Pewaris Tahta

Pewaris Tahta
Eps 154


__ADS_3

Kala itu, Rachel seketika di buat jadi begitu bingung harus menjawab apa. Karena rasanya, setelah ia mengetahui perasaan Antony sebelumnya terhadapnya, seperti mustahil bila bisa kembali berteman.


"Kenapa kamu menginginkan kita berteman setelah aku mengecewakanmu karena lebih memilih Arsen?"


"Apapun yang kamu pilih saat ini, berarti itulah yang memang terbaik bagimu, jadi aku takkan mempermasalahkan segala hal yang menurutmu baik. Tapi jujur saja, aku tidak pernah merasa bagaimana rasanya memiliki seorang sahabat atau pun teman dekat, karena sejak kecil, orang tuaku seolah memang sudah ingin mempersiapkan aku untuk mengelola bisnis keluarga, jadi tidak ada waktu lebih untuk bermain." Jelas Antony sembari mulai menampilkan senyuman lirihnya.


"Miris sekali." Celetuk Rachel pelan.


"Ya, kamu benar. Sejak kecil aku sudah merasa kesepian, tidak ada teman, tidak merasakan kasih sayang kedua orang tua yang lebih memilih menyibukkan diri di perusahaan, benar-benar miris bukan?" Antony akhirnya mulai terkekeh, meski dari sorot matanya terlihat jelas jika ia seperti merasa begitu sedih.


Rachel pun terdiam sejenak memandangi wajah Antony, sejenak ia melihat ketulusan dari wajah Antony, namun di sisi lain, ia juga cukup merasa was-was, Rachel takut jika ia berteman dengan Antony, Arsen akan salah paham dan bisa-bisa semakin marah padanya.


"Tapi,, bukankah dengan kamu yang seperti sekarang ini, ada banyak orang yang bersedia menjadi temanmu? Bukan hanya teman, bahkan wanita pun pasti banyak yang menginginkan untuk bisa dekat denganmu."


"Kamu benar, memiliki karir yang gemilang, uang, serta dikenal dan disegani banyak orang, tentu tak sedikit orang yang mencari muka di depanku agar bisa berteman dan dekat denganku. Tapi, bukan orang-orang yang seperti itu yang aku cari untuk di jadikan teman. Terkadang, orang-orang sepertiku juga ingin sesekali di anggap biasa saja, tidak selalu di kaitkan dengan berapa banyak kekayaan yang kumiliki saat ini. Dan aku melihat sosok seperti itu, ada di dirimu." Jelas Antony lagi dengan begitu tenang dan kembali menatap Rachel dengan senyum tipisnya.


"Aku??!" Rachel seketika menunjuk dirinya sendiri seolah tak percaya.


"Iya kamu, entah kenapa, aku merasa begitu nyaman saat berada di dekatmu. Caramu berbicara, pembawaan dirimu, serta gaya hidupmu yang tidak melulu ingin terlihat wah, semua yang ada padamu, aku suka. Jadi aku berfikir, jika tidak bisa mendapatkan mu sebagai pasangan hidupku, setidaknya berikan aku kesempatan untuk menjadi temanmu."


"Apa aku terima saja? Karena menurutku, tidak ada salahnya jika memperluas pertemanan." Gumam Rachel dalam hati.


Rachel pun akhirnya tersenyum, lalu mengangguk pelan sebagai tanda setuju.


"Apa anggukan mu itu mengartikan bahwa kamu setuju untuk menjadi temanku?" Tanya Antony memastikan,


"Iyaaa." Jawab Rachel yang semakin melebarkan senyumannya.


"Terima kasih," Antony pun ikut tersenyum.


Lagi-lagi Rachel memilih menjawabnya dengan sebuah anggukan.


"Tapi, apa yang membuatku mau? Apa kamu tidak curiga padaku? Maksudku, apa kamu tidak takut aku akan menjebakmu untuk merusak hubunganmu dengan Arsen?" Antony pun kembali menatap Rachel dengan penuh arti.


"Eem jujur, awalnya aku sempat memiliki pikiran seperti itu, tapi...."


"Tapi apa?!" Antony pun mulai memicingkan matanya.


"Tapi entah kenapa, aku merasakan ketulusan dari sorot matamu. Dan semoga saja apa yang kurasa itu benar adanya."


"Terima kasih, jawabanmu cukup membuatku tersanjung."

__ADS_1


"Haaish, tidakkah itu terdengar berlebihan?" Rachel pun akhirnya terkekeh.


Mereka pun mulai berbincang ringan tentang banyak hal, mulai dari masa kecil, hingga tentang hubungan bisnis yang sekarang sedang mereka jalani. Tanpa terasa waktu pun seolah begitu cepat berlalu dan sudah memasuki jam makan siang.


"Rachel, bagaimana hadiah yang kuberikan saat acara pernikahanmu? Apa kamu menyukainya?"


"Hadiah?" Tanya Rachel yang kala itu baru selesai menyeruput sisa minumannya.


"Ya, hadiah, hadiah pernikahan dariku. Kenapa dari jawabanmu seolah kamu belum mengetahuinya?"


"Oh hehehe ya memang aku belum membuka hadiah-hadiah itu, aku bahkan belum menerima satu pun."


"Maksudnya?"


"Semua hadiah masih berada di hotel, di simpan di suatu ruangan. Aku belum punya waktu untuk itu,"


"Emm begitu rupanya." Antony pun hanya mengangguk-angguk saja.


Sisi lain di Apartement...


Arsen nampaknya mulai gelisah menunggu kepulangan Rachel yang sudah berjam-jam lamanya pergi. Berbagai cara telah dilakukannya untuk mengalihkan pikiran dan rasa jenuhnya, mulai dari menyibukkan diri di ruang kerja, menonton TV, hingga melakukan work out di mini gym yang ada di dalam apartementnya.


"Sudah jam 1, kenapa masih belum pulang juga?" Tanya Arsen dalam hati sembari melirik ke arah jam dinding yang tergantung di salah satu tembok di ruang keluarga.


"Apa dia sungguh marah? Tapi,, kenapa jadi dia yang berbalik marah padaku? Tidak kah dia sadar aku begini juga karena dia yang menipuku berbulan-bulan lamanya." Gumamnya lagi sembari terus berjalan mondar mandir di depan pintu.


Tak berapa lama, bel pun berbunyi.


*TingTong*


Mendengar itu, membuat Arsen bergegas melangkah menuju pintu,


"Akhirnya pulang juga!" Ketusnya sembari langsung membuka pintu tanpa mengintip terlebih dulu di lubang yang ada di pintu.


Tak di sangka, ternyata yang datang bukanlah seperti dugaan Arsen, bukan Rachel, melainkan seorang lelaki berseragam yang ia tau itu adalah seragam dari hotel miliknya.


"Selamat siang tuan muda." Sapanya sembari membungkukkan badan.


Arsen yang awalnya dibuat sedikit tercengang karena yang datang bukanlah yang di harapkan pun akhirnya kembali bersikap biasa dan membalas sapaannya.


"Siang, apa yang membawamu kemari?"

__ADS_1


"Maaf mengganggu waktu santai anda tuan muda, tapi kedatangan saya kemari untuk mengantarkan seluruh hadiah pernikahan yang masih tertinggal di hotel, ini atas perintah tuan besar Benzie."


"Oh begitu, eemm lalu dimana hadiahnya?"


Seorang lelaki itu pun langsung menepuk sekali tangannya seolah memberi kode, lalu tak lama muncul lah para pegawai hotel yang datang berbondong-bondong dengan membawa berbagai jenis kado di tangannya.


"Yaa, letakkan saja di sana." Perintah Arsen sembari menunjuk ke arah sofa yang ada di ruang tamu.


"Baik tuan muda."


Sofa yang awalnya kosong, dalam waktu lebih kurang semenit, sudah terlihat dipenuhi dengan tumpukan kado berbagai bentuk dan warna.


"Apa sudah semua?"


"Sudah tuan muda, kami permisi dulu."


Arsen pun mengangguk singkat. Ia kembali memandangi tumpukan hadiah yang terletak di sofa, lalu menutup kembali pintu dan mulai mendekati sofanya.


"Kenapa banyak sekali?" Celetuknya seorang diri sembari mulai meraih salah satu hadiah dan memandanginya.


Seolah sedang tidak berminat untuk membukanya saat itu juga, Arsen pun meletakkan kembali kotak hadiah yang saat itu di pegangnnya.


"Kenapa harus aku yang repot-repot membukanya? Biar saja dia yang membukanya sendiri." Ketusnya lagi yang kembali merasa kesal pada Rachel yang belum juga pulang.


Tapi baru saja ingin beranjak, mata Arsen tak sengaja menatap ke salah satu kotak hadiah yang berukuran cukup besar, di atasnya sudah terselip kartu ucapan dan nama pengirimnya. Dengan tenang Arsen meraih kartu itu dan membacanya.


"Apapun pilihanmu, semoga kamu terus menjadi orang yang selalu berbahagia dalam hidup" begitulah tulisan di kartu ucapannya.


Namun Arsen seketika memicingkan matanya saat membaca nama pengirimnya yang bertuliskan "Antony Yue"


"Hah, lelaki itu! Apa dia masih belum putus asa!" Ketus Arsen sembari mulai melototi kartu ucapan yang ia pegang.


Tak ingin membuang waktu lebih lama, Arsen pun seketika membuka kotak hadiah yang diberikan Antony. Didalamnya terdapat tas dari salah satu brand terkenal dunia yang merupakan tas edisi terbatas, juga ada jam yang juga diketahui sebagai salah satu dari merk jam terkenal dan termahal, dan terakhir ada pula sebuah kalung berlian yang di kotaknya juga terdapat nama brand dari kalung itu sendiri yang juga diketahui sebagai merk terbaik di kota itu.


Selesai melihat semua isinya, Arsen kembali mendengus kesal dan kembali meletakkan barang-barang itu dengan kasar ke kotaknya.


"Hah apa-apaan, yang menikah adalah aku dan Rachel, tapi semua barang ini hanya untuk Rachel. Apa lelaki itu masih belum menyerah juga!!"


Arsen kembali menutup kotaknya, lalu mulai mengangkatnya.


"Tidak bisa di biarkan, aku bisa membelikan barang-barang yang jauh lebih mahal dari ini semua." Ketusnya sembari membawa kotak itu ke dalam ruang kerjanya.

__ADS_1


Arsen memasukkan kotak hadiah itu ke dalam tempat sampah yang ada di dalam ruang kerjanya.


...Bersambung......


__ADS_2