
Malam Hari...
Mobil sport mewah Arsen kini berhenti tepat di depan pekarangan rumah Laura, saat itu Laura pun terlihat keluar dengan sudah berdandan cantik nan seksi seperti biasanya. Arsen pun segera turun dari mobil dengan sudah membawa seikat bunga untuknya.
"Hai sayang." Ucap Laura dengan ramah.
"Hai." Jawab Arsen sembari tersenyum.
Arsen pun menyerahkan buket bunga mawar berwarna merah pada Laura, membuat Laura semakin mengembangkan senyumannya lalu kemudian segera meraihnya.
"Aaaaa so sweet." Ucapnya yang kemudian langsung memeluk Arsen.
Arsen hanya tersenyum sembari mulai mengusap-usap punggung Laura yang cukup terbuka karena memang begitu lah pakaian yang di gemari oleh Laura.
"Eh tunggu, apa bunga ini sebagai sogokan?" Tanya Laura yang langsung melepas pelukannya sembari mulai menatap tajam ke arah Arsen.
"Sogokan? Kenapa aku harus memberi sogokan?" Tanya Arsen yang sama sekali tak mengerti.
"Ya sogokan, karena sejak tadi siang kamu membuatku kesal, dan setelahnya kamu mengabaikan panggilan dariku." Jelas Laura dengan wajahnya yang mulai manyun.
"Oh ya ampun, kamu masih mengingat hal itu? Ya sudah untuk itu aku minta maaf, aku sengaja mengabaikan panggilan darimu karena aku sedang tidak ingin berdebat apalagi sampai bertengkar denganmu. Itu saja." Jelas Arsen dengan tenang.
"Benarkah karena itu?"
"Tentu saja." Arsen pun mengangguk singkat.
"Bukan karena hal lain? Bukan karena kamu mulai tergoda dengan sekretaris barumu itu kan?" Tanya Laura lagi memastikan.
"Astaga hahaha, ya tentu tidak. Kamu bahkan jauh lebih cantik darinya." Jawab Arsen.
Mendengar jawaban Arsen kali ini cukup membuat Laura puas, ia pun semakin melebarkan senyumannya dan kembali memeluk pacarnya itu.
"Ingat, kamu itu punyaku! Mengerti?" Tegas Laura sembari mengeratkan pelukannya.
"Iya sayang." Jawab Arsen singkat.
"Apa orang tuamu masih di luar kota?" Tanya Arsen kemudian.
Laura pun mengangguk.
"Oh baiklah berarti aku tidak perlu masuk ke dalam untuk pamit, kita pergi sekarang?"
"Ayo sayang." Jawab Laura yang langsung melepaskan pelukannya.
Arsen pun membukakan pintu untuk Laura, selama berpacaran Arsen memang memperlakukan Laura bak putri karena memang ia begitu mencintainya. Hal itu lah yang kadang membuat rasa iri para wanita terhadap Laura karena mereka pun melihat bagaimana Laura yang selalu di manjakan oleh seorang Arsen Lim.
__ADS_1
Mobil melaju cepat menyusuri jalanan untuk menuju ke sebuah restoran favorit Laura, restoran yang berada di tengah kota dan tentu saja merupakan restoran bintang lima, karena bukan Laura namanya jika ia mau makan di tempat yang biasa-biasa saja.
Hanya memerlukan waktu beberapa menit saja, kini mobil yang di tunggangi Arsen dan Laura telah sampai di area parkir restoran elit itu, setelah memarkirkan mobilnya dengan sempurna, Arsen pun langsung mengajak Laura untuk turun, namun Laura malah menahan tangannya.
"Ada apa sayang?" Tanya Arsen menatap heran ke arah Laura.
"Apa kamu mau langsung turun begitu saja?" Tanya Laura yang mulai menatap Arsen dengan tatapannya yang begitu manja dan terkesan menggoda.
"Lalu? Bukankah kita mau dinner?"
"Iya aku tau, tapi sejak tadi kamu belum menciumku."
Mendengar hal itu seketika membuat Arsen mendengus dan tertawa kecil.
"Kenapa hanya tertawa?" Tanya Laura lagi yang mulai mendekati Arsen.
"Sayang, lihat aku!"
"Sudah ku lihat sayang."
"Bagaimana penampilanku malam ini? Apa aku sudah terlihat seksi?"
"Kamu selalu seksi seperti biasa." Jawab Arsen sembari tersenyum tipis.
Namun meski begitu, di dalam lubuk hati Arsen yang paling dalam, ia kurang begitu suka saat Laura menggunakan pakaian yang terlalu terbuka, ia tidak suka jika Laura mempertontonkan lekuk tubuhnya pada banyak orang, namun lagi-lagi Arsen tak bisa menyampaikan hal itu. Karena ia pernah mencoba mengutarakan hal itu sekali pada Laura dan berujung pertengkaran yang membuat Arsen akhirnya memilih menerima hal itu.
"Entah kenapa aku begitu merindukanmu beberapa waktu belakangan ini."
"Sayang, kamu kenapa? Ini parkiran, ayo kita makan saja dulu." Ucap Arsen yang merasa heran sekaligus sedikit tidak nyaman saat Laura mulai agresif padanya.
"Kenapa memangnya? Bukankah orang-orang tidak akan bisa melihat ke dalam mobil ini?"
"Iya, tapi ini sungguh konyol sayang."
Mendengar hal itu membuat Laura seketika menjauhkan dirinya, wajahnya berubah menjadi masam, dengan kedua tangannya yang mulai ia lipat ke dada.
"Konyol katamu?"
"Ya tentu saja konyol bagiku."
"Emmm baiklah, kalau begitu aku tidak mau makan."
"Kenapa?" Tanya Arsen lagi.
"Nafsu makan ku telah hilang!" Ketus Laura.
__ADS_1
Arsen sejenak terdiam dengan tatapan datarnya menatap Laura, dia sungguh di buat bingung dengan sikap Laura yang dirasanya berubah-ubah.
"Jadi kamu tidak mau makan?" Tanya Arsen.
"Ya." Jawab Laura sembari memalingkan wajahnya.
"Kita sudah sampai di parkiran restoran, kamu yakin tidak mau makan?" Tanya Arsen sekali lagi.
"Emm!" Jawab Laura.
Arsen pun hanya bisa menghela nafas kasar mendengar jawaban Laura.
"Ya sudah kalau begitu." Arsen pun akhirnya menjalankan kembali mobilnya.
Membuat Laura seketika membulatkan matanya.
"Hah?! Kenapa malah pergi? Apa dia sungguh tidak membujukku kali ini?" Tanya Laura dalam hati yang merasa terheran-heran.
Namun Laura masih mencoba tetap diam dan masih berharap jika Arsen akan membujuknya di pertengahan jalan. Namun sayangnya hal itu tidak terjadi malam ini, Arsen justru terus diam dan memilih fokus mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Arsen begitu bukanlah tanpa sebab, ia menjalani hari yang sibuk di kantor sejak pagi hingga petang, tubuhnya merasa begitu lelah namun demi menepati janji ia rela tidak langsung beristirahat demi mengajak Laura makan malam di luar sesuai yang ia ucapkan. Namun ternyata sikap Laura yang begitu kekanak-kanakan membuatnya tambah lelah malam itu hingga ia pun memilih untuk tak mau menguras energinya lagi hanya untuk membujuk Laura.
"Kita mau kemana?" Akhirnya karena Arsen tak kunjung bicara padanya, Laura pun memilih untuk bertanya namun dengan nada datarnya.
"Aku akan mengantarmu pulang." Jawab Arsen yang tak kalah datar.
Bak mendapat serangan, Laura begitu terkejut, matanya membulat dan langsung menatap tajam ke arah Arsen.
"Apa katamu? Pulang?!"
"Ya, aku sangat lelah hari ini, aku pun juga lelah berdebat, jadi lebih baik ku antar kamu pulang saja."
"Ta, tapi aku..."
"Bukankah tadi katamu tidak mau makan?"
"Iya ta, tapii."
Tak lama mobil pun sampai di depan rumah Laura, Arsen memilih diam saja tanpa terlihat ingin turun mengantar Laura hingga depan pintu seperti biasa. Membuat Laura juga ikut diam dan bertahan pada posisinya.
"Sudah sampai." Ucap Arsen.
"Kamu tidak mau mengantarku hingga depan pintu seperti biasa?" Tanya Laura dengan memasang wajah lirih.
Lagi-lagi hal itu berhasil membuat Arsen menghela nafasnya, tatapan lirih Laura lagi-lagi membuatnya tak tega hingga akhirnya ia pun turun dari mobilnya.
__ADS_1
...Bersambung......