Pewaris Tahta

Pewaris Tahta
Eps 175


__ADS_3

"Baik, aku,, aku ingin meminta sedikit waktu mu." Ucap Antony yang kini mulai menatap Rachel dengan tatapannya yang begitu serius.


"Ha?! Ma, maksudmu?" Tanya Rachel yang tercengang seolah masih belum mengerti maksud dari permintaan Antony.


"Berikan aku sedikit saja waktumu, berikan aku setidaknya 3 jam, aku ingin mengajakmu ke suatu tempat. Hanya itu saja, jika kamu mengabulkannya, maka itu akan menjadi hadiah terindah dalam hidupku."


Rachel pun terdiam dengan tatapan yang seketika berubah. Rachel kembali di terpa kebingungan yang luar biasa. Ia tidak yakin bisa mengabulkannya, tapi di satu sisi Rachel adalah tipe orang yang selalu menepati janji.


"Ta, tapi aku tidak bisa hari ini, setelah ini aku ingin menemui Arsen di kantornya."


"Oh, begitu kah?" Antony pun kembali tersenyum lirih.


"Emm baiklah, aku tidak akan memaksa, biar bagaimana pun, suami tetap jadi yang utama. Bukan begitu?" Tambahnya lagi.


Rachel pun mulai merasa tidak tega, apalagi ia sudah terlanjur berjanji, lagi pula hanya meminta waktu tiga jam saja.


"Eeem bagaimana kalau besok? Sepertinya aku akan senggang di jam tiga sore."


"Benarkah??"


Rachel pun mengangguk.


"Baiklah, kalau begitu, besok aku akan mengosongkan jadwal ku."


"Oh tapi jika kamu sibuk, kita bisa atur ulang, lain waktu juga bisa." Rachel pun tersenyum lagi.


"Ah tidak, tidak! Besok lebih baik! Aku tidak sibuk, sama sekali tidak sibuk." Tegas Antony yang akhirnya jadi begitu sumringah.


"Baiklah."


Rachel melirik ke arah jam tangannya, jam kini sudah menunjukkan pukul 11:25 siang. Rachel pun kembali bersenabut, karena sebentar lagi sudah masuk jam makan siang dan ia harus segera ke kantor Arsen untuk mengajaknya makan siang bersama.


Rachel pun sontak bangkit dari duduknya dengan wajahnya yang mulai terlihat panik. Antony yang melihat hal itu pun sontak ikut terkejut dan memandanginya dengan keherenan.


"Ada apa?" Tany Antony.


"Maaf Tony, sudah mau jam makan siang, sebenarnya aku ingin mengajak Arsen untuk makan siang bersama, jadi sepertinya aku harus pergi sekarang."


"Oh begitu kah? Baiklah." Antony pun akhirnya ikut bangkit dari duduknya.


"Kamu naik apa kesini?"


"Aku datang bersama asistenmu."


"Oh ya sudah, kalau begitu, biarkan dia yang mengantarkan mu ke kantor Blue Light."


"Aah sepertinya tidak usah, aku naik taksi saja, aku takut Arsen melihatnya dan jadi salah paham."


"Akan lebih cepat jika kamu di antar oleh asistenku, naik taksi akan membuang banyak waktu."


"Benar juga." Pikir Rachel.


"Baiklah kalau begitu."


Akhirnya Rachel bergegas melangkah menuju pintu, namun saat tangannya sudah berhasil memegang handle pintu, Rachel kembali menoleh ke arah Antony.


"Kamu juga jangan telat makan siang," Ucapnya yang kemudian tersenyum tipis,


Antony pun semakin mengembangkan senyumannya.


"Baiklah, aku pergi, bye." Rachel pun langsung membuka pintu dan keluar.


Meninggalkan Antony seorang diri dengan tatapannya yang masih saja memandangi ke arah Rachel dengan penuh makna.


"Andai kamu memilihku, kurasa aku akan menjadi seseorang paling bahagia di dunia ini." Celetuk Antony sembari tersenyum lirih.


Antony kembali melirik ke arah kue ulang tahun yang dibawakan Rachel untuknya, lalu kembali menghampirinya dan mulai memotongnya untuk memakannya lagi.


Rachel kembali memasuki mobil yang sejak tadi di tumpanginya.


"Pak, bisakah sedikit lebih cepat?" Tanya Rachel pada supir.


"Tenang saja nona, saya pastikan anda akan tiba disana dalam waktu lebih kurang 10 menit." Jelas sang asisten yang memang di tugaskan oleh Antony untuk mendampinginya.


Rachel hanya mengangguk, lalu bergegas meraih ponselnya, saat itu ada beberapa panggilan tak terjawab dari Arsen, membuat Rachel semakin panik bukan kepalang. Dia baru menyadari jika saat itu ponselnya dalam keadaan silent hingga tidak mengeluarkan suara ketika di telpon.


"Astaga, ternyata dia menelponku beberapa kali." Gumam Rachel semakin panik sembari mencoba kembali menelpon Arsen,


*tut... tut... tut...*


"Beib, where are you been?" Tanya Arsen begitu mengangkat teleponnya.


"Aku sekarang lagi di jalan."


"Di jalan? Mau kemana? Hei, kenapa kamu keluar? Bukankah kamu masih sakit??" Arsen nampak semakin panik.


"Aku sedang menuju ke...."


"Kemana? Katakan kamu mau kemana! aku akan segera menyusulmu,"


Rachel pun mulai mengembangkan senyumannya.


"Tidak perlu menyusulku, karena aku sudah dekat."


"Sudah dekat?? Ka, kamu ke kantor?"


"Eemmm" Rachel pun mengangguk.

__ADS_1


"Astaga beib, kamu benar-benar keras kepala ya,"


"Maaf, tapi aku benar-benar bosan di rumah, bagaimana kalau kita makan siang bersama."


Arsen pun akhirnya hanya bisa tersenyum.


"Emm baiklah, aku tunggu."


"Iya suamikuu." Rachel pun menyudahi panggilannya dengan senyumannya yang begitu simpul.


Dan benar saja, tidak sampai menembus waktu 10 menit, kini mobil Antony sudah berhasil mengantarkan Rachel hingga di depan loby.


"Terima kasih banyak." Ucap Rachel ketika turun.


"Saya yang harusnya berterima kasih nona, terima kasih sudah membuat tuan muda bisa tersenyum di hari ulang tahunnya."


Rachel pun mengangguk dengan senyuman yang semakin berkembang.


"Saya permisi dulu nona,"


"Iya, byee."


Rachel dengan penuh semangat, bergegas kembali melangkah menuju ruangan Arsen yang terletak di lantai paling atas gedung itu.


Sementara Arsen, saat itu ia sudah menyelesaikan meetingnya dan duduk dengan gelisah menantikan kehadiran Rachel sang pujaan hati.


Beberapa kali Arsen melirik ke arah monitor yang terhubung langsung dengan kamera pemantau yang ada di depan pintu ruangannya. Kamera yang sengaja dibuat, untuk memantau siapa yang akan datang ke ruangannya.


Tak lama, senyuman Arsen seketika terpancar, saat melihat Rachel yang melangkah dengan tenang ke arah ruangannya,


Arsen pun bergegas bangkit dari duduknya, senyumannya semakin berkembang dan ia siap menyambut kedatangan istri tercintanya.


*Ceklek*


Rachel langsung saja mendorong pintu dan masuk begitu saja tanpa ingin mengetuk terlebih dulu. Saat itu, Arsen terlihat sudah berdiri sembari membentangkan tangannya seolah siap menyambut Rachel dengan pelukan.


"Hay ma Cherie,"



Perlakuan semacam itu, sontak membuat Rachel semakin berbinar, ia pun melangkah dan langsung memeluk hangat tubuh suaminya yang tentu saja begitu harum.


"Hayy suami, aku merindukanmu," celetuk Rachel sembari terus memeluk tubuh Arsen.


Arsen lagi-lagi tersenyum dan semakin mengeratkan pelukannya,


"Apakah kamu merindukanku?" Tanya Rachel yang kembali menatap wajah Arsen dengan tatapan menyelidik.


"I miss you more." Jawab Arsen singkat namun terdengar begitu tulus dan penuh dengan kelembutan saat mengungkapkannya.


Senyuman Rachel semakin berkembang menghiasi wajahnya yang manis,


"Benarkah?"


"Aaaa kalau begitu beri aku ciuman." Rachel tanpa malu-malu langsung memonyongkan bibirnya ke arah Arsen.


Dan itu benar-benar terlihat sangat menggemaskan bagi Arsen hingga membuatnya tersenyum serta terkekeh.


"Aaaa kenapa malah tertawa? Aku memintamu untuk menciumkuu." Rengek Rachel.


Membuat Arsen lagi-lagi harus mendengus dan akhirnya mengecup singkat bibir mungil istrinya itu.


Senyuman Rachel kembali berkembang bak bunga-bunga di musim semi, lalu ia pun kembali memeluk erat tubuh Arsen seolah tak ingin melepaskannya.


"Jadi, kamu mau makan dimana hari ini?" Tanya Arsen kemudian.


Rachel akhirnya melepaskan tautan tubuh mereka, lalu mulai memikirkan tempat yang pas untuk mereka makan siang.


"Eeeemm dimana ya?" Gumam Rachel sembari seolah sedang berfikir.


"Apakah butuh waktu begitu lama hanya untuk menentukan tempat makan?" Arsen pun mencubit pelan hidung Rachel.


"Makan dimana saja juga boleh asal bersamamu." Jawab Rachel kembali tersenyum penuh semangat.


"Benarkah?"


"Emmm" Rachel mengangguk cepat.


"Kalau aku mengajakmu makan di tepi jalan, bagaimana?"


"Tidak masalah, jangan kamu pikir aku tidak pernah makan di tepi jalan."


"Memangnya pernah?"


"Tentu saja, saat di Paris aku sering makan di cafe-cafe tepi jalan." Jawab Rachel polos,


Arsen pun mendengus,


"Itu jelas berbeda!!" Arsen pun menjitak pelan dahi istrinya.


Membuat Rachel terkekeh serta meringis pelan.


"Aaaaa suami, kenapa kamu menjitakku?!"


"Itu jitakan sayang." Jawab Arsen singkat yang akhirnya membawa Rachel pergi dari ruangannya.


Sepanjang jalan menyusuri berbagai ruangan di kantor utama, tangan Arsen seolah tak bisa lekang dari tangan Rachel, ia terus menggenggamnya begitu erat, seolah takut Rachel akan kabur. Saat itu, ada banyak pasang mata yang memandangi keserasian mereka, namun tak sedikit pula beberapa wanita di kantor yang menatap iri kepada Rachel, karena begitu beruntung bisa dinikahi oleh pengusaha kaya raya seperti Arsen Lim,

__ADS_1


"Beruntung sekali wanita itu, kenapa tuan muda memilihnya?! andai aku yang di pilihnya." Celetuk seseorang staff saat memandangi Arsen dan Rachel yang lewat di hadapannya,


"Hei, kecilkan suaramu, nasibmu akan tamat jika ada salah satu dari keluarga Lim yang mendengarnya," ketus salah seorang staff lainnya.


"Eeemm ya, ya, ya. Begini lah nasih orang kecil yang mendambakan bos nya sendiri, jangankan menikah, bahkan untuk menyentuhnya pun terasa sangat mustahil."


Di waktu yang sama, Alex kebetulan keluar dari ruangannya dan memergoki para staffnya yang terlihat terus tercengang memandangi ke suatu arah sambil bergosip.


"Heh, tontonan apa yang berhasil membuat kalian jadi mengabaikan pekerjaan kali seperti sekarang ini?" Alex melotot sembari mengecakkan pinggangnya.


Para staff pun bersigap kembali ke tempatnya masing-masing dan kembali bekerja, hingga tersisa satu karyawan yang hanya terdiam sembari menunjuk ke arah Arsen dan Rachel yang sedang berjalan dangan bergandengan tangan dan terlihat sangat serasi.


Alex pun seketika menoleh, ia pun jadi ikut terperangah saat melihat pemandangan yang menyejukkan jiwa itu.


"Waahh, jadi ini yang sejak tadi mereka bicarakan?? Haiyoo kenapa tidak bilang dari tadi hahaha." Alex pun bergegas meraih ponselnya,


Lalu dengan cepat langsung memotret mereka yang terlihat bergandengan mesra menuju keluar dari kantor.


"Jadi, mereka sudah resmi baikan ya, aaah syukur lah nak, uncle ikut senang." Celetuk Alex sembari terus memotret mereka dengan bertubi-tubi.


"Waahh, ini akan menjadi gosip hangat yang akan membuat heboh sekaligus membuat senang seluruh keluarga Lim." Celetuk Alex yang langsung mengirimkan seluruh foto hasil bidikannya ke Benzie.


Sudah beberapa hari ini, Benzie memang tidak masuk kantor, karena ia memang sudah memutuskan jika pelan-pelan ingin menarik diri dari Blue Light.


Arsen dengan senyumannya yang tak pudar, membantu Rachel untuk menuruni anak tangga dengan cara memegangi tangannya.


"Pelan-pelan saja." Ucapnya pelan.


"Tenang lah, aku sudah pulih." Jawab Rachel dengan tenang sembari terus melangkah.


Arsen dengan cepat membukakan pintu untuk Rachel, membuatnya kembali tersenyum manis lalu masuk ke dalam mobil sport milik suaminya.


"Terima kasih mon amour." Ucap Rachel.


Arsen pun ikut masuk ke mobil, lalu mulai melajukan mobilnya meninggalkan kawasan perkantoran elit.


Mereka melewati makan siang di sebuah cafe terbuka yang ada di tepi kota, dengan menyajikan pemandangan laut sebagai daya tariknya.


"Kenapa aku baru tau tempat ini?" Tanya Rachel sembari memandangi lautan yang nampak berkilauan akibat bias sinar matahari.


"Aku juga baru kesini."


"Mana mungkin!"


"Kenapa tidak mungkin?"


"Kamu membawaku kesini, sudah pasti kamu cukup tau tempat ini. Eeemm apa kamu pernah membawa mantan terindahmu itu kesini?!" Mata Rachel mulai memicing seolah sedang menyelidik.


"Selama di jalan tadi, aku sengaja mensearching tempat makan yang rekomended dari google, dan menemukan tempat ini, jadi aku membawamu kesini."


"Benarkah begitu?? Jadi, kamu benar-benar tidak pernah membawa si hama betina kemari?" Tanya Rachel yang kembali menyelidik sembari kedua tangannya yang mulai bersedekap.


"Heii, kita mau makan siang dengan tenang, kenapa malah membawa wanita itu di tengah-tengah pembahasan kita? Lagi pula, dia bukan mantan terindah!" Tegas Arsen.


"Membuat dahi Rachel mulai mengkerut saat mendengarnya.


"Jika bukan wanita ular itu, lalu siapa?"


"Kamu!"


Mendengar hal itu sontak membuat mata Rachel seketika jadi melotot.



"Hah?! Aku??!"


"Bukankan saat ini kamu bukan lagi pacarku? Jadi bisa di katakan, kamu adalah mantan pacar terindah, sehingga aku menjadikanmu sebagai istri."


"Aaaa begitu kah?" Rachel pun tak jadi marah dan mulai tersipu malu.


"Menurutku tidak ada mantan terindah dalam hal pacaran, karena, jika terindah, kenapa putus?" Tambah Arsen lagi dengan santainya.


"Eeem benar juga, aaa akhirnya, aku punya mantan pacar, berarti kamu juga mantan terindahku." Rachel pun tersenyum bahagia.


Arsen pun terkekeh sembari mengusap ujung kepalanya.


Makan siang pun berlalu dengan damai, dengan di selingi beberapa perbincangan kecil namun tetap terkesan manis. Arsen benar-benar menunjukkan segala macam perhatiannya, inilah Arsen yang sesungguhnya, Arsen yang dikenal Rachel saat bertemu dengannya ketika di Paris, Arsen yang membuat Rachel jatuh hati hanya dari melihat sikapnya yang begitu manis dan baik hati.


Arsen tersenyum, memandangi wajah suaminya yang saat itu terlihat begitu lahap saat menyantap hidangan makan siangnya. Tak sengaja Arsen melirik ke arahnya dan membuatnya seketika menghentikan aktivitas makannya.


"Kenapa memandangiku seperti itu?"


"Kamu, akan terus seperti ini, kan?" Tanya Rachel pelan.


"Haiyoo, kenapa tiba-tiba bertanya seperti itu ha?" Arsen pun meraih tangan Rachel.


"Tidak, aku hanya takut, aku begitu takut kehilangan sosokmu yang seperti ini. Begini lah Arsen yang seharusnya aku kenal, Arsen yang membuatku jatuh cinta saat bertemu dengannya di Paris." Ungkap Rachel yang mulai menatapnya dengan tatapan sendu.


"Heei, tentu saja aku akan terus seperti ini, hari ini, besok, dan seterusnya akan selalu seperti ini, selalu menjadi sosok yang kamu harapkan." Jelas Arsen dengan lembut,


"Aku mencintaimu, apapun yang aku lakukan di belakangmu, terlepas dari benar tidaknya tindakan ku, percaya lah, aku tidak akan pernah mengkhianatimu." Ungkap Rachel.


Arsen pun hanya terdiam, terbesit tanda tanya di pikirannya tentan ucapan Rachel yang tiba-tiba berkata begitu aneh seolah ia ada melakukan sesuatu di belakangnya yang belum di ketahui. Namun Arsen segera menepis pikirannya, karena ia begitu tak ingin merusak moment mereka saat itu.


Arsen pun akhirnya tersenyum dan terus mengusap-usap lembut punggung tangan Rachel.


Hari beranjak petang, akhirnya Arsen dan Rachel mulai beranjak, meninggalkan tempat yang sejak tadi memberikan ketenangan bagi mereka berdua.

__ADS_1


...Bersambung......


__ADS_2