Panggilan pun berakhir, Arsen pun langsung bangkit dari duduknya sembari memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celananya.
Sementara Benzie masih terdiam sejenak dengan pikirannya yang mulai berkelana.
"Astaga Arsen Lim, semoga kau belum melakukan apapun pada Laura. Semoga apa yang aku dan Rachel takutkan belum sempat terjadi."
Tak lama, Laura pun muncul ke hadapan Arsen dengan membawa secangkir teh sembari memancarkan senyumannya yang terlihat begitu menawan.
"Sayang, teh mu datang." Ucap Laura sembari meletakkan tehnya ke meja.
"Maaf sayang, aku harus pulang sekarang!"
"Apa? Pulang?!" Laura seketika terbelalak.
__ADS_1
"Iya, papa baru saja menelponku, ada hal penting yang harus dia bicarakan, jadi aku harus pulang." Jelas Arsen.
"Ta, tapi sayang, a, aku...."
"Aku minta maaf sayang, tapi aku sungguh harus pulang. Aku pulang sekarang ya, jaga dirimu, dan jangan tidur terlalu larut malam ok. Bye."Arsen pun langsung pergi begitu saja tanpa menyentuh apalagi meminum teh buatan Laura.
"Sayang tunggu, kamu bahkan belum meminum tehnya sama sekali sayang." Teriak Laura lagi.
Namun Arsen sama sekali tak menggubrisnya dan terus saja melangkah dengan cepat menuju pintu. Hal itu pun sontak membuat Laura kembali merasa kesal, ia terduduk kasar di sofanya sembari menatap tajam ke arah Arsen yang semakin jauh dari pandangan matanya.
"Kenapa susah sekali ingin melakukan hal itu pada pacar sendiri? Pacaran tanpa melakukan hubungan intim apa gunanya? Sangat membosankan!" Ketus Laura dalam hati sembari memandangi secangkir teh yang dibuatnya.
"Kamu benar-benar membuatku kesal Arsen Lim! Emm baiklah, jangan salahkan aku ya jika melakukannya pada lelaki lain! Kau yang menolakku." Gumamnya lagi sembari mulai mengeluarkan ponselnya dari dalam tas.
Laura pun seketika menelpon seseorang, seseorang yang nampaknya sudah begitu tak asing baginya. Lalu siapakah orang itu?
"Kamu dimana?" Tanya Laura dengan nada manja.
"Aku baru tiba di rumah."
"Oh honey, I miss you, aku sangat bosan sendiri di rumah. Apa kamu bisa datang menemaniku?"
Dari ucapannya, nampak seseorang ini sudah begitu mengenal Arsen, dia pun nampaknya juga sudah tau jika Laura berpacaran dengan Arsen.
"Jangan menanyakan lelaki itu padaku saat ini, dia benar-benar membuatku kesal!" Jawab Laura yang kembali memasang wajah kesalnya saat membahas Arsen.
"Hahaha apa kalian bertengkar lagi? Oh ya ampun, lalu apa yang bisa ku lakukan saat ini untuk menghiburmu cantik?" Tanya lelaki itu dengan nada penuh godaan.
Laura pun kembali tersenyum, ia mulai menggigit bibir bawahnya dan kembali berkata.
"Datang lah ke rumahku, aku sedang ingin bersenang-senang malam ini." Ucap Laura.
"Ah baiklah, mendengar suaramu seperti itu membuatku semakin ingin cepat datang kesana. Tunggu lah, aku segera on the way."
"Cepatlah, aku sudah tidak sabar."
"Aku segera datang, bersiap lah." Jawab lelaki itu.
Panggilan pun berakhir, Laura pun akhirnya kembali mengembangkan senyumannya. Lalu ia mulai beranjak menuju kamarnya, mengganti pakaian dengan yang lebih tipis dan seksi, ia memilih mengenakan kimono berbahan satin yang lembut, kimono dengan panjang sepaha, dan sedikit menerawang.
__ADS_1
Ia pun kembali memoles bibirnya dengan lipstick berwarna terang, membuat bibirnya lebih terlihat seksi, lalu kembali ia semprotkan parfum ke area dada, leher, punggung, dan pergelangan tangannya. Harum vanila yang menjadi kesukaannya benar-benar terasa begitu enak di indera penciuman, hingga itulah salah satu alasan yang membuat para lelaki di luar sana langsung meliriknya ketika ia lewat di hadapan mereka.
Ting tong...
Waktu sudah menunjukkan pukul 21.45 malam, dua puluh menit menunggu, akhirnya suara bunyi bel pun terdengar. Senyum Laura kembali melebar, ia pun langsung melangkah cepat menuju pintu utama, lalu mulai membukanya.
"Selamat malam cantik." Sapa lelaki itu sembari memberikan sekuntum bunga mawar putih pada Laura.
Laura pun tersenyum, ia memandangi lelaki yang sudah ia kenal itu dari ujung kaki hingga rambut, penampilannya malam itu terlihat begitu macho dan menawan dimata Laura, mambuat gairah Laura semakin memuncak.
"Selamat malam." Jawab Laura sembari meraih sekuntum bunga itu.
"Kamu terlihat begitu cantik dan seksi, oh tidak, malam itu kamu terlihat jauh lebih seksi dari sebelumnya." Ucap lelaki itu yang juga memandangi tubuh Laura dari ujung kaki hingga rambut.
Kulit putih nan mulusnya dari mulai paha hingga ujung kakinya yang terlihat begitu jenjang pun terpampang jelas, membuat setiap lelaki pasti akan bergairah dibuatnya.
"Benarkah?" Laura semakin tersenyum sembari menggigit bibir bawahnya.
"Tentu saja."
"Kalau begitu tunggu apalagi? Ayo masuk lah." Laura pun menarik lengan lelaki itu, seperti ia menarik lengan Arsen sebelumnya.
Laura membawanya ke sofa persis dimana sebelumnya ia mendudukkan Arsen.
"Kamu lama sekali, aku hampir bosan menunggu." Ucap Laura yang langsung duduk berpangku pada lelaki itu.
Lelaki itu pun mulai melingkarkan kedua tangannya ke pinggang Laura,
"Kamu harum sekali." Bisik lelaki itu sembari mulai mengendus bagian dada Laura.
Laura pun kembali tersenyum, lalu tanpa basa basi Laura yang memang sudah sangat bernafsu langsung melahap bibir lelaki itu, ia ********** layaknya singa betina yang sedang kehausan. Begitu juga dengan lelaki itu yang tak ingin kalah, ia pun membalas ******* Laura dengan penuh gairah sembari diiringi dengan tangannya yang mulai membuka tali pengikat kimono Laura hingga membuat bahunya mulai terlihat jelas.
Dengan begitu beringas, lelaki itu langsung mengangkat tubuh Laura yang sejak tadi berada di atasnya, lalu langsung membaringkannya di sofa itu. Dengan begitu nafsunya ia pun kembali melahap area leher Laura dan membasahi hampir seluruh bagian leher itu. Laura pun mulai mengerang pelan, ia begitu menikmati permainan yang lelaki itu berikan pada tubuhnya.
Laura terus mengerang, saat bibir lelaki itu semakin turun menuju gundukan daging miliknya, memainkannya dengan lembut lalu mulai ingin membuka penutupnya. Namun sejenak Laura menahan tangannya.
"Ada apa sayang?" Tanya lelaki itu dengan mafas yang mulai terengah karena saking sudah begitu nafsunya.
"Minum lah itu dulu, aku mau lebih puas dari sebelumnya malam ini." Ucap Laura sembari menunjuk ke arah secangkir teh yang tadi dibuatkannya untuk Arsen.
__ADS_1
...Bersambung......