
Beberapa menit berlalu, kini Rachel pun telah merasa sedikit lebih hingga membuat tangisannya mulai mereda. Rachel akhirnya kembali bangkit dari duduknya, ia menyeka air matanya hingga benar-benar kering.
Rachel melangkah menuju dapur, demi agar tidak terlalu larut ke dalam kesedihan, ia pun memutuskan untuk memasak sarapan. Meski perkataan Arsen benar-benar menyakitinya, namun entah kenapa ia sama sekali tidak bisa marah pada suaminya itu. Yang ada justru perasaan bersalah yang semakin membesar, perasaan bersalah karena memang mengawali semuanya dengan kebohongan yang cukup lama bahkan berlarut-larut.
Pagi itu, tidak ada senyuman di wajah Rachel saat memasak, semangatnya pun seakan pupus, yang ada hanyalah wajah datar. Menit demi menit berlalu, kini beberapa potong sandwich telah selesai ia hidangkan dengan rapi di atas meja bar. Tak ketinggalan pula segelas orange jus yang menjadi pelengkap sarapan pagi itu.
Rachel hanya memakan sepotong sandwich, lalu kemudian ia langsung beranjak menuju kamar. Pikiran yang tak tentu arah membuatnya sangat merasa penat. Hingga ia pun memutuskan untuk pergi keluar, lebih tepatnya ia akan pergi ke toko buku. Karena memang biasanya, toko buku lah yang menjadi tempat paling ampuh untuk menghilangkan kegalauannya.
Rachel keluar dari kamar dengan sudah berpakaian rapi, udara pagi itu cukup dingin hingga membuatnya harus memakai pakaian sedikit lebih tebal. Ia pun kembali melirik ke arah ruang kerja Arsen yang kala itu terlihat sedang tertutup rapat. Ia pun kembali ke meja bar dan memandang lirih sarapan yang sudah ia buat.
Setelah menghela nafas kasar, ia pun meraih ponsel dari dalam tas dan memutuskan untuk mengirim pesan pada Arsen.
"Aku pamit pergi keluar, sarapan sudah ku siapkan di atas meja. Makan lah, jangan sampai kamu tidak sarapan ya, I love you." Isi pesan Rachel.
Setelah memandangi sejenak isi pesan yang baru saja ia kirimkan, akhirnya Rachel pun mulai beranjak pergi.
*Ting*
Ponsel Arsen seketika berbunyi, yang menandakan adanya pesan singkat yang baru masuk. Arsen yang kala itu terduduk di meja kerjanya, sontak meraih ponselnya yang sejak tadi ia letakkan di atas meja.
Membaca pesan dari Rachel membuat dahinya seketika berkerut.
"Pergi? Kemana?" Tanya Arsen dalam hati.
Arsen pun sontak langsung bangkit dari duduknya, bergegas keluar dari ruang kerja, berharap Rachel belum pergi dan bisa menanyakan kemana dia akan pergi. Ia masuk ke kamar dan ke toilet, namun tidak mendapati sosok yang ia cari.
"Apa sudah pergi?" Tanyanya lagi dalam hati sembari mulai beranjak menuju meja bar.
Arsen pun akhirnya terduduk lesu, memandang nanar sarapan yang telah di siapkan oleh Rachel. Tak ada pilihan, Arsen yang juga sudah merasa lapar pun akhirnya mulai menyantap sandwich buatan Rachel.
"Apa ucapanku tadi kelewatan hingga melukainya? Apa karena itu dia pergi?" Arsen terus bertanya-tanya dalam diamnya.
__ADS_1
Kini gantian, Arsen lah yang mulai menjadi tak karuan memikirkannya.
"Haaaish, kenapa aku harus di hadapkan dengan situasi semacam ini?" Ketus Arsen yang akhirnya mulai mengacak-acak rambutnya.
Kini Rachel telah sampai di depan perpustakan yang sebelumnya begitu sering ia kunjungi. Yang tak lain tak bukan ialah perpustakaan milik keluarga Antony. Rachel terus berjalan santai memasuki perpustakaan yang begitu luas dan megah. Melalui beberapa lorong-lorong rak buku, demi mencari buku yang pas untuk ia baca hari itu.
Tanpa terasa waktu setengah jam berlalu begitu saja, kini di tangan Rachel sudah ada tiga buku yang ia pegang, satu di antara buku itu adalah novel bergenre romansa klasik, yang siap untuk ia baca. Dengan langkah cepat, ia pun mulai beralih menuju cafe yang memang di sediakan khusus untuk para pembaca di dalam perpustakaan.
Memesan secangkir matcha latte dan stik kentang goreng, lalu membawanya ke sebuah meja kosong. Rachel dengan tenang mulai membaca salah satu novel yang sudah ia bawa, dan lagi-lagi waktu satu jam pun seakan terlewat begitu cepat tanpa ia sadari. Setengah buku telah ia baca dengan penuh penghayatan, kini pikiran dan perasaannya seolah terfokus pada novel itu, yang kebetulan peran wanita dari novel itu memiliki nasib yang menyedihkan, membuat wajah Rachel jadi begitu tegang saat membacanya.
"Tegang sekali." Celetuk seseorang yang suaranya terdengar begitu familiar.
Membuat Rachel seketika menoleh ke arah sumber suara, dengan mata yang membulat ia pun terus memandangi Antony yang kala itu sudah berdiri di sisi nya.
"Antony." Ucapnya yang jadi begitu terperangah.
"Boleh aku duduk disini?"
Antony pun terkekeh, lalu mulai duduk di hadapan Rachel.
"Tentu aku harus bisa lebih menjaga sikap sekarang, mengingat kamu sudah menjadi istri seorang Arsen Lim yang banyak di segani."
Rachel pun hanya bisa mendengus dan tersenyum, tanpa membalas perkataan Antony, Rachel memilih untuk kembali melanjutkan membaca novelnya.
Antony mulai menyandarkan tubuh tegapnya ke sandaran kursi, melipat sebelah kakinya layaknya yang sering dilakukan lelaki macho pada umumnya, dengan kedua tangannya yang mulai bersedekap. Ia terus memandangi Rachel dengan senyuman, ada rasa rindu yang sebenarnya ia pendam saat beberapa hari tak bertemu.
"Bukankah ini suatu hal yang terlihat sangat aneh." Ucapnya tiba-tiba dengan suara pelan.
"Aneh apanya?" Tanya Rachel dengan tenang sembari terus saja membaca novelnya.
"Sangat aneh rasanya saat mendapati seorang pengantin baru yang justru malah menghabiskan banyak waktu hanya untuk membaca buku di perpustakaan."
__ADS_1
Mendengar hal itu membuat Rachel terdiam sejenak, lalu mulai melirik Antony sejenak, dan memilih untuk kembali bersikap tenang melanjutkan membaca.
"Kurasa tidak ada yang aneh." Jawab Rachel datar.
"Tentu saja aneh, setauku pengantin baru akan menghabiskan banyak waktu untuk pergi honeymoon, atau,, ya setidaknya para pengantin baru yang kebanyakan aku tau, pasti selalu pergi bersama dengan pasangannya untuk menghabiskan waktu bersama."
Rachel memilih bungkam.
"Lalu kemana Arsen? Kenapa dia tega membiarkan wanita yang baru saja ia nikahi ini berjalan sendirian di tengah udara dingin seperti ini?"
"Antony aku mohon, aku dan Arsen sudah menikah, dan untuk masalah yang baru saja kamu ucapkan ini, itu sudah masuk ke dalam ranah pribadi dan menurutku itu sangat privasi" ungkap Rachel yang mulai menutup bukunya sembari menatap lekat wajah Antony.
Antony pun akhirnya hanya bisa tersenyum dan meminta maaf.
"Maafkan aku, sepertinya selain menjaga sikap, mulai sekarang aku juga benar-benar harus menjaga ucapanku. Sekali lagi aku minta maaf."
Rachel pun menghela nafas dan mengangguk.
"Aku memang sudah mengakui kekalahanku, dan saat ini, aku pun sudah memutuskan untuk berhenti mengejarmu." Ungkap Antony dengan begitu tenang.
Membuat Rachel kembali tersenyum.
"Ya, kamu pantas mendapatkan seseorang yang lebih baik, semoga kelak kamu bisa menemukan seseorang itu ya."
"Terima kasih."
Rachel kembali mengangguk dan melebarkan senyumannya.
"Tapi, apa kamu masih bersedia berteman denganku?" Kini Antony kembali menatap Rachel dengan begitu lekat.
...Bersambung......
__ADS_1