
"Ada apa dengan orang tua mu ha? Kenapa mereka sepertinya tidak menyukaiku? Aku telat sedikit saja apa itu menjadi masalah besar bagi mereka?" Tanya Laura dengan wajahnya yang masam.
"Sudah lah, tidak usah di ambil hati, papaku memang seperti itu." Ucap Arsen yang mencoba menenangkan kekasinya.
Arsen pun merangkul pundak Laura sembari mengusap-usapnya, membuat Laura akhirnya bisa tersenyum meski hanya sesaat.
"Ayo kita kesana." Ajak Arsen kemudian.
Mereka pun kembali menghampiri Erick dan Mila yang tengah berdiri tak jauh dari tempat berbagai makanan.
"Apa kamu sudah makan sayang?"
Laura pun menggelengkan kepalanya.
"Baiklah, ayo kita makan, aku juga belum makan."
Mereka pun mulai melangkah menuju meja panjang yang di atasnya telah tersaji begitu banyak jenis makanan. Arsen pun mulai mengambil beberapa jenis makanan sesuai seleranya, membuat dahi Laura sontak mengernyit memandangi piring yang di pegang oleh Arsen.
"Kamu yakin akan makan sebanyak itu?"
"Tentu saja, aku benar-benar lapar."
"Tapi semua makanan yang kamu pilih, semuanya tidak sehat dan banyak kalori. Kenapa kamu selalu tidak bisa memilih makanan yang sehat seperti ini?" Laura pun menunjuk ke arah piringnya.
Di piring Laura hanya terisi dengan salad dari berbagai jenis sayuran. Namun hal itu sama sekali bertolak belakang dengan selera Arsen yang lebih suka makanan seperti daging-dagingan, seafood, bahkan sesekali ia pun suka memakan junk food atau makanan cepat saji seperti pizza, burger, hotdog, toast, dan lainnya.
"Cobalah makan, makanan sehat seperti ini, ini bisa menjaga badanmu agar tetap sixpack dan tidak gendut." Tambah Laura lagi.
"Oh tidak sayang, bukankah kamu tau aku sama sekali tidak tertarik dengan salad."
"Ya aku tau, tapi mulai sekarang kamu sudah resmi menjadi CEO Blue Light Group, jadi mulai sekarang juga aku harus mengatur pola makan mu, bukankah akan sangat buruk jika seorang CEO terlihat gendut apalagi buncit? Oh tidak, aku bahkn tidak bisa membayangkan hal mengerikan itu terjadi padamu." Jelas Laura sembari meletakkan kembali piring yang telah di pegang artes ke atas meja.
Laura lalu memberikan piring berisi salad padanya, dan menariknya untuk menuju meja bundar yang telah tersedia di sisi kiri ballroom. Melihat hal itu Erick hanya bisa terus menahan tawanya, karena ia begitu tau Arsen pasti sangat merasa tersiksa saat itu.
__ADS_1
Namun karena tak ingin berdebat di tengah acara itu, Arsen pun akhirnya diam dan menuruti keinginan Laura, karena ia tau jika Laura sudah mengomel, itu takkan selesai meski berjam-jam lamanya.
Dengan ragu-ragu, Arsen pun mulai memasukkan beraneka jenis sayuran hijau itu ke mulutnya menggunakan garpu. Dengan mata terpejam, ia pun terus mengunyahnya, sebagai tanda ia begitu tidak menyukai rasanya.
"Bagaimana? Enak kan? Kamu harus membiasakan makan makanan seperti ini."
"Laura disana ada banyak makanan yang enak, tapi kenapa kamu justru memilih makanan seperti ini." Keluh Arsen.
"Oh no beib, tidak kah kamu lihat seberapa indah body ku saat ini? Tolong jangan merusak bentuk tubuhku dengan makanan yang seperti itu." Tegas Laura yang kembali melahap makanan miliknya.
Arsen pun memilih untuk diam, setelah beberapa suap, Arsen akhirnya meletakkan garpunya, dan langsung mengusap ujung bibirnya dengan tishu.
"Kamu sudah selesai?" Tanya Erick yang nampak heran.
"Ya, aku sudah kenyang." Jawab Arsen datar.
"Kenapa baru makan beberapa suap sudah kenyang? Bukankah tadi kau mengatakan saat lapar?" Tanya Laura menambahi.
"Memakan banyak jenis sayuran ini sudah cukup membuatku kenyang seketika." Jawab Arsen sembari menampilkan senyuman kecut nya.
"Benar-benar malang sekali nasibmu Arsen Lim, selain matrealistis, ternyata pacarmu juga egois dan tidak pengertian ya. Benar-benar menyedihkan." Ucap Rachel seorang diri yang bermaksud mengejek sahabat kecilnya itu.
"Pilihan mu kali ini benar-benar buruk." Rachel pun terus menggelengkan kepalanya sembari menahan tawanya.
Beberapa saat kemudian, Rachel merasakan ingin buang air kecil, matanya pun mulai melirik kesana kemari untuk mencari dimana letak toilet. Setelah bertanya pada seorang pelayan yang melewatinya, ia pun akhirnya langsung berlalu pergi menuju toilet.
Keluar dari toilet, Rachel memilih kembali merapikan dandanan serta gaunnya di depan cermin, setelah itu ia pun ingin beralih untuk keluar, namun tiba-tiba saja tubuhnya menabrak seorang wanita yang baru saja ingin memasuki toilet itu yang tak lain ialah Laura.
Tubuh Rachel yang lebih mungil dari Laura pun sedikit terpental, dan ingin jatuh, namun seketika dengan refleks tangan Rachel pun langsung menarik gaun Laura agar ia tidak terjatuh ke lantai.
*Kreeekk*
Suara bunyi sobekan dari gaun Laura pun terdengar, gaun yang berbahan lembut namun tipis itu sontak saja menjadi robek karena mendapat tarikan yang cukup kuat dari Rachel yang menahan tubuhnya agar tidak jatuh.
__ADS_1
"Astaga maafkan aku." Ucap Rachel yang merasa bersalah tanpa tau jika orang yang di hadapannya adalah Laura.
"Apa?! Maaf katamu?" Tanya Laura yang mulai meninggikan suaranya.
Rachel pun seketika kembali berdiri tegak dan menatap wajah wanita yang ada di hadapannya, seketika mata Rachel langsung membulat sempurna saat menyadari jika ia sedang berhadapan dengan kekasih Arsen.
"Lihat lah apa yang telah kau lakukan pada gaun mahalku!" Ketus Laura lagi sembari menunjuk ke arah bagian paha dari gaunnya yang telah robek.
"Aku minta maaf, lagi pula kau yang menabrak ku lebih dulu." Ucap Rachel dengan tenang.
"Apa katamu?! Setelah merobek gaun mahalku, kini kau malah menuduhku yang menabrak mu ha? Apa ini alibimu karena kau tidak sanggup menggantinya haa?" Laura pun mulai mendekat ke Rachel dengan sorot mata yang begitu tajam.
Namun melihat Laura yang sudah begitu marah padanya sama sekali tak membuat nyali Rachel ciut, dia tetap berdiri tegak dengan tenangnya, bahkan tanpa mengalihkan pandangannya sedikit pun.
"Memangnya berapa harga gaunmu? Aku akan menggantinya." Ucap Rachel.
Laura pun langsung mendengus kesal.
"Sombong sekali! Dasar perempuan tidak tau malu." Laura pun ingin segera menampar Rachel.
Namun dengan cepat tangan Laura pun di tangkis oleh Rachel, kini kedua mata mereka saling bertatapan dengan tajam.
"Singkirkan tangan ini dariku." Tegas Rachel sembari membuang kasar tangan Laura.
Lalu Rachel pun keluar begitu saja dari toilet, meninggalkan Laura yang di buat begitu menganga mendapat perlakuan yang dirasanya begitu tak sopan dari Rachel.
"Dasar wanita tidak tau diri, beraninya dia padaku, apa dia tidak tau siapa aku disini?" Ketus Laura dengan sorot mata yang semakin menunjukkan kemarahan.
Laura pun ikut keluar dari toilet untuk menyusul Rachel, di tengah-tengah ballroom itu, Laura pun berteriak agar Rachel menghentikan langkahnya.
Sontak langkah Rachel pun terhenti, begitu pun beberapa pasang mata para tamu yang mendengar teriakan Laura sontak menjadi memandanginya.
"Kau tidak bisa pergi begitu saja!!" Ketus Laura yang kembali meninggikan suaranya.
__ADS_1
Tak lama Arsen dan temannya yang lain pun mendengar hal itu, Arsen langsung berjalan cepat menuju tempat dimana Laura dan Rachel berada. Melihat kedatangan Arsen, Membuat Rachel pun segera menundukkan kepalanya.
...Bersambung......